AMAL jariyah

AMAL jariyah “Demi masa. Sungguh, manusia berada dlm kerugian, kcuali org-org yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran. (QS.

Al Ashr: 1,3). Bagi yg ingin menyalurkan zakat, infaq, sedekah dan Jum'at berkah BCA no.rek 8735650455

﷽اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه┏ □■□ ━━━━━━━MANUSIA BERKAH┗━━━━━━━━━━ ○○● Bismillah was shalatu wa...
21/08/2026



اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

┏ □■□ ━━━━━━━
MANUSIA BERKAH
┗━━━━━━━━━━ ○○●

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Berkah secara bahasa dari kata al-buruk [البروك] yang artinya menetap. Sumur bahasa arabnya birkah [بِركَة], karena ada air menetap di dalamnya. Kemudian kata ini digunakan untuk menyebut sesuatu yang memiliki banyak kebaikan. Allah menyebut al-Quran sebagai kitab yang diberkahi,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS. Shad: 29).

Karena dalam al-Quran menetap banyak kebaikan dari Allah. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, al-Ashfahani, hlm. 44).

■ Menjadi Manusia Berkah

Menjadi manusia berkah berarti manusia yang memiliki banyak kebaikan. Kebaikan dalam bentuk, banyak memberikan manfaat bagi orang lain. Dan itulah prestasi manusia yang sejatinya. Menjadi hamba Allah yang banyak memberikan manfaat bagi yang lain.

Dalam al-Quran, Allah menyebut Nabi Isa sebagai manusia yang diberkahi. Allah berfirman menceritakan perkataan Nabi Isa sewaktu masih bayi,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ

“Dan Allah menjadikanku banyak keberkahan di manapun aku berada.” (QS. Maryam: 31).

Beliau disebut orang yang berkah, karena beliau membawa wahyu yang merupakan kebaikan untuk semua hamba.

Menjadi manusia berkah juga merupakan cita-cita orang tua kita semua. Hampir setiap bayi yang diaqiqahi, orang tua selalu menggantungkan harapan, “Semoga menjadi anak yang bermanfaat, bagi orang tua, masyarakat, nusa bangsa, dan agama.”

Mereka berharap, agar kita menjadi manusia penebar manfaat. Manfaat tidak hanya untuk orang tua, tapi untuk lingkungannya.

Ada seorang penulis yang mendoakan para pembaca karyanya agar menjadi manusia yang berkah di mana-mana. Beliau adalah Syaikh Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi. Dalam kitabnya, qawaidul arba’ beliau mengatakan,

أسأل الله الكريم ربّ العرش العظيم أن يتولاّك في الدنيا والآخرة، وأن يجعلك مبارَكًا أينما كنت

Aku memohon kepada Allah yang mulia, Rab pemilik Arsy yang agung, agar Dia membimbing anda di dunia dan akhirat. Dan agar Dia menjadikan anda orang yang penuh berkah dimanapun anda berada. (al-Qawaid al-Arba’).

■ Potensi & Keberkahan

Kita tidak diminta untuk memberikan semua bentuk kebaikan kepada orang lain. Karena itu mustahil bisa kita lakukan, mengingat kita tidak memiliki semua potensi yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Karena itulah, islam mengarahkan kepada kita untuk memberikan manfaat bagi orang lain, sesuai potensi yang kita miliki.

Dan bagian dari keadilan Allah, Dia membagi amal bagi para hamba-Nya, sesuai potensinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَه

Beramal-lah, karena setiap jiwa itu dimudahkan sesuai tujuan penciptaannya. (HR. Bukhari 4949 & Muslim 6903)

Semua manusia diarahkan untuk beramal sesuai dengan ujung hidupnya. Orang yang mendapat kebahagiaan di ujung hidupnya, akan dimudahkan untuk melakukan amal yang mengantarkannya kepada kebahagiaan. Dan sebaliknya.

Imam Malik pernah mendapatkan sepucuk surat dari kawannya, Abdullah al-Umari, orang yang sangat rajin beribadah. Dalam surat itu, kawannnya mengajak Imam Malik agar jangan berlebihan duduk mengajar hadis di Madinah, tapi hendaknya menyendiri dalam rangka banyak beribadah.

Kemudian Imam Malik memberikan jawaban dengan pernyataan yang cukup menekan,

إن الله عز و جل قسم الأعمال كما قسم الأرزاق فرب رجل فتح له في الصلاة ولم يفتح له في الصوم وآخر فتح له في الصدقة ولم يفتح له في الصوم وآخر فتح له في الجهاد ولم يفتح له في الصلاة ونشر العلم وتعليمه من أفضل أعمال البر

Sesungguhnya Allah –Ta’ala- telah membagi amal untuk para hamba-Nya, sebagaimana Allah membagi rizki. Ada banyak orang yang dimudahkan untuk melakukan amal shalat, namun dia tidak dimudahkan untuk puasa. Ada juga yang dimudahkan dalam bersedekah, namun tidak dimudahkan untuk amal puasa. Ada yang dimudahkan untuk jihad, namun tidak dimudahkan untuk shalat. Dan menyebarkan ilmu serta mengajarkannya, termasuk amal kebaikan yang paling afdhal.

Lalu beliau melanjutkan,

وقد رضيت بما فتح الله لي من ذلك وما أظن ما أنا فيه بدون ما أنت فيه وأرجو أن يكون كلنا على خير ويجب على كل واحد منا أن يرضى بما قسم الله له والسلام

Dan saya telah ridha dengan kemudahan amal yang diberika oleh Allah kepadaku. Dan aku tidak menganggap bahwa amal yang saat ini saya tekuni, lebih rendah tingkatannya dibandingkan amal yang sedang kamu jalani (berjihad). Dan saya berharap, masing-masing kita berada dalam kebaikan. Dan wajib bagi kita untuk ridha dengan pembagian amal yang telah ditetapkan oleh Allah. was salam… (at-Tamhid, Syarh Muwatha’, 7/185)

Kita tidak diminta agar semuanya menjadi dai. Atau menjadi orang kaya yang dermawan. Atau menjadi pejabat yang bisa memberi banyak kemudahan bagi lingkungan. Namun masing-masing diminta untuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai hamba Allah dan berusaha memberikan manfaat sesuai potensi yang dimiliki.

Mereka yang memiliki jabatan, bisa memberikan manfaat bagi umat islam dengan jabatannya…

Mereka yang diberi kelebihan harta, bisa memberikan manfaat dengan kelebihan hartanya….

Sebagaimana mereka yang diberi pemahaman ilmu, bisa memberikan manfaat dengan ilmunya…

■ Hanya untuk Pribadi

Sayangnya, banyak orang yang berkorban hanya untuk mengembangkan potensi yang manfaatnya tidak berlaku bagi orang lain.

Berkorban untuk merawat kecantikan, berkorban untuk semakin tampan dan menawan. Berjuang untuk menjadi hamba Allah yang sixpack. Padahal itu semua manfaatnya hanya untuk pribadinya, tidak berlaku untuk orang lain. Paling-paling yang mendapat manfaatnya hanya pasangan hidupnya, suaminya atau istrinya. Itupun bisa menjadi tidak berarti, jika tidak diiringi akhlak yang baik.

Lelaki siapapun tidak akan bahagia jika harus berdampingan dengan istri yang s**a melawan dan tidak bisa menjaga lisannya. Meskipun dia cantik mandraguna. Sebagaimana wanita manapun tidak akan bisa tenang hidupnya jika suaminya sombong, kasar, atau s**a main tangan. Meskipun dia tampan kw enam.

Ada juga yang memperjuangkan hobi. Dia bisa menghabiskan ratusan juta hanya untuk hobi… padahal manfaatnya hanya untuk kepuasan dia semata.

■ Hiasi dengan Ilmu Agama

Ternyata semangat memberi manfaat itu keluar, ketika manusia paham agama. Islam menghargai semua kelebihan manusia, namun kelebihan itu baru ternilai, ketika pemiliknya paham syariat dan ilmu agama. Karena hanya dengan modal pemahaman aturan agama, manusia bisa mengendalikan segala kelebihannya dengan benar, sehingga manfaatnya lebih luas. Standar inilah yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

النَّاسُ مَعَادِنُ، خِيَارُهُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الإِسْلاَمِ، إِذَا فَقُهُوا

Manusia adalah barang tambang. Manusia terbaik di zaman jahiliyah dia juga yang terbaik setelah masuk islam, apabila dia paham agama. (HR. Bukhari 3383 dan Muslim 2526)

Barang tambang beraneka ragam tingkatannya. Di sana ada emas, ada perak, nikel, besi, bahkan kerikil dan pasir. Masing-masing memiliki nilai yang jauh berbeda sesuai kelebihannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan manusia sebagaimana layaknya barang tambang. Masing-masing memiliki nilai yang berbeda sesuai tingkat kelebihannya. Namun semua itu baru memiliki arti, ketika dia paham agama.

■ Mengapa Tidak Belajar Agama?

Saya tidak tahu, mana ungkapan yang lebih tepat, ngaji sambil bekerja ataukah bekerja sambil ngaji.? Bagi kita yang tidak berkepentingan dengan masalah bahasa, bolak-balik semacam ini bukan masalah penting. Apapun itu, kita berharap bisa seperti yang disebutkan dalam hadis Abu Hurairah di atas.

Anda yang saat ini sedang bekerja, memiliki setahap keunggulan lebih maju dibandingkan mereka yang pengangguran. Anda memiliki penghasilan, berpeluang untuk bisa sukses. Meskipun tingkatannya berbeda. Anda tentu berharap semua keunggulan yang anda miliki lebih berarti.

Sejak bangun pagi hingga tidur lagi, dari senin hingga ahad, anda akan memiliki sejuta kegiatan. Namun anda tidak boleh membiarkan diri anda larut dengan kesibukan mencari dunia. Dengan adanya banyak kesibukan, menuntut anda untuk cerdas dalam menentukan prioritas.

Nasehat pertama, hati-hati dalam memilih komunitas. Sebagian besar manusia rusak karena salah memilih komunitas. Sebaliknya banyak orang menjadi soleh, juga karena komunitas.

Selanjutnya, manfaatkan bagian usia anda untuk belajar ilmu agama, untuk memahami islam, belajar al-Quran, hadis, sekaligus memahami maknanya dengan benar. Jika anda bisa mengatur waktu dengan tepat, kajian islam sama sekali tidak akan mengganggu aktivitas dan kesibukan anda.

Di saat itulah, anda bisa berharap untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Ingatlah pesan dalam sebuah hadis,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ

“Manusia yang paling dicintai Allah, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (at-Thabrani dalam as-Shaghir, 862 – majma’ zawaid 13708)

Selamat menjadi manusia berkah…

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah)

➡ CC : rully
____________

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran. (QS. Al Ashr: 1-3). Bagi yg ingin menyalurkan bantuan zakat, infaq, sedekah dan Jum'at berkah :
➡️ MNC Bank no.rek 206010007098941
➡️ DANA : 082290502735

📌 Silahkan simpan dan bagikan postingan ini sebagai pengingat dan bentuk amal jariyah berpartisipasi menyebar kebaikan 🙏

📝 AMAL jariyah

berat

﷽اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه┏ □■□ ━━━━━━━HUKUM ROKOK DALAM ISLAM┗━━━━━━━━━━ ○○● Tembakau yang m...
21/08/2026



اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

┏ □■□ ━━━━━━━
HUKUM ROKOK DALAM ISLAM
┗━━━━━━━━━━ ○○●

Tembakau yang merupakan bahan baku rokok telah dikenal oleh umat Islam pada akhir abad ke-10 Hijriyah, yang dibawa oleh para pedagang Spanyol. Semenjak itulah kaum muslimin mulai mengenal rokok. Sebagian kalangan berpendapat bahwa merokok hukumnya boleh.

Mereka berdalil bahwa segala sesuatu hukum asalnya mubah kecuali terdapat dalil yang melarangnya, berdasarkan firman Allah:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Allah, yang telah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. Al Baqarah: 29).

Ayat di atas menjelaskan bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah di atas bumi ini halal untuk manusia termasuk tembakau yang digunakan untuk bahan baku rokok.

Sanggahan:

Berdalil dengan ayat ini tidak kuat, karena segala sesuatu yang diciptakan Allah hukumnya halal bila tidak mengandung hal-hal yang merusak dan membahayakan tubuh.

Sementara rokok mengandung ribuan racun yang secara kedokteran telah terbukti merusak dan membahayakan kesehatan. Bahkan membunuh penggunanya secara perlahan, padahal Allah telah berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisaa: 29).

Lebih dari itu, mengapa tidak ada dalil khusus yang melarang rokok?

Karena rokok baru ada 500 tahun yang lalu, dan tidak dikenal di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabiin, tabi’ tabiin, maupun ulama penulis hadis setelahnya. Bagaimana mungkin akan dicari dalil khusus yang melarang rokok?

Sebagian kalangan yang lain berpendapat bahwa merokok hukumnya makruh, karena orang yang merokok mengeluarkan bau tidak sedap. Hukum ini diqiyaskan dengan memakan bawang putih mentah yang mengeluarkan bau yang tidak sedap. Sebagaimana ditunjukkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

من أكل البصل والثوم والكراث فلا يقربن مسجدنا، فإن الملائكة تتأذى مما يتأذى منه بنو آدم

“Barang siapa yang memakan bawang merah, bawang putih (mentah) dan karats, maka janganlah dia menghampiri masjid kami, karena para malaikat terganggu dengan hal yang mengganggu manusia (yaitu: bau tidak sedap).” (HR. Muslim).

Sanggahan:

Analogi ini sangat tidak kuat, karena dampak negatif dari rokok bukan hanya sekedar bau tidak sedap. Lebih dari itu menyebabkan berbagai penyakit berbahaya diantaranya kanker paru-paru. Mengingat keterbatasan ulama masa silam dalam memahami dampak kesehatan ketika morokok, mereka hanya melihat bagian luar yang nampak saja. Itulah bau rokok dan bau mulut perokok. Jelas ini adalah tinjauan yang sangat terbatas.

Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa merokok hukumnya haram, pendapat ini ditegaskan oleh Qalyubi (Ulama Mazhab Syafi’i, wafat: 1069 H). Dalam kitab Hasyiyah Qalyubi ala Syarh al-Mahalli (jilid I, Hal. 69), beliau mengatakan: “Ganja dan segala obat bius yang menghilangkan akal, zatnya suci sekalipun haram untuk dikonsumsi, oleh karena itu para ulama kami berpendapat bahwa rokok hukumnya juga haram, karena rokok dapat membuka jalan agar tubuh terjangkit berbagai penyakit berbahaya”.

Ibnu Allan (ulama Madzhab Syafi’i, wafat: 1057H), as-Sanhury (M***i Mazhab Maliki di Mesir, wafat 1015 H), al-Buhuty (Ulama Mazhab Hanbali, wafat: 1051 H), as-Surunbulaly (Ulama Madzhab Hanafi, wafat: 1069 H) juga menfatwakan haram hukumnya merokok.

Merokok juga pernah dilarang oleh penguasa khilafah Utsmani pada abad ke-12 Hijriyah dan orang yang merokok dikenakan sanksi, serta rokok yang beredar disita pemerintah, lalu dimusnahkan.

Para ulama menegaskan haramnya merokok berdasarkan kesepakatan para dokter di masa itu, yang menyatakan bahwa rokok sangat berbahaya terhadap kesehatan tubuh. Ia dapat merusak jantung, penyebab batuk kronis, mempersempit aliran darah yang menyebabkan tidak lancarnya darah dan berakhir dengan kematian mendadak.

Padahal Allah telah mengharamkan seseorang untuk membinasakan dirinya melalui firman-Nya:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah: 195).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat mudharat bagi orang lain baik permulaan ataupun balasan.” (HR. Ibnu Majah. Hadis ini di shahihkan oleh Albani).

Hasil penelitian kedokteran di zaman sekarang memperkuat penemuan dunia kedokteran di masa lampau bahwa merokok menyebabkan berbagai jenis penyakit kanker, penyakit pernafasan, penyakit jantung, penyakit pencernaan, berefek buruk bagi janin, juga merusak sistem reproduksi, pendeknya merokok merusak seluruh sistem tubuh.

Oleh karena itu, seluruh negara menetapkan undang-undang yang mewajibkan dicantumkannya peringatan bahwa merokok dapat mebahayakan kesehatan tubuh pada setiap bungkus rokok.

Karena itu, sangat tepat fatwa yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga fatwa di dunia Islam, seperti fatwa MUI yang mengharamkan rokok, begitu juga Dewan Fatwa Arab Saudi yang mengharamkan rokok, melalui fatwa nomor: (4947), yang menyatakan, “Merokok hukumnya haram, menanam bahan bakunya (tembakau) juga haram serta memperdagangkannya juga haram, karena rokok menyebabkan bahaya yang begitu besar”.

➡ CC : rully
_______________

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran. (QS. Al Ashr: 1-3). Bagi yg ingin menyalurkan bantuan zakat, infaq, sedekah dan Jum'at berkah :
➡️ MNC Bank no.rek 206010007098941
➡️ DANA : 082290502735

📌 Silahkan simpan dan bagikan postingan ini sebagai pengingat dan bentuk amal jariyah berpartisipasi menyebar kebaikan 🙏

📝 AMAL jariyah

berat

﷽اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه┏ □■□ ━━━━━━━SIBUK INTROSPEKSI DIRI SENDIRI┗━━━━━━━━━━ ○○● Syaikh M...
20/08/2026



اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

┏ □■□ ━━━━━━━
SIBUK INTROSPEKSI DIRI SENDIRI
┗━━━━━━━━━━ ○○●

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengenal dirinya, niscaya ia akan sibuk memperbaiki diri dan tidak peduli dengan aib orang lain. Dan barangsiapa mengenali Rabbnya, niscaya ia akan sibuk beribadah kepada-Nya dan tidak peduli dengan hawa nafsunya” (Al-Fawaid, hal. 80).

Introspeksi diri merupakan perkara penting yang kadang terluput dari kita terlebih lagi bagi orang yang merasa dirinya memiliki banyak kelebihan yang sejatinya hal ini merupakan nikmat dari Allah. Namun bagi orang beriman, mengoreksi kekurangan diri sendiri dan memandang dirinya serba kurang dalam beribadah dan beramal shalih merupakan langkah penting agar terpacu untuk menjadi mukmin yang lebih gemar beribadah, sosok yang lebih takut kepada Allah dan senantiasa dalam jalur ketakwaan.

Orang yang menyibukkan hatinya untuk menghitung segala aibnya, dosa-dosanya maka tak akan lisannya menikam saudaranya dengan ghibah. Hatinya tak akan memandang remeh dan hasad dengan mencari-cari kekurangan saudaranya. Sebagaimana makna potongan ayat Al-Quran,

وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ

“Dan janganlah mencari-cari keburukan orang” (QS. Al-Hujurat: 12)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini, “Jangan memeriksa rahasia seorang muslim dan jangan mencari-carinya. Tinggalkanlah mereka apa adanya, dan lupakan kesalahan-kesalahan mereka, karena jika dicari-cari akan terjadi hal (buruk) yang tidak seharusnya terjadi” (Tafsir Karim Ar-Rahman, hal. 801)

Sibuk meneliti kesalahan, cela dan aib sesama muslim bisa membuat hati keras dan tidak peka pada aib sendiri, menghabiskan waktu dan bisa memicu permusuhan serta bukti nyata buruknya akhlak seorang mukmin.

Para ulama mengatakan, tanda akhlak mulia ada sepuluh,

1) Sedikit berselisih

2) Bersikap adil

3) Meninggalkan sikap mencari-cari kesalahan orang lain

4) Berusaha memperbaiki keburukan-keburukan yang nampak

5) Mencari udzur bagi orang yang jatuh pada kesalahan

6) Bersabar menghadapi gangguan

7) Introspeksi dengan mencela diri sendiri (musibah akibat ulah sendiri)

8) Fokus dan sibuk mengurus aib-aib sendiri tanpa mengurusi aib orang lain

9) Berwajah ceria

10) Lembut perkataannya

(At-Tanwir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir 5/535)

Muhasabah diri akan membuat kita tidak ada waktu dan tidak ada kesempatan untuk mengoreksi aib sesama. Membuat hati lebih tenang karena tidak ada pikiran-pikiran buruk kepada orang lain. Kita tak memperoleh manfaat akhirat, justru menuai dosa menyebabkan kerugian di sisi Allah Ta’ala.

Al-Hasan Al Bashri berkata, “Seorang mukmin senantiasa mengoreksi dirinya karena Allah, hisab pada hari kiamat terasa ringan bagi kaum yang telah melakukan muhasabah dirinya di dunia. Sebaliknya, hisab pada hari kiamat terasa berat bagi orang yang tak pernah melakukan muhasabah” (Ihya Ulumuddin IV: 404)

Ada nasehat sangat menyentuh iman dari sahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum ditimbang. Sungguh akan lebih meringankan diri kalian di dalam hisab, jika hal ini kalian telah melakukan hisab terhadap diri kalian. Dan hisablah untuk menghadapi hari yang paling besar, “Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu) tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)” (QS. Al-Haqqah: 18)” (Tahdzib Madarijis Salikin I: 176).

Saatnya kita merenungi diri untuk bangkit memperbaiki diri dan memantapkan diri menjadi sosok yang lebih dalam berakidah, berakhlak mulia, beramal shalih dan senantiasa menjauhi larangan-larangan Allah.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Jauhilah engkau dari menyibukkan memperbaiki diri orang lain, sebelum engkau memperbaiki dirimu sendiri” (Minhajul Qashidin, hal. 22)

Semoga uraian di atas bermanfaat. Aamiin yaa mujibas saailiin.

➡ CC : rully
_______________

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran. (QS. Al Ashr: 1-3). Bagi yg ingin menyalurkan bantuan zakat, infaq, sedekah dan Jum'at berkah :
➡️ MNC Bank no.rek 206010007098941
➡️ DANA : 082290502735

📌 Silahkan simpan dan bagikan postingan ini sebagai pengingat dan bentuk amal jariyah berpartisipasi menyebar kebaikan 🙏

AMAL jariyah

Sorotan

﷽اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه┏ □■□ ━━━━━━━DOA TERBAIK: DOA MEMOHON AFIYAT┗━━━━━━━━━━ ○○● Wahai m...
19/08/2026



اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

┏ □■□ ━━━━━━━
DOA TERBAIK: DOA MEMOHON AFIYAT
┗━━━━━━━━━━ ○○●

Wahai muslim yang mulia! Tidak diragukan bahwa nikmat afiyat adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terbesar. Dulu Nabi kita Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memohon kepada Tuhannya afiyat, dan mewasiatkan kepada para sahabat beliau yang mulia untuk memohon afiyat. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

اسْأَلُوا اللَّهَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ اليَقِينِ خَيْرًا مِنَ العَافِيَةِ

“Mohonlah kepada Allah ampunan dan afiyat, karena tidak ada seorang pun yang diberi sesuatu yang lebih baik – setelah keyakinan (keimanan) – daripada afiyat.” (HR. At-Tirmidzi no. 3558. Beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib).

Bagaimana menurutmu, apakah seorang insan bisa merasa bahagia tanpa afiyat? Apakah ia dapat menikmati harta tanpa afiyat? Apakah ia akan merasa senang dengan kedudukan dan jabatan tanpa afiyat?

Demi Allah! Tidak akan ada yang menandingi nikmat afiyat. Afiyat adalah pakaian termewah yang dipakai manusia, makanan terlezat yang ia nikmati, dan tidur ternyenyak yang ia rasakan.

Inilah Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan: Aku pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah afiyat!” Selang beberapa hari, aku datang kembali dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau lalu bersabda kepadaku: “Wahai Abbas! Wahai paman Rasulullah! Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!” (HR. At-Tirmidzi no. 3514. Beliau berkata bahwa hadits ini shahih).

Al-Mubarakfuri Rahimahullah berkata tentang makna afiyat: “Ia adalah pertolongan Allah bagi hamba-Nya. Orang yang berdoa memohon afiyat adalah yang memohon pertolongan Tuhannya atas segala hal yang ia niatkan. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengkhususkan anjuran doa ini kepada pamannya, Abbas dan mencukupkan dengan doa afiyat merupakan bentuk penggugah semangat para pendoa untuk senantiasa mengucapkannya dan menjadikannya sebagai salah satu wasilah terbesar untuk mendekat kepada Tuhan mereka dan untuk memohon pertolongan kepada-Nya atas segala yang mereka inginkan. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda kepadanya: ‘Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!’ seakan-akan doa ini dengan redaksi seperti ini menjadi bekal untuk menghindari segala mudharat dan mengundang segala kebaikan.” (Kitab Tuhfah Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfuri jilid 9 hlm. 348).

Dan inilah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Pernah ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Tuhanmu afiyat dan mu’afat di dunia dan akhirat.” Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari kedua, dan berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Lalu beliau menjawab seperti itu juga. Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari ketiga, dan bertanya seperti sebelumnya, dan beliau juga menjawab dengan jawaban yang sama, lalu beliau menambahkan: “Apabila engkau telah diberi afiyat di dunia dan diberi afiyat di akhirat juga, maka sungguh engkau telah beruntung.” (HR. At-Tirmidzi no. 3512. Beliau berkata: Hadis ini hasan gharib).

Ibnu Al-Atsir mengatakan dalam An-Nihayah bahwa perbedaan antara afiyat dan mu’afat adalah afiyat itu engkau selamat dari penyakit-penyakit dan musibah-musibah, ia adalah kesehatan yang merupakan kebalikan dari penyakit. Sedangkan mu’afat adalah Allah menyelamatkanmu dari (keburukan) manusia dan menyelamatkan mereka dari keburukanmu, yakni mencukupkanmu dari mereka dan mencukupkan mereka darimu, serta menghindarkan gangguan mereka darimu dan gangguanmu dari mereka. (Kitab An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar karya Ibnu Atsir jilid 3 hlm. 265).

Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh berharap mendapat ujian atau terburu-buru menanggung azab akhirat. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjenguk seseorang dari kaum Muslimin yang sudah lemah sekali hingga menjadi seperti anak burung. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah?’ Ia menjawab: ‘Ya. Dulu aku pernah mengucapkan: Ya Allah siksaan yang hendak Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah siksaan itu bagiku di dunia.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: ‘Subhanallah! Engkau tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa engkau tidak mengucapkan: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berdoa kepada Allah untuknya, sehingga Allah menyembuhkannya.” (HR. Muslim no. 2688).

Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menegurnya karena terburu-buru menanggung azab dan musibah, dan mengabarkan kepadanya bahwa seharusnya ia mengucapkan doa:

اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

Hatim Al-Asham Rahimahullah berkata: “Ada empat perkara yang tidak akan diketahui nilainya kecuali oleh empat golongan: Nilai masa muda yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah tua, nilai afiyat yang tidak diketahui kecuali orang yang tertimpa musibah, nilai kesehatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang sakit, nilai kehidupan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah mati.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa Al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 39).

Bakar bin Abdullah Al-Muzani Rahimahullah berkata: “Barang siapa yang seorang muslim dan badannya sehat, maka sungguh telah terhimpun padanya puncak nikmat dunia dan puncak nikmat akhirat, karena puncak nikmat dunia adalah afiyat dan puncak nikmat akhirat adalah Islam.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 445).

Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ampunan dan afiyat dalam sujud kalian, saat hendak berbuka puasa, dan di waktu antara azan dan iqamah, karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai sesuatu —setelah keimanan— yang lebih baik daripada afiyat. Perbanyaklah membaca doa: Ya Allah, kami memohon kepada Engkau ampunan, afiyat, dan mu’afat yang langgeng dalam urusan agama, dunia, dan akhirat.

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita semua penjagaan, keselamatan, afiyat dari segala penyakit, dan husnul khatimah. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya.

Oleh:
Dr. Muhammad Jum’ah al-Halbusi

➡ CC : rully
_____________

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran. (QS. Al Ashr: 1-3). Bagi yg ingin menyalurkan bantuan zakat, infaq, sedekah dan Jum'at berkah :
➡️ MNC Bank no.rek 206010007098941
➡️ DANA : 082290502735

📌 Silahkan simpan dan bagikan postingan ini sebagai pengingat dan bentuk amal jariyah berpartisipasi menyebar kebaikan 🙏

📝 AMAL jariyah

orang 󰦉

﷽اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه┏ □■□ ━━━━━━━ANAK MELALAIKAN SHALAT, BAGAIMANA MENYIKAPINYA?┗━━━━━━...
19/08/2026



اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

┏ □■□ ━━━━━━━
ANAK MELALAIKAN SHALAT, BAGAIMANA MENYIKAPINYA?
┗━━━━━━━━━━ ○○●

⚉ Pertanyaan

Saya ingin sekali anak-anak saya memperhatikan masalah shalatnya, karena mereka menunaikan sebagian shalat fardhu, tapi sebagian besarnya mereka tinggalkan. Saya selalu menasehati mereka dan berdoa kepada Allah agar mereka mendapatkan hidayah. Bagaimana caranya saya dapat menjadikan mereka senang melakukan shalat dan hatinya bergantung padanya?

⚉ Jawaban

■ Pertama:

Tidak diragukan lagi bahwa perkara shalat merupakan perkara paling agung dan paling penting dalam syariat. Dia merupakan tiang agama, lambang kesuksesan, tanda ketakwaan. Dia adalah amal yang paling pertama dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat. Jika hisab shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya, sedangkan jika shalatnya buruk, maka buruklah seluruh amalnya.

Tidak diragukan p**a bahwa memperhatikan pendidikan anak dengan pendidikan Islam yang benar untuk menegakkan shalat, bertakwa kepada Allah dalam ucapan dan perbuatan, merupakan tanda-tanda mendapatkan taufik dan jalan yang benar.

Allah Ta'ala berfirman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا (سورة طه: 132)

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (QS. Thaha: 132)

Maksudnya adalah perintahkan keluargamu menunaikan shalat, doronglah mereka melaksanakannya, baik yang fadhu maupun yag sunah. Perintah terhadap sesuatu adalah perintah dengan segala sesuatu yang tidak sempurna sesuatu tersebut kecuali dengannya. Maka itu juga merupakan perintah untuk mengajarkan mereka, apa yang menyebabkan shalat menjadi sah atau batal atau apa yang menyempurnakannya. (Tafsir As-Sa'di, hal. 517)

Allah Ta'ala befirman tentang Nabi Ismail alaihissalam,

وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (سورة مريم: 55)

"Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya." (QS. Maryam: 55)

Allah Ta'ala berfirman kepada orang yang beriman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ ... (سورة التحريم: 6)

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras…." (QS. At-Tahrim: 6)

Maksudnya adalah perintahkan mereka melakukan yang ma'ruf dan cegahlah mereka dari perbuatan munkar, jangan sia-siakan mereka dimangsa neraka pada hari kiamat."

(Tafsir Ibnu Katsir, 5/240)

Abu Daud (no. 495) dan Ahmad (6650) meriwayatkan dari Amr bin Syuaib dari bapaknya, dari kakeknya, dia berkata, "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ (وصححه الألباني في "الإرواء"، رقم 247)

"Perintahkan anak kalian untuk shalat saat mereka berusia tujuh tahun, pukullah mereka (jika tidak melaksanakan shalat) saat mereka berusia sepuluh tahun. Bedakan mereka di tempat tidurnya." (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwaul Ghalil, no. 247)

Syekh Bin Baz rahimahullah berkata, "

"Perhatikan keluarga, jangan lalai mendidik mereka wahai hamba Allah. Anda harus bersungguh-sungguh untuk memperbaiki mereka. Hendaklah anak-anak diperintahakan shalat jika sudah berusia tujuh tahun, dan pukullah (jika belum melaksanakan shalat) jika telah berusia sepuluh tahun dengan pukulan ringan yang mendorongnya untuk taat kepada Allah serta membiasakan mereka untuk menunaikan shalat pada waktunya, agar mereka istiqamah di jalan Allah serta mengenal yang haq. Sebagaimana hal tersebut diriwayatkan dalam sunah sahih." (Majmu Fatawa Bin Baz, 6/46)

■ Kedua:

Adapun cara yang dapat membantu mendidik anak untuk mengerjakan shalat serta menghormatinya, dapat disimpulkan sebagai berikut;

● Pentingnya ada teladan praktis, yaitu sikap orang tua yang menanmpakkan perhatian besar mereka terhadap shalat dengan melaksanakannya tepat pada waktunya.

● Sang bapak selalu berusaha mengajak anak laki-lakinya untuk shalat bersamanya, sedangkan ibu selalu berusaha mengajak putrinya shalat bersamanya di rumahnya.

● Mengingatkan tentang pentingnya shalat dan menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan rukun agama yang sangat agung dan agama tidak sempurna kecuali dengannya.

● Menganjurkan melaksanakan shalat pada waktunya dan menjelaskan bahwa Allah menjanjikan surga bagi orang yang melaksanakan shalat. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud (425), dari Ubadah bin Shamit radhiallahu anhu dia berkata, "Aku bersaksi bahwa aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "

خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللَّهُ تَعَالَى ، مَنْ أَحْسَنَ وُضُوءَهُنَّ وَصَلاهُنَّ لِوَقْتِهِنَّ وَأَتَمَّ رُكُوعَهُنَّ وَخُشُوعَهُنَّ كَانَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ ، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلَيْسَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ ، إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ ) صححه الألباني في "صحيح أبي داود"

"Lima shalat yang Allah Ta'ala wajibkan, siapa yang membaguskan wudunya dan shalat pada waktunya serta menyempurnakan ruku dan khusyu'nya, maka janji Allah akan mengampuninya. Siapa yang tidak melaksanakannya maka tidak ada janji Allah kepadanya. Jika Dia kehendaki, Dia akan mengampuninya, dan jika Dia menghendaki Dia akan mengazabnya." (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud)

Siapa yang ingin mendapatkan janji Allah hendaklah dia shalat, siapa yang tidak ingin mendapatkan janji Allah dan menempatkan dirinya dalam ancaman azab yang pedih dan murka Allah hendaklah dia meninggalkan shalat!

Sambil menyebut hadits-hadits anjuran dan ancaman dalam bab shalat.

● Menggunakan semua sarana yang tersedia dengan cara nasehat yang mudah dan lembut. Menyediakan buku-buku dan kaset-kaset yang berbicara tentang perkara shalat serta menjelaskan kedudukannya yang tinggi.

● Mendorong anak untuk bergaul dengan orang yang komitmen melaksanakan shalat ditambah dorongan positif dalam diri mereka untuk berlomba dalam kebaikan dalam berupa menunaikan shalat dan bersegera dalam kebaikan.

● Memberikan dorongan materi dan moral, dalam bentuk hadiah materi dan ungkapan pujian serta dorangan dan semacamanya.

● Menggunakan metode Nabi dalam mengatasi masalah shalat, sebagaimana telah disebutkan dalam hadits Abu Daud, yaitu dengan memerintahkan anak-anak untuk shalat saat mereka berusia tujuh tahun, kemudian memukul mereka (jika belum juga shalat) jika mereka berusia sepuluh tahun. Dengan tetap memelihara sikap bijak dalam memukul sekiranya diperkirakan lebih besar manfaatnya. Hendaknya menggunakan sikap tegas dengan cara yang tepat.

● Menggunakan metode isolasi atau tegas ketika meninggalkan shalat atau meremehkannya. Yaitu dalam bentuk hukuman syari yang memberikan pengaruh.

● Memperbanyak doa dan harap kepada Allah, semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka di jalannya yang lurus dan menjadikan mereka termasuk orang-orang yang s**a melaksanakan shalat dan bertakwa. Hal ini pada kenyataannya merupakan sebab yang paling bermanfaat untuk kebaikan anak keturunan meskipun banyak orang yang tidak menyadarinya.

● Orang tua hendaknya tidak bosan memberikan peringatan, nasehat, pembinaan, walaupun anak-anak mengulangi lagi sikap meremehkan dan mengabaikan. Jangan p**a bosan untuk memberi hadiah kepada anak-anak. Tidak seorang pun yang tahu, kapan waktunya ucapan nasehatnya bermanfaat baginya.

➡ CC : rully
______________

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran. (QS. Al Ashr: 1-3). Bagi yg ingin menyalurkan bantuan zakat, infaq, sedekah dan Jum'at berkah :
➡️ MNC Bank no.rek 206010007098941
➡️ DANA : 082290502735

📌 Silahkan simpan dan bagikan postingan ini sebagai pengingat dan bentuk amal jariyah berpartisipasi menyebar kebaikan 🙏

📝 AMAL jariyah

orang 󰦉

Address

Jalan Dirgantara No. 13
Makassar
90231

Telephone

+6282290502735

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when AMAL jariyah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to AMAL jariyah:

Shortcuts

Share