Program Pendidikan Profesi Pertelevisin - P3TV Makassar

Program Pendidikan Profesi Pertelevisin - P3TV Makassar

Share

Program Pendidikan Profesi Pertelevisian - Politeknik Negeri Ujung Pandang P3TV berupaya mencetak SDM pertelevisian yang handal, kreatif dan berwawasan.

Era globalilasi pada saat ini semakin menuntut SDM yang handal, kreatif dan berwawasan luas. Penguasaan skill (ketrampilan) menjadi syarat mutlak untuk bisa meraih lapangan kerja. Pola pendidikan berbasis life skill menjadi sebuah alternatif pilihan untuk meraih jenjang karier. Program Pendidikan Profesi Pertelevisian (P3TV) Makassar, menawarkan sebuah pola pendidikan ketrampilan yang mengadaptasi

pada dunia: 'Mencari Penghidupan' di Industri Televisi & Film Peluang & Tantangan 15/12/2014

'Mencari Penghidupan' di Industri Televisi & Film Peluang & Tantangan

Baru-baru ini, Chairul Tanjung (CT), pemilik TransCorp yang menaungi stasiun televisi Trans7 dan TransTV membeli Carrefour Indonesia, cabang dari salah satu jaringan swalayan terbesar di dunia (!). Pembelian ini menambah panjang jejak rekam kesuksesan CT di dunia bisnis yang sebelumnya telah memiliki beberapa bisnis besar lain seperti kelompok Bank Mega, Bandung Super Mall, taman hiburan ala Disneyland Trans Studio Resort di Makassar, dan seabreg bisnis lainnya. Bahkan rumor beredar, ia juga sudah membeli stasiun televisi yang jauh lebih tua dari 2 stasiun televisi yang dikelolanya, Indosiar. Entah benar entah tidak rumor tersebut, yang jelas CT adalah salah satu konglomerat paling bersinar di negeri ini dalam 10 tahun terakhir.
Dalam satu kesempatan CT pernah berujar bahwa salah satu penunjang utama keberhasilannya itu adalah kesuksesan TransTV & Trans7. Perlu anda ketahui, TransTV yang usianya masih kurang dari 1 dasawarsa itu sejak awal berdiri selalu menduduki peringkat 5 besar dari 10 stasiun televisi nasional baik dilihat dari rating & sharing maupun dari perolehan keuntungan. Bahkan mantan direktur utama TransTV Ishadi S.K. mengklaim bahwa kalau dilihat dari keuntungan bersih, bisa jadi TransTV menduduki peringkat pertama. 'Adik' TransTV, Trans7 pun secara perlahan namun pasti tumbuh menyusul 'kakak'nya. Jauh melebihi omzet usahanya yang semula saat dibeli dari grup Kompas Gramedia dan masih bernama TV7. Sebuah hal yang bisa dipahami karena bila sebuah program acara televisi sukses, keuntungan dari iklan bisa belasan sampai puluhan kali lipat dari biaya produksinya.
Raam Punjabi dan 'dinasti'nya adalah nama yang berkibar di produksi film dan sinetron. Sudah sejak lama Parkit Film, Multivision Plus & kini MD Entertainment merajai layar bioskop dan televisi negeri ini dengan produksi-produksi karya mereka. Sebagai hasilnya, Raam masuk dalam daftar orang terkaya negeri ini di peringkat ke 105 pada tahun 2007 menurut majalah Globe Asia. Sederet rumah produksi lain seperti Sinemart, Frame Ritz, dan sebagainya perlahan namun pasti mulai mengekor kesuksesan mereka. Belum lagi Miles Production yang fokus di film, yang hampir selalu membukukan jumlah penonton fantastis untuk karya-karya mereka.
Rekan-rekan pembaca, dengan sedikit penjelasan diatas saya bermaksud menegaskan kepada anda semua bahwa; dunia entertainment di Indonesia sedang tumbuh menjadi industri yang sangat menjanjikan. Menyerap banyak (dan akan semakin banyak) tenaga kerja, dan tentunya diharapkan akan mendistribusikan rupiah secara lebih merata dan melimpah kepada semakin banyak masyarakat Indonesia. Disini saya hanya membahas dunia entertainment sebatas lingkup dunia produksi film dan televisi saja. Tentu bukan berarti bahwa bidang hiburan yang lain tidak prospektif.
Perhitungan kasarnya begini; di Indonesia ada 11 stasiun televisi nasional. Bila masing-masingnya mengudara selama 20 jam saja selama sehari, maka dalam seminggu akan tersedia 1540 jam tayang. Bila 80% dari itu diisi produksi lokal negeri ini, maka sekitar 1200an jam tayang akan tersedia. Angka ini belum termasuk jam tayang televisi lokal yang, walaupun sampai saat ini belum terlalu menggembirakan perkembangannya, tetap tak bisa dikesampingkan keberadaannya. Belum juga menghitung televisi kabel (televisi berbayar). Juga sistem TV Digital yang akan melipatgandakan jumlah kanal siaran televisi(!). 1200-an jam tayang per minggu di televisi itu tentu perlu diisi dengan karya. Dengan hasil produksi: sinetron, film, kuis, siaran berita, talk show, lawak, feature dan sebagainya. Siapa yang akan memproduksi? Tentu masyarakat Indonesia. Dan itu berarti lowongan pekerjaan yang besar, dan berkelanjutan—karena seiring waktu tentu dibutuhkan regenerasi rutin. Untuk industri film, memang tak sebesar televisi peluangnya. Disamping faktor belum berhasilnya pemerintah tuntas memberantas pembajakan, juga dikarenakan belum optimalnya keberanian dan kreativitas para insan film nasional dalam berkarya J, sehingga berakibat belum mapannya industri ini sebagai lahan penghidupan. Belum lagi faktor terbatasnya jumlah bioskop di negeri ini. Untuk negara dengan penduduk lebih dari 200 juta jiwa, rekor pencapaian jumlah penonton film nasional baru sekitar 3 juta orang, yang berarti baru sekitar 1,5% dari penduduk Indonesia. Namun begitu, penulis pribadi percaya bahwa industri film nasional akan semakin bersinar dari waktu ke waktu. Insan-insan film yang muda dan idealis seperti Mira Lesmana, Riri Riza, Nia DiNata, Hanung Bramantyo, Rudi Soedjarwo dll., juga insan film 'lawas' seperti Deddy Mizwar dan Chaerul Umam seolah telah menyadarkan para pemilik modal bahwa jutaan penonton dapat ditarik ke gedung-gedung bioskop oleh film-film nasional. Dan ini berarti juga, lowongan untuk berkarya bagi kita anak bangsa.
Rekan-rekan pembaca, berbagai cara bisa dilakukan bagi anda yang tertarik untuk masuk dan menjadikan industri film dan atau televisi sebagai tempat untuk menggantungkan hidup. Bisa dengan bekerja pada stasiun televisi atau rumah produksi (PH), bisa dengan mendirikan PH sendiri. Bila memilih menjadi karyawan, bisa dari jalur Fresh Graduate
program bagi anda lulusan pendidikan tinggi dari semua jurusan, atau jalur profesional bagi anda yang sudah memiliki pengalaman. Juga ada jalur reguler, biasanya bagi anda yang baru lulus kuliah namun berasal dari jurusan yang sesuai dengan industri ini seperti jurusan Broadcasting atau sejenisnya. Lebih bagus lagi bila anda sudah membuat beberapa karya pribadi sebagai portofolio, yang bisa anda tunjukkan kepada perusahaan. Ratusan macam ragam profesi pun bisa anda pilih. Dari pekerjaan kerah putih seperti staf kantor, produser, creative, dsb., semi white-semi blue collar job (maaf kalau persepsi & istilah penulis kurang tepat J ) seperti kamerawan, editor, penata lampu dsb., sampai pekerjaan kerah biru seperti sopir, office boy, cleaning service, ada semua di industri ini.
Bagaimana dengan imbalan? Juga dengan sistem kerja di industri film dan televisi? Saudara, satu hal yang harus saya sampaikan kepada anda adalah; berhati-hatilah. Ada jenis pekerjaan yang menghasilkan remunerasi yang baik, bahkan sangat baik. Namun ada juga yang berujung pada gaji yang 'biasa saja'/standar, kemungkinan peningkatan gaji yang terbatas, hingga pengangkatan sebagai karyawan tetap yang tak kunjung terjadi. Semua ini tergantung di perusahaan mana anda bekerja, jalur apa yang anda gunakan untuk masuk sebagai karyawan, pada divisi apa anda bekerja, dan tentunya seberapa total anda mengerahkan daya upaya dan kreativitas anda. Gambaran singkat saja untuk di industri televisi (bisa berubah setiap saat, anda harus terus memperluas wawasan), untuk TransTV & Trans 7 dikenal sebagai perusahaan yang sangat selektif memilih karyawan, namun relatif mudah untuk diangkat sebagai karyawan tetap. Beberapa stasiun televisi yang lain cukup selektif menyaring karyawan, namun s**a 'menggantung' karyawan pada status karyawan tidak tetap—kendati kabarnya imbalan yang mereka berikan lebih besar ketimbang yang diberikan TransTV dan Trans7. Untuk jalur Fresh Graduate
program biasanya relatif lebih mudah untuk diangkat sebagai karyawan tetap dibanding sesama karyawan lulusan baru yang masuk lewat program reguler. Sedangkan untuk divisi yang secara umum memberikan imbalan besar dibanding divisi lain adalah divisi Produksi dan divisi Berita (News). Bila anda di kedua divisi tersebut dan mengembangkan sebuah program acara yang berhasil mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat, biasanya anda akan mendapat bonus. Untuk di PH sinetron dan/film tentu sangat tergantung pada kesuksesan karya produksi mereka. Ada yang mengangkat karyawan tetap, namun juga ada yang mempekerjakan karyawan secara sistem freelance/pekerja lepas/pekerja borongan sesuai proyek. Ada yang memberlakukan sistem semacam 'beli-putus', artinya untuk suatu proyek diberi anggaran tertentu tanpa peduli kesuksesan produksi mereka nantinya. Namun ada juga yang memberikan bonus bila karya mereka laris manis di pasaran. Untuk masuk ke sebuah PH gampang-gampang susah. Pengalaman saya sendiri, pernah begitu lulus kuliah dulu saya mengirimkan lamaran untuk puluhan PH selama bertahun-tahun, namun hanya 1-2 yang dipanggil untuk diwawancara (!). Ternyata saya baru tahu alasannya setelah mengobrol dengan seseorang yang pernah bekerja di PH, juga dari pengalaman magang di sebuah PH yang lain; setidaknya ada 2 alasan. Pertama, biasanya seorang sutradara atau pimpro sebuah proyek pembuatan sinetron sudah mempunyai tim mereka sendiri. Jadi PH cuma tahu beres. Sepertinya PH hanya merekrut karyawan tetap untuk level manajemen atas dan staf kantor saja. Kedua, PH biasanya lebih s**a mendidik karyawan blue collar mereka ketimbang merekrut karyawan lulusan perguruan tinggi atau profesional, kecuali untuk posisi-posisi kunci. Di sebuah PH yang penulis ketahui, ada beberapa orang yang tadinya adalah pengemudi (driver) atau office boy, beberapa tahun kemudian menjadi kamerawan. Penulis menduga, kemungkinan besar alasannya karena cara seperti itu lebih murah (apa lagi J). Jadi, terserah anda memilih cara yang mana untuk masuk bekerja di PH; apakah berusaha berkenalan dengan sutradara atau orang dalam timnya (semacam nepotisme J), atau berkarir dari posisi blue collar dulu. Bagi anda yang lulusan perguruan tinggi, tentu penulis tidak menyarankan alternatif yang terakhir. Cara yang paling 'terhormat' mungkin, semasa kuliah buatlah karya pribadi sebanyak dan sebagus mungkin—bisa film dokumenter, film pendek, iklan, animasi, dsb.—lalu sertakan bersama surat lamaran anda. Syukur bila karya anda itu berhasil memenangkan penghargaan di festival-festival yang kini marak digelar, itu akan menaikkan nilai anda di mata PH yang anda lamar.
Kalau anda ingin berkarir di bidang produksi film namun takut akan prospek masa depan dikarenakan sistem kerja PH dan kondisi dunia film yang belum sepenuhnya pulih, sangat baik bila anda melakukan introspeksi diri terlebih dahulu; apakah niat anda cukup kuat disini? Bila ya, majulah terus dan jadikan segala kondisi itu sebagai tantangan yang harus dimenangkan. Justru ini kesempatan, bisakah kita mengubah film menjadi ladang penghidupan yang membawa kemakmuran? Namun bila niat anda tidak cukup kuat, jangan coba-coba. Bidang ini memerlukan kerja keras dan kemauan kuat, dan itu akan jauh lebih mudah bila anda menyukainya.
Rekan-rekan pembaca, sekelumit penjelasan diatas hanyalah gambaran umum yang penulis ketahui. Hanya bermaksud membagi sedikit informasi kepada rekan semua. Semoga bermanfaat. Singkat kata, do the best dalam apapun yang anda lakukan, dan waspadalah karena kendati sedang 'bersinar' dan nampak glamour, apa yang tampak dari luar di industri produksi film dan televisi tidaklah selalu sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Carilah informasi sebanyak mungkin tentang perusahaan yang hendak anda lamar. Oke, sampai jumpa di artikel berikutnya…

Jakarta, Selasa 20 April 2010

http://www.produksi-film.com/2010/11/mencari-penghidupan-di-industri.html

pada dunia: 'Mencari Penghidupan' di Industri Televisi & Film Peluang & Tantangan

Photos 20/10/2014

Yuk Jadikan Hobimu sebagai karirmu!

Broadcasting

Broadcasting, atau penyiaran radio dan televisi adalah media massa, alat yang dipakai untuk berkomunikasi dengan orang banyak. Distribusi program radio (audio) dan televisi (video) disampaikan dengan transmisi kepada pendengar dan penonton. Setelah masa kepemimpinan Soeharto, perkembangan jumlah stasiun radio dan televisi sangat pesat sehingga banyak pekerja kedua media ini yang tidak mengenyam ilmu broadcasting.

Ada banyak sekali keahlian yang dibutuhkan untuk menjalankan sebuah stasiun radio apalagi televisi. Beberapa profesi yang sangat popular adalah penyiar radio, presenter televisi dan produser. Selebihnya mungkin masih sangat jarang kita dengar sambil kita kuliah, ada baiknya mendekatkan diri ke berbagai bisnis. Radio dan, khususnya televisi sangat membutuhkan orang-orang yang kreatif, inovatif dan produktif.

Jenis-jenis media

Seperti kita ketahui, media adalah suatu ‘alat’ yang menghubungkan kita dengan dunia luar. Tanpa media, kita akan sulit mengetahui apa yang terjadi di sekeliling kita. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa media adalah sumber informasi utama bagi semua orang di dunia.

Media dapat digolongkan menjadi tiga menurut jenisnya, yaitu media cetak yang terdiri dari koran, majalah, dll, media elektronik terdiri dari televisi dan radio, dan yang masih tidak jelas statusnya yaitu media online dengan perangkat internet.

Media online juga sering disebut ‘media banci’ karena fungsinya sama – sama dapat digolongkan ke dalam dua media sebelumnya, cetak dan elektronik.

Tiga jenis media tadi juga mempunyai kekurangan dan kelebihannya berdasarkan kecepatan, biaya produksi, ketajaman berita, dll. Kelebihan serta kekurangan ketiga media tersebut adalah:

Media Cetak

Kelebihan (+):
Repeatable, dapat di baca berkali-kali dengan menyimpannya atau mengklipingnya.

Analisa lebih tajam, dapat membuat orang benar-benar mengerti isi berita dengan analisa yang lebih mendalam dan dapat membuat orang berfikir lebih spesifik tentang isi tulisan.

Kekurangan (-):
Lambat, dari segi waktu media cetak adalah yang terlambat karena media cetak tidak dapat menyebarkan langsung berita yang terjadi kepada masyarakat dan harus menunggu turun cetak. Media cetak sering kali hanya memuat berita yang telah disebarluaskan oleh media lainnya.

Tidak adanya audio, media cetak hanya berupa tulisan yang tentu saja tidak dapat didengar.

Visual yang terbatas, media cetak hanya dapat memberikan visual berupa gambar yang mewakili keseluruhan isi berita.

Produksi, biaya produksi yang cukup mahal karena media cetak harus mencetak dan mengirimkannya sebelum dapat dinikmati masyarakat.

Media Elektronik

Kelebihan (+):
Cepat, dari segi waktu, media elektronik tergolong cepat dalam menyebarkan berita ke masyarakat luas.

Ada audio visual, media elektronik mempunyai audio visual yang memudahkan para audiensnya untuk memahami berita.(khusus televisi)

Terjangkau luas, media elektronik menjangkau masyarakat secara luas.

Kekurangan (-):
Tidak ada pengulangan, media elektronik tidak dapat mengulang apa yang sudah ditayangkan.

Media Online

Kelebihan (+):
Sangat cepat, dari segi waktu media online sangat cepat dalam menyampaikan beritanya.

Audio Visual, media online juga mempunyai audio visual dengan melakukan streaming.

Praktis dan Fleksibel, media online dapat diakses dari mana saja dan kapan saja yang kita mau.

Kekurangan (-):
Tidak selalu tepat, karena mengutamakan kecepatan berita yang dimuat di media online biasanya tidak seakurat media lainnya.

Tidak terjangkau luas. Belum semua lapisan masyarakat bisa menikmati layanan media online

Melihat kekurangan dan kelebihan yang dimiliki ketiga media di atas, media online mempunyai keunggulan dalam segi kecepatan. Kecepatan tersebut dapat mengalahkan kedua media lainnya karena audiens sekarang lebih mengutamakan kecepatan dan kemudahan dalam mengakses informasi, dan hal itu dimiliki oleh media online.

Melihat hal ini, prospek media online akan sangat unggul dan dapat mengalahkan kedua jenis media lainnya. Apalagi jika seluruh dunia dapat mengakses internet dengan mudah, otomatis media online akan lebih sering digunakan audiens dibanding kedua jenis media lainnya.

Permasalahan yang dihadapi adalah, saat ini media online belum bisa menjangkau semua lapisan masyarakat. Hanya beberapa kalangan tertentu yang bisa mengakses informasi melalui media online ini. Mungkin sekarang sudah lebih maju karena masyarakat lapisan bawah yang selama ini menjadi masyarakat minoritas pengakses media online, jumlahnya sudah meningkat. Namun masih ada kendala lain, yaitu keterbatasan Sumber Daya Manusia mereka, yang hanya bisa mengakses beberapa informasi kecil atau hanya sekedar chatting dan membuka situs jejaring sosial.

Mengenal Radio

Radio adalah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan radiasi gelombang elektromagnetik. Cara modulasi merupakan proses perubahan suatu gelombang periodik, biasanya berfrekwensi rendah, sehingga menjadikan suatu sinyal mampu membawa suatu informasi. Radiasi elektromagnetik adalah kombinasi medan listrik dan medan magnet yang merambat lewat ruang udara dan membawa energi.

Karakteristik Radio

Siaran Radio mempunyai sifat khusus atau karakteristik yang perlu dipahami, seperti hanya menyajikan suara, dapat membangun daya khayal, dan yang menjadi unggulan utamanya adalah cepat saat itu juga (real time).. karena dengan mempelajari dan menguasai pengetahuan karakteristik radio inilah program radio dapat dikembangkan secara maksimal.

Karakteristik Siaran Radio yang penting diketahui diantaranya:

-Auditif (konsumsi telinga)

-The Theatre of The Mind (media imaginasi)

-At Once (cepat/segera/seketika)

-Heard Once (didengar sepintas)

-Personal / akrab / individual

-Secondary Medium (teman dalam aktivitas).

-Menembus ruang dan waktu

-Murah / cheap

-Mobile (mudah dibawa/dipindahkan)

-Local (factor kedekatan)

-Media Massa / speaks to millions.

Tahapan Produksi Televisi

Televisi sebagai media elektronik merupakan media yang paling banyak digunakan oleh masyarakat dalam memperoleh informasi. Selain karena informasi yang ditampilkan berupa audio visual, televisi bisa menayangkan informasi secara serempak. Selain itu televisi dapat menjangkau banyak masyarakat karena untuk dapat menikmati tayangan televisi, masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya yang terlalu banyak. Dengan demikian sebuah program televisi akan bisa terus tayang tergantung respon dari masyarakat. Agar sebuah program televisi dapat mencapai sasaran penonton yang diinginkan, maka harus dilakukan beberapa tahapan produksi televisi sebelum kita membuat sebuah program televisi.

Berikut merupakan tahapan produksi televisi:

1. Membuat tujuan dari produksi, adalah bagian terpenting dalam tahapan produksi. Kita harus membuat tujuan dan sasaran yang jelas karena dengan tujuan tersebut maka tahapan produksi akan berjalan degan lancar. Jika tujuan tersebut tidak tercapai, maka kita dapat mengevaluasi bagaimana tujuan yang benar agar sebuah acara dapat diproduksi dengan baik. Tujuan produksi bisa untuk informasi, edukasi, dan lain-lain. Kenyataannya, tujuan utama dari produksi sebuah program adalah menarik minat pemirsanya sehingga akan mempengaruhi sukses atau tidaknya sebuah produksi program acara.

2. Menganalisa target penonton, sebelum melaksanakan produksi, hal yang harus kita lakukan adalah menganalisa target penonton baik dari psikografis, demografis, geografis, dan lain-lain sehingga tidak akan terjadi “salah alamat” dalam membuat suatu program. Program yang ditargetkan untuk orang tua, kemaslah program tersebut agar menarik ditonton oleh orang tua. Jangan sampai malah anak-anak yang menikmati sehingga yang terjadi adalah pemirsa bosan dan pemirsa yang bukan targetnya akan terkena imbas “Sindrom Televisi”.

3. Lihat kembali program sejenis yang sudah ada sebelumnya, Dalam memproduksi sebuah program, mari kita tengok ke belakang apakah program sejenis sudah ada atau pernah kita buat sebelumnya. Jika program yang pernah dibuat itu gagal, maka buatlah sebuah program baru. Kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam program sebelumnya akan membuat program baru ini berbeda karena semua sudah dievaluasi. Perubahan itu penting. Dalam hal ini menyangkut konsep, pendukung artis, lokasi, dan waktu.

4. Membuat proposal program, Membuat proposal program adalah tahapan dimana konsep-konsep yang sudah dipikirkan matang-matang diterjemahkan ke atas kertas. Dalam menyusun proposal ini ada beberapa tahapan lagi yang harus dilewati. Yang pertama adalah membuat treatment dan jelaskan detail maksud dari dibuatnya program tersebut. Setelah bagian tersebut selesai dikerjakan, maka buatlah naskah keseluruhan program. Dalam hal ini menganalisa & menilai rancangan program, yang nantinya disetujui atau ditolak menjadi desain program.

5. Membuat Pengaturan Jadwal/Schedule, Pengaturan schedule acara tidak dilakukan begitu saja tanpa perencanaan serta evaluasi setelahnya. Ada proses yang dilalui sehingga tayangan tersebut bisa secara rutin dilakukan stasiun televisi. Yang mengatur itu semua dilakukan di satu departemen yakni Programming Departement. Di dalam TV Programming akan tercakup :

· Orientasi Program

· Kebijakan Program

· Strategi Program

· Sumber Acara

· Pola Acara

· Kriteria Acara

· Pengembangan Program

Untuk menjalankan ke 7 aspek di atas, programming memiliki harus memiliki strategi yakni : Counter Programming, Block Programming, Hammock, Tentoling, dan Stunting.

6. Memilih lokasi, Jika produksi didalam studio tidak mencukupi, anda harus memutuskan lokasi di luar . Orang yang bertugas untuk mensurvei dan mengkoordinasi lokasi dinamakan location scout atau location manager.

7. Memilih pemeran dan peralatannya, Disini anda memutuskan siapa yang akan memerankan tokoh-tokoh dalam produksi anda pameran langsung menawarkan kepada orang terkenal/bisa juga melalui proses seleksi (casting). Hal ini juga dapat dilakukan jauh sebelum produksi berlangsung. Ini bisa digunakan sebagai bahan proposal. Orang yang menangani hal kostum dan peralatan disebut Set Designer. Dia bertugas melihat naskah lalu melakukan penelitian kemudian mendiskusikannya dengan sutradara, setelah melakukan perjanjian diatas. Set Designer dapat juga sebagai Designer pada proses komputer jika produksi tersebut membutuhkan sentuhan komputer.

8. Memulai latihan dan shooting, tergantung dari jenis acaranya seperti apa. Latihan atau disebut dengan gladiresik bisa dilakukan pada saat sebelum acara utama dilakukan atau di shooting kan. Produksi acara yang menggunakan sistem live on tape harus melakukan gladiresik karena nantinya akan ada latihan khusus untuk gerakan, kamera, properti, dan lain-lain yang tidak bisa di rekam ulang. Berbeda dengan produksi drama yang bisa mengambil gambar berulang-ulang karena terbantu dengan teknologi editing.

9. Pasca Produksi, Setelah semua produksi dilakukan, selanjutnya menindaklanjuti hasil dari produksi kita. Televisi penyiaran memiliki rating. Di dalam lembaga televisi, acara aka dievaluasi, diuji coba/ditanggapi oleh para informer.

09/09/2014

Program Pendidikan Profesi Pertelevisian Politeknik Negeri Ujung Pandang disingkat P3TV PNUP (PNUP Broadcast Education) adalah program pendidikan profesional dengan lama pendidikan setara Diploma 2 (masa pendidikan 2 tahun) di bawah naungan Politeknik Negeri Ujung Pandang.

Program pendidikan ini bertujuan untuk mencetak SDM Pertelevisian yang siap pakai, handal dan professional. Dibukanya Program Pendidikan Profesi Pertelevisian oleh Politeknik Negeri Ujung Pandang atas dasar kebutuhan yang besar akan SDM Pertelevisian di stasiun TV (lokal, nasional dan internasional), Production House, Perusahaan Periklanan dan seluruh bidang pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan atau keahlian multimedia audio visual di berbagai instansi baik negeri maupun swasta.

Politeknik Negeri Ujung Pandang melalui program pendidikan ini berkomitmen untuk mensuplai seluruh kebutuhan SDM Pertelevisian, konten program acara TV, kompetensi penyiaran TV, dan sertifikasi kompetensi penyiaran TV di Makassar, di Sulawesi Selatan dan di seluruh Indonesia.
Sekarang ini P3TV PNUP Memiliki 3 jurusan konsentrasi studinya yaitu ;

Tekpro TEKPRO

Teknik Produksi Pertelevisian Melatih SDM profesional yang siap mengisi peluang kerja sebagai kameraman/wati, penata cahaya, penata suara, master control, editor dan pengarah teknik.

Manpro MENPRO

Manajemen Produksi Pertelevisian Mendidik SDM profesional guna mengisi posisi sebagai penulis skenario, pengarah acara, produser, tim kreatif acara dan penulis cerita.

Menber MENBER

Manajemen Pemberitaan Pertelevisian Menyiapkan SDM profesional dalam bidang pemberitaan pertelevisian guna mengisi posisi sebagai news reporter, news caster, news reader, news writer dan presenter tv.

Program Pendidikan Profesi Pertelevisin - P3TV Makassar Program Pendidikan Profesi Pertelevisian - Politeknik Negeri Ujung Pandang

Want your school to be the top-listed School/college in Makassar?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Studio Praktikum P3TV PNUP : Ruko Hasanuddin Commercial Center No. 8 Jalan Perintis Kemerdekaan Km 9 Makassar Sulawesi Selatan Telp : 4114-772800 Kota Makassar
Makassar
77280