31/05/2020
Pertanyaan :
Semoga Allah selalu mejaga Ustadz
Ingin bertanya Ustadz, bagaimana jika seorang belajar hanya melalui media online yang mana dia mengikuti kajian dari banyak Ustadz karena ingin mengambil pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Sedangkan untuk bertanya tidak mudah baginya untuk bertanya kepada ahli yang dia sangat yakini keilmuannya. Sehingga jika ada kesempatan untuk bertanya kepada Ustadz dia lakukan, walaupun bukan ahli tersebut.
Apa nashihat ustadz untuk penuntut ilmu yang keadaannya seperti ini?
Jazakumullahu khairan
Jawab :
Semoga Allah selalu menjaga Anda. Seorang pemula dalam belajar hendaknya memiliki guru yang dengan mudah baginya untuk bertanya padanya. Sesuai kondisi dirinya dan kemampuannya. Hendaknya setiap pelajar mencari guru yang bisa dia temui untuk bertanya dan minta nasehatnya. Tentu melalui langkah-langkah yang sudah sering saya jelaskan. Tidak boleh seseorang belajar dari banyak ustadz dalam pelajaran yang sama. Misalnya belajar tafsir dari dua ustadz. Bisa saja belajar dari dua ustadz jika disiplin ilmu berbeda, seperti tafsir dan hadits, selama penuntut ilmu itu punya kemampuan untuk menerima dua pelajaran sekaligus, dengan terlebih dahulu minta izin dari guru pertama, dan mendapat restu darinya. Adapun mendengar kajian di medsos, maka ini bukan menuntut ilmu yang baik, kecuali jika pembawa kajian tersebut adalah ustadz yg biasa dihadiri kajiannya, namun tidak bisa bertemu karena suatu kendala seperti saat ini. Mendengar kajian dari banyak ustadz juga bukan cara yang baik dalam belajar. Cara ini tidak bisa menanamkan ilmu, tapi justru membuat seseorang merasa tahu persoalan, padahal dia tidak mengerti apa-apa, akibatnya timbul kelompok yang hobi debat dan mahir memilih pendapat menurut hawa nafsunya. Mereka ini tidak memiliki guru meski mengklaim punya banyak guru. Karena pengakuan seseorang bahwa fulan adalah guru baginya, itu menuntut pemenuhan hak-hak guru, seperti sudah dijelaskan dalam adab menuntut ilmu. Untuk memenuhi hak seorang guru saja bukan hal yang mudah. Lalu bagaimana p**a untuk memenuhi hak banyak guru? Ini yang dilalaikan oleh mereka yang mengklaim banyak guru. Pengakuan ada konsekuensinya dan bila tidak ditunaikan menjadikan seseorang menjadi murid durhaka. Maka tidak mudah untuk mengatakan guru saya Fulan, Fulan, dan Fulan. Pembicaraan ini saya tujukan kepada orang yang ingin belajar. Maka saya jelaskan kembali, hendaknya orang yang ingin belajar, memilih guru sesuai ketentuan, selanjutnya komitmen belajar padanya, mengulang ulang pelajaran, menghapal, dan berusaha mengamalkan. Tidak belajar ke guru lain kecuali punya kemampuan dan mendapat restu guru pertama. Terkadang sebagian penuntut ilmu sibuk dengan pertanyaan, boleh kah ambil ilmu dari syaikhFulan? Boleh kah ambil ilmu dari ustadz Fulan ? dan seterusnya. Orang yang bertanya seperti ini hanya punya dua kemungkinan. Pertama, sangat serius dan cerdas. Sehingga pelajaran yang dia dapatkan dari gurunya sudah dikuasai penuh dan dia ingin manfaatkan waktu dengan belajar pada yang lain. Kedua, orang tidak serius belajar. Dia tidak mau menguasai pelajaran namun hanya ingin wisata taklim. Kelompok kedua ini cukup banyak di zaman ini. Minta izin guru untuk belajar pada Fulan dan Fulan tetapi pelajaran yang diberikan gurunya belum dia ulang, terlebih lagi dihapal, dan semoga sudah diamalkan. Mereka selalu merasa kurang pelajaran, padahal hakikatnya mereka bosan dengan pelajaran yang tidak bervariasi. Syetan mensamarkan hakikat ini dan menghiasi seakan akan dia seorang penuntut ilmu yang serius. Kenyataannya dia digiring untuk sekedar berekreasi. Perumpamaan dalam hal ini adalah seperti orang yang belajar membaca Al Qur'an. Karena sulit dan lama dikuasai, dia merasa jenuh, akhirnya dia pergi ke guru lain, melihat lihat tempatnya, memperhatikan pengajaran disana, tapi tidak mempraktekkan pengucapan huruf hurufnya, kemudian pindah lagi ke guru lain, dan demikian seterusnya, lalu kapan dia bisa mengaji klu tidak mau duduk di salah satu guru tersebut, bersabar, hingga dia bisa membaca Al Qur'an? Begitulah ilmu secara umum. Bagi para penuntut ilmu, kembali lah ke langkah awal menuntut ilmu, sungguh ilmu seperti dikatakan dalam kitab tadzkirotus saami', ia memiliki permulaan, yang seseorang tidak akan sampai penghujungnya, sebelum melalui permulaannya. Seseorang tidak boleh belajar sesuai kebutuhannya. Namun dia harus belajar sesuai apa yang diajarkan guru kepadanya. Wabillahi Taufik
Dijawab oleh Ustadz Amiruddin Djalil Hafizhahullah