Makassar Biennale

Makassar Biennale

Share

The Makassar Biennale, with its eternal theme of Maritime, has been held since 2015.

It was established by the Colliq Pujie Art Movement (CPAM) and the Makassar Biennale Foundation, collaborated with Tanahindie in 2017, 2019, 2021, and 2023.

04/09/2025

Menuju Makassar Biennale 2025: REVIVAL!

Makassar Biennale sejak awal berdirinya pada 2015 selalu berpijak pada tema abadi: MARITIM. Tema abadi yang sekaligus menjadi karakter ini selalu menjadi fondasi kuratorial yang menghubungkan seni rupa kontemporer dengan sejarah, budaya, dan cara hidup masyarakat pesisir di Indonesia timur. Maritim bukan sekadar simbol geografis, melainkan juga metafora tentang keterhubungan, pertukaran, dan perlintasan yang telah membentuk identitas kawasan ini sejak berabad-abad lalu.

Memasuki satu dekade penyelenggaraan, Makassar Biennale 2025 menghadirkan tema REVIVAL! Pilihan tema ini merefleksikan semangat kebangkitan—baik dari pengalaman kolektif pasca-pandemi, dinamika sosial-politik di kawasan, maupun kebutuhan untuk membangkitkan kembali ekosistem seni rupa di Makassar dan Indonesia timur. REVIVAL! adalah panggilan untuk menumbuhkan kembali energi yang mungkin sempat meredup, untuk menghidupkan kembali ruang-ruang yang sempat senyap, dan untuk memperbarui dialog antara seniman, masyarakat, dan lingkungan maritim yang menjadi basis identitas MB.

Dengan mengusung REVIVAL!, MB ingin menegaskan bahwa perjalanan seni tidak pernah linier, melainkan penuh pasang surut sebagaimana laut yang menjadi latar simboliknya. Kebangkitan yang dimaksud bukan sekadar “mengulang” apa yang pernah ada, melainkan membayangkan ulang cara berjejaring, berkarya, dan berkomunitas di tengah tantangan baru.

Dalam bingkai maritim, revival adalah tentang membuka kembali jalur-jalur perlintasan pengetahuan, budaya, dan solidaritas yang menjangkau lintas p**au, kota, dan bangsa.

Sampai Jumpa di Makassar Biennale 2025: REVIVAL!
---
Road to *Makassar Biennale 2025: REVIVAL*

Since its inception in 2015, Makassar Biennale has always been based on an eternal theme: MARITIME. This timeless theme, which has become its defining characteristic, has always been the curatorial foundation that connects contemporary art with the history, culture, and way of life of coastal communities in eastern Indonesia. Maritime is not merely a geographical symbol, but also a metaphor for the interconnectedness, exchange, and cross-pollination that have shaped the identity of this region for centuries.

Entering its second decade, the Makassar Biennale 2025 presents the theme REVIVAL! This theme reflects a spirit of rebirth—whether from the collective experience of the post-pandemic era, the socio-political dynamics in the region, or the need to revive the visual arts ecosystem in Makassar and eastern Indonesia. Revival is a call to rekindle energy that may have dimmed, to revive spaces that have fallen silent, and to renew the dialogue between artists, the community, and the maritime environment that forms the basis of MB's identity.

By promoting REVIVAL!, MB wants to emphasize that the journey of art is never linear, but rather full of ups and downs, just like the sea that serves as its symbolic backdrop. The revival in question is not simply a matter of "repeating" what once was, but rather reimagining ways of networking, creating, and building communities amid new challenges.

Within the maritime framework, revival is about reopening pathways of knowledge, culture, and solidarity that span islands, cities, and nations.

See you at Makassar Biennale 2025: REVIVAL!

04/09/2025

Apa yang membuat Makassar Biennale istimewa?
Catatan Diskusi "Makassar Biennale untuk (Si)Apa?
di Galero Colliq Pakue FSD UNM, Kamis 28 Agustus 2025
---
Apa yang membuat Makassar Biennale istimewa? Dalam perspektif saya, salah satu jawabannya terletak pada ekosistem seni rupa yang menopang keberlangsungan sebuah biennale. Analisa ini merujuk pada dua biennale yang sering dilaksanakan paralel dengan MB (Jogja Biennale dan Jakarta Biennale). Jogja memiliki ekosistem seni yang matang: keberadaan sekolah seni, komunitas kreatif yang berlapis, pasar seni yang aktif, hingga tradisi kritik yang mapan. Jakarta Biennale ditopang oleh sejarah panjang, Dewan Kesenian Jakarta, serta jejaring lembaga internasional yang sudah terbentuk lama. Kedua kota ini bukan hanya punya biennale, tetapi juga memiliki ekosistem seni yang terus hidup di luar biennale itu sendiri. Sementara itu, MB lahir dalam situasi berbeda: Makassar dan Indonesia Timur belum memiliki infrastruktur seni rupa yang setara. Dalam sepuluh tahun ini, MB bagi saya seharusnya tidak diposisikan sebagai puncak perayaan seni rupa, melainkan sebagai pemantik awal untuk menciptakan ekosistem itu sendiri. Dengan kata lain, MB seharusnya diposisikan sebagai laboratorium yang merintis kemungkinan, bukan sebagai etalase besar yang menampilkan hasil jadi.

Ketika pertama kali MB dilaksanakan 2015, kami di Colliq Pujie Art Movement (CPAM) tidak peduli dengan perkembangan seni rupa di Makassar saat itu. Bagi kami, melaksanakan biennale di Makassar dimana ekosistem seni rupa belum mapan, adalah sebuah perjudian. Filosofi yang kami pegang saat itu adalah ”Bikinmi dulu, nantipi diliat...”. Saya sendiri sadar bahwa ini bukan persoalan dana, dalam situasi ada dana, ada banyak faktor lain yang menentukan seperti manajemen tim dan infrastruktur pendukung. Hasilnya sudah bisa ditebak, dalam kesempatan perdana melaksanakan biennale, tim kami hancur lebur. Ada banyak masalah, tersendatnya pengiriman kembali karya para seniman, fee kurator yang belum dibayar, hingga soliditas tim yang tercerai berai. Tapi saya sadar bahwa tanggung jawab terbesar ketika menghelat sebuah ”Biennale”, adalah memastikan pelaksanaannya setiap dua tahun sekali. Dalam konteks inilah saya kemudian memilih strategi lain, tetap mendirikan Yayasan Makassar Bienale sebagai pemilik MB tapi mencari tim manajemen yang bersedia melaksanakannya, pada titik ini Tanahindie kemudian mengambil peran sebagai pelaksana.

Tentang pelaksanaan MB yang cenderung ”senyap” dibawah Tanahindie, saya justru punya perspektif lain. Berbeda dengan pelaksanaan perdana di 2015 yang dilaksanakan di GTC dan Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, juga tahun 2017 di Pelataran Menara Pinisi UNM yang ditandai dengan pameran besar, sejak 2019 dibawah manajemen Tanahindie, MB memilih strategi berbeda yang lebih senyap. Saya membaca kesenyapan MB sejak saat itu sebagai strategi sekaligus keterbatasan. MB tidak banyak mengandalkan pameran spektakuler untuk menarik perhatian, melainkan lebih menekankan riset dan keterhubungan lintas disiplin. Formatnya beragam: residensi seniman di daerah pesisir, simposium di kawasan karst, publikasi berupa buku atau komik, hingga program musik kolaboratif. Saya menyadari aktivitas semacam ini mungkin kurang menghasilkan gaung media, tetapi bagi saya format ini justru menyumbang lapisan penting dalam pembentukan pengetahuan dan jejaring budaya. Jika Jogja Biennale menghubungkan diri dengan global south melalui Equator Series, dan Jakarta Biennale membangun wacana lewat keterlibatan kurator berkaliber internasional, maka MB mencoba menegaskan posisinya sebagai simpul pengetahuan maritim dan urban di kawasan timur Indonesia.

Bagi saya MB adalah bibit, mengevaluasi sebuah biennale yang baru berusia sepuluh tahun seperti MB ibarat menilai sebuah pohon yang baru saja tumbuh. Sepuluh tahun—dengan lima edisi pelaksanaan—masih tergolong “seumur jagung” dalam ukuran perkembangan sebuah biennale. Biennale yang mapan seperti Jogja Biennale atau Jakarta Biennale pun baru mulai mencapai kematangan setelah puluhan tahun perjalanan, melalui konsistensi, dinamika organisasi, dan terbentuknya ekosistem pendukung yang lebih luas. Menurut saya, wajar jika MB dalam usianya yang relatif muda masih terlihat senyap dan penuh eksperimen. Ia masih berada dalam fase perintisan, mencari bentuk, dan menguji relevansi dirinya dalam konteks lokal maupun internasional.
Sebagai bagian dari Yayasan Colliq Pujie (pelaksana pertama MB ditahun 2015), dan juga Yayasan Makassar Biennale sejak tahun 2016, saya menyadari bahwa MB memang sejak awal tidak bisa dirancang untuk berdiri sendiri sebagai festival besar. Saya lebih sepakat MB diplot sebagai bagian dari ekosistem—sebuah pemantik yang diharapkan bisa menumbuhkan lebih banyak inisiatif seni di kawasan timur Indonesia. Saya percaya, biennale sebesar apa pun tidak akan berarti banyak tanpa ekosistem yang menopangnya. Atas dasar itu p**a saya memahami mengapa MB yang dilaksanakan oleh Tanahindie lebih sering memilih jalur “senyap”: mendorong terbentuknya residensi di kawasan timur Indonesia, membangun jejaring lintas komunitas, atau memfasilitasi publikasi yang lahir dari riset kolektif. Dari inisiatif kecil inilah, pelan-pelan terbentuk ruang-ruang seni baru, jejaring kurator, hingga percakapan yang lebih luas tentang seni dan budaya di timur Indonesia.

Saya menilai kesenyapan MB bukanlah tanda kelemahan, melainkan fase penting dari sebuah proses perintisan ekosistem. Jogja dan Jakarta bisa bergaung karena mereka berdiri di atas lahan yang sudah lama subur. MB bekerja dalam lanskap yang berbeda: ia berusaha menyuburkan tanah itu terlebih dahulu, sebelum bisa menanam pohon-pohon besar. Dengan cara ini, MB sesungguhnya sedang bekerja dalam horizon waktu yang lebih panjang—tidak hanya menyelenggarakan festival seni, tetapi menyiapkan kondisi bagi lahirnya ekosistem seni rupa yang lebih luas, lebih kokoh, dan lebih berkelanjutan di kawasan timur Indonesia.

Saya sendiri menjadi saksi beberapa alumni MB yang ”senyap” dibawah Tanahindie sekarang justru mulai meniti karirnya dalam dunia internasional yang akrab dengan dunia seni rupa berbasis riset. Oktober ini, Aziziah Diah Aprilya (setelah sebelumnya terpilih dalam program BREEZE: Perth-Makassar Arts Exchange 2025) bersama Wilda Yanti Salam akan berpameran di MUMA (Monash University Museum of Art), galeri kampus paling berpengaruh di Australia. Ini belum menghitung beberapa seniman alumni MB yang lain seperti Abdi Karya (seniman MB 2023), hingga Adi Gunawan (seniman MB 2017) yang sudah malang melintang dalam dunia senirupa internasional.

Dengan segala keterbatasan dan pencapaiannya, MB tetap merupakan ruang penting untuk membayangkan masa depan seni rupa di luar pusat-pusat seni yang mapan. Ia mungkin masih seumur jagung, tetapi justru di usia mudanya inilah ia menyimpan energi untuk tumbuh. Refleksi ini tidak hanya soal menilai apa yang sudah dicapai, melainkan juga tentang mengingat kembali posisi MB: ia bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah pemantik menuju ekosistem seni rupa yang lebih besar.

Makassar, 1 September 2025

NURABDIANSYAH (ABI)
Dosen Prodi DKV FSD UNM
Pendiri Yayasan Colliq Pujie dan Yayasan Makassar Biennale
Direktur Makassan Arts, Research, and Global Encounters (MAREGE) Institute
Alumni ASIALINK Arts Leaders Program Fellowship
Founder BREEZE: Perth-Makassar Arts Exchange

04/09/2025

CATATAN DISKUSI MAKASSAR BIENNALE UNTUK (SI)APA?
Refleksi atas pelaksanaan Makassar Biennale dalam 10 tahun pertama
Di Galeri Colliq Pakue FSD UNM - Kamis, 28 Agustus 2025
Oleh: Nurabdiansyah (Abi)
---
Makassar Biennale (MB) sejak 2015 hadir sebagai salah satu wajah baru dalam lanskap seni rupa Indonesia, diawali dengan tema Trajectory, MB kemudian mengusung tema abadi Maritim yang menjadi identitas kuratorialnya. Pilihan tema ini berangkat dari akar historis Makassar sebagai kota pelabuhan dan simpul perdagangan Nusantara, sekaligus simbol keterhubungan lintas budaya di kawasan timur Indonesia. MB kemudian secara konsisten dilaksanakan pada tahun 2017, 2019, 2021 dan 2023 diselenggarakan oleh Yayasan Makassar Biennale bekerjasama dengan Tanahindie.
Namun, dalam hampir sepuluh tahun penyelenggaraannya, MB sering dianggap senyap atau kurang gaungnya jika dibandingkan dengan biennale-biennale lainnya di Indonesia. Pertanyaan pun muncul: mengapa MB yang membawa potensi narasi besar justru terasa redup dalam percakapan publik seni rupa di Makassar? Menanggapi polemik tersebut, Yayasan Makassar Biennale (YMB) atas dukungan dari Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar (FSD UNM) kemudian menginisiasi diskusi terbuka berjudul ”Makassar Biennale untuk (Si)Apa?”.
Diskusi ”Makassar Biennale untuk (Si)Apa? Dilaksanakan di Galeri Colliq Pakue FSD UNM di Kampus Parangtambung pada hari Kamis tanggal 28 Agustus 2025. Diskusi dihadiri kurang lebih 50 orang terdiri dari aktivis seni rupa, mahasiswa, dan pemerhati Makassar Biennale.
Diskusi ini menghadirkan Nurabdiansyah “Abi” (Pendiri Yayasan Makassar Biennale), Anwar “Jimpe” Rachman (Direktur Yayasan Makassar Biennale 2017-2023), dan Irfan Palippui (Pengawas Yayasan Makassar Biennale). Diskusi dibuka oleh Abi, dengan pengantar awal tentang sejarah Makassar Biennale.
Sejarah Makassar Biennale diawali pada tahun 2014 oleh Dicky Tjandra yang diberi amanah oleh Direktorat Pembinaan Kesenian Kemendikbud untuk melaksanakan kegiatan besar senirupa di Makassar tahun 2015. Setelah berdiskusi dengan beberapa pihak, Dicky Tjandra setuju untuk menyelenggarakan pameran besar seni rupa dua tahunan di Makassar bertajuk ”Makassar Biennale”. Namun, karena terkendala tidak solidnya komunitas seni rupa yang bisa melaksanakan kegiatan tersebut, Dicky Tjandra kemudian berinisiatif untuk menyerahkan pelaksanaan Makassar Biennale yang pertama kepada Komunitas Colliq Pujie Art Movement, komunitas mahasiswa asal Makassar yang sedang melanjutkan studi di Yogyakarta dan baru saja memenangkan paralel event Jogja Biennale tahun 2013. Melalui Yayasan Colliq Pujie, terlaksanalah MB sejak 2015 mengambil tempat di GTC Tanjung Bunga dan Gedung Kesenian Societeit de Harmonie.
Awal tahun 2016, Abi kemudian mengajak Faisal MRA, Arham Rahman, Anwar Jimpe Rachman, dan Irfan Palippui untuk mendirikan Yayasan Makassar Biennale sebagai lembaga resmi pelaksana Makassar Biennale untuk periode selanjutnya. Meski demikian, di tahun 2017 dimana MB kedua sudah harus dilaksanakan, sementara para pengurus Yayasan MB sibuk melanjutkan studi, Abi kemudian berinisiatif mengajak Tanahindie yang dikomandoi oleh Jimpe untuk bersama-sama melaksanakan MB ditahun tersebut dimana Yayasan MB bertindak sebagai pemilik MB dan manajemen Tanahindie sebagai pelaksana. Kerjasama ini terus berlanjut pada pelaksanaan MB ditahun 2019, 2021, dan 2023. Melalui kerjasama ini, sejak awal, Yayasan MB percaya bahwa manajemen Tanahindie mampu melaksanakan MB dengan baik dan bisa menempatkan MB bukan hanya sebagai festival seni rupa, melainkan sebagai ruang riset, dialog, dan pencatatan sejarah urban serta budaya pesisir.
Sesi kedua diskusi dilanjutkan dengan presentasi Jimpe tentang program-program yang telah dilaksanakan Tanahindie sebagai pelaksana MB dari tahun 2017 hingga 2023. Dalam presentasinya, Jimpe menguraikan pelaksanaan MB dalam rentang 2017–2023 diposisikan bukan sekadar sebagai tujuan akhir, melainkan metode untuk membentuk pengetahuan dan menafsir ulang realitas melalui seni. Bersinergi dengan proyek awal Tanahindie seperti Bom Benang dan Halaman Rumah, MB berkembang dengan menekankan pencarian nalar maritim sebagai bingkai ekspresi, sekaligus membuka ruang seni sebagai sarana interogasi realitas sosial. Sejak 2019, MB mulai meluas ke beberapa lokasi seperti Bulukumba, Parepare, Tinambung dan kota Makassar sendiri. Menghadapi pandemi COVID-19 pada 2020–2021, Tanahindie kemudian mendorong respons kembali ke tradisi lewat tema Sekapur Sirih pada MB 2021. Pada periode 2022–2024, kegiatan MB mencakup beberapa lokasi di kawasan timur Indonesia, termasuk Makassar, Parepare, Pangkep, Jayapura, Nabire, Labuan Bajo, hingga Lembata, dengan format jaringan literasi yang melibatkan banyak partisipan dan jaringan perpustakaan.
Isu yang diangkat berkaitan dengan kondisi kawasan timur Indonesia sebagai lanskap kep**auan yang dikelola dengan orientasi daratan, di mana banyak masyarakat berada pada posisi marjinal, serta kebutuhan memperkuat jaringan literasi yang masih lemah dibanding kawasan barat Indonesia. Seni di sini dipahami bukan hanya sebagai ekspresi, tetapi sebagai alat produksi pengetahuan, ruang belajar, dan pintu masuk bagi anak muda dalam mengakses isu kewargaan. Capaian penting MB mencakup terbentuknya jejaring perpustakaan, praktik arsip dan penerbitan mandiri, serta pameran lintas p**au yang memperlihatkan seni sebagai ruang tumbuh dan bersemi. Walau usianya baru sekitar satu dekade, MB telah menjadi ekosistem penting yang menghubungkan seni, masyarakat, dan pengetahuan di kawasan timur Indonesia.
Sesi ketiga diskusi ini diisi dengan tanggapan Irfan Palippui sebagai pengawas Yayasan Makassar Biennale. Dalam tanggapannya, Irfan Palippui menyoroti banyaknya miskomunikasi antara Yayasan MB sebagai pemilik dan Tanahindie sebagai pelaksana. Irfan Palippui kemudian mengunggah beberapa fakta sehingga pelaksanaan MB yang dikelola Tanahindie cenderung dilaksanakan secara sepihak dan tidak melibatkan pihak yayasan MB, salah satunya adalah momen pembukaan MB ditahun 2019 dimana Irfan Palippui datang bersama Muhammad Faisal MRA selaku Ketua Yayasan tidak mendapatkan porsi yang semestinya. Diskusi sempat memanas tapi tetap dalam koridor refleksi dan evaluasi bersama untuk kebaikan MB kedepan. Sebagai moderator, saya kemudian memberikan kesempatan kepada Jimpe untuk mengklarifikasi beberapa hal terkait apa yang disampaikan oleh Irfan Palippui. Dalam klarifikasinya, Jimpe menegaskan tidak ada niat untuk tidak melibatkan pengurus Yayasan MB, hanya saja dalam setiap pelaksanaan MB tidak selalu bisa mengakomodir banyak hal, ada banyak kesibukan yang menyita perhatian dan kurangnya ruang komunikasi menjadi salah satu alasan penting banyaknya miskomunikasi dengan sesama pengurus Yayasan MB.
Sesi terakhir diskusi dilanjutkan dengan kesempatan untuk tanya jawab, sayangnya diskusi ini tidak dihadiri oleh komunitas perupa yang sebelumnya menggaungkan polemik senyapnya MB dalam khazanah seni rupa di Makassar. Beberapa pertanyaan dan tanggapan yang menarik dicatat antara lain dari Irfan Arifin yang sedari awal menegaskan bahwa konflik diantara pengurus Yayasan adalah masalah internal dan seharusnya tidak mengubah esensi dari MB itu sendiri. Konflik yang terjadi diantara sesama pengurus yayasan menurutnya hanya bisa diselesaikan oleh pengurus yayasan MB dan tidak perlu dibawa ke ruang publik. Ada p**a pertanyaan menarik dari Anjas Wirabuana yang mempertanyakan kenapa diskusi ini dilaksanakan di FSD UNM? Kenapa tidak dilaksanakan di Sao Panrita dimana diskusi polemik tentang MB mulanya digaungkan. Pertanyaan ini menarik jika merujuk pada catatan polemik yang sempat muncul adalah MB dianggap tidak memberi andil pada perkembangan senirupa di Makassar dalam 10 tahun terakhir. Untuk kedua pertanyaan ini, saya menanggapi secara langsung. Pertanyaan tentang peran MB dalam khazanah seni rupa di Makassar, seharusnya juga perlu diarahkan ke FSD UNM. Dibandingkan dengan MB yang baru 10 tahun, FSD UNM jauh lebih dulu didirikan, sejak 1971 (sudah 54 tahun). Karena itu pertanyaan tentang peran MB dalam khazanah senirupa di Makassar kurang tepat karena tanggung jawab tentang perkembangan seni rupa di Makassar seharusnya tidak ditanggung sendirian oleh MB, tapi juga pihak lain, seperti komunitas perupa itu sendiri, kolektor, media massa, pemerintah dan juga institusi publik seperti FSD UNM. Karena itu diskusi ini dilaksanakan di Galeri Colliq Pakue FSD UNM karena FSD UNM juga perlu menunjukkan perannya dalam ekosistem seni rupa di Makassar, dan menghelat diskusi ini adalah langkah tepat untuk itu. Pertanyaan atas dasar keluhan komunitas perupa pada peran MB ini juga dibarengi refleksi pada pelaksanaan MB tahun 2017 di pelataran Menara Pinisi UNM, dimana MB sempat ”diusir”. Jika memang komunitas perupa ini peduli dengan MB, seharusnya momen ”pengusiran” ini menjadi momen penting untuk membela dunia seni rupa di Makassar. Sayangnya itu tidak terjadi, tidak ada yang peduli pada kejadian memalukan dalam dunia seni rupa di Makassar saat itu.
Ada beberapa pertanyaan dari peserta lain, misalnya dari Ciki yang memberi data dana yang telah dihabiskan oleh Tanahindie sebagai pelaksana MB melalui skema Dana Indonesiana. Menanggapi pertanyaan ini, Jimpe kemudian menceritakan kronologi bagaimana MB kemudian diposisikan sebagai event strategis oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan diminta untuk mengajukan proposal pendanaan. Tentang penggunaan dan dan mekanisme pertanggungjawaban dana yang digunakan, bisa diakses oleh publik dan tentu saja Tanahindie sebagai pelaksana MB tetap mengikuti aturan-aturan dalam penggunaannya. Dalam deskripsinya, Jimpe memberikan gambaran betapa rumitnya administrasi pertanggungjawaban penggunaan dana tersebut tapi tentu saja karena dana tersebut telah digunakan, bagaimanapun Tanahindie harus mempertanggungjawabkannya sesuai mekanisme dari Kemendikbud.
Diskusi kemudian diakhiri dengan pertanyaan menarik dari salah satu peserta mahasiswa FSD UNM yang mempertanyakan mengapa event Makassar Biennale kurang dipublikasikan sebelumnya. Mahasiswa ini merasa bahwa event ini sangat penting sehingga kedepan jika event ini kembali dilaksanakan, dia berharap bisa dilibatkan atau setidaknya mendapatkan informasinya lebih awal. Uniknya karena dia menyebut MB sebagai Makassar Billenial, sebuah istilah yang lahir dari ungkapan yang tulus dan polos ala generasi millenial. Untuk pertanyaan ini, saya kemudian menyarankan untuk mengikuti sosial media dan website resmi Makassar Biennale, yakni makassarbiennale.org dan di Instagram. Menurut saya, informasi tentang MB sudah disebar dengan sangat baik oleh Tanahindie sebagai pelaksana MB sejak tahun 2017 dan berbagai event satelit hingga 2024.
Diskusi ini berlangsung kurang lebih 3 jam, dimulai pada pukul 10.00 hingga pkl. 13.00 WITA. Sebagai penutup, saya kemudian mengumumkan secara resmi pergantian direktur MB dari Anwar Jimpe Rachman kepada Irfan Palippui. Sejak awal polemik tentang MB ini dimulai, kami dari pihak Yayasan berusaha menjaga agar polemik ini tidak berkembang menjadi urusan pribadi, karena itu, sebelum menginisiasi diskusi ini, sebelumnya saya sudah berdiskusi dengan Jimpe terkait pelaksanaan MB kedepan. Sebagai pemilik utama MB, Yayasan Makassar Biennale berinisiatif untuk kembali menjadi pelaksana utama MB kedepan. Tanggung jawab utama tentang MB dan bagaimana dampaknya pada seni rupa di Makassar seharusnya tetap menjadi tanggung jawab pihak yayasan, dan bukan tanggung jawab Tanahindie semata. Jimpe bersedia untuk mengembalikan pelaksanaan MB ke Yayasan Makassar Biennale, dan menyerahkan posisi direktur kepada pengurus yayasan yang lain.
Setelah berdiskusi panjang dengan Irfan Palippui, beliau kemudian setuju untuk menjadi Direktur Makassar Biennale selanjutnya. Kembalinya Yayasan Makassar Biennale sebagai pelaksana MB tidak berarti mengabaikan apa yang telah dibangun dan dikerjakan oleh Tanahindie, dalam konteks ini, sebagai pendiri Yayasan Colliq Pujie (pelaksana MB 2015) dan Yayasan Makassar Biennale sejak 2016, secara khusus saya menyampaikan apresiasi pada manajemen Tanahindie sebagai pelaksana MB 2017-2023 dan beberapa program satelit MB hingga 2024. Apa yang telah dikerjakan oleh Yayasan Colliq Pujie pada MB 2015, dan Tanahindie pada MB2017, 2019, 2021, dan 2023 tetap menjadi pondasi penting dan akan terus menjadi catatan dan bekal pada pelaksanaan Makassar Biennale di tahun-tahun mendatang.
Pelaksanaan MB tahun ini yang kembali dikerjakan oleh Yayasan Makassar Biennale diyakini akan menjadi titik penting untuk pelaksanaan MB kedepan. Mari memberi kesempatan pada Direktur MB yang baru, untuk menyusun tim dan tema kuratorial MB 2025 yang harus terlaksana dalam rentang waktu 4 bulan yang tersisa ditahun 2025. Meskipun mepet, pelaksanaan MB 2025 tetap dipenuhi banyak harapan baik karena bagi saya, MB bukan sekedar event, tapi juga pemantik ekosistem.

Makassar, 1 September 2025

NURABDIANSYAH (ABI)
Dosen Prodi DKV FSD UNM
Pendiri Yayasan Colliq Pujie dan Yayasan Makassar Biennale
Direktur MAREGE (Makassan Arts, Research, and Global Encounters) Institute
Alumni ASIALINK Arts Leaders Program Fellowship
Founder BREEZE: Perth-Makassar Arts Exchange

30/08/2025

The Makassar Biennale, since 2015

Want your school to be the top-listed School/college in Makassar?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Address


Makassar