09/05/2019
Evaluasi Kinerja Basarnas Makassar dalam Memberikan Layanan Jasa SAR ke Masyarakat Sulawesi Selatan
Mohon berkenan memberikan penilaian kepada kami sebagai bagian untuk meningkatkan layanan Jasa SAR dari Kantor SAR Makassar. Terima kasih.
08/06/2017
Amien Rais, Dia Juga Manusia Biasa
Amien Rais Seorang bertanya, "Kak bagaimana pandangannya atas kasus yang menimpa Amien Rais?" *saya terdiam. Sebenarnya saya ingin menghi...
03/06/2017
Hari Lahir Pancasila
Masih dalam suasana Pekan Pancasila. Seorang bertanya, "Kak, yang manakah yang benar Hari lahir Pancasila? Apakah 1 Juni atau 18 Agustus? Bukankah Pancasila yang 1 Juni berbeda dengan Pancasila yang 18 Agustus?"
Saya tersenyum.
Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945 adalah sesuai ketetapan Presiden Soekarno selaku Bapak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia. Sebagai seorang Proklamir tentu B**g Karno yang lebih tahu kapan Pancasila itu lahir.
Pada 2011 silam, saat akan mengikuti sebuah Advanced Training Nasional (LK3) yang dilaksanakan oleh BEM UNM yang bertema "Gerakan Indonesia Melawan Lupa; Upaya Konsolidasi Spirit Kebangsaan yang Bermartabat" sebagai satu persyartan maka setiap peserta diwajibkan membuat makalah. Ketika itu saya mengambil Memabahas Pancasila sebagai Ideologi yang terlupakan (sebagaimana tema 'Gerakan Menolak Lupa"). Pada pembahasan itu saya jelaskan bahwa Pancasila pertama kali disampaikan dalam forum resmi oleh B**g Karno sebagai upaya persiapan kemerdekaan dari kekaisaran Jepang kala itu. Sebab untuk membentuk sebuah Negara yang menjadi syaratnya yang utama adalah memiliki Dasar Negara. Nah, pada 1 Juni 1945 inilah B**g Karno berpidato di Hadapan Majelis BPUPKI.
Disinilah istilah Pancasila yang tujuannya sebagai Dasar Negara pertama kali disampaikan oleh B**g Karno. Maka saat dikatakan inilah momentum lahirnya Pancasila (Dasar Negara) Indonesia yang pada 18 Agustus 1945 dituliskan secara formal dalam konstitusi bukan hal yang salah. Meskipun berbeda dengan Pancasila yang disampaikan B**g Karno pada Pidatonya, itu bukan berarti Pancasila yamg dimaksud sebagai Dasar Negara pada 1 Juni 1945 menjadi bukan Dasar Negara pada 18 Agustus 1945.
Sama halnya, ketika kita menyatakan, Apakah hari lahir Indonesia 17 Agustus 1945 atau 18 Agustus 1945? Sebab pada 17 Agustus legal formal Negara, yakni konstitusi belum terbentuk, belum disepakati. Lalu apakah kita juga akan memperdebatkan bahwa Hari Lahirnya Indonesia adalah 18 Agustus sebagaimana konstitusi dibuat pada waktu itu?
Jadi, Indonesia pada 17 Agustus 1945 belumlah resmi sebagai sebuah Negara sebab belum memiliki Konstitusi, sama halnya dengan Pancasila pada 1 Juni 1945 yang belum disepakati bersama setiap poin-poin isinya. Tapi, Hari Kemerdekaan Indonesia yang juga Hari Lahirnya Bangsa Indonesia diyakini tetap 17 Agustus 1945.
*Penetapan Hari Lahir Pancasila.
B**g Karno sebagai Presiden pertama telah menetapkan Hari Lahir Pancasila tanggal 1 Juni 1945. Setelah Soeharto berkuasa, Hari Lahir Pancasila kemudian diubah menjadi Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober. Pertanyaannya, lalu kenapa tak pernah ada yang mengembalikan ke tanggal 18 Agustus?
Jadi, Hari lahir Pancasila yang ditetapkan B**g Karno pada tanggal 1 Juni 1945 bukan pada penekanan tentang isi Pancasila yang disampaikan melainkan lebih kepada dimana pertama kali istilah Pancasila ini disampaikan sebagai Dasar Negara yang kemudian disetujui dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945.
Saya Indonesia.
Saya Pancasila.
31/05/2017
Agama Simbol
Saya pernah menuliskan ini beberapa waktu lalu. Agama simbol adalah agama yang dianut oleh manusia, hanya saja lebih kepada simbol-simbol reliji belaka. Memahami kulit tapi tidak isinya.
Setiap yang bersurban akan dianggap sebagai agamawan. Padahal tidak semua yang bersurban itu dekat dengan Tuhan. Setiap yang bertanda bekas sujud, berjenggot dianggap bertaqwa. Padahal tak semua benar berakhlak.
Kasus Ketua MK, PA ketika didapatkan menerima suap atas kasus Revisi UU Import Daging adalah contoh yang masih hangat. Sekelompok orang yang melihat PA sebagai orang bertaqwa lewat tanda bekas sujud dan jenggot serta ayat-ayat yang biasa dikhutbahkannya membuat kaum pemuja simbol meyakini PA dijebak. Bahkan PA sendiri pun dengan menyeret nama Tuhan berani bersumpah bahwa ia tak melakukan sebagaimana yang dituduhkan saat OTT.
Hanya saja, fakta persidangan berbicara lain. PA yang didakwa di drpan pengadilan tak bisa membuktikan dirinya tak bersalah dan tak terlibat dalam kasus suap itu. Ia pun menyampaikan maaf di hadapan Majelis Kehormatan MK. Hingga hari ini, PA tak bisa membuktikan sumpahnya dengan menyebut Tuhan bahwa ia tak bersalah.
Hari ini, kaum pemuja simbol kembali menunjukan keluguannya dengan keyakinan bahwa imam yang berjubah dan bersurban itu tak mungkin melakukan tindakan amoral. Simbol reliji yang melekat padanya seakan membuatnya pasti takkan bisa khilaf dan itu dipercaya umat 7 juta. Semua proses hukum yang diarahkan pada ulama yang dijunjungnya dianggal rekayasa. Mereka menanamkan keyakinan dalam dirinya bahwa proses hukum penuh rekayasa. Proses hukum yang juga pernah dituntutnya untuk ditegakkan dengan demo berjilid-jilid.
Pemuja simbol reliji, menganggap diri mereka sebagai pelindung simbol yang diberi petunjuk oleh Tuhan. Orang yang tak mempercayai kesucian simbol reliji mereka dianggap sebagai orang sesat, munafik bahkan sebagai musuh-musuh Tuhan yang ingin menghancurkan agama simbolnya.
Kita tunggu saja.
Sebagaimana PA yang juga mereka bela tapi tak berdaya di depan pengadilan. Semoga yang bersurban dan berjubah itu tidak bernasib demikian. Sebab, jika tak bisa membuktikan bahwa dirinya tak terlibat atas tuduhan. Kemana lagi umat 7 juta itu mencari simbol relijinya?
10/05/2017
Ahok, Socrates dari Jakarta
Ahok, Ia Lelaki yang Tegar “Akhirnya Ahok divonis bersalah dan hukuman penjara 2 tahun, artinya Ahok terbukti menista agama”, sebuah pesan masuk dari satu akun. Saya tersenyum. Divonis…
15/02/2017
Selamat Jalan Aa Gym,
Anda pun telah berjalan jauh dari setiap oesan yang pernah anda sampaikan.
‘Selamat Jalan’ Aa Gym, Anda pun Telah Tenggelam di Rimba Jagad Media Sosial
“Selamat Tinggal” Aa Gym Perilaku bermedia sosial Aa Gym mengkhawatirkan. Dua kali dalam waktu berdekatan Si Aa menyebar foto yang tanpa validasi kebenaran. Padahal ia ini dianggap pemu…
02/02/2017
Mendadak (Membela Ulama) NU
Sangat lucu melihat postingan beberapa orang yang selama ini membid’ahkan tahlilan, maulidan, haul dan ziarah kubur tiba-tiba muncul dengan wajah sedih dan (katanya) prihatin terhadap Ketua R…
19/01/2017
Ammatoa di Tanatoa, Suku Kajang yang Menjaga Tradisi di Bulukumba
[Sebuah catatan perjalanan] Mendengar kata AMMATOA mungkin masih begitu asing bagi beberapa orang dan sangat lekat istilah ini bagi beberapa orang lainnya yang pernah datang di TANATOA, Kajang Ka…
18/01/2017
Fenomena Beragama Ala Jonru Ginting
Fenomena Beragama Ala Jonru Ginting Inilah sebuah kenyataan yang terjadi dalam sebuah kegamangan beragama. Mengharap Bidadari yang bisa memuaskan nafsu seksualnya di Surga kelak. Beberapa orang yan…
29/10/2016
Menanggapi Rencana Aksi Demonstrasi 4 November 2016.
Selesaikan dululah urusan kalian dengan Allah Swt, lihat diri apakah sudah benar menjalankan amanah yang sesuai anjuran Al Qur'an sebelum kalian turun ke jalan menuntut orang lain diadili karena dianggap menista agama.
Menurut saya, menista Al Qur'an itu adalah memahaminya tapi tidak menjalankan sepenuhnya. Saya pribadi masih sering menjadi pen*sta Al Qur'an dikarenakan ada banyak tuntutannya belum bisa dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Selesaikanlah dulu urusan dirimu, keluargamu sendiri sesuai tuntunan Al Qur'an sebelum berteriak orang lain menista Al Qur'an.
Al Qur'an itu tidak akan pernah nista, karena Allah Swt yang menjaganya. Kitalah yang kadangkala mempolitisasi ayat Al Qur'an itu untuk digunakan sesuai kepentingan kita.
Seperti Fadli Zon yang tiba-tiba tampil ke depan mau membela Islam padahal selama ini dia berdiri di belakang orang yang sikapnya terhadap islam jelas (Donald Trump), lalu dia bangga. Selebihnya apakah Islam yang benar sudah diterapkan oleh Fadli Zon dalam keluarganya untuk istri dan anak-anaknya?
Fadli Zon hanya contoh, ada sederet nama semisal Ahmad Dhani dll yang juga berteriak lantang (katanya) membela islam. Tapi lihat apa yang dicontohkan dalam kehidupannya? Sudahkah menerapkan amanat islam dalam kehidupannya?
Kebanyakan kita itu gampang tersinggung (kata Arifin Ilham, cepatnya emosi menunjukkan akalnya tidak bekerja) atas kekeliruan yang dilakukan orang lain. Padahal dalam ajaran kita, islam menganjurkan welas asih, memaafkan yang sudah mengaku kekeliruan.
Lalu, coba kita bandingkan.
Ahok dianggap menista Al Qur'an dan dia klarifikasi bahwa tidak pernah bermaksud melakukan itu. Itu disalah artikan.
Sementara di sisi lain, kita abai terhadap upaya yang dilakukan Pemprov. DKI (Gubernurnya Ahok) yang memberangkatkan Marbot masjid untuk Umrah.
Kenapa (yang mengaku) umat islam itu gampang tersinggung dan lupa terhadap aibnya sendiri sampai orang yang sudah meminta maaf masih saja diprovokasi untuk dituntut?
Itukah Wajah Islam yang mereka anut?
15/08/2016
Rengas Dengklok, Pemuda adalah Garda Perubahan
Peran Pemuda begitu penting dalam setiap agenda perubahan. Mereka adalah orang yang tetap memiliki Harapan besar saat yang tua mulai putus asa.
Pemuda adalah Garda Perubahan. Semangatnya berkobar meyala menerangi jalan gelap nan terjal.
Dalam peristiwa Rengas Dengklok dicatat sejarah Pemuda sebagai Inisiator Kemerdekaan. Merekalah yang kemudian dengan tegas dan berani menculik B**g Karno dan mendesak untuk memproklamirkan kemerdekaan secepatnya. Hasilnya B**g Karno dan B**g Hatta membaca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Salam bagimu wahai Para Pemuda!
Teruslah bergerak sebagai Inisiator Perubahan.
Merdeka!!!