dakwah dakwah islam Al Sunnah wal jamaah

dakwah dakwah islam Al Sunnah wal jamaah

Share

kajian sunnah Alquran dan hadis

Manusia Dan Bermegah-Megah | Almanhaj 13/12/2025

Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐮𝐧𝐧𝐚𝐡 𝐍𝐚𝐛𝐢

⚠️MANUSIA DAN BERMEGAH-MEGAHAN

Oleh :
Ustadz Abu Ismail Muslim Atsari

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ﴿٢﴾ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣﴾ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٤﴾ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ ﴿٥﴾ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ﴿٦﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ﴿٧﴾ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

*Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.* Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)."(At-Takatsur/102:1-8)

*🛑AYAT DAN TAFSIRNYA*
Firman Allah Azza wa Jalla :

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.

*Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,* Kecintaan terhadap dunia, kenikmatannya dan keindahannya, telah melalaikan kamu dari mencari akhirat. Dan itu terus terjadi pada kamu sehingga kematian mendatangimu dan kamu mendatangi kuburan serta menjadi penghuninya."(Tafsir Ibnu Katsir,surat at-Takatsur, ayat 1)

*Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,* At-Takâtsur (bermegah-megahan) mencakup berbangga dengan banyaknya harta, qabilah, kedudukan, ilmu, dan semua yang memungkinkan terjadi saling berbangga dengannya. Ini ditunjukkan oleh perkataan pemilik sebuah kebun kepada kawannya:

أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat."(Al-Kahfi/18: 34. Tafsir Juz Amma, hlm: 305-306)

Beliau rahimahullah juga berkata, Makna telah melalaikan kamu yaitu, telah menyibukkan kamu sehingga kamu lalai dari yang lebih penting, yaitu dzikrullah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Perkataan ini ditujukan kepada seluruh umat, namun itu dikecualikan orang yang disibukkan oleh perkara-perkara akhirat dari perkara-perkara dunia, dan mereka ini sedikit."(Tafsir Juz Amma, hlm: 305)

Ayat ini juga telah dijelaskan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada para Sahabat sebagaimana disebutkan di dalam hadits-hadits berikut:

عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْرَأُ أَلْهَاكُمْ التَّكَاثُرُ قَالَ يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي قَالَ وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

*Dari Mutharrif, dari bapaknya, dia berkata,* Aku mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ketika Beliau Shallallahu alaihi wa sallam sedang membaca ayat Al-hâkumut Takâtsur, Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Anak Adam mengatakan, Hartaku, hartaku!, Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda lagi, Bukankah engkau tidak memiliki harta kecuali harta yang telah engkau makan, sehingga engkau habiskan; Atau apa yang telah engkau pakai, sehingga engkau menjadikannya usang; Atau apa yang telah engkau sedekahkan, sehingga engkau meneruskan."(Yaitu terus memilikinya sampai hari kiamat-pen)."(HR. Muslim, no. 2958)

Di dalam riwayat lain, Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan:

وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

Dan selain itu, maka dia akan mati dan akan meninggalkan hartanya untuk manusia (ahli waris-pen)."(HR. Muslim, no. 2959, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu)

*Begitulah sifat manusia umumnya, rakus dan bakhil terhadap harta,* sampai ajal menjemputnya, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allâh Azza wa Jalla

*● Firman Allâh Azza wa Jalla* :

حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

Sampai kamu mengunjungi (masuk ke dalam) kuburan.

Ada tiga penafsiran kalimat ini." (Lihat Tafsir al-Qurthubi):

*● Yaitu sampai kematian mendatangimu,* sehingga kamu berada di kuburan sebagai orang-orang yang mengunjungi kuburan, lalu kamu akan kembali dari kuburan menuju surga atau neraka, sebagaimana kembalinya orang yang berkunjung menuju rumahnya.
*● Yaitu bermegah-megah telah melalaikan kamu sehingga kamu menghitung orang-orang yang telah mati.* Namun penafsiran ini lemah karena jauh dari rangkaian ayat."(Tafsir Juz ‘Amma, hlm. 307, syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah)
*● Ini merupakan ancaman, yaitu kamu menyibukkan diri dengan segala yang bisa pergunakan untuk membanggakan sehingga kamu mendatangi kuburan (mati), lalu kamu melihat siksa Allâh Azza wa Jalla yang akan menimpa kamu.* Ini sesungguhnya semakna dengan penafsiran pertama.

Dan yang paling tepat adalah penafsiran yang pertama sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah dengan perkataannya, Yang benar, maksud firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, Kamu mengunjungi kuburan adalah kamu berada di kuburan dan dikubur di dalamnya. Sebagaimana tersebut dalam hadits shahih bahwa Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam menengok seorang laki-laki baduwi yang sakit, Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Tidak mengapa, insya Allah sebagai pembersih dosa

Laki-laki itu mengatakan, Engkau berkata sebagai pembersih dosa?! Bahkan ini adalah demam yang bergejolak pada seorang laki-laki tua yang akan menghantarkannya ke kuburan! Beliau bersabda, Ya, kalau begitu." (HR. Al-Bukhâri, no. 3616)

*Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,* Firman Allah, (yang artinya), Sampai kamu mengunjungi kuburan, maksudnya sampai kamu mati. Manusia itu memiliki watak sedang bermegah-megahan dengan banyaknya (perkara dunia) sampai mati. Bahkan setiap umur bertambah tua, angan-anganpun bertambah. Maka manusia itu bertambah tua umurnya, namun angan-angannya muda. Sehingga ada orang yang berumur 90 tahun misalnya, engkau mendapatinya memiliki banyak angan-angan dan panjang angan-angan yang tidak ada pada seorang pemuda yang berumur 15 tahun. Inilah makna ayat yang mulia ini, yaitu bahwa kamu telah menjadi lalai terhadap akhirat sampai kamu mati dengan sebab bermegah-megah dengan banyaknya (kesenangan dunia)."(Tafsir Juz Amma, hlm. 306)

Ayat ini juga mengisyaratkan agar manusia banyak mengingat kematian, karena barapapun harta yang berhasil dia kumpulkan di dunia ini, capat atau lambat, semua harta itu pasti akan dia tinggalkan seiring dengan kematian yang datang.

*● Firman Allâh Azza wa Jalla* :

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),

Kalla dapat berarti sebenarnya, dan berarti larangan. Yaitu berhentilah dari bermegah-megah ini!

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala , yang artinya, kelak kamu akan mengetahui, yakni kamu akan mengetahui akibat buruk prilakumu, bahwa bermegah-megah ini tidak memberikan manfaat kepada kamu."(Tafsir Juz Amma, hlm. 307, karya Syaikh Muhamad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah)

Al-Farrâ’ rahimahullah mengatakan, Yaitu, urusannya tidak sebagaimana yang kamu lakukan, yaitu kamu saling berbangga dan saling bermegah-megah dengan banyaknya jumlah, kamu akan mengetahui akibatnya."(Tafsir al-Qurthubi, dengan ringkas)

*● Firman Allâh Azza wa Jalla* :

ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.

Tentang pengulangan kalimat ini ada beberapa penjelasan Ulama’ tentang maknanya:

*● Sebagai bentuk penekanan.*
*● Kamu akan mengetahui siksaan di dalam kubur dan kamu akan mengetahui siksaan di akhirat.* Sehingga ayat ini memuat berita tentang siksa kubur dan akhirat.
*● Kamu akan mengetahui pada waktu melihat langsung bahwa apa yang Aku beritakan itu haq,* dan kamu akan mengetahui pada waktu bangkit dari kubur bahwa apa yang Aku janjikan itu benar.
*● Kamu akan mengetahui, jika kematian telah turun kepada kamu, dan para Malaikat mendatangimu untuk mencabut nyawa.* Dan kamu akan mengetahui jika kamu telah memasuki kubur kamu, malakikat Munkar dan Nakir mendatangimu, kengerian pertanyaan kubur menyelimuti kamu, dan jawaban terputus darimu."(Tafsir al-Qurthubi, dengan sedikit ringkas)

*● Firman Allâh Azza wa Jalla* :

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ

Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,

*Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata,* Allâh Azza wa Jalla mengulangi kata ‘kalla’, ini sebagai larangan dan peringatan, seolah-olah Allâh Azza wa Jalla berfirman, Janganlah kamu lakukan, karena kamu akan menyesal; janganlah kamu lakukan karena kamu melakukan perkara yang menyebabkan siksaan."(Tafsir al-Qurthubi, dengan sedikit ringkas)

*Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata,* Yaitu, seandainya kamu mengetahui dengan pengetahuan yang sampai ke dalam hatimu tentang apa yang ada di hadapanmu, maka pasti prilaku bermegah-megahan tidak akan bisa melalaikankamu, dan kamu benar-benar akan bergegas melakukan amal-amal shalih. Tetapi ketiadaan ilmu yang hakiki telah menjadikan kamu seperti apa yang kamu lihat."(Tafsir Taisîr al-Karîmirrahmân)

*Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,* Yakni: sebenarnya jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, kamu benar-benar mengetahui bahwa kamu dalam kesesatan, tetapi kamu tidak mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, karena kamu lalai dan bermain-main di dunia ini. Jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, sesungguhnya kamu benar-benar menyadari bahwa kamu berada di dalam kesesatan dan kesalahan yang besar."(Tafsir Juz Amma, hlm. 308)

Sesungguhnya orang yang telah mati benar-benar telah mengetahui hakekat berita-berita Allâh dan RosulNya.

*● Firman Allâh Azza wa Jalla* :

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ

Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,

*Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata,* Yaitu, hari kiamat benar-benar akan datang kemudian kamu akan melihat neraka Jahim yang telah Allâh siapkan bagi orang-orang kafir."(Tafsir Taisîr al-Karîmirrahmân)

Mengenai kata kamu dalam ayat ini, menurut sebagian Ulama diarahkan untuk orang kafir. Seperti firman Allâh Azza wa Jalla :

وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ فَظَنُّوا أَنَّهُمْ مُوَاقِعُوهَا وَلَمْ يَجِدُوا عَنْهَا مَصْرِفًا

Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya."(Al-Kahfi/18: 53)

Sebagian lain menyatakan bahwa kata kamu itu untuk umum, semua manusia. Sehingga neraka itu disiapkan untuk orang-orang kafir sebagai tempat tinggal menetap, dan untuk orang-orang beriman sebagai tempat lewat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا ﴿٧١﴾ ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Dan tidak ada seorangpun dari kamu, melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut."(Maryam/19: 71-72)

Karena seluruh manusia akan melewati neraka. Adapun orang-orang kafir mereka akan masuk dan tidak keluar, sedangkan orang-orang beriman, mereka akan melewati sirâth (jalan/jembatan di atas jurang neraka Jahannam) dengan kecepatan yang sesuai dengan amalannya ketika di dunia, kemudian di antara mereka sekedar lewat tanpa memasukinya, dan sebagian yang lain memasukinya sementara sampai Allâh Azza wa Jalla ijinkan untuk memasuki surga setelah bersih dari dosa-dosa. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari siksa neraka.

*● Firman Allâh Azza wa Jalla* :

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ainul yaqin.

Yaitu (kamu) akan melihat neraka dengan mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat."(Lihat Terjemah Depag)

*Syaikh al-‘Utsaimin rahimahulllah berkata,* Ayat ini menguatkan (kejadian bahwa manusia akan) melihat neraka. Kapan itu dilihat? Akan dilihat pada hari kiamat. Neraka akan didatangkan diseret dengan 70 ribu kendali, setiap satu kendali diseret oleh 70 ribu Malaikat. Sedangkan Malaikat adalah makhluk yang besar dan kuat, sehingga neraka itu juga sangat besar, semoga Allâh melindungi kita darinya.” (Tafsir Juz Amma, hlm. 309, karya Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah)

Apa yang dikatakan oleh Syaikh al-‘Utsaimin ini disebutkan di dalam hadits shahih sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا

*Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, dia berkata,* Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Pada hari itu (hari kiamat) Jahannam akan didatangkan, padanya terdapat 70 ribu kendali, setiap satu kendali ada 70 ribu Malaikat, para Malaikat itu menyeretnya."(HR. Muslim, no. 2842; Tirmidzi, no. 2573)

Setelah kita mengetahui berita-berita yang haq dari Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya seperti ini, maka janganlah kita terpedaya dengan kehidupan sementara di dunia ini, kemudian tersibukkan dengannya, dan melalaikan kehidupan hakiki di akhirat. Hanya Allâh tempat memohon pertolongan.

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan.

*Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,* Yaitu, kemudian pada hari itu kamu akan ditanya tentang syukur terhadap (nikmat-nikmat) yang Allâh telah berikan kepada kamu, yang berupa kesehatan, keamanan, rezeki, dan lainnya."(Tafsir al-Qur’ânil ‘Azhîm)

Dengan demikian maka kenikmatan yang akan ditanyakan pada hari kiamat itu umum meliputi seluruh kenikmatan, seperti: waktu luang, kelengkapan panca indra, kelezatan makanan dan minuman, makan pagi, siang, dan malam, kenyangnya perut, segarnya minuman, naungan tempat tinggal, keseimbangan badan, kenikmatan tidur, kebahagiaan jiwa, dan lainnya dari nikmat Allâh yang tidak terbatas."(Lihat Tafsir Al-Qurthubi)

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah memberitakan kepada kita tentang masalah-masalah yang akan ditanyakan pada hari kiamat. Antara lain yang disebutkan di bawah ini:

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

Dari Ibnu Mas’ud dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: Tidaklah telapak kaki hamba akan bergeser dari hadapan Robbnya pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang lima perkara: Tentang umurnya untuk apa dia habiskan; tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan; tentang hartanya, dari mana dia mendapatkannya; dan untuk apa dia belanjakan; dan apa yang telah dia amalkan dari apa yang telah dia ketahui."(HR. Tirmidzi, no: 2416; Ditakhrij dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Ash-Shohihah, no. 946)

Di dalam hadits yang lain Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي الْعَبْدَ مِنْ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيَكَ مِنْ الْمَاءِ الْبَارِدِ

Sesungguhnya pertama kali yang akan ditanyakan kepada hamba pada hari kiamat tentang kenikmatan yaitu akan dikatakan kepadanya (Allâh): Bukankah Kami telah menjadikan badanmu sehat dan bukankah Kami telah menjadikanmu puas dengan air yang sejuk?." (HR. Tirmidzi, no. 3358, dari Abu Huroiroh; dishohihkan oleh syaikh Al-Albani)

Kalau pertanyaan ini sudah pasti akan terjadi, karena merupakan berita Allâh dan rasul-Nya, maka apakah kita sudah mempersiapkan jawabannya?

*🛑FAEDAH-FAEDAH AYAT*:
*● Kecintaan terhadap dunia,* kenikmatannya, dan keindahannya, telah melalaikan banyak manusia dari mencari akhirat.
*● Manusia itu memiliki watak bermegah-megah* dengan banyaknya kenikmatan dan harta di dunia sampai kematian menjemputnya.
*● Anjuran banyak mengingat kematian,* karena barapapun harta yang berhasil dikumpulkan di dunia ini pasti akan dia tinggalkan dengan datangnya kematian.
*● Larangan bermegah-megah urusan dunia.*
*● Urgensi ilmu agama.* Karena dengan ilmu yang yakin manusia mengetahui bahwa hikmah penciptaan adalah untuk beribadah kepada Allâh semata, sehingga dia tidak lalai dan bermain-main saja di dunia ini.
*● Manusia benar-benar akan melihat neraka pada hari kiamat.*
*● Manuisa akan ditanya tentang seluruh kenikmatan dari Allâh pada hari kiamat,* tentang syukurnya dan keyakinannya kepada hari kiamat.

Inilah sedikit penjelasan dari surat yang agung ini, semoga bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil
alamiin.
---------------------------------

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo.

Sumber : https://almanhaj.or.id/7612-manusia-dan-bermegahmegah.html

Dipublikasikan ulang oleh

𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏
Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐮𝐧𝐧𝐚𝐡 𝐍𝐚𝐛𝐢

📕.............................✍🏻

Manusia Dan Bermegah-Megah | Almanhaj MANUSIA DAN BERMEGAH-MEGAHAN Oleh Ustadz Abu Ismail Muslim Atsari أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ﴿٢﴾ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣﴾ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُ...

Hanya Berdoa kepada Allah Ta’ala dalam Urusan Dunia Semata 13/12/2025

Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐮𝐧𝐧𝐚𝐡 𝐍𝐚𝐛𝐢

⚠️HANYA BERDOA KEPADA ALLAH TA'ALA DALAM URUSAN DUNIA SEMATA

Oleh :
Ustadz M. Saifudin Hakim

*Seringkali kita jumpai diri kita sendiri atau sebagian orang yang terlalu fokus dan perhatian terhadap kehidupan di dunia, dan lalai dari kehidupannya kelak di akhirat.* Sampai-sampai ketika dia menengadahkan kedua tangan memohon kepada Allah Ta’ala, dia hanya meminta kebaikan untuk urusan dunianya. Yang diminta hanyalah bisnis yang lancar, nilai ujian yang bagus, atau keinginan untuk membeli rumah, mobil, atau permintaan semacam itu. Tidak terucap atau terpikir sedikit pun untuk meminta kebaikan atas kehidupannya di akhirat kelak.

*🛑CELAAN BAGI ORANG YANG HANYA MEMINTA URUSAN DUNIA*
Allah Ta’ala telah mencela orang-orang yang hanya meminta kepada-Nya tentang urusan-urusan dunia. Allah Ta’ala berfirman,

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

Maka di antara manusia ada orang yang berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia’, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 200)

Allah Ta’ala juga berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. *Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam,* ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al-Isra’ [17]: 18)

Apakah hal ini berarti, tidak boleh bagi kita untuk berdoa untuk meminta kebaikan di dunia? Tidaklah demikian. Boleh bagi kita untuk berdoa meminta kebaikan urusan di dunia, namun bukan sebagai hal yang pokok. Hal ini karena prioritas utama seorang mukmin adalah kehidupan yang baik dan selamat di akhirat kelak. Sedangkan dunia hanyalah sebagai sarana untuk meraih kebaikan di akhirat.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala memberikan pujian kepada orang-orang yang menggabungkan dalam doanya antara meminta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat sekaligus. Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, *Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.* Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari yang mereka usahakan. Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al Baqarah [2]: 201-202)

Orang beriman akan menjadikan akhirat (surga) sebagai cita-cita tertinggi yang hendaknya terus dia minta dalam doanya. Marilah kita merenungkan tentang cita-cita seorang sahabat yang mulia, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu anha ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya, Wahai Robi’ah, memintalah kepadaku! Rabi’ah berkata,

أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ

*Aku meminta kepadamu agar aku bisa menemanimu di surga!*

Maka Rasulullah berkata,

أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ

Atau selain hal itu? Rabi’ah berkata,Ya, itu saja.

Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

Maka bantulah aku dengan Engkau memperbanyak sujud.”(HR. Muslim no. 226)

Adapun dunia, maka hakikatnya adalah sesuatu yang rendah dan hina, sehingga tidak layak dijadikan sebagai cita-cita dan keinginan utama seorang mukmin. Ibnu Abid Dunyaa rahimahullahu Ta’ala berkata,

حدثني عثمان بن أبي شيبة، أخبرنا معاوية بن هشام، قال: سمعت سفيان الثوري يقول: كان يقال: إنما سميت الدنيا لأنها دنية، وإنما سمي المال لأنه يميل بأهله.

Telah menceritakan kepadaku Utsman bin Abi Syaibah, telah mengkhabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Hisyaam, ia berkata, aku mendengar Sufyan Ats-Tsauriy berkata, *Pernah dikatakan bahwa (dunia) disebut dunia (الدنيا) hanyalah karena ia merupakan sesuatu yang rendah (hina) (دنية) dan (harta) dinamakan harta (الْمَالُ) karena ia dapat membuat condong pemiliknya.*” [2, 3]

Semoga Allah Ta’ala memperbaiki kehidupan kita di akhirat.

*● Catatan kaki*:
[1] Disarikan dari kitab Fiqhu Ad-Du’a, hal. 133; karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafidzahullahu Ta’ala.
[2] Maksudnya, membuat condong pemiliknya ke arah harta tersebut sehingga membuat dia lalai dari kehidupan akhirat.
[3] Dzammud Dunyaa, 1: 37 (Maktabah Syamilah).

Sumber: https://muslim.or.id/29268-hanya-berdoa-kepada-allah-taala-dalam-urusan-dunia-semata.html

Dipublikasikan ulang oleh

𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏
Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐮𝐧𝐧𝐚𝐡 𝐍𝐚𝐛𝐢

📕.............................✍🏻

Hanya Berdoa kepada Allah Ta’ala dalam Urusan Dunia Semata Seringkali kita jumpai diri kita sendiri atau sebagian orang yang terlalu fokus dan perhatian terhadap kehidupan di dunia, dan lalai dari kehidupannya kelak di akhirat

Tiga Cara Allah Kabulkan Doa 15/08/2025

Ngga Usah Khawatir, Doa mu Pasti Dikabulin
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan satu doa, melainkan pasti Allah memberikannya kepadanya,

atau Allah menghindarkannya dari kejelekan yang sebanding dengan doanya,

selama ia tidak mendoakan dosa atau memutuskan silaturahim.”

Lalu seseorang berkata, “Kalau begitu, kita akan memperbanyak doa.” Beliau bersabda, “Allah lebih banyak memberi (dari apa yang kalian minta).”

(HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih) [HR. Tirmidzi, no. 3573 dan Al-Hakim, 1:493. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly dalam Bahjah An-Nazhirin, hadits no. 1501].

Diantara sumber : https://rumaysho.com/23398-tiga-cara-allah-kabulkan-doa.html #:~:text=Kedua%3A%20Doa%20seorang%20muslim%20dikabulkan,hari%20kiamat%2C%20jadi%20pahala%20untuknya.

Tiga Cara Allah Kabulkan Doa Kadang kita berdoa lantas berputus asa dari doa kita. Ketahuilah, Allah itu amatlah baik. Doa yang kita panjatkan pasti diwujudkan namun dalam tiga hal.

09/08/2025

*MANHAJ SALAF*

📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

*SIBUK MEMPERBAIKI DIRI SENDIRI*

قال الإمام الذهبي رحمه الله :

"فرحم الله إمرئٍ أقبل على شأنه، وقصّر من لسانه،وأقبل على تلاوة قرآنه، وبكى على زمانه، وأدمن النظر في الصحيحين، وعبدَ الله قبل أن يبغته الأجل"

📚 تذكرة الحفاظ (2/86)

*Imam Al-Hafidz Adz-Dzahabi* rohimahulloh pernah berkata :

_“Semoga Alloh merahmati seseorang yang sibuk dengan urusannya sendiri, menjaga lisannya, menyibukkan diri dengan membaca Al-Qur’an, menangisi zamannya (waktunya yang banyak terbuang dengan sia-sia, pent.), terus-menerus menelaah kitab As-Shohihan (yakni kitab Shohih Al-Bukhori dan Shohih Muslim), serta beribadah kepada Alloh (secara Istiqomah) sebelum ajal datang menjemputnya.”_

📚 *Tadzkiratul Huffadz* (2/86)

*Catatan :*

"أقبل على شأنه"

Artinya, fokus pada urusan dirinya sendiri, tidak sibuk mengurusi orang lain tanpa alasan yang dibenarkan.

"قصّر من لسانه" :

Artinya, memendekkan lisannya, yakni menjaga lidah dari berkata yang sia-sia, ghibah, atau maksiat.

"وأقبل على تلاوة قرآنه" :

Artinya, rajin membaca dan mentadabburi Al-Qur'an.

"وبكى على زمانه" :

Artinya, menangisi waktu atau jamannya, yaitu menyesali waktunya yang telah berlalu tanpa amal sholih.

"وأدمن النظر في الصحيحين" :

Artinya, Membiasakan diri mempelajari hadits-hadits shohih, terutama shohih Al-Bukhori dan shohih Muslim, sebagai panduan hidup kita.

"وعبدَ الله قبل أن يبغته الأجل" :

Artinya, beribadah kepada Alloh dengan sungguh-sungguh, sebelum datang kematian secara tiba-tiba.

Demikianlah. Ini adalah nasihat yang ringkas, tetapi sangat berharga bagi kita semuanya.

Terutama nasehat agar kita banyak menyibukkan diri kita sendiri dengan ibadah dan amal-amal sholih, contohnya : menuntut/mempelajari ilmu-ilmu agama, memperbanyak ibadah-ibadah sunnah selain yang wajib, dan selalu introspeksi diri.

Disamping itu, jangan terlalu disibukkan dengan membahas perkara-perkara yang bukan urusan kita, yang apabila kita membahasnya justru akan merugikan diri kita sendiri, baik urusan dunia kita maupun akhirat kita.

Semoga Alloh subhanahu wa ta'ala senantiasa memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita, agar banyak melakukan hal-hal yang bermanfaat, dan menjauhkan kita dari semua hal yang tidak bermanfaat .....

_Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah ....._

*Surabaya*,pagi yg sejuk,Shofar 1447 H / Agustus 2025 M

✍ Akhukum fillah, *Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby*

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

~~~~~🌻🌻🌻~~~~~

Nikmatnya Dekat dengan Allah - MuslimAfiyah 07/08/2025

بِسْــــــــــــــــــــــم اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

*🖇 NIKMAT NYA DEKAT DENGAN ALLAH*

Bisa jadi
Di sisi manusia
Satu keburukan
Menutup banyak kebaikan

Di sisi Allah
Satu kebaikan
Menutupi banyak keburukan

Allah sangat sayang
Pada Hamba-Nya
Tapi kita yang
MENJAUH dari Allah

Dipanggil adzan shalat kita malah menjauh
Dipanggil umrah dan haji karena mampu
Kita malah menunda-nunda

Anak lebih nikmat dan nyaman berada di sisi ibu
Ibu sangat sayang pada anaknya
Tapi Allah lebih sayang pada hamba-Nya

MELEBIHI kasih sayang ibu pada anak-nya
Tentu nikmat dekat dengan Allah

Dalam hadits dikisahkan, seorang ibu yang terpisah dari bayinya. Akhirnya setelah pencarian

yang lama, ia bertemu dengan bayinya, bayi tersebut segera disusui dan diberi kehangatan dan kasih sayang.

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya:

“Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”

Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)[1]

Kita berdoa
Allah tidak akan
Melempar kita ke api neraka
Karena Allah sangat sayang
Kepada kita

Tapi masihkan kita
MENJAUH dari Allah?

https://muslimafiyah.com/nikmatnya-dekat-dengan-allah.html

Penyusun: Raehanul Bahraen

Nikmatnya Dekat dengan Allah - MuslimAfiyah Bisa jadi Di sisi manusia Satu keburukan Menutup banyak kebaikan Di sisi Allah Satu kebaikan Menutupi banyak keburukan Allah sangat sayang Pada hamba-Nya Tapi kita yang menjauh dari Allah Dipanggil adzan shalat kita malah menjauh Dipanggil umrah dan haji karena mampu, kita malah menunda-nunda Anak l...

Betapa Dahsyatnya Api Syubhat 07/08/2025

*🔥 Betapa Dahsyatnya Api Syubhat*

*Untukmu yang masih s**a mendengarkan kajian bid'ah dengan alasan ambil baiknya tinggalkan buruknya.*

*Tahukah kamu bahwa ada seorang mantan murid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang amat banyak hafal ayat Al-Quran dan bahkan menjadi da'i kemudian menjadi kafir akibat syubhatnya Musailamah Al Kazzab. Dia adalah Rajal Ibnu Anafal Al Hanafi.*

*Orang ini sempat bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masuk Islam di hadapan beliau, bahkan sangat banyak hafal Al-Quran dan sering diperintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah di berbagai wilayah.*

*Di masa Abu Bakar radhiallahu ‘anhu ia meminta tugas dari Abu Bakar radhiallahu ‘anhu untuk mendebat dan mendakwahi si Nabi palsu Musailamah Al Kazzab, dan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu memberi izin padanya. Tetapi setelah bertemu Musailamah, ternyata Rajal ini terkena syubhat dan pada akhirnya mendukung gerakan Nabi palsu Musailamah. Allahul musta’aan. Innaa lillaahi wa innaa ilahi raaji’uun.*

*Pada akhirnya Rajal ini mati dibunuh oleh Zaid bin Khathab radhiallahu ‘anhu (kakak tertua Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu).*

*Nah jika orang sekelas murid Nabi, penghafal ayat Al-Quran, bahkan da'i di kalangan Shahabat saja masih bisa tersambar syubhat, maka betapakah lagi sekelas kita yang sekedar membaca Surah Al Fatihah pun bisa jadi masih belepotan*.

*Karenanya, perhatikan betapa dahsyatnya api syubhat. Jangan kita coba mendekatinya, apalagi kita penuntut ilmu kelas pemula. Tinggalkan majelis ahlul bid’ah was syubuhaat sekarang juga.*

Walhamdu lillaahi rabbil 'aalamiin wa shallallahu 'alaa Muhammadin.

*Note: Kisah tentang Rajjal di atas banyak ditulis oleh para mu'arrikh (pakar sejarah Islam), diantaranya dipaparkan oleh Al Hafizh rahimahullah dalam Al Ishabah I: 375.*

✍🏻 Oleh Ustadz Berik Said hafidzhahullah

http://dakwahmanhajsalaf.com/2019/10/betapa-dahsyatnya-api-syubhat.html



•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Betapa Dahsyatnya Api Syubhat Oleh Ustadz Berik Said hafidzhahullah Untukmu yang masih s**a mendengarkan kajian bid'ah dengan alasan ambil baiknya tinggalkan burukn...

07/08/2025

بِسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

*MENGUMUMKAN PERNIKAHAN*
____✒️

Mengumumkan pernikahan wajib dan penyebabnya adalah :

Terdapat sunah yang memerintahkan yang demikian. Karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :
أعلنوا هذا النكاح

*“Umumkanlah pernikahan ini."*

_(HR. Imam Ahmad, di Hassankan oleh Al Albani dalam kitab Shahih Jami, no. 1072)_
_

📌 Agar membedakan antara nikah syar’i yang dibenarkan dan dianjurkan syariat dengan perselingkuhan dan perzinaan.

Karena perzinaan dirahasiakan, adapun nikah Syar’i maka dia merupakan pernikahan yang diumumkan dan disebarluaskan agar dapat membedakan antara pernikahan yang ini dan itu.

🍃🍃

Dibagikan Oleh : *Mutiara Risalah Islam*
>>>>>>>>🌺🌺

Want your school to be the top-listed School/college in Makassar?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Makassar