03/03/2026
CALL FOR PAPERS:
We invite researchers, academics, and practitioners to contribute to the latest edition of Interaction: Sociology of Communication Journal under the theme:
📌 "The Network Society and the Transformation of Communication"
Research Scope:
Communication; Intercultural,
Political & Digital Activism, Social Interaction in Digital Media, Technology & Social Transformation
Why Publish with Us?
✅ FREE APC (No Publication Fees)
✅ FREE Translation Service (Indonesian to English) – Perfect for local researchers aiming for global reach!
✅ FREE DOI by Crossref & Plagiarism Check by iThenticate
Important Dates:
Submission Deadline: April 30th, 2026
Publication Date: May 25th, 2026
Submit your best manuscript today!
🔗 Submit Here: https://interaction.id/jiid/about/submissions
03/03/2026
Call for Paper
Kami mengundang para peneliti, akademisi, dan praktisi untuk berkontribusi dalam edisi terbaru Interaction: Sociology of Communication Journal dengan tema:
📌 “The Network Society and the Transformation of Communication”
Scope Penulisan:
Komunikasi Interkultural
Aktivisme Politik & Digital
Interaksi Sosial di Media Digital
Teknologi & Transformasi Sosial
Benefit Penulis:
✅ FREE APC (Tanpa Biaya Publikasi)
✅ Gratis Jasa Penerjemahan
✅ DOI by Crossref
✅ Cek Plagiasi via iThenticate
Timeline Penting:
Deadline Submit: 30 April 2026
Tanggal Terbit: 25 Mei 2026
Siapkan naskah terbaik Anda dan submit sekarang melalui:
🔗 https://interaction.id/jiid/about/submissions
17/06/2025
Kalimat ini ternyata tidak hanya berlaku secara emosional, tapi juga secara sosial dan ekonomi.
Sebuah penelitian dari Denmark membuktikan bahwa orang yang menganggur dan memilih untuk menjadi relawan justru membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan kembali, sekitar dua minggu atau 31% lebih lama dibandingkan dengan mereka yang tidak menjadi relawan.
Peneliti menggunakan data dari Survei Relawan Denmark yang dikombinasikan dengan catatan administratif, dan hasilnya mengejutkan: meskipun mereka yang jadi relawan punya kepedulian tinggi dan pengalaman sosial tambahan, hal itu tidak secara langsung mempercepat mereka kembali ke dunia kerja.
Faktanya, mereka justru lebih lama berada dalam kondisi menganggur. Ini menunjukkan bahwa niat baik dan kontribusi sosial belum tentu diakui atau dihargai dalam sistem pasar kerja.
Temuan ini jadi pengingat bahwa kebaikan tidak selalu membawa keuntungan instan dan kadang justru membuat seseorang harus menunggu lebih lama. Namun, apakah itu berarti kita harus berhenti peduli? Atau justru mulai bertanya: sistem seperti apa yang kita ingin bangun, agar orang baik tidak selalu tertinggal?
Judul: Lagging behind by doing good: How volunteering prolongs unemployment
Penulis: Elisabeth Lilleore Holstein
Sumber: British Journal of Sociology (2025)
15/06/2025
Peneliatian ini mempelajari mengapa kebiasaan atau aturan baru (norma sosial) kadang muncul di satu lingkungan tetapi tidak di lingkungan lain. Masalahnya, para ilmuwan belum banyak meneliti bagaimana norma baru muncul dalam situasi dunia nyata yang penting.
Para peneliti berfokus pada konsep "teritorialitas" – yaitu perasaan memiliki dan mengontrol lingkungan tempat kita tinggal. Mereka mengemukakan teori sederhana:
Intinya: Ketika orang merasa memiliki "hak teritorial" yang kuat atas lingkungan mereka, mereka:
1. Merasa lebih berdaya untuk membuat perubahan
2. Merasa berhak mengatur perilaku orang lain di area tersebut
3. Lebih mungkin mempromosikan aturan-aturan baru
Peneliti menguji teori ini dengan mengumpulkan data harian dari berbagai lingkungan di New York City selama awal pandemi COVID-19. Hasilnya mendukung teori mereka: lingkungan dengan rasa teritorialitas yang lebih kuat lebih cepat mengadopsi kebiasaan baru untuk melindungi kesehatan (seperti memakai masker atau menjaga jarak).
Misalnya, di lingkungan di mana penduduk merasa memiliki "kepemilikan" kuat atas taman, jalan, atau ruang bersama mereka, penduduk lebih berani menegur orang yang tidak memakai masker atau tidak menjaga jarak, sehingga mendorong terbentuknya norma baru.
Penelitian ini membantu kita memahami bahwa kemunculan aturan-aturan baru dalam masyarakat tidak hanya tergantung pada informasi atau kebijakan, tetapi juga pada hubungan psikologis antara orang-orang dengan tempat mereka tinggal.
Detail Riset:
Judul: Territoriality and the emergence of Norms During the Covid-19 pandemic
Penulis: Patrick Bergemann & Christof Brandner