19/08/2026
DR. KH. Achmad Sarkosi Subki: Penjaga Panji Nahdlatul Ulama dan Muassis Pesantren Mansyaul Huda Majalengka
Lahir pada tahun 1943 dari rahim keluarga ulama terpandang, putra dari pasangan KH. Subki dan Hj. Naerah, DR. KH. Achmad Sarkosi Subki tumbuh dalam gemblengan kedisiplinan ilmu agama yang amat ketat. Rihlah keilmuannya memadukan pendidikan formal dan salaf; bermula dari bangku SMPN 1 Jatiwangi dan Pesantren Raudlatul Mubtadiin Cisambeng, lalu berlabuh ke Pesantren Ciwaringin di bawah asuhan kiai-kiai kharismatik seperti KH. Amin (Kyai Sepuh), KH. Sanusi (Kyai Anom), dan Embah KH. Abdul Hannan. Dahaga spiritualnya kemudian menuntun beliau menyeberang ke Jawa Tengah, menyelami samudra ilmu di Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmu asy Syar’i (Sarang, Rembang) di bawah bimbingan para paku bumi Nusantara: Embah KH. Imam Kholil, Embah KH. Ahmad, dan Embah KH. Zubair Dahlan.
Sekembalinya dari kawah candradimuka Sarang dan meminang Hj. Wardatul Jannah pada tahun 1966, Kiai Sarkosi menyalakan pelita peradaban di tanah Majalengka dengan mendirikan Pondok Pesantren Mansyaul Huda—sebuah nama yang beliau tabarruk-kan (mengambil berkah) dari nama pesantren sang guru di Sarang. Kiprah dakwahnya tak hanya berpusat di bilik pesantren, melainkan terjun total ke gelanggang pergerakan. Beliau memegang teguh dawuh dan wasiat suci dari sang guru, KH. Sanusi: "Kamu harus NU." Pesan ini mengakar kuat di sanubarinya, tidak sekadar sebagai panduan amaliyah, tetapi membulatkan tekad keberaniannya untuk tampil total memimpin kepengurusan Partai NU Kabupaten Majalengka di era ketika tekanan dan pengawasan politik pemerintah terhadap partai luar sangatlah ketat.
Keteguhan ideologi dan keaktifannya di jam'iyyah Nahdlatul Ulama justru membuka pintu dakwah dan silaturahim yang teramat luas. Keikhlasannya dalam berjuang membuat beliau diterima dengan penuh takzim oleh ulama-ulama besar di Cirebon. Beliau menjalin persahabatan keilmuan yang erat dengan para masyayikh Pesantren Kempek (seperti KH. Umar, KH. Nasir, dan KH. Aqil) serta Pesantren Buntet, di mana beliau memiliki kedekatan khusus dengan KH. Jawahir, KH. Abdullah Abbas, KH. Mustamid Abbas, hingga bersahabat erat dengan KH. Fuad Hasyim sampai akhir hayatnya. Jaringan ulama ini semakin memperkokoh benteng Ahlussunnah wal Jama'ah di kawasan Bumi Pasundan.
Di balik sosoknya yang tawaduk, Kiai Sarkosi adalah pilar penyangga umat yang mengemban segudang amanah pengabdian. Beliau menduduki posisi-posisi strategis, mulai dari Mustasyar PWNU Jawa Barat, Dewan Penasehat MUI Jawa Barat, Rois Tsani Thariqah NU Jawa Barat, hingga Ketua FKUB Kabupaten Majalengka. Atas dedikasi tanpa kenal lelah dalam memimpin ragam organisasi sosial kemasyarakatan dan manajemen pendidikan, ketokohan beliau diakui oleh dunia internasional dengan dianugerahinya gelar Doctor Honoris Causa di bidang manajemen oleh Chicago International University pada tahun 2003. DR. KH. Achmad Sarkosi Subki menjadi teladan paripurna bahwa keteguhan memegang wasiat guru dan pengabdian ikhlas pada jam'iyyah akan senantiasa berbuah kemuliaan yang melampaui batas zaman.
Potret 1000 Ulama Nusantara – Episode 316
DR. KH. Achmad Sarkosi Subki (Mansyaul Huda, Majalengka, Jawa Barat)
Satu demi satu, kepingan sejarah, keluasan akhlak, dan jejak keteladanan para paku bumi Nusantara ini sedang kami wujudkan ke dalam mahakarya Digital Art Portrait.
Lebih dari sekadar memanjakan mata melalui bingkai visual, ini adalah ikhtiar dakwah kami untuk merekam wajah teduh, keikhlasan mendidik, serta perjuangan tanpa lelah para ulama, agar kisahnya senantiasa hidup dan membumi di sanubari umat.
Langkah panjang merajut 1000 potret ulama Nusantara ini masih terus berlanjut, dan insyaallah galeri sejarah ini akan senantiasa bertambah.
📌 Ingin mengetahui sudah sejauh mana episode perjalanan kita hari ini?
Silakan singgah di profil kami, dan temukan untaian seri potret ulama penuh barokah selanjutnya!