Madrasah Islamiyah Salafiyah Al-Hasan

Madrasah Islamiyah Salafiyah Al-Hasan Madrasah Islamiyah Salafiyah Al-Hasan (MISHAN) merupakan salah satu jenjang pendidikan di PPSN yang

Selamat menimatiSemoga bermanfaat🙏🏻🙏🏻🙏🏻😊
06/07/2020

Selamat menimati
Semoga bermanfaat
🙏🏻🙏🏻🙏🏻😊

Ilaika, Syi'ir Imam Syafi'i - Wiyana Ardhabilly - CS creative Ilaika, Syi'ir Imam Syafi'i - Wiyana Ardhabilly - CS creative Ilaika, Syi'ir Imam Syafi'i - Wiy...

Selamat menikmati.Semoga bermanfaat.
14/04/2020

Selamat menikmati.
Semoga bermanfaat.

Assalamu'alaikum wr. wb. Hallo semuaaa.. semoga karya kami dapat bermanfaat Mohon do'a dan dukungan dengan like dan coment. jangan lupa subsribe yaaa.. selam...

Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 H.
11/08/2019

Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 H.

Adab-adab Menerima TamuSilaturrohim adalah salah satu hal yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Selain dapat mempere...
15/06/2019

Adab-adab Menerima Tamu

Silaturrohim adalah salah satu hal yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Selain dapat mempererat hubungan persaudaraan, silaturrohim juga dapat memberi banyak manfaat bagi seseorang yang senantiasa menjaga dan melakukannya. Apalagi manusia sebagai makhluk sosial tidak akan mampu hidup sendiri-sendiri. Mereka akan selalu saling membutuhkan dan saling melengkapi satu sama lain.

Menerima dan memuliakan para tamu merupakan salah satu wujud silaturrohim yang cukup efektif. Dalam salah satu haditsnya Rosululloh ﷺ menegaskan tentang anjuran memuliakan para tamu:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir maka hendaknya ia memuliakan tamunya,” (HR. Muslim).

Salah satu bentuk memuliakan para tamu adalah dengan cara menjaga adab-adab atau etika yang berlaku tatkala seseorang kedatangan tamu di rumahnya. Adab-adab dalam menerima tamu ini secara ringkas dijelaskan dalam kitab Ghida’ Al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab:

مِنْ آدَابِ الْمُضِيفِ أَنْ يَخْدُمَ أَضْيَافَهُ وَيُظْهِرَ لَهُمْ الْغِنَى، وَالْبَسْطَ بِوَجْهِهِ، فَقَدْ قِيلَ: الْبَشَاشَةُ خَيْرٌ مِنْ الْقِرَى -وَمِنْ آدَابِ الْمُضِيفِ أَيْضًا أَنْ يُحَدِّثَهُمْ بِمَا تَمِيلُ إلَيْهِ أَنْفُسُهُمْ، وَلَا يَنَامَ قَبْلَهُمْ، وَلَا يَشْكُوَ الزَّمَانَ بِحُضُورِهِمْ، وَيَبَشُّ عِنْدَ قُدُومِهِمْ، وَيَتَأَلَّمُ عِنْدَ وَدَاعِهِمْ، وَأَنْ لَا يَتَحَدَّثَ بِمَا يُرَوِّعُهُمْ بِهِ، بَلْ لَا يَغْضَبُ عَلَى أَحَدٍ بِحَضْرَتِهِمْ لِيُدْخِلَ السُّرُورَ عَلَى قُلُوبِهِمْ بِكُلِّ مَا أَمْكَنَ . وَعَلَيْهِ أَيْضًا أَنْ يَأْمُرَ بِحِفْظِ نِعَالِ أَضْيَافِهِ، وَيَتَفَقَّدَ غِلْمَانَهُمْ بِمَا يَكْفِيهِمْ، وَأَنْ لَا يَنْتَظِرَ مَنْ يَحْضُرُ مِنْ عَشِيرَتِهِ إذَا قَدَّمَ الطَّعَامَ إلَى أَضْيَافِهِ

“Sebagian adab penerima tamu (kepada tamunya) adalah (1) melayani para tamu (dengan menyediakan jamuan), (2) menampakkan kondisi serbacukup, dan (3) menunjukkan wajah gembira—ada pepatah mengatakan, ‘Menunjukkan wajah riang gembira lebih baik dari memberi suguhan (tanpa disertai wajah yang gembira)’.

Adab penerima tamu yang lain adalah (4) mengajak ngobrol para tamu dengan hal-hal yang disukai mereka, (5) tidak tidur terlebih dahulu sebelum mereka pergi atau beristirahat, (6) tidak mengeluh tentang waktu dengan kehadiran mereka, (7) menampakkan wajah berseri-seri ketika para tamu datang, (8) merasa sedih saat mereka pergi, (9) tidak bercakap tentang sesuatu yang membaut mereka takut, (10) tidak marah kepada siapa pun selama mereka bertamu agar sebisa mungkin tetap tertanam suasana bahagia di hati mereka. Bagi penerima tamu, (11) hendaknya memerintahkan kepada para tamu agar menjaga sandal mereka, (12) memberi sesuatu (oleh-oleh) kepada anak-anak kecil dari para tamu, dan (12) tidak menunggu orang yang akan datang ketika ia masih menyuguhi jamuan kepada para tamunya,” (Muhammad bin Ahmad bin Salim As-Safarini, Ghida’ al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab, juz 2, hal. 116-117).

Dengan menjaga adab-adab di atas maka akan terwujud rasa nyaman dari para tamu yang hadir, sehingga terjalin keharmonisan dan hubungan emosional yang kuat di antara tuan rumah dan para tamu. Semoga kita dapat mengamalkan adab-adab di atas dengan baik dan benar. Aamiin yaa robbal ‘alamiin.

• Madrasah Al-Hasan

Hukum Undangan Kawinan dan KondanganMenghadiri undangan pesta perkawinan walimatul ‘arusy adalah sesuatu yang wajib menu...
10/06/2019

Hukum Undangan Kawinan dan Kondangan

Menghadiri undangan pesta perkawinan walimatul ‘arusy adalah sesuatu yang wajib menurut fiqih, jika tidak ada halangan (‘udzur syar’i), begitu aturan fiqih sebagaimana terdapat dalam Kitab Kifayatul Akhyar:

والولیمة على العرس مستحبة، والإجابة إليها واجبة إلا من عذر

“Mengadakan acara resepsi pernikahan adalah diperbolehkan, sedangkan memenuhi undangan resepsi tersebut adalah wajib hukumnya kecuali jika ada ‘udzur atau halangan.”

Sedangkan membawa sumbangan dalam berbagai bentuk kepada tuan rumah atau shahibul hajat (yang disebut dalam tradisi berbeda-beda kondangan, angpao, buwoh dll) tidaklah masuk dalam hukum wajib tersebut. mungkin hal itu merupakan pengejawantahan dari rasa saling membantu yang telah berurat akar dalam tradisi masyarakat kita.

Oleh karena itu, tidak dibenarkan jika seseorang sengaja tidak menghadiri undangan walimatul ‘arusy hanya dikarenakan tidak ada ‘barang bawaan (kondangan) yang akan diberikan kepada tuan rumah shahibul hajat’.Akan tetapi, kuatnya tradisi kondangan (membawa sumbangan kepada tuan rumah dalam berbagai bentuk) ini, mengalahkan hukum fiqih. Sehingga terjadi pergeseran pemahaman.Masyarakat banyak menganggap kondangan jauh lebih penting mengalahkan kehadiran itu sendiri. Hal inilah yang perlu diluruskan.

Lantas bagaimanakah jika memang ada sesuatu (‘udzur syar’i, sakit misalnya) yang menyebabkan seseorang tidak bisa menghadiri undangan, apakah wajib diwakilkan? Jika memang ada ‘udzur syar’i maka gugurlah kewajiban itu sendiri, tanpa harus diwakilkan. Karena dalam kaedah fiqih disebutkan

إن ما سقط بالعدر لا يقبل النيابة

“Setiap kewajiban yang (bisa) gugur sebab adanya halangan (‘udzur), maka kewajiban itu tidak bisa diwakilkan.”

Adapun jika seseorang yang berhalangan hadir tersebut mengirimkan perwakilannya dengan tujuan menyampaikan kondangan maka hal itu boleh-boleh saja. Dan hal ini sudah tidak lagi menjadi urusan fiqih,tetapi urusan norma sosial. Wallohu a’lam.

• Madrasah Al-Hasan

Hukum Batalkan Puasa Syawwal Saat Silaturrohmi LebaranSeiring datangnya hari raya yang jatuh pada satu Syawwal kaum musl...
10/06/2019

Hukum Batalkan Puasa Syawwal Saat Silaturrohmi Lebaran

Seiring datangnya hari raya yang jatuh pada satu Syawwal kaum muslimin di Nusantara bertandang ke rumah saudara, tetangga, relasi kerja dan orang-orang sepergaulan lainnya. Ini adalah bentuk ‘hablum minan nas’ sebagai penyeimbang ‘hablum minalloh’ selama bulan Ramadhan penuh. Tetapi, memasuki hari kedua bulan Syawwal banyak di antara mereka berpuasa sunnah enam hari di bulan Syawwal.

Kesunnahan puasa sunnah Syawwal ini didasarkan pada riwayat populer dari Rosululloh ﷺ:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ اَلدَّهْرِ

“Siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian menyusulnya dengan puasa enam hari dari bulan Syawwal, maka seperti puasa setahun penuh,” (HR. Muslim).

Namun terkadang semangat berpuasa sunnah bulan Syawwal sedikit menemui kendala ketika berbarengan dengan silaturrohmi di mana tuan rumah telah menyediakan beraneka ragam hidangan sesuai tradisi lebaran di Nusantara.

Hendak tetap puasa sedang bertamu dan ditawari makan, mau membatalkan sangat disayangkan. Lalu sebaiknya bagaimana sikap ideal yang terbaik untuk diambil, tetap berpuasa atau membatalkannya?

Dalam kondisi seperti ini, menarik sekali pilihan sikap yang diteladankan oleh Nabi Muhammad ﷺ, yaitu ketika ada sebagian sahabat yang bersikukuh puasa sunnah di tengah jamuan makanan ia bersabda:

يَتَكَلَّفُ لَكَ أَخُوكَ الْمُسْلِمُ وَتَقُولُ إنِّي صَائِمٌ، أَفْطِرْ ثُمَّ اقْضِ يَوْمًا مَكَانَهُ

“Saudara Muslimmu sudah repot-repot (menyediakan makanan) dan kamu berkata, ‘Saya sedang berpuasa?’ Batalkanlah puasamu dan qodhk’lah pada hari lain sebagai gantinya,” (HR. Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi).

Kemudian dari sinilah para ulama merumuskan, ketika tuan rumah keberatan atas puasa sunnah tamunya, maka hukum membatalkan puasa sunnah baginya untuk menyenangkan hati (idkholus surur) tuan rumah adalah sunnah karena perintah Nabi ﷺ dalam hadits tersebut.

Bahkan dalam kondisi seperti ini dikatakan, pahala membatalkan puasa lebih utama daripada pahala berpuasa. (Lihat Abu Bakar bin Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Tholibin, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz III, halaman 36).

Dalam konteks ini Ibnu ‘Abbas RA mengatakan:

مِنْ أَفْضَلِ الْحَسَنَاتِ إِكْرَامُ الْجُلَسَاءِ بِالْإِفْطَارِ

“Di antara kebaikan yang paling utama adalah memuliakan teman semajelis dengan membatalkan puasa (sunnah),” (Lihat Al-Ghozali, Ihya ‘Ulumiddin, [Beirut, Darul Ma’rifah, tanpa catatan tahun], juz II, halaman 14).

Dengan demikian kita ketahui, untuk menjalankan puasa sunnah bulan Syawwal saat silaturohmi lebaran hendaknya diketahui, apakah tuan rumah berkeberatan atau tidak dengan puasa kita. Kalau ia tidak berkeberatan maka kita tetap berpuasa. Bila ia keberatan, maka lebih utama kita memakan hidangannya dan berpuasa di hari-hari bulan Syawwal lainnya. Wallohu a’lam.

• Madrasah Al-Hasan

Adab-adab Dalam BertamuSilaturrohim merupakan salah satu sarana yang baik dalam menjalin persaudaraan dan kerukunan deng...
07/06/2019

Adab-adab Dalam Bertamu

Silaturrohim merupakan salah satu sarana yang baik dalam menjalin persaudaraan dan kerukunan dengan orang lain. Apalagi lebaran yang lazim menjadi momen perjumpaan atau kumpul-kumpul dengan orang-orang terdekat, kerabat, tetangga, teman, guru, ataupun orang lain.

Salah satu bentuk silaturrohim adalah dengan cara bertamu mengunjungi rumah orang yang akan kita silaturrohimi.

Dalam salah satu hadits dijelaskan:

إِذَا دَخَلَ الضَّيْفُ عَلَى الْقَوْمِ دَخَلَ بِرِزْقِهِ وَإِذَاخَرَجَ خَرَجَ بِمَغْفِرَةِ ذُنُوْبِهِمْ

“Ketika tamu datang pada suatu kaum, maka ia datang dengan membawa rezekinya. Ketika ia keluar dari kaum, maka ia keluar dengan membawa pengampunan dosa bagi mereka,” (HR Ad-Dailami).

Agar dalam bertamu tercapai hasil yang baik, maka hendaknya seseorang selalu menjaga adab atau etika dalam bertamu. Berikut adab-adab dalam bertamu ke rumah orang lain:

وَأَمَّا آدَابُ الضَّيْفِ فَهُوَ أَنْ يُبَادِرَ إلَى مُوَافَقَةِ الْمُضِيفِ فِي أُمُورٍ : مِنْهَا أَكْلُ الطَّعَامِ ، وَلَا يَعْتَذِرُ بِشِبَعٍ ، وَأَنْ لَا يَسْأَلَ صَاحِبَ الْمَنْزِلِ عَنْ شَيْءٍ مِنْ دَارِهِ سِوَى الْقِبْلَةِ وَمَوْضِعِ قَضَاءِ الْحَاجَةِ . وَلَا يَتَطَلَّعُ إلَى نَاحِيَةِ الْحَرِيمِ ، وَلَا يُخَالِفُ إذَا أَجْلَسَهُ فِي مَكَان وَأَكْرَمَهُ بِهِ . وَلَا يَمْتَنِعُ مِنْ غَسْلِ يَدَيْهِ ، وَإِذَا رَأَى صَاحِبَ الْمَنْزِلِ قَدْ تَحَرَّكَ بِحَرَكَةٍ فَلَا يَمْنَعُهُ مِنْهَا

“Adab bertamu adalah sesegera mungkin beradaptasi dengan tuan rumah dalam beberapa hal: antara lain (1) menyantap makanan (yang dihidangkan), tak perlu beralasan sudah kenyang, (2) tidak bertanya pada tuan rumah tentang sesuatu di rumahnya kecuali arah kiblat dan toilet, (3) tidak mengintip ke arah tempat wanita,(4) tidak menolak ketika dipersilakan duduk di suatu tempat dan (tidak menolak) ketika diberi penghormatan, (5) membasuh kedua tangan (ketika hendak makan dengan tangan), (6) ketika melihat tuan rumah bergerak untuk melakukan sesuatu, jangan mencegahnya” (Muhammad bin Ahmad bin Salim as-Safarini, Ghida’ Al-Albab Syarh Mandzumah Al-Adab, juz 2, hal. 117)

Selain adab-adab dalam bertamu di atas, Syekh Sulaiman Al-Jamal juga menjelaskan adab-adab yang lain dalam bertamu:

ومن آداب الضيف أن لا يخرج إلا بإذن صاحب المنزل وأن لا يجلس في مقابلة حجرة النساء وسترتهن وأن لا يكثر النظر إلى الموضع الذي يخرج منه الطعام

“Sebagian adab dalam bertamu adalah tidak beranjak keluar kecuali atas seizin tuan rumah, tidak duduk di hadapan ruangan perempuan, tidak banyak memandangi ruangan tempat keluar makanan,” (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, juz 17, hal. 407)

Sebagian adab yang lain dalam bertamu adalah ketika seseorang hendak menginap, hendaknya tidak melebihi dari tiga hari, hal ini sesuai dengan anjuran dalam hadits:

وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ

“Jamuan hak tamu berjangka waktu tiga hari. Lebih dari itu, jamuan adalah sebuah sedekah. Tidak boleh bagi tamu untuk menginap di suatu rumah hingga ia menyusahkannya,” (HR. Bukhori Muslim).

Maka sebaiknya adab-adab di atas benar-benar dijaga dan dilaksanakan pada saat bertamu ke rumah orang lain, agar tercapai maksud dan tujuan dalam bertamu sehingga akan terjalin hubungan yang baik. Wallohu a’lam.

• Madrasah Al-Hasan

Keutamaan Puasa di Bulan SyawwalPuasa sunnah Syawwal menyimpan banyak keutamaan. Alloh ﷻ menyediakan ganjaran besar bagi...
06/06/2019

Keutamaan Puasa di Bulan Syawwal

Puasa sunnah Syawwal menyimpan banyak keutamaan. Alloh ﷻ menyediakan ganjaran besar bagi mereka yang berpuasa di bulan Syawwal. Karenanya puasa enam hari di bulan Syawwal sangat dianjurkan oleh Rosululloh ﷺ.

Bahkan orang yang berpuasa enam hari di bulan Syawwal setelah berpuasa penuh Ramadhan seakan berpuasa setahun penuh puasa wajib. Ini merupakan keistimewaan luar biasa yang Alloh berikan untuk bulan Syawwal.

Hal ini dijelaskan antara lain oleh Syekh Ibrohim Al-Baijuri dalam Hasyiyatul Baijuri ‘ala Syarhil ‘Allamah Ibni Qosim sebagai berikut.

(وستة من شوال) أي لخبر من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر فإن صيام رمضان بعشرة أشهر وصيام الستة من شوال بشهرين فذلك كصيام السنة والمراد أنه كصيامها فرضا والا فلا خصوصية لذلك لأن الحسنة بعشرة أمثالها

“Salah satu puasa sunnah adalah (puasa enam hari di bulan Syawwal) berdasarkan hadits Rosululloh ﷺ, ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu mengiringinya dengan enam hari puasa di bulan Syawwal, ia seakan berpuasa setahun penuh. Karena, puasa Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan. Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawwal setara dengan puasa dua bulan. Semua itu seakan setara dengan puasa setahun penuh’.”

Maksudnya, ia seakan berpuasa wajib setahun penuh. Kalau puasa setahun itu tidak diartikan sebagai puasa wajib, maka tiada keistimewaan semua itu. Pasalnya, satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipat dengan ibadah serupa,” (Lihat Ibrohim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ‘ala Syarhil ‘Allamah Ibni Qosim, Darul Fikr, Juz I, Halaman 214).

Dengan asumsi setiap satu kebaikan dibalas sepuluh, tiga puluh hari puasa di bulan Ramadhan ditambah enam hari puasa di bulan Syawwal maka hasilnya adalah tiga ratus enam puluh hari, artinya yang kurang lebih setahun penuh. Demikian perhitungan secara matematisnya.

Sebagian ulama menyatakan bahwa puasa Syawwal itu diistimewakan karena antara lain puasa itu dapat menerangkan hati yang gelap pasca-Ramadhan. Wallohu a‘lam.

• Madrasah Al-Hasan

Hukum Puasa Syawwal dan Waktu PelaksanaannyaBulan Ramadhan telah berlalu. Kini kita memasuki bulan Syawwal. Di bulan ini...
06/06/2019

Hukum Puasa Syawwal dan Waktu Pelaksanaannya

Bulan Ramadhan telah berlalu. Kini kita memasuki bulan Syawwal. Di bulan ini kita dianjurkan untuk tetap berpuasa enam hari di bulan Syawwal.

Alloh ﷻ menaruh keutamaan luar biasa bagi mereka yang melakukan puasa di bulan Syawwal. Ada baiknya kita lihat keterangan Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain berikut ini.

( و ) الرابع صوم ( ستة من شوال ) لحديث من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر ولقوله أيضا صيام رمضان بعشرة أشهر وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة أي كصيامها فرضا وتحصل السنة بصومها متفرقة منفصلة عن يوم العيد لكن تتابعها واتصالها بيوم العيد أفضل وتفوت بفوات شوال ويسن قضاؤها

“Keempat adalah (puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal) berdasarkan hadits, ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu mengiringinya dengan enam hari puasa di bulan Syawal, ia seakan puasa setahun penuh.’ Hadits lain mengatakan, puasa sebulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari di bulan Syawwal setara dengan puasa dua bulan. Semua itu seakan setara dengan puasa (wajib) setahun penuh’. Keutamaan sunah puasa Syawwal sudah diraih dengan memuasakannya secara terpisah dari hari Idul Fithri. Hanya saja memuasakannya secara berturut-turut lebih utama. Keutamaan sunnah puasa Syawwal luput seiring berakhirnya bulan Syawwal. Tetapi dianjurkan mengqodhonya,”(Lihat Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Nihayatuz Zain, Al-Maarif, Bandung, Tanpa Tahun, Halaman 197).

Uraian di atas cukup jelas menerangkan kapan waktu pelaksanaan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal. Idealnya puasa sunnah Syawwal enam hari itu dilakukan persis setelah hari Raya Idhul Fithri, yakni pada 2-7 Syawwal. Tetapi orang yang berpuasa di luar tanggal itu sekalipun tidak berurutan tetap mendapat keutamaan puasa Syawwal seakan puasa wajib setahun penuh.

Bahkan orang yang mengqodho puasa atau menunaikan nadzar puasanya di bulan Syawwal tetap mendapat keutamaan seperti mereka yang melakukan puasa sunnah Syawwal. Keterangan Syekh Ibrahim Al-Baijuri berikut ini kami kira cukup membantu.

وإن لم يصم رمضان كما نبه عليه بعض المتأخرين والظاهر كما قاله بعضهم حصول السنة بصومها عن قضاء أو نذر

“Puasa Syawwal tetap dianjurkan meskipun seseorang tidak berpuasa Ramadhan seperti diingatkan sebagian ulama mutaakhirin-. Tetapi yang jelas-seperti dikatakan sebagian ulama-seseorang mendapat keutamaan sunnah puasa Syawwal dengan cara melakukan puasa qodho atau puasa nadzar (di bulan Syawwal),” (Lihat Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ‘ala Syarhil ‘Allamah Ibni Qosim, Darul Fikr, Juz I, Halaman 214).

Sebagian ulama bahkan menerangkan bahwa orang yang melakukan puasa sunnah seperti senin-kamis, puasa bidh 12,13,15 yang disunnahkan setiap bulan, atau puasa Nabi Daud AS, tetap mendapat keutamaan puasa Syawwal.

ومما يتكرر بتكرر السنة (ستة من شوال) وإن لم يعلم بها أو نفاها أو صامها عن نذر أو نفل آخر أو قضاء عن رمضان أو غيره. نعم لو صام شوالا قضاء عن رمضان وقصد تأخيرها عنه لم يحصل معه فيصومها من القعدة

“Salah satu puasa tahunan adalah (puasa enam hari di bulan Syawwal) sekalipun orang itu tidak mengetahuinya, menapikannya, atau melakukan puasa nadzar, puasa sunnah lainnya, puasa qodho Ramadhan atau lainnya (di bulan Syawwal). Tetapi, kalau ia melakukan puasa Ramadhan di bulan Syawwal dan ia sengaja menunda enam hari puasa hingga Syawwal berlalu, maka ia tidak mendapat keutamaan sunnah Syawwal sehingga ia berpuasa sunnah Syawwal pada Dzul Qo‘dah,” (Lihat Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Qutul Habibil Ghorib, Tausyih ala Ibni Qosim, Darul Fikr, Beirut, 1996 M/1417 H, Halaman 117).

Keterangan semua itu menunjukan betapa besarnya keutamaan puasa sunnah Syawwal. Memang waktu pelaksanaannya yang ideal adalah enam hari berturut-turut setalah satu Syawwal. Tetapi keutamaannya tetap bisa didapat bagi mereka yang berpuasa sunnah tanpa berurutan di bulan Syawwal.

Adapun pelafalan niat puasa sunnah Syawwal adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَةِ سِتَةٍ مِنْ شَوَالٍ للَه تَعَالَي

Nawaitu shouma ghodin ‘an ada’i sunnati sittatin min syawwalin lillahi ta‘ala.

“Aku niat puasa sunnah Syawwal di esok hari karena Alloh Ta’ala.”
Wallohu a’lam.

• Madrasah Al-Hasan

04/06/2019

Foto & Video : PP. Subulun Najah Song : Maher Zain Romadlon

Selamat menikmati. Semoga bermanfaat. Amin.
04/06/2019

Selamat menikmati. Semoga bermanfaat. Amin.

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Setelah 30 Hari Romadhon, mari kita sambut hari baru, dengan segala sesuatu yang semoga menjadikan kita semua bermanfaat. Mohon doa ...

CINTA SYAWALsaat kita kehilangan tujuanlihat kembali jalan yang telah kita lalui selama iniromadlon mengajarkan kita unt...
04/06/2019

CINTA SYAWAL

saat kita kehilangan tujuan
lihat kembali jalan yang telah kita lalui selama ini
romadlon mengajarkan kita untuk kembali ke tujuan
menjadi manusia yang penuh cinta dalam kesadaran Maha Rohman dan Rohim Alloh SWT
manusia yang sehat lahir maupun bathin
suci akal, kalbu dan jasadnya

ketika Romadlon berlalu
bukan berarti kita bisa tersesat kembali dari tujuan
melainkan mengambil hikmah dan pelajaran yang ditinggalkannya
untuk dijadikan pedoman dalam menapaki kehidupan selanjutnya
agar tetap berada di jalan-Nya dan dalam himpunan Cinta-Nya

semburat Syawal mulai menyapa, di setiap sela-sela dan gelak langkah hamba-Nya yang mencari cinta-Nya
dimulai dari percikan api takbir malam hari, menggema di seluruh penjuru kalbu
sebelum, sesudah dan seterusnya akan tetap bergema dan berkobar api takbir cinta-Nya

cinta adalah air
mengalir untuk menyegarkan,
bukan menghanyutkan
apalagi menenggelamkan

cinta adalah matahari
bukan membakar bara,
tapi menyinari rona
menghidupkan dan mengilhami

cinta adalah angin
mengalun lembut ke sela-sela hati
mencipta sejuk yang sejati
meniup sedih luka di hati
hingga hilang tiada kembali

cinta adalah hujan
jatuh untuk menumbuhkan
meresap ke akar-akar hati
agar tumbuh rimbun kebaikan-kebaikan

cinta adalah cahaya
terang lagi menghangatkan,
bukan pedih menyedihkan
bukan terik menyilaukan

cinta adalah aku dan kau
kau dan aku.

Address

Ngasinan Rt. 06 Rw. 06 Des. Kedungpanji Kec. Lembeyan
Magetan
63372

Telephone

085745181706

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Madrasah Islamiyah Salafiyah Al-Hasan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category