09/01/2019
Aku… perempuan...
Hidup dalam ‘kegemerlapan’ adalah harapan. Namun, melatih diri agar siap hidup dalam keterbatasan, adalah suatu keharusan. Karena walau ayah dan bunda serba berkecukupan, aku harus tetap belajar untuk siap hidup dibawah tekanan. Belajar agar tetap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan yang datang tak terduga, apalagi… kemungkinan-kemungkinan yang tak diinginkan. Sebab nanti, aku akan menjadi rumah bagi yang kucintai setiap harinya. Rumah yang sudah sepantasnya memberikan rasa aman, juga nyaman. Menjadi tempat bersandar yang paling kukuh, bahkan… ketika ia hampir runtuh. Meredakan gigil, dengan akhlak yang menghangatkan. Meredakan khawatir, dengan pribadi yang menenangkan. Dan meredakan perih, dengan kelembutan yang menguatkan. Sebab mungkin, yang kudampingi kelak takkan selalu bertahtakan mahkota. Pun, takkan selalu berkuasa diatas singgasana. Kelak, mungkin akan ada waktu jatuh dan terpuruknya. Dan sudah sepantasnya… aku senantiasa siap merangkul membersamainya.
Aku… perempuan. Tak sering make up-an bukan berarti tak peduli akan kecantikan. Walau sehari-hari tampil seadanya – dengan bibir yang tak bergincu, bulu mata tanpa maskara, dan hanya berbedak alakadarnya, tetapi untuk yang menghalalkanku nanti, sudah tentu aku bersemangat belajar mengelokkan diri. Tak usah bermodal berjuta-juta, toh aku masih bisa belajar ‘membahagiakan’ tanpa didahului dengan ‘menyusahkan’. Cukuplah dengan belajar cantik dalam kesederhanaan. Kesederhanaan yang mampu membeli ‘sebaik-baik keistimewaan’. Dengan merapikan pribadi yang nampak, lebih-lebih… membaikkan yang tersembunyi. Bukan cuma mempercantik dzahir, namun juga mengindahkan bathin. Menjaga kehormatan dengan iman, hingga kelak, yang empunya merasa aman. Sebab, perhiasan hidupnya telah ‘tahu diri’, sekaligus ‘tahu cara terbaik menjaga dirinya sendiri’. Dan semua itu juga tak lain kulakukan karena Pencipta-ku telah menghargai kaumku bak permata-intan. Maka lewat Islam, Ia menjagaku dengan sepenuh cinta agar tak sedikitpun didapati goresan. Lantas, demi sanjungan, haruskah kemudian aku menjadikan diriku sebagai barang obralan? Ah, hadiah istimewa hanya diberikan kepada yang teristimewa, bukan?
Aku… perempuan. Menjaga interaksi dengan lawan jenis sungguh bukan untuk jaim-jaiman. Aku hanya khawatir, bagaimana jika karena nafsu yang terlampau dipertuturkan… lantas kita sama-sama ‘saling menjatuh(hati)kan’? Jika ‘jatuh’ bersama, sedang kesiapan telah ada pada keduanya, ya syukurlah… mungkin memang sebaiknya kita jatuhkan saja hati kita pada ‘kehalalan’. Namun, jika belum siap… bukankah itu cukup dikatakan sebagai bencana? Bahkan, jika kau saja yang berhasil ‘kujatuhkan’, atau… jika aku saja, bukankah itu akan lebih mengerikan? Walaupun sebenarnya… urusan cinta dan segala perasaan yang hadir sebelum kita siap menghalalkannya bukan perihal bertahan dalam posisi aman tanpa ‘menjatuhkan’, atau ‘dijatuhkan’. Melainkan, semuanya murni perihal ‘pengendalian’, dan bagaimana cara ‘menjatuhkan diri pada tempatnya’. Maka, kalaupun rasa itu terlanjur ‘jatuh’, jangan saja kita biarkan ia jatuh pada tempat Tuhan bertahta. Sebab… kehilangan manusia, ya… kita hanya kehilangannya saja. Namun kehilangan Tuhan dikalbu, ahhh… pedihnya… jangan tanya! Maka ketika aku jatuh cinta, maaf jika harus kukatakan, bahwa: “Aku mencintaimu, tetapi… cintaku itu takkan pernah cukup untuk membuatku membangkang kepada Tuhan-ku.”