Bayt Qur'any

Bayt Qur'any

Share

Sahabat Belajar al-Qur'an

Taqwa Bersama Keluarga di Bulan Penuh Berkah - Kajian Samara Bayt Qur'any #4 10/02/2026

https://go.maqwa.com/live-samara

๐Ÿ”ด [LIVE] Kajian Bulanan Keluarga Samara #4
Tema: Taqwa Bersama Keluarga di Bulan Penuh Berkah
Bersama: Ust. Nashiruddin Syukur

Assalamuโ€™alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

InsyaAllah pada kesempatan kali ini kita akan menyimak Kajian Bulanan Keluarga Samara yang disiarkan langsung dari Bayt Qur'any. Mari perdalam ilmu kita mengenai bagaimana Islam memberikan perhatian khusus dan panduan dalam membina rumah tangga yang Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah.

๐Ÿ“… Waktu Pelaksanaan:
Hari/Tanggal: Sabtu, 14 Februari 2026
Pukul: 09.00 - Selesai WIB

๐Ÿ“ Lokasi:
Bayt Qur'any
Gg. Elang no. 27 RT003/RW002 Bulurejo, Mertoyudan, Kabupaten Magelang 56172.
Maps: https://maps.app.goo.gl/wqTWDD2yeUArxW44A

Mari ajak keluarga, sahabat, dan kerabat untuk menyimak kajian ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan pemberat amal timbangan kebaikan kita di akhirat kelak.

Jangan lupa untuk LIKE, SHARE, dan SUBSCRIBE channel ini agar tidak ketinggalan update kajian berikutnya.

Wassalamuโ€™alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

----------------------------------------------------------
Media Sosial Kami:
Youtube: https://www.youtube.com/
Facebook: https://facebook.com/baytqurany/
Website: https://maqwa.org
----------------------------------------------------------

Taqwa Bersama Keluarga di Bulan Penuh Berkah - Kajian Samara Bayt Qur'any #4 ๐Ÿ”ด [LIVE] Kajian Bulanan Keluarga Samara : Taqwa Bersama Keluarga di Bulan Penuh BerkahBersama: Ust. Nashiruddin SyukurAssalamuโ€™alaikum Warahmatullahi ...

07/06/2020

*DSN MEMBOLEHKAN KREDIT EMAS ?*

_Pada postingan sebelumnya, kenapa jual beli emas (investasi) itu tidak boleh kredit. Padahal menurut penjelasan DSN (Dewan Syariah Nasional) kredit emas itu boleh ?_
****

Kalau โ€œdalilโ€ itu berupa *tokoh* atau *lembaga,* memang tidak mudah untuk menjelaskan ke orang awam. Mau dibilang tokoh itu salah, tapi faktanya mereka itu tokoh besar. Mau dibilang fatwa lembaga itu pendapatnya lemah (entah karena pesanan bisnis atau lainnya), tetapi di dalamnya itu kump**an orang-orang yang katanya pinter-pinter agama.

Saya jadi teringat dengan kasus PAYTREN. Bisnis PAYTREN itu mengantongi banyak ijin, mulai dari OJK, BI, BKPM dan APLI. Ditambah lagi DSN menyampaikan bahwa *PayTren* (PT Veritra Sentosa Internasional) perusahaan penjualan langsung atau MLM yang telah mengantongi sertifikasi halal, yang sudah pasti memenuhi 12 poin dalam Fatwa DSN MUI No. 75/DSN MUI/VII/2009 tentang Penjualan Langsung Berjenjang Syariah (PLBS). (Sumber : REPUBLIKA.CO.ID, Rabu 13 Mar 2019).
Apakah dengan legalitas DSN itu PAYTREN menjadi sesuai Syariah ?

Saya sendiri memahami, untuk PAYTREN mitra pebisnis, itu jual beli peluang. Itu artinya jual beli _*gharar.*_ Dan jual beli _gharar_ itu dilarang syariah. Tetapi waktu itu, saat boomingnya paytren, sulit untuk menjelaskan bahwa ini ada unsur gharar, karena pemiliknya adalah figur publik.

Demikian juga saat kita membahas, apakah boleh emas itu dibeli secara kredit atau tidak. Orang bisa saja bilang, _โ€œDewan Syariah Nasional (DSN) saja membolehkan. Kenapa dikatakan tidak boleh.โ€_ Bisa saja orang berdalih dengan dalil itu.

Namun kalau mau sekedar membandingkan lembaga yang mengeluarkan fatwa, sebenarnya ini malah ada panduan perbankan syariah internasional yang dibuat oleh AAOIFI yang menyatakan dalam bab _โ€œal Murabahah lil amri bisyiraโ€™_ yang berbunyi :

ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุงุฌุฑุงุก ุงู„ู…ุฑุงุจุญุฉ ุงู„ู…ุคุฌู„ุฉ ููŠ ุงู„ุฐู‡ุจ ุงูˆ ุงู„ูุถุฉ ุงูˆ ุงู„ุนู…ู„ุงุช
_Tidak diperbolehkan jual beli murabahah tidak tunai pada emas atau perak atau mata uang._ ( _al-Mi`yar asy-Syar`iy,_ 2/2/6).

Penjelasan ini berbeda dengan fatwa DSN tersebut.

Tapi, kami tidak condong hanya beralasan seperti itu. Karena itu hanya sekedar _โ€dekeng-dekengan.โ€_

Kami lebih condong alangkah baiknya menelaah dari sisi argumennya.

ูˆ ุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ []

06/06/2020

*KETENTUAN JUAL BELI EMAS*

_Saat ini banyak jual beli emas dengan tidak tunai. Mohon tanggapannya?_
****

*Jual beli emas itu harus kontan.* Tidak boleh membeli emas secara tidak tunai.

Misal, membeli emas 5 gram, ditetapkan harganya Rp 840.000/gram. Sehingga harganya Rp 4.200.000. Diangsur selama 3 bulan. Sehingga tiap bulan pembeli membayar Rp 1.400.000.

Atau, pembeli menabung tiap bulan untuk membeli emas 5 gram yang telah ditetapkan harganya Rp 840.000/gram. Sehingga ketika genap uamgmya Rp 4.200.000, maka emas 5 gram itu menjadi miliknya.
Cara pembelian semacam itu tidak dibolehkan, karena masuk dalam jual beli non tunai.

Berbeda dengan kalau seseorang mengumpulkan uang, disimpan sendiri atau ditabung di lembaga keuangan. Semisal dapat Rp 1.000.000, atau Rp 5.000.000. Lalu dengan uang itu ia membeli emas dengan harga saat itu. Misal saat dia beli itu harga emas ternyata Rp 850.000/gram. Lalu dia membeli emas dengan harga itu dari uang tersebut. Maka ini boleh.

Intinya jual beli emas itu harus kontan.
Dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah Shallallรขhu `alihi wa sallama bersabda :

ุงู„ุฐู‘ูŽู‡ูŽุจู ุจูุงู„ุฐู‘ูŽู‡ูŽุจู ูˆูŽุงู„ู’ููุถู‘ูŽุฉู ุจูุงู„ู’ููุถู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุจูุฑู‘ู ุจูุงู„ู’ุจูุฑู‘ู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุนููŠุฑู ุจูุงู„ุดู‘ูŽุนููŠุฑู ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽู…ู’ุฑู ุจูุงู„ุชู‘ูŽู…ู’ุฑู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู„ู’ุญู ุจูุงู„ู’ู…ูู„ู’ุญู ู…ูุซู’ู„ู‹ุง ุจูู…ูุซู’ู„ู ุณูŽูˆูŽุงุกู‹ ุจูุณูŽูˆูŽุงุกู ูŠูŽุฏู‹ุง ุจููŠูŽุฏู ููŽุฅูุฐูŽุง ุงุฎู’ุชูŽู„ูŽููŽุชู’ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽุตู’ู†ูŽุงูู ููŽุจููŠุนููˆุง ูƒูŽูŠู’ููŽ ุดูุฆู’ุชูู…ู’ ุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุฏู‹ุง ุจููŠูŽุฏู
_Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, syaโ€™ir dengan syaโ€™ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, *semisal, setara, dan kontan.* Apabila jenisnya berbeda, jual-lah sesukamu jika dilakukan dengan *kontan.*_ (HR Muslim).

Hadits ini menjelaskan ketentuan pertukaran pada _ _[1] dzahab (emas), [2] fidhah (perak), [3] tamar (kurma), [4] syaโ€™รฎr (jewawut), [5] burr (gandum), dan [6] milh (garam)._ Enam barang ini dikenal dengan barang ribawi. Ketentuan pertukarannya adalah : *[a] jika ditukar dengan yang sejenis* (misal, emas dengan emas), maka harus setara dan *kontan.*
Sedang *[b] bila ditukar dengan yang berbeda jenisnya* (misal, emas dengan perak), maka jual belinya sesuai kesepakatan kalian, akan tetapi yang disyaratkan adalah *kontan.*

Dalam riwayat lain, dari Ubadah bin Shamit RA bahwa Nabi Shallallรขhu `alihi wa sallama bersabda, _"Juallah emas dengan perak sesukamu, asalkan dilakukan dengan kontan."_ (HR Tirmidzi).

Umar ibn al-Khaththab RA menceritakan Nabi Shallallรขhu `alihi wa sallama bersabda :

ุงู„ุฐู‘ูŽู‡ูŽุจู ุจูุงู„ู’ูˆูŽุฑูู‚ู ุฑูุจูŽุง ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู‡ูŽุงุกูŽ ูˆูŽ ู‡ูŽุงุกูŽ
_Emas (dinar) dengan dirham adalah riba kecuali secara tunai._ (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibn Majad, Ahmad, Malik dan al-Humaidi).

Imam Syaukani menjelaskan, hadits tersebut, _"Jelas bahwa tidak boleh menjual suatu barang ribawi dengan sesama barang ribawi lainnya, *kecuali secara kontan.* Tidak boleh p**a menjualnya secara bertempo (kredit), meskipun keduanya berbeda jenis dan ukurannya, misalnya menjual burr dan syaโ€™ir, dengan emas dan perak."_ (Imam Syaukani, _Nailul Authar,_ hal. 1061).

Dalil-dalil di atas jelas menunjukkan bahwa menjualbelikan emas haruslah memenuhi syaratnya, yaitu wajib dilakukan secara *kontan.* Inilah yang diistilahkan oleh para fuqoha dengan kata *_"taqabudh"_ (serah terima dalam majelis akad)* berdasarkan bunyi nash *_"yadan bi yadin"_ (dari tangan ke tangan).*
Dengan demikian, menjualbelikan emas secara kredit atau angsuran, melanggar persyaratan tersebut sehingga hukumnya secara syarโ€™i adalah *haram.*
****

_Ada yang berpendapat bahwa emas yang dijual sekarang dibeli dengan uang kertas (fiat money ; bank note), yang tidak mewakili emas. Jadi emas tersebut berarti tidak dibeli dengan sesama emas atau barang ribawi lainnya (semisal perak), sehingga hukumnya boleh karena tidak ada persyaratan harus kontan._

*Pendapat tersebut tidak dapat diterima,* mengingat dalam banyak hadits, emas dan perak disebutkan selain dalam konteks zatnya, juga dalam konteks pertukaran atau sebagai alat tukar dan alat pembayaran.

Uang kertas sekarang sama fungsinya dengan mata uang emas (dinar) dan mata uang perak (dirham), yaitu sebagai alat tukar untuk mengukur harga barang dan upah jasa. Maka dari itu, hukum syarโ€™i yang berlaku pada emas dan perak berlaku juga untuk uang kertas sekarang. (Abdul Qadim Zallum, _Al-Amwal fi Daulah al-Khilafah,_ hal. 175).

Jadi, menjualbelikan emas secara kredit hukumnya haram, karena emas termasuk barang ribawi yang disyaratkan harus kontan jika dijualbelikan atau dipertukarkan, sebagaimana disebut dalam hadits-hadits di atas.

Juga tidak disebutkah hadits yang membolehkan jual beli emas secara kredit. Sehingga ketidak bolehan itu tetap sebagaimana disebut dalam nash-nash di atas.
Ini berbeda dengan barang ribawi selain emas dan perak. Yakni pada *โ€œgandum, jewawut, garam, kurmaโ€* yang ditukar/dibeli dengan *โ€œuangโ€.* Di mana *terdapat pengecualian atas kewajiban kontan itu padanya.* Yang demikian karena ada hadits Muslim dari Aisyah ra :

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: ยซ ุงุดู’ุชูŽุฑูŽู‰ ู…ูู†ู’ ูŠูŽู‡ููˆุฏููŠู‘ู ุทูŽุนูŽุงู…ู‹ุง ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽุฌูŽู„ูุŒ ูˆูŽุฑูŽู‡ูŽู†ูŽู‡ู ุฏูุฑู’ุนู‹ุง ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุญูŽุฏููŠุฏู ยป
_Rasulullah ๏ฒ membeli dari orang Yahudi makanan sampai tempo tertentu dan beliau mengagunkan baju besi milik beliau._

Dan makanan mereka pada waktu itu adalah jenis-jenis barang tersebut. Seperti yang dinyatakan di dalam hadits :

ยซ ุงูŽู„ุทู‘ูŽุนูŽุงู…ู ุจูุงู„ุทู‘ูŽุนูŽุงู…ู ู…ูุซู’ู„ุงู‹ ุจูู…ูุซู’ู„ู ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุทูŽุนูŽุงู…ูู†ูŽุง ูŠูŽูˆู’ู…ูŽุฆูุฐู ุงู„ุดู‘ูŽุนููŠู’ุฑู ยป
_Makanan dengan makanan harus semisal, dan makanan kami pada waktu itu adalah jewawut._ (HR Ahmad dan Muslim dari jalur Muโ€™ammar bin Abdullah).

Atas dasar itu, boleh menjual jenis-jenis barang ribawi yang empat tersebut secara utang (kredit), jika disertai agunan sesuatu yang diserahkan kepada penjual sampai ketika harganya dibayar. Jika antara pemberi utang dan orang yang mengutang saling percaya satu sama lain, maka tidak perlu agunan. (lihat QS al-Baqarah [2] : 283).

Perlu diketahui, telah dinyatakan di Syarh Shahรฎh al-Bukhรขrรฎ karya Ibn Baththal pada bab _*Syirรขโ€™ ath-thaโ€™รขm ilรข ajalin*_ (jual beli makanan sampai tempo tertentu), _โ€œTidak ada perbedaan pendapat di antara ahlu al-โ€˜ilmi bahwa boleh menjual makanan dengan harga yang jelas sampai tempo yang jelasโ€._

Dinyatakan di buku _*al-Fiqh `alรข al-Madzรขhib al-Arba`ah*_ karya al-Jazairi tentang penjualan jenis-jenis barang ribawi, _โ€œAdapun jika yang bertransaksi, satu pihak berupa uang dan yang lain berupa makanan, maka boleh di dalamnya ada penundaanโ€._

Juga dinyatakan di al-Mughni oleh Ibn Qudamah dan ia membicarakan tentang pengharaman jual beli jenis-jenis yang empat satu dengan yang lain secara utang (kredit) โ€ฆ Ibn Qudamah berkata, _โ€œBerbeda jika dijual dengan dirham atau (mata uang) lainnya dengan barang yang ditimbang secara tempo (utang), maka kebutuhan menuntut yang demikianโ€._

ูˆ ุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

21/05/2020

*Membayar Utang dengan Tambahan ITU TIDAK RIBA?*

Dari Jabir bin Abdullah berkata :
ุฃูŽุชูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ูŽ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - ูˆูŽู‡ููˆูŽ ููู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู - ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูุณู’ุนูŽุฑูŒ ุฃูุฑูŽุงู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุถูุญู‹ู‰ - ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ุตูŽู„ู‘ู ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ยป . ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฏูŽูŠู’ู†ูŒ ููŽู‚ูŽุถูŽุงู†ูู‰ ูˆูŽุฒูŽุงุฏูŽู†ูู‰ .
Aku datang kepada Nabi SAW saat beliau di masjid. Mis`ar (perawi) berkata, _โ€œAku melihatnya beliau berkata Dhuha."_ Maka beliau berkata : _Shalatlah dua rakaat._ Dan ada bagiku atas beliau hutang, lalu *beliau membayar kepadaku dan menambah padaku.* (HR. Ahmad, al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud).

_Bagaimana dengan hadits tersebut, bukankah ini menunjukkan bolehnya menambah dalam pembayaran utang ?_

(Pertanyaan Bpk Sutarmo, kajian Malam Sabtu).
*******

*[PERTAMA]* Perlu dipahami fakta utang. Sebab kita sering menyebutkan kata utang itu secara umum, padahal sebab utang itu beda-beda.

Ada yang utang *[a]* karena pinjam uang, ada juga yang *[b]* karena membeli barang lalu belum membayar, atau *[c]* karena merusakkan barang yang harus kita menggantinya, atau *[d]* karena sebab lain.

Untuk menduduk masalah yang ditanyakan Bpk Sutarmo di atas, kita perlu pahami makna _DAYN_ secara umum, dan bedanya dengan _QARDH._ Hukum keduanya ada perbedaan.

*MAKNA DAYN*

- ุนูŽุฑู‘ูŽููŽ ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽูููŠู‘ูŽุฉู ุงู„ุฏู‘ูŽูŠู’ู†ูŽ ุจูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุนูุจูŽุงุฑูŽุฉูŒ ุนูŽู†ู’ " ู…ูŽุง ูŠูŽุซู’ุจูุชู ูููŠ ุงู„ุฐู‘ูู…ู‘ูŽุฉู ู…ูู†ู’ ู…ูŽุงู„ู ูููŠ ู…ูุนูŽุงูˆูŽุถูŽุฉู ุŒ ุฃูŽูˆู’ ุฅูุชู’ู„ุงูู ุŒ ุฃูŽูˆู’ ู‚ูŽุฑู’ุถู " ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฌูู…ู’ู‡ููˆุฑู ุงู„ู’ููู‚ูŽู‡ูŽุงุกู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุงู„ููƒููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽู†ูŽุงุจูู„ูŽุฉู ุนูุจูŽุงุฑูŽุฉูŒ ุนูŽู†ู’ " ู…ูŽุง ูŠูŽุซู’ุจูุชู ูููŠ ุงู„ุฐู‘ูู…ู‘ูŽุฉู ู…ูู†ู’ ู…ูŽุงู„ู ุจูุณูŽุจูŽุจู ูŠูŽู‚ู’ุชูŽุถููŠ ุซูุจููˆุชูŽู‡ู " . (ุงู„ู…ูˆุณูˆุนุฉ ุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ ุŒ 21 / ุต 103) .
Ulama madzhab Hanafi mendefinisikan _*DAYN*_ adalah apa yang tetap dalam tanggungan dari suatu harta, baik dalam pertukaran, atau perusakan, atau _*qardh*_(pinjaman).
Dan _*DAYN*_ menurut jumhur fuqaha dari kalangan ulama madzha Syafi`i, Maliki dan Hanbali adalah ungkapan tentang apa yang tetap dalam tanggungan karena suatu sebab yang mengharuskan tetapnya utang.

Dalam ungkapan lain, menurut ulama madzhab Hanafi :
ุงู„ุฏู‘ูŽูŠู’ู†ู ู…ูŽุง ูˆูŽุฌูŽุจูŽ ูููŠ ุงู„ุฐู‘ูู…ู‘ูŽุฉู ุจูุนูŽู‚ู’ุฏู ุฃูŽูˆู’ ุงุณู’ุชูู‡ู’ู„ูŽุงูƒู ุŒ ูˆูŽู…ูŽุง ุตูŽุงุฑูŽ ูููŠ ุฐูู…ู‘ูŽุชูู‡ู ุฏูŽูŠู’ู†ู‹ุง ุจูุงุณู’ุชูู‚ู’ุฑูŽุงุถูู‡ู (ุฑุฏ ุงู„ู…ุญุชุงุฑ ุŒ 20 / ุต 63) .
_*DAYN*_ adalah apa yang wajib dalam tanggungan disebabkan oleh adanya akad, atau akibat dari menghabiskan/merusak (barang lain). Dan apa yang menjandi dalam tanggungannya disebab karena _*qardh*_ (peminjaman).

Karena itu *_Qarh_* itu bagian dari _*Dayn*_.

Disebutkan dalam al-Masรป`ah al-Fiqhiyyah (21/103) :

ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽุฑู’ุถู ุฃูŽุฎูŽุตู‘ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏู‘ูŽูŠู’ู†ู . ุงู„ู’ู‚ูŽุฑู’ุถู ุนูŽู‚ู’ุฏูŒ ู…ูŽุฎู’ุตููˆุตูŒ ูŠูŽุฑูุฏู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฏูŽูู’ุนู ู…ูŽุงู„ู ู…ูุซู’ู„ููŠู‘ู ู„ุขุฎูŽุฑูŽ ู„ููŠูŽุฑูุฏู‘ูŽ ู…ูุซู’ู„ูŽู‡ู . (ุฑุฏ ุงู„ู…ุญุชุงุฑ ุŒ 4 / 171 ุ› ุงู„ู…ูˆุณูˆุนุฉ ุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ ุŒ 21 / ุต 103)
_QARDH itu lebih khusus dari DAYN._
*QARD* adalah akad yang dikhususkan untuk memberikan harta yang semisal kepada orang lain agar dia mengembalikan yang semisalnya.

*[KEDUA]* Apa yang disebut dalam hadits Jabir di atas adalah kasus *_DAYN,_* bukah *_QARDH._* Yakni kasusnya bukan pinjam uang, tetapi membeli barang yang belum dibayar. Sehingga TAMBAHAN sesudah pemenuhan pembayaran itu boleh.

Ini bisa kita simak dalam penjelasan dalam _`Umdatu al-Qรขry Syarhu Shahih al-Bukhari_ li al-`Allรขmati Badru ad-Dรฎni al-`Ainiy al-Hanafiy berikut :

ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ู…ุฎุชุตุฑ ู…ู† ู…ุทูˆู„ ุฐูƒุฑู‡ ููŠ ูƒุชุงุจ ุงู„ุจูŠูˆุน ูˆุบูŠุฑู‡ ูˆููŠู‡ ุฃู†ู‡ ู‚ุงู„ ูƒู†ุช ู…ุน ุงู„ู†ุจูŠ ููŠ ุบุฒุงุฉ ูˆุงุดุชุฑู‰ ู…ู†ูŠ ุฌู…ู„ุง ุจุฃูˆู‚ูŠุฉ ุซู… ู‚ุฏู… ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ู‚ุจู„ูŠ ูˆู‚ุฏู…ุช ุจุงู„ุบุฏุงุฉ ููˆุฌุฏุชู‡ ุนู„ู‰ ุจุงุจ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ู‚ุงู„ ุงู„ุขู† ู‚ุฏู…ุช ู‚ู„ุช ู†ุนู… ู‚ุงู„ ูุงุฏุฎู„ ูุตู„ ุฑูƒุนุชูŠู† . [ุนู…ุฏุฉ ุงู„ู‚ุงุฑูŠ ุดุฑุญ ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ - (ุฌ 7 / ุต 29)] .
Hadits ini adalah ringkasan dari hadits panjang dalam kitab al-Buyรป` dan lainnya, dan di dalamnya disebutkan bahwa Jabir berkata : Aku bersama Nabi SAW dalam suatu peperangan dan beliau membeli dariku seekor onta seharga satu uqiyyah. Kemudian Rasulullah tiba sebelumku dan aku datang esoknya. Lalu aku menemui beliau di pintu masjid. Beliau berkata : Sekarang engkau datang. Aku jawab, โ€œYa.โ€ Beliau bersabda : Masuk dan shalatlah dua rakaat.

Sehingga yang diberikan kepada Jabir itu kasus pembayaran onta yang dibeli dan belum dibayar, bukan membayar utang karena pinjam uang.

ู‚ูˆู„ู‡ ูˆูƒุงู† ู„ูŠ ุนู„ูŠู‡ ุฏูŠู† ูƒุฐุง ู‡ูˆ ููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ ุงู„ุฃูƒุซุฑูŠู† ูˆูŽูููŠ ุฑููˆูŽุงูŠูŽุฉ ุงู„ู’ุญูŽู…ูŽูˆููŠู‘ู ูˆ ูƒุงู† ู„ู‡ ุฃูŠ ู„ุฌุงุจุฑ ุนู„ูŠู‡ ุฃูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ูˆู‡ุฐุง ุงู„ุฏูŠู† ูƒุงู† ุซู…ู† ุฌู…ู„ ุฌุงุจุฑ . [ุนู…ุฏุฉ ุงู„ู‚ุงุฑูŠ ุดุฑุญ ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ โ€“ (ุฌ 7 / ุต 27)] .
Perkataannya, _โ€œDan ada bagiku atas beliau hutang.โ€_ Demikian ini adalah dalam riwayat kebanyakan. Sedang dalam riwayat al-Hamawiy adalah _โ€œDan ada baginyaโ€_ โ€“ yakni bagi Jabir. _โ€œAtas beliauโ€_ โ€“ yakni atas Nabi SAW. *Dan hutang ini adalah harga ontanya Jabir.*

Keterangan yang sama disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalaniy.

ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุฏู‘ูŠู† ู‡ููˆูŽ ุซูŽู…ูŽู† ุฌูŽู…ูŽู„ ุฌูŽุงุจูุฑ . [ูุชุญ ุงู„ุจุงุฑูŠ ู„ุงุจู† ุญุฌุฑ - (ุฌ 2 / ุต 170)].
_*Dan hutang ini adalah harga onta milik Jabir.*_

Cerita lengkapnya bisa disimak dalam hadits riwayat al-Bukhari yang lain.

Maka ini adalah jenis hutang dalam bentuk _*dain*_, bukan _*qardh.*_ Dan penambahan pembayaran hutang dalam bentuk DAYN itu boleh (tentu dengan tetap menjaga aspek-aspek lain yang dilarang).

Sementara untuk _*QARD*_ maka tidak boleh ada penambahan.
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Mushannafnya dari Ibnu Sirin berkata: Seorang laki-laki meminjamkan kepada laki-laki lain senilai 500 dirham dan mensyaratkan padanya punggung kudanya. Ibnu Masud berkata,
ู…ุง ุฃุตุงุจ ู…ู† ุธู‡ุฑ ูุฑุณู‡ ูู‡ูˆ ุฑุจุง
_*Apa yang menimpa punggung kudanya itu adalah riban.*_

Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan dari Zar bin Hubaisy berkata :Ayahku berkata : Apabila engkau meminjamkan suatu pinjaman, lalu debitur melulasinya dengan membawa hadiah,
ูุฎุฐ ู…ู†ู‡ ู‚ุฑุถู‡ ูˆุฑุฏ ุนู„ูŠู‡ ู‡ุฏูŠุชู‡
_*maka ambillah pinjamannya dan kembalikan hadiahnya.*_

Memang ada yang berkata bahwa boleh juga dalam kasus _*Qardh*_ itu ada tambahan dengan ketentuan :
[a] Tidak dipersyaratkan di awal. Jika ada persyaratan di awal, termasuk riba.
[b] Murni atas inisiatif dan keinginan orang yang berutang. Jika kelebihan ini karena permintaan kreditor (pemberi utang), termasuk riba. Karena keuntungan yang diperoleh dari utang adalah riba.
[c] Tidak menjadi ditradisikan. Jika memberi kelebihan saat pelunasan menjadi konvensi tidak tertulis, statusnya sama dengan dipersyaratkan di depan. Sebagaimana dinyatakan dalam kaidah,
ุงู„ู…ุนุฑูˆู ุนุฑูุง ูƒุงู„ู…ุดุฑูˆุท ุดุฑุทุง
โ€œApa yang telah menjadi tradisi, maka dia seperti menjadi syarat.โ€ (al-Wajiz fi Qawaid Fiqh al-Kulliyah, hlm. 306).

Penjelasan ini, bisa saja dianggap benar. Namun kami lebih condong bahwa penjelasan semacam ini tidak memilah antara tanggungan yang lahir karena akad QARD dengan tanggung karena selain akad QARD.

Padahal tanggungan yang lahir karena akad QARD tidak boleh ada tambahan, sedang tanggung karena selain akad QARD, semisal jual beli, maka boleh. Dengan itu, semua dalil bisa dihimpun maknanya.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ .

[Nashiruddin Syukur]

21/05/2020

*MEMBERI ZAKAT KEPADA AHLI MAKSIAT ?*

_Bagaimana harta zakat yang kita keluarkan itu kita berikan kepada orang yang kita kenal pelaku maksiat. Bagaimana jika yang diberi harta zakat itu tidak shalat ?_
****

Sebelumnya kita kaji dulu hadits dari Abu Hurairah Radhiyallรขhu `anhu yang di dalamnya disebutkan bahwa Rasulullah Shallallรขhu `alaihi wa Sallama bersabda :

ยซ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ู„ุฃูŽุชูŽุตูŽุฏู‘ูŽู‚ูŽู†ู‘ูŽ ุจูุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู . ููŽุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ุจูุตูŽุฏูŽู‚ูŽุชูู‡ู ููŽูˆูŽุถูŽุนูŽู‡ูŽุง ููู‰ ูŠูŽุฏู ุณูŽุงุฑูู‚ู ููŽุฃูŽุตู’ุจูŽุญููˆุง ูŠูŽุชูŽุญูŽุฏู‘ูŽุซููˆู†ูŽ ุชูุตูุฏู‘ูู‚ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽุงุฑูู‚ู . ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ู„ูŽูƒูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ุฃูŽุชูŽุตูŽุฏู‘ูŽู‚ูŽู†ู‘ูŽ ุจูุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู. ููŽุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ุจูุตูŽุฏูŽู‚ูŽุชูู‡ู ููŽูˆูŽุถูŽุนูŽู‡ูŽุง ููู‰ ูŠูŽุฏูŽู‰ู’ ุฒูŽุงู†ููŠูŽุฉู ุŒ ููŽุฃูŽุตู’ุจูŽุญููˆุง ูŠูŽุชูŽุญูŽุฏู‘ูŽุซููˆู†ูŽ ุชูุตูุฏู‘ูู‚ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฒูŽุงู†ููŠูŽุฉู. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ู„ูŽูƒูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฒูŽุงู†ููŠูŽุฉูุŒ ู„ุฃูŽุชูŽุตูŽุฏู‘ูŽู‚ูŽู†ู‘ูŽ ุจูุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู . ููŽุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ุจูุตูŽุฏูŽู‚ูŽุชูู‡ู ููŽูˆูŽุถูŽุนูŽู‡ูŽุง ููู‰ ูŠูŽุฏูŽู‰ู’ ุบูŽู†ูู‰ู‘ู ููŽุฃูŽุตู’ุจูŽุญููˆุง ูŠูŽุชูŽุญูŽุฏู‘ูŽุซููˆู†ูŽ ุชูุตูุฏู‘ูู‚ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุบูŽู†ูู‰ู‘ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ู„ูŽูƒูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ุŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽุงุฑูู‚ู ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุฒูŽุงู†ููŠูŽุฉู ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุบูŽู†ูู‰ู‘ู . ููŽุฃูุชูู‰ูŽ ููŽู‚ููŠู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุชููƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽุงุฑูู‚ู ููŽู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุนููู‘ูŽ ุนูŽู†ู’ ุณูŽุฑูู‚ูŽุชูู‡ู ุŒ ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ุฒู‘ูŽุงู†ููŠูŽุฉู ููŽู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุณู’ุชูŽุนููู‘ูŽ ุนูŽู†ู’ ุฒูู†ูŽุงู‡ูŽุง ุŒ ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู’ุบูŽู†ูู‰ู‘ู ููŽู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุนู’ุชูŽุจูุฑู ููŽูŠูู†ู’ููู‚ู ู…ูู…ู‘ูŽุง ุฃูŽุนู’ุทูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ยป .

Ada seseorang mengatakan, _โ€œSungguh aku akan benar-benar bersedekah.โ€_ Lalu dia keluar dengan membawa harta sedekahnya lalu meletakkan sedekah itu di tangan seorang pencuri. Lalu pagi harinya orang-orang membicarakan bahwa telah diberikan sedekah itu kepada seorang pencuri. Maka dia mengucapkan : _โ€Ya Allah, hanya untuk-Mu segala puji. Sungguh aku akan benar-benar bersedekah (lagi).โ€_
Lalu dia keluar dengan membawa harta sedekahnya lalu meletakkan sedekah itu pada tangan seorang wanita pezina. Lalu pagi harinya orang-orang membicarakan bahwa telah diberikan sedekah itu kepada seorang wanita pezina. Maka dia mengucapkan : _โ€Ya Allah, hanya untuk-Mu segala puji. Sedekahku jatuh ke tangan pelacur. Sungguh aku akan benar-benar bersedekah (lagi).โ€_
Lalu dia keluar dengan membawa harta sedekahnya lalu meletakkannya pada tangan orang kaya. Lalu pagi harinya orang-orang membicarakan bahwa telah diberikan sedekah itu kepada seorang yang kaya. Maka dia mengucapkan : _โ€Ya Allah, hanya untuk-Mu segala puji. Sedekahku jatuh ke tangan pencuri, pelacur dan orang kaya.โ€_
Lalu didatangkan dan dikatakan kepadanya : Adapun sedekahmu atas pencuri, boleh jadi itu mencegahnya dari pencuriannya. Dan adapun pada wanita pezina, boleh jadi itu membuatnya terjaga dari zinanya. Dan adapun pada orang kaya, boleh jadi dia mengambil pelajaran lalu meng-infaqkan dari apa yang Allah berikan kepadanya. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Maksud *_ia meletakkan sedekah itu di tangan seorang pencuri_*, bukan dia segaja memberikan kepada mereka. Al-Hafidh Ibnu Hajar menjelaskan :

ู‚ูŽูˆู’ู„ู‡ : ( ููŽูˆูŽุถูŽุนูŽู‡ูŽุง ูููŠ ูŠูŽุฏู ุณูŽุงุฑูู‚ู ) ุฃูŽูŠู’ : ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุณูŽุงุฑูู‚ .
Sabdanya *_ia meletakkan sedekah itu di tangan seorang pencuri_*, Yakni karena dia tidak tahu bahwa dia itu pencuri (Fathul-Bรขriy li Ibni Hajar, 5/18).
Maka demikian juga mafhumnya ketika ia meletakkan sedekah itu pada seorang wanita pezina dan pada orang kaya.

Selanjutnya Al-Hafidh Ibnu Hajar menjelaskan :
ู‚ูŽูˆู’ู„ู‡ : ( ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ู„ูŽูƒ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏ ) ุฃูŽูŠู’ : ู„ูŽุง ู„ููŠ ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุชููŠ ูˆูŽู‚ูŽุนูŽุชู’ ุจููŠูŽุฏู ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ุชูŽุญูู‚ู‘ูู‡ูŽุง ููŽู„ูŽูƒ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ุญูŽูŠู’ุซู ูƒูŽุงู†ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุจูุฅูุฑูŽุงุฏูŽุชููƒ ู„ูŽุง ุจูุฅูุฑูŽุงุฏูŽุชููŠ ุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฅูุฑูŽุงุฏูŽุฉูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูƒูู„ู‘ู‡ูŽุง ุฌูŽู…ููŠู„ูŽุฉ .
Sabdanya, *Maka dia mengucapkan : _Ya Allah, hanya untuk-Mu segala puji._* Yakni bukan maksudku karena sedekahku jatuh pada tangan orang yang tidak berhak atasnya. Maka hanya untuk-Mu segala puji. Di mana kejadian itu dengan iradah-Mu dan bukan dengan keinginanku. Karena sesungguhnya iradah Allah itu semua indah. (Fathul-Bรขriy li Ibni Hajar, 5/18).

ูˆูŽูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ุฏูŽู„ูŽุงู„ูŽุฉ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŽ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ูู…ู’ ู…ูุฎู’ุชูŽุตู‘ูŽุฉ ุจูุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุญูŽุงุฌูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ุŒ ูˆูŽู„ูู‡ูŽุฐูŽุง ุชูŽุนูŽุฌู‘ูŽุจููˆุง ู…ูู†ู’ ุงู„ุตู‘ูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฃูŽุตู’ู†ูŽุงูู ุงู„ุซู‘ูŽู„ูŽุงุซูŽุฉู . ูˆูŽูููŠู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู†ููŠู‘ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู…ูุชูŽุตูŽุฏู‘ูู‚ู ุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุตูŽุงู„ูุญูŽุฉ ู‚ูุจูู„ูŽุชู’ ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุชูู‡ู ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽู‚ูŽุนู’ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ู‚ูุน . ูˆูŽุงุฎู’ุชูŽู„ูŽููŽ ุงู„ู’ููู‚ูŽู‡ูŽุงุก ูููŠ ุงู„ู’ุฅูุฌู’ุฒูŽุงุกู ุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูููŠ ุฒูŽูƒูŽุงุฉู ุงู„ู’ููŽุฑู’ุถู
Dalam hadits ini ada petunjuk bahwa sedekah itu dikhususkan kepada *orang yang membutuhkan dari kalangan ahli kebaikan.* Atas dasar inilah mereka orang-orang heran ketika sedekah itu diberikan kepada tiga golongan tersebut (pencuri, pezina, orang kaya). Dalam hadits ini juga ada petunjuk bahwa niat orang yang bersedekah itu manakala shalihat maka shadaqahnya itu diterima walau tidak tepat sasaran.
*Dan fuqaha berbeda pandangan tentang sahnya ketika itu terjadi pada zakat wajib.*

Dalam _al-Mausรป`ah al-Fiqhiyyah_ dijelaskan sbb. :

ูˆู‚ุฏ ุตุฑู‘ุญ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠู‘ุฉ ุจุฃู†ู‘ ุงู„ุฒู‘ูƒุงุฉ ู„ุง ุชุนุทู‰ ู„ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ุนุงุตูŠ ุฅู† ุบู„ุจ ุนู„ู‰ ุธู†ู‘ ุงู„ู…ุนุทูŠ ุฃู†ู‘ู‡ู… ูŠุตุฑููˆู†ู‡ุง ููŠ ุงู„ู…ุนุตูŠุฉ ุŒ ูุฅู† ุฃุนุทุงู‡ู… ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ู„ู… ุชุฌุฒุฆู‡ ุนู† ุงู„ุฒู‘ูƒุงุฉ ุŒ ูˆููŠ ุบูŠุฑ ุชู„ูƒ ุงู„ุญุงู„ ุชุฌูˆุฒ ุŒ ูˆุชุฌุฒุฆ.
*Madzhab Maliki* menjelaskan bahwa zakat tidak diberikan kepada pelaku maksiat, bila dia menduga kuat bahwa yang dia berikan itu akan mereka belanjakannya pada perkara maksiat. Karena memberi mereka dalam kondisi itu tidak sah dari zakat. Dan selain kendisi itu maka boleh dan sah.

ูˆุนู†ุฏ ุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ ู‚ุงู„ ุงุจู† ุชูŠู…ูŠู‘ุฉ: ูŠู†ุจุบูŠ ู„ู„ุฅู†ุณุงู† ุฃู† ูŠุชุญุฑู‘ู‰ ุจุฒูƒุงุชู‡ ุงู„ู…ุณุชุญู‚ู‘ูŠู† ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุฏู‘ูŠู† ุงู„ู…ุชู‘ุจุนูŠู† ู„ู„ุดู‘ุฑูŠุนุฉ ุŒ ูู…ู† ุฃุธู‡ุฑ ุจุฏุนุฉู‹ ุฃูˆ ูุฌูˆุฑู‹ุง ูุฅู†ู‘ู‡ ูŠุณุชุญู‚ู‘ ุงู„ุนู‚ูˆุจุฉ ุจุงู„ู‡ุฌุฑ ูˆุบูŠุฑู‡ ูˆุงู„ุงุณุชุชุงุจุฉ ููƒูŠู ูŠุนุงู† ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ุŸ ุŒ ูˆู‚ุงู„: ู…ู† ูƒุงู† ู„ุง ูŠุตู„ู‘ูŠ ูŠุคู…ุฑ ุจุงู„ุตู‘ู„ุงุฉ ุŒ ูุฅู† ู‚ุงู„: ุฃู†ุง ุฃุตู„ู‘ูŠ ุŒ ุฃุนุทูŠ ุŒ ูˆุฅู„ุงู‘ ู„ู… ูŠุนุท ุŒ ูˆู…ุฑุงุฏู‡ ุฃู†ู‘ู‡ ูŠุนุทู‰ ู…ุง ู„ู… ูŠูƒู† ู…ุนู„ูˆู…ู‹ุง ุจุงู„ู†ู‘ูุงู‚.
Menurut *madzhab Hanbali,* Ibnu Taimiyah berkata : Semestinya bagi orang-orang itu menyelidiki pada zakatnya itu pada orang-orang yang berhak dari kalangan pemeluk agama Islam yang mengikuti syariah. Maka barangsiapa yang menampakkan bid`ah dan larut dalam maksiat maka sesungguhnya dia itu berhak pada sanksi berupa *hajr* (pemutusan hubungan) dan selainnya, serta diminta bertaubat. Karena bagaimana ditolong orang semacam itu. Beliau berkata : Barangsiapa yang tidak shalat maka diperintah untuk shalat. Jika dia berkata, โ€œSaya shalat,โ€ maka diberi. Dan jika tidak maka tidak diberi. Dan maksudnya bahwa dia itu diberi selama tidak dikenal dengan kemunafikannya.

ูˆุนู†ุฏ ุงู„ุญู†ููŠู‘ุฉ ูŠุฌูˆุฒ ุฅุนุทุงุก ุงู„ุฒู‘ูƒุงุฉ ู„ู„ู…ู†ุชุณุจูŠู† ุฅู„ู‰ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุจุฏุน ุฅู† ูƒุงู†ูˆุง ู…ู† ุงู„ุฃุตู†ุงู ุงู„ุซู‘ู…ุงู†ูŠุฉ ุŒ ู…ุง ู„ู… ุชูƒู† ุจุฏุนุชู‡ู… ู…ูƒูู‘ุฑุฉู‹ ู…ุฎุฑุฌุฉู‹ ู„ู‡ู… ุนู† ุงู„ุฅุณู„ุงู…. ุนู„ู‰ ุฃู†ู‘ ุงู„ุฃูˆู„ู‰ ุชู‚ุฏูŠู… ุฃู‡ู„ ุงู„ุฏู‘ูŠู† ุงู„ู…ุณุชู‚ูŠู…ูŠู† ุนู„ูŠู‡ ููŠ ุงู„ุงุนุชู‚ุงุฏ ุŒ ูˆุงู„ุนู…ู„ ุนู„ู‰ ู…ู† ุนุฏุงู‡ู… ุนู†ุฏ ุงู„ุฅุนุทุงุก ู…ู† ุงู„ุฒู‘ูƒุงุฉ ุŒ ู„ุญุฏูŠุซ: ยซู„ุง ุชุตุงุญุจ ุฅู„ุงู‘ ู…ุคู…ู†ู‹ุง ูˆู„ุง ูŠุฃูƒู„ ุทุนุงู…ูƒ ุฅู„ุงู‘ ุชู‚ูŠู‘ยป [ ุงู„ู…ูˆุณูˆุนุฉ ุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ - (ุฌ 23 / ุต 334 ) ].
Sementara menurut *madzhab Hanafi,* boleh pemberian zakat itu kepada orang yang masih dianggap muslim dari kalangan pelaku bid`ah, sepanjang dia termasuk dalam delapan golongan penerima zakat. Yakni selama bid`ahnya itu tidak menjadikannya kafir hingga keluar dari Islam. Hanya saja yang lebih utama adalah mendahulukan pemebrian zakat itu kepada pemeluk agama yang istiqamah di atas agama ini dalam keyakinan dan amal, dibanding orang selain mereka, tatkala memberi dari zakat. Ini disandarkan kepada hadits : _Janganlah kalian bersahabat kecuali pada orang mukmin. Dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa_. (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad dari Abu Sa`id al-Khudzri. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan).

_Bagaimana jika yang diberi harta zakat itu tidak shalat ?_ Orang tidak shalat itu ada yang karena mengingkari wajibnya shalat, maka ini kafir, sehingga tidak boleh diberi zakat. Sedang jika bukan karena mengingkari pada wajibnya shalat, maka saya condong dengan penjelasan madzhab Hanbali di atas.

ูˆ ุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ .

[Nashiruddin Syukur]

Pembahasan Fiqih Zakat - Zakat al-Atsman (Emas & Perak) 20/05/2020

Bagaimana cara menghitung nishab emas tidak murni ?

Pembahasan Fiqih Zakat - Zakat al-Atsman (Emas & Perak) Bagaimana zakat emas & perak? Bagaimana dengan uang, apakah perlu dizakati? Bagaimana dengan zakat emas yang tidak murni? Simak penjelasannya dalam video ini...

Want your school to be the top-listed School/college in Magelang?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Bayt Qur'any, Nepak RT 3 RW 2, Bulurejo, Mertoyudan
Magelang
56172