02/07/2019
SITI JENAR PEMBUAT URUTAN TAHLILAN ?
SIAPA penyusun tahlilan, sejak kapan ada tahlilan? Banyak para kiai yg ketika saya tanya sejarahnya, tidak ada yg bisa menjawab scr pasti. Bahkan ada yg mengatakan, tahlilan adalah tradisi yg diimpor dari Persia, dengan bukti, tahlil juga dilangsungkan pasca 7, 10, 100 dan 1000 hari umat Islam meninggal.
Menurut Agus Sunyoto, tokoh yg pertama kali menciptakan urutan tahlilan adalah Syaikh Siti Jenar. Ceritanya, dulu, tanah Jawa sangat sulit dimasuki oleh para wali. Zaman Majapahit, banyak pendekar sakti yg menguasai ilmu Cakra Bhirawa warisan ajaran kejadugan Hindu-Budha, yg membutuhkan tumbal manusia untuk ritual menambah kesaktian. Aliran ini disebut dengan Bhairawa Ta**ra.
Para wali yg datang sering kalah ketika melawan para juru sakti di zaman Majapahit tersebut. Inilah salah satu alasan mengapa Islam yg sudah masuk ke Nusantara pada abad ke-7, baru bisa berkembang di abad ke-13 hingga 14.
Ilmu Cakra Bhirawa bukan hanya memakan tumbal para wali yg datang. Warga biasa yang hidup biasa-biasa saja tanpa kesaktian pun acap dijadikan korban. Syaikh Siti Jenar membuat “mantra” untuk menolak risiko ritual Cakra Bhirawa. Oleh para wali, Siti Jenar ditugaskan memperluas ajaran Islam dengan mendirikan kampung2 khusus, yg kemudian dinamakan “Lemah Abang”. Pengikutnya disebut “abangan” —bukan dalam pengertian sekarang, yg seolah tidak beragama.
Desa Lemah Abang
Di Nusantara, terlacak ada 77 desa yg diberi nama Lemah Abang. Di Jepara, nama desa tersebut ada di kecamatan Keling. Di desa2 ini, Siti Jenar meninggalkan jejak “mantra” untuk menangkal setan2, iblis dan menolak tumbal para pengamal Cakra Birawa di zamannya. Mantra itu kemudian dikenal dgn tahlilan.
Urutan umumnya adalah: Surat Al-Ikhlash (3 kali), Al-Falaq (1 kali), An-Nas (1 kali), Al-Fatihah (1 kali), Awal Surat Al-Baqarah (1 kali), Ayat Kursi (1 kali), Istighfar (33 kali), Shalawat (33 kali), La Ilaha Illa Allah (33 kali), Tasbih (33 kali) dan tawassul doa kepada Allah dgn mengirim bacaan Al-Fatihah kepada leluhur sekitar desa yg telah meninggal.
Inti dari doa itu adalah meminta keselamatan dunia dan akhirat, yg kemudian ritualnya bisa disebut dgn selamatan (memohon doa selamat), yakni selamat dari ancaman pelaku Cakra Bhirawa dan selamat dari gangguan jin, setan, iblis dan segala hal yg melupakan Allah SWT.
Doa tahlilan inilah yg kemudian meluas hingga ke beberapa tempat di desa2 sekitar Lemah Abang berada. Diamalkan ke berbagai desa hingga menyebar menjadi kultur, tradisi dan budaya yg berbeda di Jawa dan bahkan luar Jawa, Nusantara.
Jadi, tahlilan adalah susunan doa selamat, bukan doa bid’ah. Desa2 yg aman adalah desa yg penduduknya masih guyub mengamalkan tahlilan.
Karya Syaikh Siti Jenar Sekarang terbukti. Cek saja, dimana ada desa yg penduduknya anti tahlilan, biasanya cenderung dihuni oleh manusia bermental Iblis, yg merasa dirinya lebih dari orang lain; radikal, s**a bermusuhan, dan anti kebangsaan.
Wallahu a’lam.
www.badriologi.com