Seminar Kesehatan

Seminar Kesehatan

Share

Bimbel Matematika Tanpa Kalkulator Tanpa Alat
Perum Taman Salak Jl Bengawan Solo No 5d Taman Madiun
http://JariHitungCepatIndonesia.Com

15/05/2019

Met buka puasa adek2.... kamu puasa kan?

30/03/2019

Bolehkah memarahi anak kita?

Seorang ibu yang viral tertangkap kamera karena mendorong anaknya keluar dari mobil menjadi sorotan. Ia mengaku emosi karena sang anak menolak berangkat les, lalu bagaimana cara menahan emosi yang benar saat anak-anak mulai 'bandel'?

"Masya Allah ya, ibu-ibu punya tugas yang luar biasa. Ibu adalah leader di rumah, ibu itu jantungnya rumah. Ibu itu adalah cahaya keluarga. Memang kita sendiri harus bisa menjaga kesehatan mental diri kita," kata Fajriari Maesyaroh, psikolog dari Yayasan Sahabatku saat berbincang dengan detikHealth, Jumat (29/3/2019).

Buat para ibu-ibu, menahan emosi pada anak bukanlah hal yang mustahil. Fajri, sapaannya, mengatakan saat menghadapi anak yang 'bandel', ada beberapa hal yang harus diingat oleh para ibu, yakni mengenali emosi, time out, dan rileks sebelum kembali menghadapi anak.

"Jadi kalau kita punya emosi negatif, entah itu marah, sedih, kecewa, takut, terima saja dulu. Terima, sadari, resapi. Beri label 'Oh sekarang saya sedang marah'," lanjut Fajri.

Saat kita mampu mengenali emosi kita sendiri, akan ada jeda di mana kita menyadari hal tersebut. Selanjutnya yang perlu dilakukan adalah memikirkan cara bagaimana menyalurkan emosi tersebut agar tidak melukai, baik fisik maupun batin dari anak-anak.

Fajri menjelaskan langkah selanjutnya, yakni time out yang berarti kita tetap berusaha asertif kepada orang lain di sekitar kita, baik itu anak, suami, tetangga, sahabat, teman. Saat jeda itu kita coba lakukan kegiatan yang membuat rileks, bisa bergerak pindah tempat, mandi dengan air hangat, atau tiduran sejenak.

"Supaya ketika otot kita rileks, maka saraf akan mengirim sinyal ke otak bahwa 'Oh sudah rileks nih'. Maka emosi juga akan reda. Jadi coba untuk relaksasi dengan berpikir, menyebut nama Tuhan, latihan napas, atau teknik-teknik relaksasi lainnya," imbuh dia.

Jika semua sudah mampu dilakukan dengan benar dan siap menghadapi anak tanpa terpancing, barulah para orang tua bisa maju. Saat emosi kita sedang berlebih dan tidak stabil, maka bisa dijamin kata-kata atau tindakan yang keluar tidak akan lagi rasional dan berdampak tak hanya pada orang lain tapi juga diri sendiri.

"Karena setelah kita marah marah besar, kita ngamuk, biasanya kita juga akan menyesal kan. Karena memang mungkin pancingan atau dorongan itu lah yang harus kita pause dulu. Setelah itu sudah akan jauh lebih logis dan jauh lebih mengena pada anak ketimbang kalau kita marah," tutup Fajri. Detik.com

28/03/2019

8 KUNCI AGAR ANAK TIDAK JADI GENERASI HOME SERVICE

Kini ada istilah generasi home service. Apa artinya, apa saja penyebabnya dan bagaimana agar anak terhindar darinya?

“Ma, sepatuku mana?” Milena berteriak. Hampir setiap pagi ia seperti itu. “Kaos kakinya nggak ada Ma. Cepetan cariin!”

“Ih, ini kusut. Pasti belum disetrika ya,” katanya bersungut-sungut. “Ini rok abu-abuku sudah mulai kusam Ma. Nanti siang beliin ya. Soalnya besok kupakai.”

Bukan hanya Milena yang bersikap seperti itu. Banyak anak SMA lainnya yang dikeluhkan oleh orangtua karena mengalami gejala serupa. Sudah besar, tapi belum mandiri. Sudah berseragam putih abu-abu, tapi masih minta semuanya dilayani. Belum bisa mengerjakan sendiri.

Generasi “Home Service”, demikian istilah untuk mereka. Generasi home service adalah generasi yang selalu minta dilayani. Dalam istilah Al Quran, mereka termasuk dzurriyatan dhi’afa (generasi lemah). Lemah dalam kemandirian, lemah dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Penyebab Anak Jadi Generasi Home Service
Mengapa anak menjadi generasi home service? Setidaknya ada delapan sebab secara umum, sebagai berikut:

1. Sejak kecil dilayani (pembantu)
Sejak kecil dilayani, apalagi oleh pembantu, bisa membuat anak terpola untuk selalu minta dilayani.

2. Ke mana-mana diikuti babbysitter
Di zaman sekarang, kadang ada anak-anak yang ke mana-mana diikuti babbysitter. Ketika ada sesuatu, dengan cekatan babbysitter melakukan aksinya. Beberapa kali saya melihat di plaza dan mall.

Seharusnya, anak bisa mulai bermain sendiri bersama teman. Kadang berselisih, kadang ada yang menangis, tidak masalah. Itu melatih kemandirian dan emosi mereka. Orangtua tidak perlu turun tangan yang justru bisa menghambat kemandirian anak dan membuat anak tergantung. Bahkan bisa timbul pertengkaran antar tetangga jika orangtua turun tangan.

3. Keperluan selalu dipenuhi tanpa dilatih berusaha sendiri
Jika keperluan anak selalu dipenuhi tanpa dilatih berusaha sendiri, anak bisa tumbuh menjadi generasi home service. Anak mau mainan, diambilkan. Anak mencari kaos kaki, dicarikan. Anak habis makan, orangtua yang merapikan.

4. Terlalu lama pakai popok bayi dan disuapi
Umumnya, bagi orangtua yang ingin praktis dan tidak mau repot, mereka memilih anak-anaknya pakai popok bayi saja.

“Daripada nanti ngompol, repot membersihkan lantai dan cucian menumpuk,” demikian pertimbangannya.

Pun karena tak ingin anaknya lapar, anak disuapi. Jika terbawa sampai besar, ini akan berbahaya. Apalagi anak minta disuapi sambil mainan gadget. Faktanya, ada anak usia SD masih disuapi kalau makan.

5. Terbiasa dicarikan tanpa berusaha mencari sendiri
Usia tiga tahun: “Ma, mana mainanku yang kemarin?

Usia SD: “Ma, ambilkan tasku”

Usia SMP: “Ma, mana buku pelajaranku?”

Kalau selalu dicarikan tanpa ia berusaha mencari sendiri, sampai dewasa pun akan terbiasa begitu. Menjadi generasi home service.

6. Terbiasa dibantu
Pakai baju dibantu, pakai sepatu dibantu, mengancingkan baju dibantu. Terus begitu. Akhirnya ia selalu membutuhkan bantuan dan sulit mandiri.

7. Terlalu banyak main gadget yang serba instan
Dengan google, anak bisa mencari apa pun secara cepat. Di playstore, anak bisa mendapatkan aplikasi apa pun yang diinginkannya secara instan. Apalagi jika ia selalu main game, otaknya bisa terpola untuk mengharap sesuatu secara instan tanpa proses yang semestinya.

8. Keinginan selalu dipenuhi orangtua
Saya sering mendapati anak-anak SD bahkan TK sudah punya smartphone sendiri. Ini salah satu indikasi keinginan anak yang selalu dipenuhi orangtua dan itu berbahaya. Dealer resmi iPhone dan iPad hanya mau menjual gadget itu pada usia minimal 17 tahun.

*8 Kunci Agar Anak Tidak Menjadi Generasi Home Service*
Ada delapan kunci agar anak tidak menjadi generasi home service. Yuk kita bahas dan kita amalkan.

1. Latih anak mandiri sejak dini
Melatih anak toilet training, mandi sendiri, pakai baju sendiri dan pakai sepatu sendiri akan membuat anak lebih mandiri. Toilet training bisa dilakukan pada usia 2-3 tahun, bahk

2. Latih anak bertanggung jawab
Sejak dini, tanamkan rasa tanggung jawab kepada anak. Di usia 2-3 tahun, anak-anak perlu dilatih membereskan mainan dan merapikan bukunya.

Di usia 4 tahun sudah mulai dibiasakan membereskan tempat tidur, meletakkan piring kotor di tempatnya, dan membuang sampah. Saat ia masuk sekolah, sejak saat ini harus dilatih untuk merapikan tasnya dan mempersiapkan peralatan sekolah.

Saat SD, sebisa mungkin setiap ada tugas anak berusaha menyelesaikan sendiri. Kecuali hal yang memang benar-benar membutuhkan bantuan dan bimbingan orangtua.

3. Biasakan anak tumbuh dengan tantangan
Biasakan anak-anak tumbuh dengan tantangan. Bukan menuruti semua keinginannya. Misalnya anak ingin mainan. Ajak ia menabung terlebih dahulu.

Carol Dweck, Psikolog dari Stanford University, mengatakan, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan.”

4. Libatkan ayah mengurus pekerjaan rumah
Bagaikan spons yang menyerap banyak air dengan cepat, begitulah kira-kira gambaran otak anak. Apa yang dilakukan ayah dan ibu akan segera ia tiru.

Ketika anak melihat seluruh anggota keluarga terlibat dalam mengurus pekerjaan rumah, maka ia pun menyerap nilai tanggungjawab dan terbiasa melakukannya. Jangan sampai anak memiliki pemahaman keliru bahwa seluruh pekerjaan rumah adalah tanggung jawab ibu atau pembantu.

Dan meskipun memiliki pembantu, harus ada pekerjaan tertentu yang dikerjakan oleh ayah. Misalnya menyiram tanaman dan mencuci mobil. Jangan sampai anak terbiasa tidak mengerjakan apa pun dan akhirnya saat dewasa tidak bisa melakukan apa pun.

Rasulullah mencontohkan, meskipun beliau adalah kepala negara dan manusia termulia, beliau menjahit sendiri bajunya yang sobek dan memperbaiki sendiri sandalnya.

5. Latih kedisiplinan
Latih kedisiplinan anak sejak dini. Dimulai dari hal-hal sederhana, terkait waktu dan tempat, misalnya. Jam berapa waktunya main, jam berapa harus pulang. Tas diletakkan di mana, sepatu diletakkan di mana, dan sebagainya.

Salah satu kunci menanamkan kedisiplinan adalah dengan mendirikan shalat di awal waktu. Rasulullah bersabda, “Perintahkan anak-anakmu untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun” (HR. Abu Daud)

6. Jadilah teladan dengan ketaqwaan
Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan tentang generasi yang lemah dalam Al Quran, Dia juga memberikan solusinya. Pertama, agar orangtua bertaqwa. Dengan taqwa itu orangtua menjadi teladan bagi anak-anaknya.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. An Nisa: 9)

Orang yang bertaqwa, dia tidak akan menyikapi sesuatu kecuali dengan dua hal yakni sabar dan syukur.

7. Tanamkan Kejujuran
Solusi kedua, masih dalam ayat yang sama, hendaklah orangtua hanya berbicara kepada anak dengan perkataan yang benar (qaulun syadiid). Menanamkan kejujuran kepada anak-anak sejak dini hingga selamanya.

Qulun syadid ini pernah kita bahas pada Kulwap beberapa waktu yang lalu. Kata Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir, qaulan sadida adalah perkataan yang benar dan lurus. Kontennya benar, cara menyampaikannya juga benar.

Ketika anak jatuh, jangan katakan: “Mejanya salah ya Nak, bikin kamu jatuh.” Itu nggak benar, anak akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang s**a menyalahkan, tidak bertanggung jawab. Akhirnya menjadi generasi home service.

Atau, “Jangan menangis, gitu aja kok. Nggak sakit kok.” Akhirnya anak tumbuh menjadi pribadi yang mengabaikan perasaannya. Atau anak ditinggal pergi dengan cara ditilap, akhirnya anak belajar, “O, boleh menipu ya.”

8. Doakan anak
Kunci yang paling utama agar anak terhindar dari generasi home service adalah doa. Mengapa? Karena pada hakikatnya, hati anak itu dalam genggaman Allah. Allah yang Menguasai dan bisa membolak-balikkan hati manusia.

(Saya belum tahu siapa penulis aslinya. Yang tahu, tlg infokan ke saya ya..terima kasih)

BP kids Untuk menjaga kesehatan anak.




11/01/2017

anak anda sulit belajar matematika?
belajar matematika pakai alat dan sudah mahir tapi saat ujian tidak boleh dibawa?
belajar matematika masih jadi momok yang menakutkan?
apakah anak anda menunjukkan prestasi yang rendah di sekolah?
hasil yang dicapai tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan?
keterlambatan dalam melaksanakan tugas yang diberikan?

coba cek informasi yang ini
kami dari JHCI (Jari Hitung Cepat Indonesia) memberikan SOLUSI

atau datang langsung ke alamat kami
Perum Taman Salak
Jl B.Solo No 5d Pandean Taman Madiun
PIN BB: 5AF9E43D | WA 0812-3132-9540
www.jarihitungcepat.com

Photos 28/11/2016
Photos 24/11/2016

Ketik di komen. Huruf apa ini?

Photos 14/10/2016

Hasilnya berapa?

Ketik di coment ya

13/10/2016
Photos from Omar Smart Brain - vitamin otak's post 30/08/2016
Photos 18/07/2016

Selamat kembali belajar di "Jari Hitung Cepat Madiun.
Semangat dan Sukses.

Want your school to be the top-listed School/college in Madiun?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Madiun
63000