06/01/2022
Dimana kamu di njowo kan..
Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Pondok Pesantren Mifftahud Diniyah, Madiun.
06/01/2022
Dimana kamu di njowo kan..
30/08/2020
.
Arkanul Munsyid
Ust.Ilham Sholeh
1.Khusnul Qiro'ah ( bagusnya bacaan)
2.Khusnul Tzawwuk (bagusnya penjiwaan)
3.Khusnul Adab (bagusnya adab/etika)
4.Ma'rifatul Qosidah (mengetahui isi kandungan qosidah)
Beberapa pesan beliau kepada kami semalam. 28/8/20
Semoga senantiasa mengamalkan
25/05/2020
Slamet gampang bejo ....sabar syukur nikmat...
17/05/2020
Lempit Bumi Mbah Ma'shum Karanggawang
Pertama kali mendengar istilah 'lempit bumi' baru kemarin-kemarin setelah membaca kisah Mbah Mad (KH. Ahmad Muthohar), yang menempuh perjalanan secara singkat di luar perhitungan waktu rasional dari Demak menuju Jawa Timur. Mbah Mad ini tak lain adalah adik dari Mbah Muslih (KH. Muslih al-Maroqy) Mranggen, Demak. Konon, Mbah Mad juga belajar privat kepada Mbah Muslih, jadi Mbah Mad adalah adik sekaligus murid Mbah Muslih.
Lempit bumi ini maksudnya kurang lebih adalah melipat ruang jarak, kecepatan, dan waktu. Teori mengenai hal tersebut patah dengan izin Gusti Allah wasilah melanggengkan amalan wirid/dzikir tertentu. Hanya orang-orang pilihan Gusti Allah yang biasanya diketahui diberi keistimewaan (karamah) semacam ilmu lempit bumi ini.
Adalah Mbah Ma'shum (KH. Ma'shum Mahfudhi) Karanggawang, Sayung, Demak, yang juga diketahui pernah 'melempit bumi' dalam suatu perjalanan. Kebetulan, Mbah Shum ini juga murid Mbah Muslih. Beliau nyantri di Mranggen selama 6 tahun. Selain berguru kepada Mbah Muslih di Futuhiyyah, Mbah Shum juga tercatat nyantri kepada Mbah Yasin Bareng, Kudus, Mbah Madun Pandowan, Pati, dan Mbah Muhajir (KH. Khozin), Kediri.
Suatu hari, Mbah Shum yang dikenal ahli riyadhah ini melakukan perjalanan dalam rangka meminang seorang gadis bernama Sayyidah putri dari KH. Umar di daerah Demak, tepatnya di Desa Undaan Kidul, Karanganyar. Mbah Shum dibonceng oleh Kiai Rif'an. Mereka berdua berangkat mengendarai sepeda onthel.
Selama perjalanan, Mbah Shum berpesan kepada Kiai Rif'an untuk tidak mengajak ngobrol karena Mbah Shum hendak wiridan. Waktu itu dari Karanggawang mereka berangkat persis saat azan magrib. Ajaibnya, jarak sekitar 25-30 kilometer itu ditempuh selama beberapa menit saja. Hingga tiba di Karanganyar waktu masih menunjukkan magrib, di Karanganyar pun azan maghrib masih berkumandang.
Padahal jarak sejauh itu, katakanlah bisa ditempuh selama 2 jam dengan kecepatan normal mengendarai sepeda motor. Sungguh tidak terbayang, mereka berdua mengonthel sepeda dengan berboncengan melalui medan jalan yang tak semulus sekarang. Paling tidak, jika bersepeda harusnya memakan waktu lebih dari waktu jika mengendarai sepeda motor. Inilah yang dimaksud dengan melempit bumi, suatu kelebihan yang dapat mematahkan teori jarak, kecepatan, dan waktu.
Setibanya di Karanganyar, Mbah Shum menuai hasil yang diharapkan. Maksud baik 'nembung' Nyai Sayyidah diterima oleh keluarga KH. Umar. Nyai Sayyidah hingga sekarang masih 'sugeng' sedangkan Mbah Shum, Kiai bersahaja asli Sayung itu, wafat pada tahun 2005.
Mbah Shum dikenal dengan tipikal Kiai yang tegas dan tawadhu'. Kharisma dan banyak karamahnya masyhur dimana-mana, khususnya di kawasan Pantura. Bapak pun tidak luput mendengar kealiman Mbah Shum dan sempat menitipkan 3 anak gadisnya di Ponpes Fathul Huda Karanggawang asuhannya. Mbah Shum, setelah mangkatnya, termasuk teladan yang sulit dicari gantinya.
Sumber tulisan: Biografi Syekh Ma'shum Mahfudhi Ahli Riyadhah dari Karanggawang, Karya M Amsar Roedi, 2020.
Foto: Mbah Ma'shum dan Nyai Sayyidah.
Kisah Mbah Mad:
Lempit Bumi Mbah Mad Mranggen Oleh Miqdad Sya'roni Alumni MA Futuhiyyah-1 Mranggen Tahun 2007-2010 Mbah Mad, begitu sapaan Mbah Ahmad Muthohar bin Abdurrahman Qosidil Haq Al Maronji. Adik dari Mbah Muslih Mranggen, Pakleknya Kiai Muhammad Hanif Muslih Pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak Jawa Tengah. Dikisahkan, p...
14/05/2020
Majlis di bawah naungan YYPP MIFTAHUD DINIYAH.
14/05/2020
Kiai Asnawi dan Doa Keamanan untuk indonesia
Kiai Asnawi, Kudus Kiai Raden Asnawi adalah seorang ulama kelahiran Damaran Belakang Menara Kudus pada tahun 1281 H/ 1864 M dan wafat pada tahun 1959 M.
Ia merupakan keturunan ke-14 Sunan Kudus dari jalur Kiai Mutamakkin. Yang disebut terakhir ini adalah seorang wali terkenal yang hidup pada masa Sultan Agung Mataram pada paruh pertama abad ke-17 M.
Di kalangan pesantren, ia terkenal sebagai dai dan guru yang aktif berdakwah. Kiai Asnawi juga memiliki pesantren dan memiliki beberapa karya yang di antaranya populer di berbagai pondok pesantren, khususnya di Jawa.
Sebut saja salah satunya kitab Fasalatan, sebuah kitab yang berisi tuntunan ibadah shalat untuk pemula. Beberapa kitab karyanya yang lain adalah: Al-Qira’ah Al-‘Asyriyah, kitab tentang doa untuk pernikahan yang dikemas dalam bentuk puisi, Kitab Mu’taqad Seked yang berisi tentang prinsip-prinsip Aqidah Asy’ariyyah, Kitab Syareat Islam yang dari judulnya saja sudah terlihat bahwa kitab yang ditulis dalam bahasa Arab ini membahas tentang Fiqih, dan Kitab Terjemah Jurumiyyah.
Kiai Asnawi memiliki caranya tersendiri dalam hal nasionalisme. Seperti terlihat dari sikapnya yang non-kooperatif dengan belanda sebelum tahun 1940-an.
Dan juga sikap yang sama terhadap Jepang pada tahun 1940-an. Dia populer sebagai seorang yang senantiasa membekali santrinya dengan doa jihad berupa amalan yang terdiri dari membaca Surat Al-Fil dalam melawan penjajah serta Shalawat Nariyah yang ditulis oleh Imam At-Tazi.
Sampai sekarang pun amalan ini masih dipraktikkan oleh para kiai di Malang. Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pembacaan surah Al-Fil oleh para ulama dilakukan dengan cara membaca berulang sebanyak 11 (sebelas) kali pada ayat yang berbunyi:
“tarmihim bi hijaratin min Sijjil” tepatnya pada kata ‘tarmihim’. Hal itu dilakukan sembari mengangkat tangan layaknya melempar batu atau kerikil sebanyak pengulangan kata tersebut.
Kiai Asnawi juga menggubah sebuah doa populer untuk mendoakan Indonesia. Doa ini masih biasa dilantunkan di Masjid Menara pada pembukaan pengajian rutin bulanan. Adapun Naskah bacaan doa tersebut beserta artinya adalah sebagai berikut:
يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى الرَّسُوْلِ مُحَمَّدٍ سِرِّ الْعُلَا وَالأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ الْحُرِّ خَتْمًا أَوَّلًا يَا رَبِّ نَوِّرْ قَلْبَنَا بِنُوْرِ قُرْأَنٍ جَلَا وَافْتَحْ لَنَا بِدَرْسٍ أَوْ قِرَأَةٍ تُرَتَّلَا وَارزُقْ بِفَهْمٍ الأَنْبِيَاءِ لَنَا وَأَيِّ مَنْ تَلَا ثَبِّتْ بِهِ إِيْمَانَنَا دُنْيَا وَأُخْرَى كَاملًا أَمَانَ أَمَانَ أَمَانَ أَمَانَ بِإِنْدُوْنِسْيَا رَايَا أَمَانَ أَمِيْن أَمِيْن أَمِيْن أَمِيْن يَا رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَيَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ
Artinya: Ya Tuhan kami, semoga shalawat dan salam tercurah limpahkan kepada Rasulullah Muhammad, dengan segala kemualiaan. Juga kepada seluruh para nabi dan utusan yang lain yang senantiasa mulia p**a.
Ya Tuhan kami, sinarilah hati kami dengan cahaya Al-Qur’an. Berikanlah kepada kami kepahaman dalam mempelajari atau membacanya secara tartil.
Berkahilah kami dan mereka yang membaca Al-Qur’an dengan hikmah para nabi. Jadikan keimanan kami lebih kuat dan sempurna baik di dunia maupun di akhirat.
Berilah keamanan, berilah keamanan, berilah keamanan, berilah keamanan, bagi Indonesia raya dengan keamanan yang sesungguhnya.
Aman, aman, aman, aman Indonesia Raya aman. Kabulkanlah doa kami, kabulkanlah doa kami, kabulkanlah doa kami wahai Dzat Tuhan seru sekalian alam dan wahai Dzat yang maha mengabulkan segala orang yang berdoa. Alfatihah
14/05/2020
*ABAH GURU SEKUMPUL*
(Samudra Ilmu dari Tanah Banjar)
Bagi masyarakat Kalimantan, terutama Banjarmasin nama Abah Guru sudah tidak lagi asing bahkan melegenda dan melekat dalam ingatan mereka. Apalagi sejumlah buah pemikirannya terdokumentasikan dengan apik dan bertahan hingga detik ini. Abah Guru Sekumpul merupakan sosok ulama karismatik asal Kalimantan yang suaranya sangatlah khas dan sungguh merdu. Ketika beliau melantunkan syair dan salawat mampu menusuk kalbu dan menyihir serta menjadikannya para pendengarnya mengingat Allah dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Beliau merupakan perintis pembacaan Maulid Habsyi di p**au Borneo. Abah Guru Sekumpul merupakan keturunan ke-8 ulama besar asal Banjar yaitu Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.
Abah Guru Sekumpul merupakan permata Kalimantan yang keberadaannya merupakan berkah bagi warga Banjar dan pada khususnya Beliau memiliki jasa yang amat besar dalam menanamkan nilai-nilai keislaman. Semua ini merupakan bukti keberhasilannya dalam berdakwah dan semuanya telah tercatat sejarah dengan Tinta Emas. Walaupun abah guru telah tiada namun jasa peninggalan karomah serta ilmunya tetap abadi dan sosoknya selalu dikenal oleh orang sepanjang masa.
Buku ini menjadi unik dan berbeda dengan buku lainnya karena didalamnya dilengkapi foto-foto eksklusif Abah Guru Sekumpul. Dengan membacanya akan memberikan kesejukan hati dan jiwa
Spesifikasi :
Penulis : Abdul Qadir Umar Mauladdawilah
Penerbit : Pustaka Basma
Tebal : xii + 166 hal
Jenis Kertas : Bookspaper
Ukuran : 14,8 cm x 21 cm
Tahun terbit : 2020
Harga : Rp. 40.000
Pesan via WA 0819-3704-6356
Atau klik :
http://bit.ly/Salafsoleh
Jawaban Ini Menepis Keraguan Atas Pertanyaan Wahabi “Siapa Yang Menahlili Rasulullah”
Oleh Jefri Nofendi
Assalaamu ’alaikum
Kemarin kemarin salafi wahabi banyak heboh mengupload gambar yang saya lampirkan , seolah olah mereka ada di jalan yang benar dan menganggap bagi yang tak mampu menjawabnya dianggap tidak memahami ISLAM menurut mereka,
isi gambar itu adalah :
Afwan … saya mau bertanya …
1. siapakah yang memimpin tahlilan pada saat RASULULLAHU SAW wafat ?
2. siapakah yang memimpin tahlilan pada saat imam syafi’i wafat ?
nb : Demi Allahu , kalau ada yang bisa jawab pertanyaan saya maka saya akan belajar ISLAM kepada yang bisa menjawabnya.
Baiklah saya Jefri Nofendi akan menjawabnya dan sesuai kesepakatan dalam catatan kecil (nb) maka bila pertanyaan itu mampu dijawab maka seluruh kaum salafiwahabi bersedia belajar ISLAM dengan saya.
Jawaban soal 1 : tidak ada yang memimpin tahlilan saat NABI MUHAMMAD SAW wafat, alasannya karena NABI MUHAMMAD SAW adalah maksum dan beliau sudah dijamin dengan rahmat ALLAHU SWT masuk surga, 🙂 , kalau saat RASULLLAH SAW wafat diadakan tahlilan itu artinya menganggap dan menuduh NABI tidak maksum, 🙂 , tahlilan hanya berlaku bagi mereka yang tidak maksum dan tidak mendapat jaminan rahmat masuk SURGA, 🙂 , karena RASULULLAH SAW adalah maksum maka tidak ada tahlilan untuk beliau karena tidak ada tahlilan maka tidak ada seorangpun yang memimpin tahlilan.
2. yang memimpin tahlilan ketika imam syafi’i wafat adalah seorang wali (penguasa) yang bernama
Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam , muhammad bin as-suri bin al-hakam adalah seseorang yang diwasiatkan oleh imam syafi’i, apabila beliau wafat agar dimandikan dan diurus oleh muhammad bin as-suri bin al hakam , dari memandikan, memimpin sholat jenazah, menguburkan, mendo’akan serta tahlilan bersama jama’ah yang lain yang hadir saat imam syafi’i wafat, … kisah detik detik wafatnya imam syafi’i dan wasiatnya tertulis dalam tarikh sejarah, dan bahkan wikipedia juga ada kok menuliskan ini berikut cuplikan kisah wafatnya imam syafi’i :
**************************
——————————————————-
Pada suatu hari, Imam Syafi’i terkena wasir, dan tetap begitu hingga terkadang jika ia naik kendaraan darahnya mengalir mengenai celananya bahkan mengenai pelana dan kaus kakinya. Wasir ini benar-benar menyiksanya selama hampir empat tahun, ia menanggung sakit demi ijtihadnya yang baru di Mesir, menghasilkan empat ribu lembar. Selain itu ia terus mengajar, meneliti dialog serta mengkaji baik siang maupun malam.
Pada suatu hari muridnya Al-Muzani masuk menghadap dan berkata, “Bagamana kondisi Anda wahai guru?” Imam Syafi’i menjawab, “Aku telah siap meninggalkan dunia, meninggalkan para saudara dan teman, mulai meneguk minuman kematian, kepada Allah dzikir terus terucap. Sungguh, Demi Allah, aku tak tahu apakah jiwaku akan berjalan menuju surga sehingga perlu aku ucapkan selamat, atau sedang menuju neraka sehingga aku harus berkabung?”.
Setelah itu, dia melihat di sekelilingnya seraya berkata kepada mereka, “Jika aku meninggal, pergilah kalian kepada wali (penguasa), dan mintalah kepadanya agar mau memandikanku,” lalu sepupunya berkata, “Kami akan turun sebentar untuk salat.” Imam menjawab, “Pergilah dan setelah itu duduklah disini menunggu keluarnya ruhku.” Setelah sepupu dan murid-muridnya salat, sang Imam bertanya, “Apakah engkau sudah salat?” lalu mereka menjawab, “Sudah”, lalu ia minta segelas air, pada saat itu sedang musim dingin, mereka berkata, “Biar kami campur dengan air hangat,” ia berkata, “Jangan, sebaiknya dengan air safarjal”. Setelah itu ia wafat. Imam Syafi’i wafat pada malam Jum’at menjelang subuh pada hari terakhir bulan Rajab tahun 204 Hijriyyah atau tahun 809 Miladiyyah pada usia 52 tahun.
Tidak lama setelah kabar kematiannya tersebar di Mesir hingga kesedihan dan duka melanda seluruh warga, mereka semua keluar dari rumah ingin membawa jenazah di atas pundak, karena dahsyatnya kesedihan yang menempa mereka.
Tidak ada perkataan yang terucap saat itu selain permohonan rahmat dan ridha untuk yang telah pergi.
Sejumlah ulama pergi menemui wali Mesir yaitu Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam, memintanya datang ke rumah duka untuk memandikan Imam sesuai dengan wasiatnya. Ia berkata kepada mereka, “Apakah Imam meninggalkan hutang?”, “Benar!” jawab mereka serempak. Lalu wali Mesir memerintahkan untuk melunasi hutang-hutang Imam seluruhnya. Setelah itu wali Mesir memandikan jasad sang Imam.
Jenazah Imam Syafi’i diangkat dari rumahnya, melewati jalan al-Fusthath dan pasarnya hingga sampai ke daerah Darbi as-Siba, sekarang jalan Sayyidah an-Nafisah. Dan, Sayyidah Nafisah meminta untuk memasukkan jenazah Imam ke rumahnya, setelah jenazah dimasukkan, dia turun ke halaman rumah kemudian salat jenazah, dan berkata, “Semoga Allah merahmati asy-Syafi’i, sungguh ia benar-benar berwudhu dengan baik.”
Jenazah kemudian dibawa, sampai ke tanah anak-anak Ibnu Abdi al-Hakam, disanalah ia dikuburkan, yang kemudian terkenal dengan Turbah asy-Syafi’i sampai hari ini, dan disana p**a dibangun sebuan masjid yang diberi nama Masjid asy-Syafi’i. Penduduk Mesir terus menerus menziarahi makam sang Imam sampai 40 hari 40 malam, setiap penziarah tak mudah dapat sampai ke makamnya karena banyaknya peziarah.
--------------------------------------
nah saya sudah menjawabnya dengan penjelasan yang disertai bukti dan argumen, sesuai kesepakatan harap kaum salafiwahabi yang mengupload gambar tersebur segera belajar ISLAM dengan saya/Jefri Nofendi, dan bila kalian ingin belajar ISLAM dengan saya harap kalian di hadapan saya mengucap kembali 2 kalimah syahadat .
tapi kalau kalian salafiwahabi enggan dan mengingkari kesepakatan , silakan jilat lagi ludah kalian kembali yang mengatasnamakan sumpah “Demi Allaah” ,
“BERSUMPAH PALSU ADALAH DOSA BESAR YANG PELAKUNYA SUDAH PASTI DIGANJAR MASUK NERAKA KECUALI DIRINYA BERTOBAT !!! “
Tertanda
Jefri Nofendi
ASWAJA Bidang IT
NB : silakan copas dan share seluas luasnya bagi teman teman yang lain bila dikirimkan gambar tersebut atau dihadapkan pertanyaan seperti gambar tersebut …. buat kaum salafiwahabi yang tidak merasa gengsi mengupload gambar tersebut saya tunggu keberaniannya untuk bersedia belajar ISLAM dengan saya sendiri, 👳
KISAH KH. ABDUL KARIM DITEMPATKAN DI DESA LIRBOYO.
Cerita ini dituturkan oleh KH. M. Abd. Aziz Manshur dalam peringatan satu abad Ponpes Lirboyo.
Satu abad yang lalu, tanah Lirboyo masih merupakan tanah rimbun, bersemak dan belum berpenghuni. Disitulah hadhratal mukarrom KH. Abdul karim ditempatkan oleh mertuanya, KH. Sholeh Banjarmelati sebagai orang yang kelak akan mendidik dan mengajar sebuah pesantren besar dengan nama Pondok Pesantren Lirboyo.
Berawal dari Tebuireng, ketika itu Kyai Manab (Nama KH. Abdul Karim sebelum beliau berangkat haji) masih berada di pondoknya Hadratussyaikh KH. Hasyim As’yari. Beliau ditawari oleh KH. Hasyim As’yari ketika KH. Sholeh Banjarmelati datang berkunjung ke Tebuireng untuk mencarikan jodoh putrinya, Kyai Manab dipanggil oleh Kyai Hasyim, “Celukno kyai Manab” (Panggilkan Kyai Manab). Beliau ditawari oleh Kyai Hasyim, “Kyai Manab niki onten tiang golek mantu. Sampeyan ajenge kulo jodoake,” (Kyai Manab, ini ada orang cari menantu. Anda akan saya jodohkan) “Nggih”. Beliau hanya menjawab dengan sepatah kata saja yang membuktikan amat patuhnya beliau.
Singkat cerita, setelah beliau Kyai Manab diambil menantu oleh KH. Sholeh selama satu tahun dan telah memiliki seorang putri, Nyai Hannah (Ibunda dari KH. Ibrahim A. Hafidz), Ketika itu p**a, beliau sudah memiliki dua orang santri yang ikut mengaji di Banjarmelati, KH. Sholeh berencana menempatkan Kyai Manab di tempat lain. Persisnya di Lirboyo.
Pada mulanya, KH. Abdul Karim hanya dibuatkan sebuah “gubuk” di Lirboyo. Empat pilarnya hanya diambilkan dari batang pohon lamtoro. Dinding dan atapnyapun amat sederhana, hanya terbuat dari daun kelapa. Itupun hanya sampai setengah badan. Kemudian setelah “gubuk” tersebut berdiri sekitar satu minggu, tiba-tiba pada suatu pagi KH. Sholeh dawuh kepada Kyai Manab, “Kyai Manab, monggo nderek kulo” (Kyai Manab, ayo ikut saya.)
Kyai Manab hanya menjawab dengan sepatah kata, “Nggeh” (Ya)
KH. Sholeh mengajak serta dua santri Kyai Manab untuk turut serta menemani Kyai Manab untuk bermukim di Lirboyo. Kedua santri tersebut disuruh membawakan perbekalan Kyai Manab yang hanya berupa seekor ayam jago, tikar, dan beras satu ceting. Hanya itu kira-kira yang turut dibawa.
Menaiki sebuah dokar, perjalanan dari Banjarmelati menuju Lirboyo ditempuh. Sesampainya di Lirboyo, rombongan diajak masuk ke sebuah kebun. Kira-kira sekarang tempat itu adalah ndalem Ibu Nyai Hj. Qomariyyah.
Kyai Manab kemudian diajak masuk “gubuk” tadi oleh KH. Sholeh. KH. Sholeh menyuruh santri yang ikut untuk menata perbekalan Kyai Manab yang dibawakan.
“Kene santri, klosone beberen. Pitike cencangen neng cagak kono. Berase dekek kene.” (Sini! Gelar tikarnya, ikat ayamnya di pilar sebelah sana, berasnya diletakkan disebelah sini.)
Setelah beberapa saat berbincang-bincang, KH. Sholeh dawuh “Kyai Manab, ting mriki panggenan sampeyan.” (Kyai Manab, disinilah tempatmu.) Kyai Manab lagi-lagi hanya menjawab, “Nggeh”
KH. Sholehpun kemudian pergi. Sebelum pergi, beliau berpesan kepada kedua santri Kyai Manab, “Wes ngko kyaimu nek butuh dhahar, iki berase masakne. Dene nek butuh bumbu-bumbu kono nggoleko ning kebon. Ngko nek kapan butuh, yo tukuo ‘nyo’ tak tak tinggali duit.” (Sudah. Nanti kalau kyaimu butuh makan, beras ini masaklah. Kalau memang membutuhkan, belilah. Ini saya tinggali uang.)
Kira-kira satu minggu kemudian, KH. Sholeh datang menengok dan mengunjungi Kyai Manab. Beliau amat terkejut, ternyata setelah satu minggu beras satu ceting yang beliau tinggalkan untuk Kyai Manab masih utuh tak berkurang sedikitpun. Santri yang menemani Kyai Manab tadipun dimarahi oleh KH. Sholeh,
“Lho, pie to gak mbok liwetno, gak mbok masakno!” (Lho! Bagaimana ini? Kok tidak kamu nanakkan nasi? Tidak kamu masakkan?)
Santri tersebutpun tidak dapat menjawab apapun. “Kyai mboten ngantos dawuh kapurih masak aken.” (Kyai Manab tidak pernah memrintahkan kami untuk memasakkan beliau.) katanya.
“Lha opo sing mbok pangan?” (Lantas apa yang dimakan Kyai Manab?) Tanya KH. Sholeh kemudian.
“Namung dhahar godhong-godhongan meniko.” (Hanya makan dedaunan yang tumbuh) jawab santri tersebut.
Dari situlah awal mula Pondok Pesantren Lirboyo berdiri. Dengan muassisnya yang benar-benar tawakkal kepada Allah SWT.
KH. M. Abdul Aziz Manshur pernah menuturkan, “Jadi, berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo bukan didukung dengan harta yang banyak. Bukan! Bukan didukung dengan tahta yang tinggi. Bukan! Tapi hanya didukung dengan tawakkal ‘alallâh. Yakin. Mbah Kyai Abdul Karim ditempatkan digubuk yang hanya begitu saja, beliau selalu sumendhe. Pasrah kepada Allah SWT.”
Allohumma solli wasallim wabarik 'ala sayyidina wamaulana muhammad
01/08/2019