26/06/2026
Ketika Tawa Lebih Laku daripada Kapasitas Keilmuan
Salah satu fenomena yang sering terlihat dalam dunia dakwah hari ini adalah kecenderungan sebagian masyarakat menilai kualitas penceramah dari seberapa lucu ceramahnya.
Di sisi lain, para ulama yang tekun mengkaji kitab dan mendalami ilmu justru sering kali kurang mendapatkan perhatian. Kedua hal ini perlu disikapi secara proporsional.
Seharusnya salah satu syarat utama dalam berdaโwah adalah ketajaman keilmua di bidang agama seperti pernyataan yang di sampaikan oleh Allah SWT dalam Al-Qurโan Surat Yusuf (12 )ayat 108
ูููู ูุฐููู ุณูุจููููู ุฃูุฏูุนููุง ุฅูููู ุงูููููู ุนููู ุจูุตููุฑูุฉู ุฃูููุง ููู
ููู ุงุชููุจูุนูููู ููุณูุจูุญุงูู ุงูููููู ููู
ุง ุฃูููุง ู
ููู ุงููู
ูุดูุฑูููููู
Dakwah bukanlah perlombaan mencari gelak tawa. Ukuran keberhasilan dakwah bukan berapa kali jamaah tertawa, melainkan seberapa banyak ilmu yang dipahami, diamalkan, dan mampu mengubah perilaku.
Ini merupakan salah satu fungsi ulamaโ yakni sebagai panutan dalam menjaga agama
ุงููุนูููู
ูุงุกู ุฃูู
ูููุงุกู ุงูุฑููุณููู ุนูููู ุนูุจูุงุฏู ุงููููู ู
ููู ุญูููุซู ููุญูููุธูููู ููู
ูุง ุชูุฏูุนููููููู
ู ุฅููููููู
Artinya: "Para ulama adalah para pemegang amanah para rasul terhadap hamba-hamba Allah, karena merekalah yang menjaga ajaran yang mereka serukan kepada manusia." (Fakhruddin ar-Razi, Mafฤtฤซแธฅ al-Ghaib (at-Tafsฤซr al-Kabฤซr), jilid 18, hlm. 520.)
Jika yang dicari hanya hiburan, maka ceramah berisiko berubah menjadi tontonan, bukan tuntunan.
Namun demikian, bukan berarti humor harus dihilangkan sepenuhnya dari dakwah. Menjaga perhatian jamaah selama hampir satu jam tanpa kitab di tangan bukan perkara mudah.
Karena itu, selingan humor yang wajar dapat menjadi sarana untuk mengembalikan fokus, menghilangkan kejenuhan, dan memudahkan penyampaian pesan. Yang perlu dijaga adalah proporsinya: humor sebagai alat, bukan tujuan.
Dalam tradisi ulama pun kita menemukan kisah-kisah ringan dan anekdot yang membuat murid tersenyum. Tujuannya bukan melawak, tetapi menghidupkan majelis dan memudahkan pemahaman ilmu.
Adapun mengenai para ulama ahli kitab, tidak tepat jika seluruh perhatian diarahkan agar mereka mendominasi panggung-panggung ceramah. Tugas seorang ulama bukan hanya berbicara di hadapan massa, tetapi juga mendidik dan mencetak generasi penerus.
Mengajar kitab, membimbing santri, memperbaiki pemahaman, dan menanamkan adab merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan waktu dan konsentrasi.
Jika seorang kiai terlalu sibuk berpindah dari satu panggung ke panggung lain, maka waktu untuk kaderisasi ulama bisa berkurang. Padahal umat tidak hanya membutuhkan penceramah yang populer hari ini, tetapi juga ulama yang mampu melahirkan ulama pada masa mendatang.
Sebagaimana dawuh Syaikhina KH Maimoen Zubair, kaderisasi ulama lahir melalui โngajiโ, bukan sekadar โpengajianโ. Sebab
ุงูุนูููู
ู ููุคูุชูู ููููุง ููุฃูุชูู
"Ilmu itu didatangi, bukan datang sendiri."
Menjadi alim membutuhkan proses panjang: duduk di hadapan guru, membaca kitab secara sistematis, mencatat, mengulang pelajaran, berdiskusi, dan mengoreksi pemahaman selama bertahun-tahun.
Karena itu, jika kita benar-benar menghormati ulama ahli kitab, jangan hanya menghadiri ceramah umumnya. Hadirilah majelis kitabnya, tulislah ilmunya, pelajari karya-karyanya, dan teruskan tradisi keilmuan yang mereka wariskan. Sebab warisan ulama tidak cukup dijaga dengan kekaguman, tetapi dengan melanjutkan perjuangan ilmunya.
Wallฤhu aโlam.
Sumber FB pp anwar sarang