11/01/2022
Saya selalu percaya bahwa anak-anak sejujurnya bisa melakukan lebih banyak dari yang mampu kita bayangkan (asalkan kesempatan untuk itu ada).
Dapat menemukan teman diskusi yang seusia saya adalah keberuntungan dan menemukan teman diskusi yang usianya jauh di bawah saya merupakan keajaiban, saya sangat sadar akan impossible dream ini.
Oleh karena itu, lingkaran kecil ini menjadi penting yang memvalidasi bahwa apa yang saya percayai di awal tulisan adalah hal yang mungkin terjadi.
Beberapa hal yang kami dapati selama diskusi,
Pertama, bicara tentang prestasi bagi mereka.
Dari mereka, saya pun akhirnya menyadari pola yang toksik ini bahwa kita baru percaya kecerdasan seseorang akan sesuatu hanya ketika seorang anak tersebut memperoleh prestasi di bidang itu. Oleh karena itu banyak yang ingin mengejarnya bukan karena atas pengembangan skill diri tetapi semata-mata karena ajang pembuktian diri.
Lalu setelah berhasil memperoleh prestasi, perhatian orang-orang di sekeliling kita mendadak berbeda. Dari yang semula biasa-biasa saja menjadi lebih spesial, lebih istimewa. Bagi yang tidak berhasil maka merasa kalah dan "kurang spesial". Perlakuan diskriminatif ini lalu memunculkan candu. Candu untuk terus merasa di atas agar perlakuan spesial tetap dicurahkan padanya. Tanpa disadari hal ini menjadi beban ketika pada masa berikutnya prestasi gagal diraih.
Kedua, bicara tentang privasi.
Saya sepakat bahwa ketika seusia mereka, ada hal-hal yang ingin saya sembunyikan sendiri seperti tulisan dalam diari atau chat pribadi untuk anak-anak pada masa ini.
Oleh karena itu membuka-buka chat pribadi mereka dan menguping pembicaraan bersama sahabat terdekat mereka akan menimbulkan rasa untrust.
Namun setelah saya menjadi orang tua, sejujurnya ini membuat saya merasa nervous. Sampai sejauh mana kita bisa yakin bahwa mereka bisa membedakan mana yang baik dan yang tidak baik untuk dilakukan. "Baik dan tidak baik" dalam arti yang bisa kita sepakati bersama.
Saya pikir, meskipun usia tidak menentukan tingkat kedewasaan seseorang, menunggu sampai mereka berusia 17 tahun tidak akan terlalu lama.
Pada akhirnya memberi kesempatan kepada mereka untuk mengeksplorasi sambil setelahnya berdiskusi tentang baik dan buruknya hal tersebut adalah jalan yang dapat kami terima bersama. Yang artinya ini sangat membutuhkan keintiman antara orang tua dan anak.
Lalu, kedekatan yang seperti apa yang mereka harapkan dari orang tua?
Ada yang berharap bisa mengobrol akrab hingga dapat curhat tentang hal-hal pribadi dengan pemikiran jika saya bisa mencurahkan kepada orang tua saya, maka saya tidak perlu tempat curah yang lain.
Ada p**a yang merasa bahwa kedekatan dengan orang tua tetap harus dibatasi agar rasa hormat tidak berkurang. Terlalu banyak bercanda dan terlalu merasa sebagai teman akrab justru menurut mereka adalah hal yang tidak bijak untuk dilakukan orang tua kepada anak.
Ada yang berharap orang tua bisa membebaskannya melakukan apa saja. Ada yang berharap orang tuanya memperhatikan tentang apa saja yang dilakukannya setiap hari. Dari yang saya amati dua hal yang bertentangan ini adalah hal yang tidak didapatkan oleh masing-masing. Kita cenderung memimpikan kehidupan yang tidak kita punyai. Istilahnya rumput tetangga memang lebih hijau.
Ada yang berharap orang tuanya bisa melakukan apa saja. Ada yang berharap orang tuanya bisa lebih apa adanya.
Setelah menjadi orang tua, saya sangat mengerti betapa sulitnya mengakui kekurangan diri di hadapan buah hati. Oleh karena itu, kita punya kecenderungan untuk selalu berpura-pura bisa segala hal, berpura-pura selalu punya uang, berpura-pura selalu bahagia.
Namun, apakah mereka terlalu tidak peka untuk tidak mengetahui kepura-puraan yang kita paksakan tersebut?
Ada yang sadar dan merasa kesal, ada yang tahu dan merasa haru, ada yang justru juga pura-pura tidak tahu. Namun jika boleh memilih semuanya sepakat bahwa kejujuran tidak akan membuat rasa cinta akan berkurang.