11/11/2013
Jilbabku bukan hanya simbol dari agamaku, tapi jilbabku adalah tanda keberadaanku..
Atjeh Citizen's Reporter Dari Korea Selatan
* Jilbab Putri Aceh (Khiththathi) Menjadi Perhatian
Foto : KHITHTHATI,penerima beasiswa belajar bahasa Korea di Geumgang University, melaporkan dari Korea Selatan
BAGAIMANA rasanya bila tiap kali berjalan kita diperhatikan?
Awalnya Memakai jilbab memang hal yang biasa di korsel, Soalnya, banyak perempuan terlihat memakainya di bandara dan hampir semuanya adalah pendatang.
Namun, begitu saya sampai di kampus, semuanya berubah. Banyak yang menanyakan tentang hijab ini. Saya menjadi pusat perhatian, karena hanya saya sendiri pelajar asing yang memakai jilbab di kampus, meski ada lima mahasiswi muslim di kampus kami.
Saya kuliah di Geumgang University. Letak kampus ini di Chungcheongnam-do, Nonsan, tepatnya di kaki Gunung Gyeryong. Ini salah satu tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat Korsel.
Saat saya berkeliling dan jalan-jalan selalu ada saja yang heran dan terkadang bertanya saya berasal dari mana? Apa yang saya kenakan? Kenapa saya berpakaian seperti ini? Dengan pengetahuan yang kurang akan bahasa Korea terkadang saya menjawab singkat dan tersenyum daripada dianggap tak sopan.
Sering p**a saya dikejutkan oleh keheranan mereka. Pernah suatu hari saya sedang menunggu bus, tiba-tiba seorang ibu datang dan langsung memegang kepala saya. Tentu saja saya terkejut. Tapi ibu itu mulai melontarkan banyak pertanyaan. Di lain waktu ada ibu datang dan bertanya nama, agama saya, dan bagaimana saya berdoa? Juga siapa Tuhan saya. Tentu sulit untuk dijelaskan. Terkadang mereka bertanya apa saya tidak punya rambut? Apakah saya bisa menikah dan banyak pertanyaan lain yang terkadang lucu.
Tidak hanya orang tua, tetapi anak-anak juga tertarik. Mereka sering kali berhenti di sekeliling saya dan menatap lama. Sampai-sampai ada seorang ibu yang mengajak anaknya bersalaman dengan saya. Di lain hari ada dua gadis kecil yang bemain-main dengan neneknya lalu dan sesekali menoleh. Karena hal ini terjadi sampai beberapa lama, sang nenek pun menawarkan saya ikut makan kue bersama. Banyak yang menarik memang, namun tidak selamanya menyenangkan. Kadangkala ada yang memandang dengan penuh selidik, melihat saya dengan sinis.
Terkadang ada yang mengatakan, tidak apa-apa jika saya tidak menutup kepala selama di Korsel, karena tidak ada orang Aceh yang tahu kalau di kampus saya tak berjilbab. Nanti kalau p**ang kampung barulah pakai jilbab lagi. Lucu juga pemikiran mereka.
Namun, ada juga yang sengaja datang ke kamar untuk melihat bagaimana caranya muslim menyembah Tuhannya (shalat).
Senang rasanya banyak yang bertanya dan tertarik dengan jilbab saya, sekaligus dapat memberikan pandangan tentang Islam. Terkadang ingin sekali mengutip kata-kata dalam film My Name is Khan, “Jilbabku bukan hanya simbol dari agamaku, tapi jilbabku adalah tanda keberadaanku.” [email penulis: red_five_italy@ yahoo.com)