29/05/2014
Pusat Belajar Anak di Leupung
Bantu Kak Ubit dan Yayasan Pembinaan Kegiatan Generasi Muda (YPKGM) Aceh mengembangkan Pusat Belajar Anak, agar anak-anak dapat terus memupuk minat baca mereka sehingga menumbuhkan rasa percaya diri dan pola pikir yang cerdas.
DASAR PEMIKIRAN
Bagi generasi muda di Aceh, bencana tsunami 9 tahun yang lalu dan konflik yang berkepanjangan merupakan tantangan yang berat. Luka akibat bencana dan konflik tersebut masih membekas dalam dan menjadi bara yang siap meledak setiap saat. Terlebih bagi anak-anak, di mana trauma, rasa takut, dan gelisah sangat mempengaruhi jiwa mereka. Tantangan ini diperberat karena tidak semua anak-anak dan remaja bisa mendapatkan fasilitas, sarana, dan prasarana untuk meningkatkan kualitas pribadi mereka. Baik karena faktor ekonomi maupun karena bertempat tinggal di daerah yang jauh dari kota.
Pusat Belajar Anak Pesisir Pantai ini berlokasi di Leupung yaitu wilayah yang terkena dampak tsunami yang parah. Namun walaupun jaraknya hanya 24 km dari kota Banda Aceh, di Leupung pembangunan sangat minim, baik oleh NGO internasional maupun Pemda. Hal ini karena karakteristik masyarakat Leupung yang keras, umumnya berpendidikan rendah, terpecah dalam kelompok-kelompok sehingga proyek yang akan dijalankan di sana selalu terkendala dalam mencapai kesepakatan. Misalnya sampai saat ini saja perumahan Kampung Deah Mamplam yang dibangun NGO ternyata menyimpan permasalahan ganti rugi tanah yang belum selesai, masalah perumahan masih banyak yang belum mendapatkan rumah bantuan sehingga tinggal di pondok seadanya atau menyewa rumah.
Sebagai masyarakat asli Leupung (dulu kakek saya ulebalang di sini), saya terpanggil untuk membangun Pusat Belajar Anak di sini karena pada usia dinilah pembangunan karakter dapat dibina.
PUSAT BELAJAR ANAK
Pusat Belajar Anak didirikan untuk menumbuhkan kembali rasa percaya diri anak-anak melalui program pembinaan seperti kegiatan Seni Budaya (melukis, mengarang, menulis puisi, membaca puisi, menyanyi, berakting, pantomim dan drama serta tarian), kegiatan Olah Raga, Aneka Perlombaan dan Permainan Anak, Tamasya dan Rekreasi, Pemutaran Film Hiburan, Kelompok Belajar dan Mengaji, Pelatihan Ketrampilan dan Pelayanan Perpustakaan. Kegiatan utama Pusat Belajar Anak adalah Perpustakaan dengan program bibliotherapy yaitu program penunjang pendidikan yang baik secara langsung maupun tidak langsung merangsang minat baca mereka yang pada akhirnya akan menumbuhkan rasa percaya diri dan pola pikir yang cerdas untuk mendorong mereka terus maju menggapai cita-cita mereka.
Pada tahun 1992 saya mencoba menghimpun dan membina anak-anak di Kecamatan Lhoknga/Leupung. Dari hanya 7 orang anak binaan berkembang menjadi 250 orang anak. Namun sayang, tsunami menghancurkan segalanya termasuk gedung kontrolir Belanda yang saya pinjam pakai dari Pemda. Pasca tsunami saya mencoba untuk mengusulkan agar dibangun kembali gedung tersebut, namun Pemda punya kebijakan lain. Akhirnya pada tahun 2009 saya dengan dana sendiri mencoba membangun Pusat Belajar Anak yang baru namun menghadapi keterbatasan dana.
Buku adalah jendela dunia: Ayo tanamkan kebisaan baca sejak dini!
PROGRAM PENYELESAIAN GEDUNG
Pusat Belajar Anak ingin memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak dan remaja di desa miskin dan terpencil untuk maju meraih cita-citanya. Dengan menyediakan sarana dan prasarana pendukung kegiatan belajar serta didukung oleh berbagai program kegiatan dan pelatihan yang imajinatif bagi peningkatan sumber daya, wawasan dan ketrampilan anak, remaja, dan pemuda.
Penyelesaian pembangunan Pusat Belajar Anak ini selain mengatasi problema yang telah saya utarakan sebelumnya, juga membantu saya untuk fokus pada pembinaan/program kegiatan yang sedang/akan dilakukan agar sehingga memberikan hasil yang optimal.
Saat ini, kondisi gedung yang digunakan Pusat Belajar Anak baru siap 85% sehingga pemanfaatannya tidak maksimal dan kegiatan pembinaan yang telah dimulai juga terkendala. Di antaranya untuk latihan tari dan drama, anak-anak mudah sekali kotor dan lecet karena lantai masih disemen kasar. Saat hujan mereka terpaksa tidak latihan karena belum ada plafon. Suara hujan yang jatuh di seng membuat anak-anak tidak dapat mendengar suara musik pengiring tarian dan instruksi pelatih. Perpustakaan juga belum dikeramik sehingga membuat buku-buku lembab dan rusak dan juga banyak bahan bacaan yang masih ditempatkan dalam kardus sehingga menyulitkan untuk mencari referensi.
Kami sebagai pemilik proyek sudah berusaha sekuatnya untuk menyelesaikan pembangunan gedung. Di antaranya menjual mobil yang dimiliki dan membuka usaha (studio foto, membuka kantin, menjual kue dan siomay, dll). Namun hasilnya sangat minim dan di sepanjang tahun 2013 hanya berhasil mengumpulkan 10 juta rupiah yang digunakan untuk pemasangan keramik ruang serba guna. Itu pun tidak selesai seluruhnya karena tiba-tiba kamera digital yang dimiliki untuk usaha studio foto rusak sehingga harus membeli kamera lain.
Bila pembangunan Pusat Belajar Anak ini selesai, kita juga akan mendapatkan dana tambahan dari penyewaan ruang serba guna, ruang training untuk pihak lain yang dananya dapat digunakan untuk operasional kegiatan program, misalnya menjahit baju tarian di mana selama ini masih menyewa dari pihak lain.
Kami sadar bahwa kami tidak akan mampu menyelesaikan proyek ini sendiri. Kami mengajak rekan-rekan untuk ikut mendukung agar pengembangan gedung Pusat Belajar Anak ini dapat diselesaikan.