MA. Darul Ulum Waruk

MA. Darul Ulum Waruk

Share

Lembaga Pendidikan tingkat SMA yg bernaung pada Lembaga pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama'.

Sekolah ini didirikan untuk mencerdaskan masyarakan juga untuk melestarikan nilai-nilai Islam Ahlussunah Wal Jama'ah.

29/08/2012

Pendidikan Jangan Lagi Sekadar Cari Ijazah dan Gelar
20:14 Admin MADU

LABUAN BAJO, KOMPAS.COM - Dalam beberapa dekade terakhir, pendidikan di Indonesia hanya ditujukan untuk meraih ijazah dan gelar akademik semata dibandingkan pendidikan watak dan karakter. Akibatnya, terjadi kemerosotan moral dan etika di tengah masyarakat Indonesia, mulai dari kalangan elite sampai kalangan bawah. Inilah keprihatinan yang disampaikan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Prof. DR. Moh. Mahfud MD, dalam makalah orasi kebangsaan" Peran Strategis Pendidikan sebagai basis membangun karakter Bangsa" menyambut HUT Seminari Beato Yohanes Paulus II di Labuan Bajo, Kamis (23/8/2012).

Menurutnya, di Indonesia, orang terdidik saja sudah mengalami kemerosotan moral. Mengapa ini terjadi? Pendidikan yang diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan hanya mendidik anak supaya memiliki kecerdasan otak dan tidak pernah mendidik untuk membangun karakter hati. Padahal, lanjutnya, karakter seseorang dibangun melalui proses pendidikan. Mahfud mengatakan, proklamator kemerdekaan Indonesia, Ir. Soekarno, saja menuangkannya dalam frase 'mencerdaskan kehidupan bangsa', bukan 'mencerdaskan otak'.

"Pendidikan Indonesia harus berpedoman pada tiga hal penting yakni ada integrasi antara Ilmu dan Iman. Ilmu dikembangkan atas kontrol dari ajaran-ajaran agama. Kedua, kebenaran yang harus ditanamkan di semua lembaga pendidikan di Indonesia. Ketiga, Ilmu pengetahuan dan teknologi harus memihak kepada keselamatan manusia di bumi ini," ungkapnya.

Ilmu pengetahuan dan teknologi, lanjutnya, tetap penting. Namun, harus dikembangkan untuk keselamatan manusia di dunia. Selanjutnya, Mahfud menjelaskan, pendidikan di Indonesia bukan saja memberantas buta huruf melainkan memberantas buta hati yang menyebabkan terjadinya kemerosotan moral dan etika.

Mahfud menilai, moral dan etika bangsa Indonesia sudah luntur. Oleh karena itu, pendidikan moral Pancasila, harus kembali dibangkitkan dan diterapkan dalam kurikulum pendidikan.

Saat dialog, salah seorang hadirin menyampaikan bahwa 20 persen anggaran pendidikan di Indonesia dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur dan dari APBD Kabupaten Manggarai Barat hanya digunakan untuk pembangunan fisik, bukan untuk pembangunan karakter dan watak kebangsaan.

Mahfud menanggapinya dengan mengatakan bahwa Indonesia harus membenahi kualitas birokrasi yang bobrok. Untuk membenahinya, pendidikan dasar sampai sekolah menengah atas harus diatur dengan baik dengan mendidik watak dan mental anak sekolah. Romo Vikaris Jenderal Keuskupan Ruteng, Pastor Laurens Sopang Pr mengatakan, korupsi yang merajalela di Indonesia juga disebabkan watak yang tidak lagi memiliki moral dan etika. Sopang sepakat, pemerintah harus membangkitkan kembali pendidikan moral Pancasila di seluruh sekolah di Indonesia.

20/05/2012

Harkitnas Harus Jadi Inspirasi Kebangkitan Pendidikan

JAKARTA, KOMPAS.com - Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap 20 Mei harus menjadi inspirasi kemajuan pendidikan nasional.

Hal itu dikatakan Anggota Komisi X DPR, Raihan Iskandar, Sabtu (19/5/2012) malam kemarin, di Jakarta.

Ia mengungkapkan, sejarah lahirnya kebangkitan nasional pada 1908 disebabkan oleh munculnya kaum terpelajar.

Menurutnya, tokoh-tokoh pergerakan nasional yang menjadi penggerak munculnya organisasi-organisasi modern pada masa itu, seperti Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Sutomo, Soekarno, Agus Salim, dan sebagainya lahir dari dunia pendidikan.

"Pengaruh pendidikan pada masa perjuangan membuka kesadaran kaum terpelajar untuk bangkit dari keterpurukan sebagai bangsa yang terjajah," ujarnya.

Kala itu, lanjut dia, meski awalnya Belanda hanya membuka sekolah-sekolah bagi golongan bangsawan dan mampu, tetapi justru dimanfaatkan oleh golongan elit Indonesia untuk mengubah nasib bangsanya.

"Oleh karena itu, momentum hari Kebangkitan Nasional tahun ini harus dijadikan inspirasi bagi Pemerintah untuk memajukan bangsa melalui pendidikan," ujarnya.

Politisi asal fraksi partai PKS ini menegaskan, pemerintah perlu membuat akselerasi kebijakan dalam bidang pendidikan untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju dan beradab.

Menurutnya, akselerasi kebijakan pendidikan itu harus dilakukan pemerintah dengan keberanian melakukan investasi yang optimal melalui pemberian akses seluas-luasnya bagi setiap warga negara untuk menikmati pendidikan mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai di bangku perguruan tinggi.

Dengan demikian, ia berpendapat jika pemerintah benar-benar serius ingin menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju dan beradab, pemerintah harus menjadikan pendidikan sebagai kebijakan yang bersifat menyeluruh, tidak diskriminatif, dan harus dapat dinikmati oleh setiap warga negara Indonesia.

"Pemerintah harus membiayai penyelenggaraan pendidikan. Tak cukup hanya dengan memulai program wajib belajar 12 tahun, tetapi juga harus dapat menekan biaya kuliah di perguruan tinggi yang sampai sekarang belum bisa terjangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia," tandasnya.

Sumber :
http://edukasi.kompas.com/read/2012/05/20/08272310/Harkitnas.Harus.Jadi.Inspirasi.Kebangkitan.Pendidikan

17/05/2012

Indonesia dan Sistem Pendidikan Terbaik di Dunia
18:05 Admin MADU

Indonesia memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia mungkin adalah kalimat yang terdengar mewah, ekslusif dan elegan bahkan jauh dari jangkauan. Kita (Indonesia) masih menata sistem pendidikannya. Belajar dan mencoba-coba mana yang cocok. Menerapkan sebentar lalu menggantinya lagi. Mulai dari kurikulum 1994 dengan cbsa nya, lalu ke KBK, merambah ke KTSP, dan entah apa lagi nanti.

Semua memang ada sisi baiknya karena telah dikaji dan diuji. Sistem-sitem ini juga telah di pakai di banyak negara maju. Mereka berhasil. Lalu kitapun mencobanya dan kewalahan sendiri. Banyak faktor yang menyebabkan kekewalahan tersebut. Mulai dari ketidaksiapan guru, kurangnya sarana dan prasaran yang mendukung, sosialisasi yang minim, hingga siswa yang dianggap tak lagi bisa dibentuk. Sumber kesalahan terus dicari.

Jika ingin, kita bisa lihat Finlandia yang memang dikenal sebagai negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD ). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA, yang bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Tak ada yang begitu istimewa di sana. Gaji gurunya tidaklah fantastis. Jam belajar pun hanya 30 jam seminggu. Siswa tidak begitu didera dengan lamanya waktu belajar di sekolah. Sarana dan prasarananyapun masih kalah dengan negara maju lainnya seperti Amerika. Bahkan di sana siswanya tidak mengenal ujian.

Lalu apa yang membuat Finlandia begitu istimewa? Jawabannya sederhana saja, guru tidak pernah menyalahkan siswa. Mereka benar-benar menimbulkan kesadaran untuk belajar bagi siswa. Tidak ada paksaan atau kejar-mengejar ketuntasan. Siswa pun tak pernah dibandingkan dengan siswa yang lainnya. Hasil belajar siswa hanya dibandingkan dengan tugas mereka minggu yang lalu apakah ada peningkatan atau tidak. Setiap anak istimewa. Mereka punya kelebihan dan ketertarikan masing-masing. Guru tak berhak menghakimi. Jika ia, malah akan membunuh kreatifitas si anak.

Siswa tidak merasa tersiksa dengan tuntutan jam belajar yang besar atau tekanan ujian seperti yang kerap dirasakan siswa di Indonesia. Mereka stres dan tertekan ketika akan ujian. Yang malah membuat mereka gagal.

Belajar bukanlah hal yang menakutkan dan menyiksa. Dengan demikian kesadaran belajar akan tumbuh dengan sendirinya. Sesuatu yang dilakukan dengan keterpaksaan akan jauh berbeda hasilnya dengan hal yang dilakukan dengan senang hati.

Ya, kita masih sangat perlu membenahi sistem pendidikan kita. Namun tidak membutuhkan waktu yang sebentar. Sementara itu membuat belajar menjadi menyenangkan dan bagaikan kebutuhan adalah hal yang lebih penting. Ini dapat diwujudkan. Ini bukanlah hal ekslusif dan elegan atau tak terjangkau. Kita bisa melakukannya. Dapat dimulai dengan merobah cara pandang terhadap pendidikan dan cara mendidik.

Mendidik bukanlah mengajarkan sesuatu lalu kecewa ketika yang diajarkan tak tersampaikan. Mandidik adalah membiarkan anak menemukan sendiri apa yang ingin ditemukannya.

Sumber :
http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/01/indonesia-dan-sistem-pendidikan-terbaik-di-dunia/

17/05/2012

Guru Besar ITB Sebut UN Sesat
15:34 Admin MADU

BANDUNG, KOMPAS.com — Guru Besar Ilmu Matematika dari Institut Teknologi Bandung, Iwan Pranoto, menyebut ujian nasional yang dipraktikkan pemerintah saat ini adalah kebijakan yang keblinger. Bukannya mengajari para murid untuk menggunakan nalar atau akalnya, UN malah memaksa mereka menghafal.

"UN itu sesat!" seru Iwan dalam seminar yang diadakan dalam rangka Hardiknas di Gedung Indonesia Menggugat, Rabu (2/5/2012).

Dia pun menunjukkan contoh soal Matematika yang diujikan dalam UN. Iwan berpendapat, soal tersebut mustahil dikerjakan dalam waktu singkat kecuali menghafalkan rumus secara cepat yang diajarkan dalam sekolah atau bimbingan belajar.

Seharusnya, soal yang ditanyakan mengajak siswa untuk memahami masalah yang dihadapi. Kecenderungan tersebut tidak hanya terlihat di mata kuliah Matematika. Iwan menemui hal serupa di mata kuliah lain yang hanya bisa dijawab apabila menghafal.

"Menghafal adalah kegiatan bernalar paling rendah, biarkan itu ditangani komputer. Seharusnya yang didorong adalah bernalar yang tidak bisa dilakukan komputer," kata Iwan.

Dia pun mengungkapkan hasil riset yang dilakukan Massachusetts Institute of Technology dengan Harvard University yang menyebut dua kemampuan yang wajib dimiliki manusia masa depan adalah berpikir kompleks dan komunikasi.

Berpikir kompleks adalah kemampuan memecahkan masalah yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Kesimp**an tersebut diambil barangkali karena ramalan bahwa permasalahan di masa mendatang bakal dinamis. Namun, yang dilakukan UN saat ini justru sebaliknya.

Menurut Iwan, siswa hanya dipaksa menghafal tanpa diberi kesempatan menggunakan akalnya untuk memecahkan sendiri.

Sumber :
http://edukasi.kompas.com/read/2012/05/02/19545888/Guru.Besar.ITB.Sebut.UN.Sesat

17/05/2012

Asa yang Tidak Pernah Padam
15:29 Admin MADU

Oleh: B Josie Susilo Hardianto
Sekolah arigi weago aperage weago
Hat tago weti-weti, hagaramo nikitlasu a...o
An nogo worek-worek, hagaramo nikitlasu wae
hulu leka-leka, iawuraregoi a...o
werene leka-leka, tumawuraregoi wae..

”Sekolah sangat susah, sekolah benar-benar sangat susah. Saya sekolah banyak pengorbanan, kamu pun sekolah banyak tantangan. Kami sekolah di balik gunung, kami sekolah di balik danau,” kata Selinius Wetipo mengartikan lagu dalam bahasa Dani itu.

Dengan wilayah bergunung-gunung, lembah yang dalam, dan ngarai yang terjal, juga berhutan lebat, Papua memang memberi tantangan geografis yang ekstrem. Namun, setiap pagi, pada jalan-jalan setapak, tercetak jejak-jejak kaki anak-anak yang bergegas menuju sekolah-sekolah mereka. Tanpa alas kaki, mereka mendaki bukit berbatu dan menyusuri tanah berlumpur.

Semangat anak-anak di wilayah Pegunungan Tengah Papua untuk belajar sangat besar. Namun, harus diakui, sarana dan prasarana penunjang terbatas. Banyak sekolah dasar yang berada di kampung-kampung yang tersebar di lembah dan lereng pegunungan di sekitar Wamena belum memiliki cukup guru. Kalaupun ada, tak jarang, guru-guru itu tidak selalu hadir untuk mengajar.

Salah satunya di Jalelo, Distrik Assolokobal. Hampir setiap hari, SD Inpres Upiyagaima di daerah itu diasuh oleh Adin Lokobal, seorang tenaga honorer. SD yang terdiri dari kelas I hingga kelas III tersebut sebenarnya memiliki empat tenaga guru. Namun, keempat guru itu sering berhalangan.

Salah satu hambatan adalah para guru tersebut tinggal di pinggir jalan raya Wamena-Kurima yang terletak di lembah. ”Untuk mencapai gedung SD Inpres Upiyagaima, mereka harus berjalan kaki lebih kurang tiga jam dengan mendaki pegunungan,” ujar Arnos Asso, anggota Komite SD Upiyagaima.

Bangun rumah guru

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Jayawijaya Hasuka Hisage mengakui kondisi yang memprihatinkan tersebut. Untuk itu, pihaknya tengah berupaya agar di sekolah-sekolah terpencil dibangun perumahan untuk guru.

Tahun 2011 telah dibangun 22 rumah guru. Pada tahun 2012 akan dibangun lagi sekitar 22 rumah guru, terutama untuk wilayah pedalaman.

Selain itu, kini juga sedang diupayakan peningkatan kapasitas para guru. Sasarannya tidak hanya mengembangkan kemampuan guru mengajar, tetapi juga empati mereka.

”Kapasitas personal sebagai pengajar penting,” kata Kepala Bidang Peningkatan Mutu Dinas Pendidikan Kabupaten Jayawijaya Bambang Handoyo.

Dalam proses pendidikan, loyalitas dan panggilan menjadi seorang guru adalah sisi lain dari semangat anak-anak untuk belajar.

Namun, kondisi ideal itu tidak mudah diwujudkan di Papua. Tantangan alam dan keterbatasan sarana tidak hanya membatasi arus transportasi, tetapi juga informasi. Pendidikan di wilayah perkotaan berkembang karena akses terhadap transportasi dan informasi mudah. Kondisi di pinggiran dan pedalaman selalu berbanding terbalik.

Di SD Inpres Megapura, misalnya, satu buku pelajaran digunakan lima siswa. Meski demikian, bukan berarti semangat untuk mendampingi para siswa luntur.

”Kami tetap berupaya agar kualitas pendidikan terjaga,” kata Sih Asmoko yang telah mengajar di wilayah Jayawijaya sejak 26 tahun lalu.

Semangat serta niat kuat dari murid dan guru untuk menjadikan pendidikan di Papua berkembang adalah kunci keberhasilan. Hal tersebut akan makin berhasil apabila kesadaran orangtua untuk ikut mendukung anak-anak ke sekolah cukup optimal. Melihat Kelitus Wetipo dan Selinius Wetipo, siswa SD Inpres Megapura, belajar dalam remang cahaya lilin seolah memberi keyakinan dan harapan.

Di Wamena, konflik antara semangat untuk maju pada satu sisi dan keterbatasan fasilitas serta derasnya arus perubahan memunculkan ekses lain. Sejumlah anak usia sekolah menghabiskan hari-hari mereka di Pasar Jibama dan jalan raya. Baju lusuh, mata merah, dan mereka berjalan gontai karena keseringan menghirup uap lem Aica Aibon yang memabukkan.

Kelitus Wetipo tidak ingin seperti itu. Dia tekun belajar sebab ingin seperti kakaknya, Meriana Wetipo, yang saat ini mengecap pendidikan di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Tak heran ketika Selinius Wetipo menyanyikan lagu berjudul ”Sekolah Arigi Weago” itu, Kelitus bertepuk tangan riang, kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan.

Olimpiade matematika

Lagu itu seolah mewakili semangat anak-anak muda yang tinggal dalam honai laki-laki milik Ruben Wetipo, tetua kampung adat yang berada di Walesi, Kabupaten Jayawijaya. Malam itu, meski hanya diterangi cahaya lilin, mereka menghabiskan waktu dengan belajar.

Cahaya sebatang lilin menjadi saksi betapa keras usaha mereka. Perih? Kelitus Wetipo, siswa kelas IV SD Santo Stefanus Wouma, Wamena, itu mengatakan, mata mereka telah terbiasa membaca dalam remang cahaya lilin. Tak ada keluhan.

Ruben Wetipo, tetua komunitas tempat honai laki-laki itu berada, dengan bangga mengatakan, dari honai itu telah dihasilkan delapan sarjana, di antaranya sarjana sosiologi dan filsafat. Dari honai kecil di pinggiran kota Wamena itu p**a lahir pemenang lomba olimpiade matematika yang mewakili Kabupaten Jayawijaya. ”Saat ini, anak saya, Meriana Wetipo, menempuh pendidikan di Surya Institute (lembaga yang didirikan Prof Yohanes Surya),” ungkap Ruben.

Mereka mampu menjadi mandiri, memilih untuk menggunakan waktu dengan giat belajar meski dalam aneka keterbatasan. Seperti alunan lagu yang dinyanyikan Selinus Haluk, sekolah itu sangat susah, banyak tantangan, karena itu perlu kerja keras dan hanya dengan itu mimpi akan terwujud.

Sumber :
http://edukasi.kompas.com/read/2012/05/16/10320324/Asa.yang.Tidak.Pernah.Padam

23/02/2012

SELAMAT DATANG MEMBER. . . Kalau member sudah banyak, Admin bakal Update berita buat para Member semua.

19/02/2012

MA "Darul Ulum"

Want your school to be the top-listed School/college in Lamongan?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Lamongan