RS BUKU

RS BUKU

Share

Buku Murah. Berkualitas. Mencerahkan dan Mencerdaskan. Penjual buku mencerahkan

11/06/2025

Model Embrio Manusia dari Sel Punca di Laboratorium

Ringkasan Temuan Utama

Model “SEMs” (Hanna et al. 2023, Nature):
Tim peneliti dari Israel yang dipimpin oleh Jacob Hanna berhasil membuat model embrio manusia dari sel punca tanpa memodifikasi gennya. Model ini disebut SEMs (Stem-cell-derived Embryo Models). Mereka meniru hampir semua bagian penting dari embrio setelah menempel di rahim, termasuk calon jaringan tubuh (epiblast), lapisan dasar (hipoblast), jaringan pendukung, dan bagian luar seperti trofoblas (cikal bakal plasenta). Model ini mencapai tahap perkembangan sekitar hari ke-13 atau 14, dan menunjukkan fitur penting seperti awal pembentukan tubuh, lapisan amnion (kantung ketuban), arah kepala–ekor, serta munculnya calon sel telur dan sperma. Ini menjadi “jendela” yang sangat berguna untuk memahami tahap awal kehamilan yang sebelumnya sulit diamati.

Model “hiEmbryoid” (Weatherbee-Gantner et al. 2023, Nature):
Tim dari Cambridge yang dipimpin Magdalena Żernicka-Goetz mengembangkan cara lain. Mereka mencampurkan sel punca biasa dengan sel punca yang sudah diarahkan menjadi calon jaringan pendukung, lalu membiarkan mereka membentuk struktur menyerupai embrio secara alami—tanpa bahan kimia tambahan. Hasilnya adalah model embrio mini yang menunjukkan bagian penting seperti calon jaringan tubuh, amnion, dan bahkan sel awal reproduksi. Mereka menyebut ini sebagai “model trilinier pertama”, karena memiliki tiga jenis jaringan utama yang berkembang alami dari sel punca.

Protokol hiEmbryoid (Gantner et al. 2024, Nat. Protocols):
Peneliti yang sama merinci langkah-langkah lengkap cara membuat hiEmbryoid ini di laboratorium. Mereka menunjukkan bahwa dengan alat dan keahlian dasar, peneliti bisa menumbuhkan model embrio ini dalam waktu hanya 7–10 hari, cukup dengan mengatur ekspresi gen tertentu di sel punca. Tanpa perlu zat tambahan, model ini tumbuh dan menunjukkan pola perkembangan menyerupai embrio sungguhan.

---

Metode yang Digunakan

Metode utama dalam penelitian ini melibatkan budidaya sel punca manusia di laboratorium dan memanfaatkan kemampuan alami sel untuk “merakit diri” menjadi struktur kompleks.

Kultur sel punca:
Sel punca manusia ditumbuhkan dalam medium khusus agar tetap dalam kondisi siap berubah jadi berbagai jaringan. Beberapa sel dimodifikasi agar mengarah ke jenis jaringan tertentu, seperti lapisan dasar (hipoblast) atau jaringan luar (trofoblas), lalu dicampur lagi dengan sel punca biasa.

Pembentukan agregat 3D:
Campuran sel ini dibiarkan mengelompok di wadah laboratorium khusus (bentuk 3D), dan mereka akan menyusun diri sendiri jadi bentuk menyerupai embrio. Model dari tim Hanna membentuk struktur lengkap dalam 13–14 hari. Sementara itu, model dari Żernicka-Goetz juga berkembang alami tanpa bantuan faktor luar.

Pemantauan dan analisis:
Para peneliti menggunakan mikroskop canggih dan alat molekuler untuk mengamati struktur yang terbentuk. Mereka membandingkan ekspresi gen di model ini dengan data dari embrio asli, untuk memastikan kemiripan.

---

Tabel Perbandingan Model Embrio Sel Punca

Penelitian (Tahun) Pendekatan Tahap Perkembangan Ciri Khas Model

Hanna et al. (2023) Sel punca naive + sedikit modifikasi gen (untuk hipoblast & trofoblas) ~13–14 hari (setara embrio usia 2 minggu) Struktur lengkap: disk embrionik, amnion, awal kepala–ekor, sel calon telur/sperma, kantung kuning, rongga korion, dan lapisan trofoblas luar
Weatherbee-Gantner et al. (2023) Sel punca biasa + sel punca yang diarahkan ke hipoblast/trofoblas ~7–9 hari Struktur alami: epiblast dikelilingi jaringan pendukung. Ada amnion, jaringan luar, dan sel germinal, tanpa zat tambahan
Gantner et al. (2024) Sel punca biasa + sel punca hasil induksi gen (GATA6/SOX17, GATA3/TFAP2C) ~7–10 hari Protokol jelas untuk buat hiEmbryoid. Tumbuh sendiri jadi struktur seperti embrio awal dengan calon jaringan penting

---

Dampak Ilmiah dan Etika

Manfaat bagi Ilmu Kedokteran dan Reproduksi

Model embrio ini membuka akses yang belum pernah ada untuk mempelajari tahap awal kehamilan, terutama antara hari ke-9 sampai 14, yang sering kali menjadi titik keguguran atau gagal implantasi. Para ilmuwan kini bisa melihat langsung bagaimana sel germinal (calon telur/sperma) terbentuk, bagaimana tubuh menentukan arah kepala–ekor, dan bagaimana jaringan pendukung muncul.

Selain itu, karena model ini berasal dari sel punca di luar tubuh, peneliti bisa memasukkan mutasi tertentu (misalnya dengan teknologi CRISPR) untuk memahami penyakit genetik sejak awal.

Arah Terapi Masa Depan

Saat ini model ini tidak dimaksudkan untuk kehamilan nyata dan tidak bisa ditanamkan ke rahim. Tapi di masa depan, pengetahuan yang diperoleh bisa memperbaiki teknologi bayi tabung atau memberi wawasan tentang terapi penyakit genetik sejak dini. Keberhasilan membentuk sel calon telur/sperma bisa menjadi cikal bakal teknologi masa depan, walaupun masih sangat jauh dan harus melalui pertimbangan etis yang ketat.

---

Tantangan Etika dan Regulasi

Pembuatan model embrio sintetis ini memunculkan banyak pertanyaan etis dan hukum. Menurut Dewan Bioetika Inggris (Nuffield Council), model ini bukan embrio asli karena tidak berasal dari pembuahan sel telur dan sperma, dan tidak bisa tumbuh jadi janin hidup. Artinya, aturan lama seperti batas 14 hari yang melarang penelitian embrio hidup setelah usia tersebut tidak langsung berlaku.

Asosiasi Stem Cell Internasional (ISSCR) juga mengatakan bahwa model seperti ini perlu penilaian etis khusus, dan tidak boleh dikembangkan tanpa pengawasan. Beberapa negara, seperti Inggris, sudah mengeluarkan aturan tambahan, termasuk larangan keras untuk mencoba menanamkan model ini ke rahim.

Isu Sosial dan Hukum

Masih banyak negara yang belum punya aturan jelas tentang model embrio ini. Beberapa media internasional menyebut bahwa “batas antara kehidupan dan teknologi semakin kabur.” Oleh karena itu, para ahli menekankan perlunya kerangka hukum baru yang memastikan riset ini dilakukan dengan aman, transparan, dan etis.

---

Referensi

Oldak B. et al. Complete human day 14 post-implantation embryo models from naive ES cells. Nature 622, 562–573 (2023).

Weatherbee-Gantner B.A.T. et al. Pluripotent stem cell-derived model of the post-implantation human embryo. Nature 622, 584–593 (2023).

Gantner C.W. & Weatherbee B.A.T. et al. Assembly of a stem cell-derived human postimplantation embryo model. Nat. Protocols 20, 67–91 (2025).

Ball P. Most advanced synthetic human embryo models yet spark controversy. Nature 618, 653–654 (2023).

Devlin H. Synthetic human embryos created in groundbreaking advance. The Guardian, 14 Jun 2023.

Archard D. Keeping up with the science: the ethics of synthetic embryos. Nuffield Council (2023).

Sturmey R. Guidelines on lab-grown embryo models are strong enough... Nature 632, 9 (2024).

ISSCR. 2021 Guidelines for Stem Cell Research and Clinical Translation, pasal G.2 (2021).

Al Jazeera Staff. Scientists say first synthetic human ‘embryo’ created. 15 Jun 2023.

______
ChatGPT

27/11/2024
25/11/2024

Economic value as the objectification of subjective values

This process, which finally produces our intellectual world view, also occurs in the sphere of our volitional practical activity. Here also the distinction between the desiring, consuming, valuing subject and the valued object does not comprehend all aspects of mental life, nor all the objective circumstances of practical activity. Human enjoyment of an object is a completely undivided act. At such moments we have an experience that does not include an awareness of an object confronting us or an awareness of the self as distinct from its present condition. Phenomena of the basest and the highest kind meet here. The crude impulse, particularly an impulse of an impersonal, general nature, wants to release itself towards an object and to be satisfied, no matter how; consciousness is exclusively concerned with satisfaction and pays no attention to its bearer on one side or its object on the other. On the other hand, intense aesthetic enjoyment displays the same form. Here too ‘we forget ourselves’, but at the same time we no longer experience the work of art as something with which we are confronted, because our mind is completely submerged in it, has absorbed it by surrendering to it. In this case, as in the other, our psychological condition is not yet, or is no longer, affected by the contrast between subject and object. Only a new process of awareness releases those categories from their undisturbed unity; and only then is the pure enjoyment of the content seen as being on the one hand a state of the subject confronting an object, and on the other the effect produced by an object that is independent of the subject. This tension, which disrupts the naive-practical unity of subject and object and makes us conscious of each in relation to the other, is brought about originally through the mere fact of desire. In desiring what we do not yet own or enjoy, we place the content of our desire outside ourselves. In empirical life, I admit, the finished object stands before us and is only then desired—if only because, in addition to our will, many other theoretical and emotional events contribute to the objectification of mental contents. Within the practical world, however, in relation to its inner order and intelligibility, the origin of the object itself, and its being desired by the subject, are correlative terms—the two aspects of this process of differentiation which splits the immediate unity of the process of enjoyment. It has been asserted that our conception of objective reality originates in the resistance that objects present to us, especially through our sense of touch. We can apply this at once to the practical problem. We desire objects only if they are not immediately given to us for our use and enjoyment; that is, to the extent that they resist our desire. The content of our desire becomes an object as soon as it is opposed to us, not only in the sense of being impervious to us, but also in terms of its distance as something not-yet-enjoyed, the subjective aspect of this condition being desire. As Kant has said: the possibility of experience is the possibility of the objects of experience—because to have experiences means that our consciousness creates objects from sense impressions. In the same way, the possibility of desire is the possibility of the objects of desire. The object thus formed, which is characterized by its separation from the subject, who at the same time establishes it and seeks to overcome it by his desire, is for us a value. The moment of enjoyment itself, when the opposition between subject and object is effaced, consumes the value. Value is only reinstated as contrast, as an object separated from the subject. Such trivial experiences as that we appreciate the value of our possessions only after we have lost them, that the mere withholding of a desired object often endows it with a value quite disproportionate to any possible enjoyment that it could yield, that the remoteness, either literal or figurative, of the objects of our enjoyment shows them in a transfigured light and with heightened attractions—all these are derivatives, modifications and hybrids of the basic fact that value does not originate from the unbroken unity of the moment of enjoyment, but from the separation between the subject and the content of enjoyment as an object that stands opposed to the subject as something desired and only to be attained by the conquest of distance, obstacles and difficulties. To reiterate the earlier analogy: in the final analysis perhaps, reality does not press upon our consciousness through the resistance that phenomena exert, but we register those representations which have feelings of resistance and inhibition associated with them, as being objectively real, independent and external to us. Objects are not difficult to acquire because they are valuable, but we call those objects valuable that resist our desire to possess them. Since the desire encounters resistance and frustration, the objects gain a significance that would never have been attributed to them by an unchecked will.

___

Nilai ekonomi sebagai objektifikasi nilai subjektif

Nilai Ekonomi dan Pemisahan Subjek-Objek dalam Aktivitas Praktis

Proses yang menciptakan pandangan dunia intelektual kita juga terjadi dalam aktivitas praktis yang bersifat kehendak. Dalam bidang ini, pemisahan antara subjek yang menginginkan, mengonsumsi, dan menilai, dengan objek yang dinilai, tidak mencakup semua aspek kehidupan mental atau seluruh keadaan objektif dari aktivitas praktis. Kenikmatan manusia terhadap suatu objek adalah tindakan yang sepenuhnya tidak terpisahkan. Dalam momen seperti itu, seseorang mengalami sesuatu tanpa menyadari adanya objek yang menghadapinya atau menyadari dirinya sebagai entitas yang terpisah dari kondisinya saat itu.

Fenomena ini dapat ditemukan pada bentuk yang paling sederhana maupun paling tinggi. Dorongan dasar, terutama dorongan yang bersifat impersonal dan umum, cenderung diarahkan pada objek dan berusaha dipenuhi tanpa memedulikan bagaimana caranya. Kesadaran hanya terfokus pada pemenuhan, tanpa memperhatikan siapa yang menikmati (subjek) atau apa yang dinikmati (objek). Sebaliknya, kenikmatan estetika yang intens menunjukkan pola yang serupa. Dalam menikmati karya seni, kita sering "melupakan diri kita sendiri", tetapi pada saat yang sama kita juga tidak merasakan karya seni itu sebagai sesuatu yang kita hadapi, karena pikiran kita sepenuhnya tenggelam di dalamnya.

Penghapusan Kontras Subjek-Objek dalam Kenikmatan
Dalam dua kasus ini, kondisi psikologis kita tidak terpengaruh oleh kontras antara subjek dan objek. Proses kesadaran baru yang memisahkan kategori-kategori ini dari kesatuan awalnya hanya terjadi setelahnya. Dengan demikian, kenikmatan murni dari sebuah konten dapat dilihat, di satu sisi, sebagai keadaan subjek yang menghadapi objek, dan di sisi lain, sebagai efek yang dihasilkan oleh objek yang independen dari subjek.

Peran Keinginan dalam Membentuk Nilai
Keinginan memecah kesatuan antara subjek dan objek. Ketika kita menginginkan sesuatu yang belum kita miliki atau nikmati, konten dari keinginan itu ditempatkan di luar diri kita. Dalam kehidupan empiris, objek yang diinginkan biasanya sudah ada di hadapan kita sebelum kita menginginkannya. Namun, dalam dunia praktis, keberadaan objek yang diinginkan dan subjek yang menginginkan adalah dua sisi dari proses yang sama, yakni proses pemisahan yang memecah kesatuan langsung dari kenikmatan.

Sebagaimana realitas sering dianggap berasal dari perlawanan yang ditawarkan oleh objek terhadap kita (contohnya, melalui sentuhan), keinginan juga hanya timbul terhadap objek yang tidak langsung tersedia untuk digunakan atau dinikmati. Objek yang diinginkan mendapatkan sifat "objek" karena ia menentang subjek, baik dalam arti literal maupun figuratif. Keinginan, di sisi lain, adalah ekspresi subjek terhadap kondisi ini.

Nilai Sebagai Kontras antara Subjek dan Objek
Dalam momen kenikmatan itu sendiri, ketika kontras antara subjek dan objek menghilang, nilai objek juga terhapus. Nilai muncul kembali hanya ketika objek menjadi sesuatu yang terpisah dari subjek—sesuatu yang diinginkan tetapi memerlukan usaha, jarak, atau pengorbanan untuk mencapainya. Pengalaman sehari-hari mendukung hal ini:

Kita sering menghargai nilai sesuatu hanya setelah kehilangan itu.

Jarak, baik literal maupun figuratif, sering meningkatkan daya tarik suatu objek.

Resistansi sebagai Sumber Nilai
Objek menjadi bernilai bukan karena sifat inherennya, tetapi karena resistansi atau perlawanan yang mereka hadirkan terhadap keinginan kita untuk memilikinya. Objek tidak sulit diperoleh karena mereka bernilai; sebaliknya, kita menganggap objek itu bernilai karena mereka sulit diperoleh. Ketika keinginan kita menemui hambatan, objek tersebut memperoleh makna yang tidak akan dimiliki jika keinginan itu terpenuhi tanpa hambatan.

Dengan demikian, nilai lahir dari perlawanan—dari jarak, tantangan, dan kesulitan yang harus diatasi oleh subjek untuk mencapai objek yang diinginkan. Nilai tidak muncul dari momen kenikmatan langsung, tetapi dari perjuangan untuk mengatasi hambatan yang memisahkan subjek dari objek.

25/11/2024

Objectivity in practice as standardization or as a guarantee for the totality of subjective values

This development which separates subject and object appears to be sustained on both sides by the same theme, but operating at different levels. Thus, the awareness of being a subject is already an objectification. This is a basic feature of the mind in its form as personality. The fundamental activity of our mind, which determines its form as a whole, is that we can observe, know and judge ourselves just like any other ‘object’; that we dissect the Ego, experienced as a unity, into a perceiving subject and a perceived object, without its losing its unity, but on the contrary with its becoming aware of its unity through this inner antagonism. The mutual dependence of subject and object is here drawn together in a single point; it has affected the subject itself, which otherwise stands confronting the world as object. Thus man has realized the basic form of his relation to the world, of his acceptance of the world, as soon as he becomes aware of himself and calls himself ‘I’. But before that happens there exists—in respect of meaning as well as of mental growth—a simple perception of content which does not distinguish between subject and object and is not yet divided between them. Regarded from the other side, this content itself, as a logical and conceptual entity, likewise lies beyond the distinction between subjective and objective reality. We can think of any object simply in terms of its qualities and their interconnection without asking whether or not this ideal complex of qualities has an objective existence. To be sure, so far as such a pure objective content is thought, it becomes a conception and to that extent a subjective structure. But the subjective is here only the dynamic act of conception, the function that apprehends the content; in itself this content is thought of as being independent of the act of conceiving. Our mind has a remarkable ability to think of contents as being independent of the act of thinking; this is one of its primary qualities, which cannot be reduced any further. The contents have their conceptual or objective qualities and relationships which can be apprehended but which are not thereby completely absorbed; they exist whether or not they are part of my representation and whether or not they are part of objective reality. The content of a representation does not coincide with the representation of contents. The simple undifferentiated conception that consists only in becoming aware of a content cannot be characterized as subjective, because it does not yet know the contrast between subject and object. Similarly, the pure content of objects or conceptions is not objective, but escapes equally this differential form and its opposite, while being ready to present itself in one or the other. Subject and object are born in the same act: logically, by presenting the conceptual ideal content first as a content of representation, and then as a content of objective reality;
psychologically, when the still ego-less representation, in which person and object are undifferentiated, becomes divided and gives rise to a distance between the self and its object, through which each of them becomes a separate entity.

___

Objektivitas dalam praktik sebagai standarisasi atau sebagai jaminan totalitas nilai subjektif

Perkembangan yang memisahkan subjek dan objek tampaknya didukung oleh tema yang sama di kedua sisi, namun beroperasi pada tingkat yang berbeda. Kesadaran akan diri sebagai subjek sebenarnya sudah merupakan bentuk objektifikasi. Ini adalah ciri mendasar dari pikiran manusia dalam bentuknya sebagai kepribadian. Aktivitas fundamental dari pikiran kita, yang menentukan bentuknya secara keseluruhan, adalah kemampuan untuk mengamati, mengetahui, dan menilai diri sendiri seperti halnya menilai "objek" lain. Dalam proses ini, Ego yang awalnya dialami sebagai kesatuan diuraikan menjadi subjek yang mengamati dan objek yang diamati, tanpa kehilangan kesatuannya. Sebaliknya, kesatuan itu justru menjadi lebih disadari melalui antagonisme internal ini.

Ketergantungan timbal balik antara subjek dan objek disatukan dalam satu titik: subjek, yang biasanya berdiri berhadapan dengan dunia sebagai objek, kini terpengaruh oleh hubungan ini. Dengan demikian, manusia telah mewujudkan bentuk dasar hubungannya dengan dunia, penerimaannya terhadap dunia, saat ia menjadi sadar akan dirinya sendiri dan menyebut dirinya sebagai "Aku." Namun, sebelum kesadaran ini muncul, ada kondisi persepsi sederhana yang tidak membedakan antara subjek dan objek, dan belum terbagi di antara keduanya.

Dilihat dari sisi lain, konten itu sendiri, sebagai entitas logis dan konseptual, juga berada di luar perbedaan antara realitas subjektif dan objektif. Kita dapat memikirkan objek apa pun hanya dalam hal kualitasnya dan keterkaitannya tanpa bertanya apakah kompleks kualitas ideal tersebut memiliki keberadaan objektif atau tidak. Namun, sejauh konten objektif murni ini dipikirkan, ia menjadi konsepsi, dan sejauh itu ia merupakan struktur subjektif. Tetapi yang subjektif di sini hanya berupa tindakan dinamis konsepsi, fungsi yang menangkap konten; dalam dirinya sendiri, konten ini dipahami sebagai independen dari tindakan konsepsi.

Pikiran kita memiliki kemampuan luar biasa untuk memikirkan konten sebagai sesuatu yang independen dari tindakan berpikir; ini adalah salah satu kualitas primernya yang tidak dapat direduksi lebih jauh. Konten memiliki kualitas konseptual atau objektifnya sendiri, serta hubungan yang dapat ditangkap, namun tidak sepenuhnya diserap oleh tindakan konsepsi; konten ini ada, baik ia menjadi bagian dari representasi saya maupun tidak, dan apakah ia merupakan bagian dari realitas objektif atau tidak. Dengan demikian, konten representasi tidak sama dengan representasi konten.

Konsepsi sederhana yang belum terdiferensiasi, yang hanya berupa kesadaran akan suatu konten, tidak dapat dikategorikan sebagai subjektif karena belum mengenal perbedaan antara subjek dan objek. Demikian p**a, konten murni dari objek atau konsepsi bukanlah objektif, tetapi melampaui bentuk diferensial ini dan kebalikannya, sambil tetap siap untuk muncul sebagai salah satu dari keduanya.

Subjek dan objek lahir dalam tindakan yang sama: secara logis, dengan menyajikan konten ideal konseptual terlebih dahulu sebagai konten representasi, kemudian sebagai konten realitas objektif; secara psikologis, ketika representasi yang belum memiliki Ego, di mana diri dan objek belum terdiferensiasi, terbelah dan menciptakan jarak antara diri dan objeknya, sehingga masing-masing menjadi entitas yang terpisah.

25/11/2024

who does not yet speak of himself as ‘I’, or as may perhaps be observed in a rudimentary form at all stages of life. This unity from which the categories of subject and object develop in relation to each other—in a process to be examined later—appears to us as a subjective unity because we approach it with the concept of objectivity developed later; and because we do not have a proper term for such unities, but name them usually after one of the partial elements that appear in the subsequent analysis. Thus, it has been asserted that all actions are essentially egoistic, whereas egoism has a meaning only within a system of action and by contrast with its correlate, altruism. Similarly, pantheism has described the universality of being as God, although a positive concept of God depends on its contrast with everything empirical. This evolutionary relation between subject and object is repeated finally on a large scale: the intellectual world of classical antiquity differs from that of modern times chiefly in the fact that only the latter has, on the one hand, developed a comprehensive and clear concept of the Ego, as shown by the significance of the problem of liberty which was unknown in ancient times; and on the other, expressed the independence and force of the concept of the object through the idea of unalterable laws of nature. Antiquity was much closer than were later periods to the stage of indifference in which the contents of the world were conceived as such, without being apportioned between subject and object.

___

..yang belum menyebut dirinya sebagai 'Saya', atau seperti yang mungkin dapat diamati dalam bentuknya yang paling dasar di semua tahap kehidupan. Kesatuan ini, dari mana kategori subjek dan objek berkembang dalam hubungan satu sama lain—dalam suatu proses yang akan dibahas kemudian—tampak bagi kita sebagai kesatuan subyektif karena kita mendekatinya dengan konsep obyektivitas yang berkembang belakangan; dan karena kita tidak memiliki istilah yang tepat untuk kesatuan semacam itu, kita biasanya menamakannya berdasarkan salah satu elemen parsial yang muncul dalam analisis selanjutnya.

Demikian p**a, telah dinyatakan bahwa semua tindakan pada dasarnya bersifat egoistik, padahal egoisme hanya memiliki makna dalam suatu sistem tindakan dan dalam kontrasnya dengan korrelatnya, altruisme. Demikian p**a, panteisme menggambarkan universalitas keberadaan sebagai Tuhan, meskipun konsep positif tentang Tuhan bergantung pada kontrasnya dengan segala sesuatu yang bersifat empiris.

Hubungan evolusioner antara subjek dan objek ini pada akhirnya diulangi dalam skala besar: dunia intelektual zaman klasik berbeda dari zaman modern terutama dalam fakta bahwa yang terakhir, di satu sisi, telah mengembangkan konsep Ego yang komprehensif dan jelas, seperti yang ditunjukkan oleh pentingnya masalah kebebasan yang tidak dikenal pada zaman kuno; dan di sisi lain, mengekspresikan kemandirian dan kekuatan konsep objek melalui gagasan hukum-hukum alam yang tak dapat diubah. Zaman kuno jauh lebih dekat daripada periode-periode selanjutnya pada tahap ketidakberbedaan, di mana isi-isi dunia dipahami sebagaimana adanya, tanpa dibagi antara subjek dan objek.

25/11/2024

The distinction between subject and object is not as radical as the accepted separation of these categories in practical life and in the scientific world would have us believe. Mental life begins with an undifferentiated state in which the Ego and its objects are not yet distinguished; consciousness is filled with impressions and perceptions while the bearer of these contents has still not detached himself from them. It is as a result of a second-stage awareness, a later analysis, that a subject in particular real conditions comes to be distinguished from the content of his consciousness in those conditions. This development obviously leads to a situation where a man speaks of himself as ‘I’ and recognizes the existence of other objects external to this ‘I’. Metaphysics sometimes claims that the transcendent essence of being is completely unified, beyond the opposition of subject-object, and this has a psychological counterpart in the simple, primitive condition of being possessed by the content of a perception, like a child

___

Pembedaan antara subjek dan objek tidaklah se-radikal yang dipersepsikan oleh pemisahan kategori-kategori ini dalam kehidupan praktis dan dalam dunia ilmiah yang membuat kita percaya. Kehidupan mental dimulai dengan keadaan yang tidak terdiferensiasi di mana Ego dan objek-objeknya belum dibedakan; kesadaran dipenuhi dengan kesan dan persepsi sementara pembawa isi-isi ini belum melepaskan diri dari mereka. Sebagai hasil dari kesadaran tahap kedua, analisis selanjutnya, seorang subjek dalam kondisi nyata tertentu mulai dibedakan dari isi kesadarannya dalam kondisi tersebut. Perkembangan ini jelas mengarah pada situasi di mana seorang manusia menyebut dirinya sebagai 'Saya' dan mengenali keberadaan objek-objek lain yang eksternal terhadap 'Saya' ini. Metafisika kadang-kadang mengklaim bahwa esensi transenden dari keberadaan sepenuhnya bersatu, di luar oposisi subjek-objek, dan hal ini memiliki padanan psikologis dalam kondisi sederhana dan primitif dari dimiliki oleh isi persepsi, seperti seorang anak.

25/11/2024

The psychological fact of objective value

The characteristic feature of value, as it appears in contrast to reality, is usually called its subjectivity. Since one and the same object can have the highest degree of value for one soul and the lowest for another, and vice versa, and since on the other hand the most extensive and extreme differences between objects are compatible with equality of value, there appears to remain only the subject with his customary or exceptional, permanent or changing, moods and responses as the ground for valuation.
This subjectivity, needless to say, has nothing to do with the subjectivity that refers to ‘my perception’ of the totality of the world. For the subjectivity of value contrasts value with the given objects, regardless of the way they are conceived. In other words, the subject who comprehends all objects is different from the subject who is confronted with the objects; the subjectivity that value shares with all other objects does not play any role here. Nor is his subjectivity merely caprice; independence from reality does not mean that value can be bestowed here and there with unrestrained and capricious freedom. Value exists in our consciousness as a fact that can no more be altered than can reality itself. The subjectivity of value, therefore, is first of all only negative, in the sense that value is not attached to objects in the same way as is colour or temperature. The latter, although determined by our senses, are accompanied by a feeling of their direct dependence upon the object; but in the case of value we soon learn to disregard this feeling because the two series constituted by reality and by value are quite independent of each other. The only cases more interesting than this general characterization are those in which psychological facts appear to lead to an opposite view.

In whatever empirical or transcendental sense the difference between objects and subjects is conceived, value is never a ‘quality’ of the objects, but a judgment upon them which remains inherent in the subject. And yet, neither the deeper meaning and content of the concept of value, nor its significance for the mental life of the individual, nor the practical social events and arrangements based upon it, can be sufficiently understood by referring value to the ‘subject’. The way to a comprehension of value lies in a region in which that subjectivity is only provisional and actually not very essential.
___

Fakta psikologis tentang nilai objektif

Ciri khas dari nilai, seperti yang muncul dalam perbandingannya dengan realitas, biasanya disebut subjektivitasnya. Karena satu objek yang sama dapat memiliki nilai tertinggi bagi satu jiwa dan nilai terendah bagi jiwa lainnya, dan sebaliknya, serta karena di sisi lain perbedaan yang paling luas dan ekstrem antar objek dapat sejalan dengan kesetaraan nilai, maka tampaknya hanya subjek dengan suasana hati dan responsnya yang biasa atau luar biasa, tetap atau berubah, yang menjadi dasar untuk penilaian.

Subjektivitas ini, tentu saja, tidak ada hubungannya dengan subjektivitas yang merujuk pada 'persepsi saya' terhadap keseluruhan dunia. Karena subjektivitas nilai membandingkan nilai dengan objek yang ada, tanpa memperhatikan cara objek tersebut dipersepsikan. Dengan kata lain, subjek yang memahami semua objek berbeda dari subjek yang dihadapkan pada objek-objek tersebut; subjektivitas yang dimiliki nilai bersama dengan objek lainnya tidak berperan di sini. Begitu p**a, subjektivitas ini bukan hanya semata-mata kehendak bebas; ketergantungan pada realitas tidak berarti bahwa nilai bisa diberikan dengan kebebasan yang tidak terkendali dan sewenang-wenang. Nilai ada dalam kesadaran kita sebagai fakta yang tidak dapat diubah lebih dari realitas itu sendiri. Oleh karena itu, subjektivitas nilai pertama-tama hanya bersifat negatif, dalam arti bahwa nilai tidak melekat pada objek dengan cara yang sama seperti warna atau suhu. Yang terakhir, meskipun ditentukan oleh indera kita, disertai dengan perasaan ketergantungan langsung pada objek; tetapi dalam hal nilai, kita segera belajar untuk mengabaikan perasaan ini karena kedua rangkaian yang dibentuk oleh realitas dan nilai sama sekali independen satu sama lain. Satu-satunya kasus yang lebih menarik daripada karakterisasi umum ini adalah kasus di mana fakta psikologis tampaknya mengarah pada pandangan yang berlawanan.

Dalam arti empiris maupun transendental apa pun perbedaan antara objek dan subjek dipahami, nilai tidak pernah menjadi sebuah "kualitas" dari objek, melainkan sebuah penilaian terhadap objek yang tetap inheren dalam subjek. Namun demikian, baik makna dan isi yang lebih dalam dari konsep nilai, maupun signifikansinya bagi kehidupan mental individu, maupun peristiwa dan pengaturan sosial praktis yang didasarkan padanya, tidak dapat dipahami dengan cukup hanya dengan merujuk nilai pada "subjek". Jalan menuju pemahaman nilai terletak di wilayah di mana subjektivitas tersebut hanya bersifat sementara dan sebenarnya tidak terlalu esensial.

Want your school to be the top-listed School/college in Lamongan?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Website

Address


Lamongan