19/04/2022
FORMALITAS SEJAK DINI, YANG MENDARAH DAGING
Hi para pembaca😉 kalo mau baca setatus ini siapin cemilannya karena agak panjang tapi bermakna dan berpotensi membuat Anda semua tersindir😎 cuman yang pasti status ini dibuat karena keresahan penulis pribadi, merujuk dari judul di atas pasti akan terbaca kemana arah tulisan ini akan bermuara, mari kita langsung pada pembahasan. Disadari atau tidak kenyataan membuktikan kita sudah terbiasa melakukan apapun berlandaskan formalitas belaka, maka tidak heran jika bibit yang ditanam untuk "formalitas saja" Hasil buah yang tumbuh menjadi buah yang begitulah kualitasnya (tumbuh dan melakukan apapun hanya untuk formalitas tanpa ada esensi yang berbobot). Maka tidak heran jika kebanyakan anak yang dulu diberikan kegiatan, aktivitas, atau maybe makanan, sekolah, dan banyak hal yang krusial lain diberikan oleh pendahulunya secara formalitas saja hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban sebagai orang tua, pendidik, penyelenggara kegiatan, dan mereka yang terkait.
Kemudian apa hubungan formalitas itu dengan keadaan sekarang? Tentunya sangat berhubungan, misal saja anak anak yang sudah seneng banget mau berangkat sekolah idealnya pendidik memberikan pengajaran yang maksimal dan semestinya diberikan sesuai hak dan kewajiban anak anakanak agar ada timbal balik yang seimbang dan adil. tidak boleh kemudian diberikan secara asal-asalan dan ya, yang kita sebut dengan formalitas belaka, tanpa kita sadari hal itu akan sangat berakibat pada tumbuh kembang, pengetahuan, dan tentunya juga ilmu yang diserap anak tidak sampai di hati, karena ngajarnya ga pake hati tapi pake formalitas yang akhirnya berhenti pada telinga kanan dan keluar pada lubang sebelahnya, bagaimana bisa begitu? Ya karena ilmu yang disampaikan tidak totalitas, hanya untuk menggugurkan kewajiban mengajar, tidak mendidik tapi hanya berhenti pada batas mengajar di depan kelas, dan melengkapi instrumen pengajaran atau administrasi sekolah saja (bahkan lebih dari itu instrumen instrumen itupun akan dilengkapi dan akan dibuat maksimal jika akan ada pemeriksaan saja, lagi lagi dibuat untuk formalitas pemeriksaan🥺) maka tidak heran p**a banyak anak yang kemudian tumbuh tanpa sopan santun dan kurang beradab.
Mari kita pindah pada hal lain, kegiatan seremonial PHBI, PHBN or PH PH yang lain kali ya, idealnya kegiatan yang tidak terjadi setiap hari dipersiapkan sedemikian rupa d**g ya, namun realitanya tidak sesuai dengan ekspektasi yang difikirkan banyak orang, kegiatan yang diadakan hanya untuk menggugurkan kewajiban (meskipun ga wajib wajib amat) , akhirnya kegiatan yang terlaksana juga kegiatan yang formalitas saja tidak disiapkan dengan maksimal, dengan mengerahkan segala tenaga, upaya dan pikiran sehingga tercapai goals yang maksimal, banyak dari kita memiliki pola pikir demikian, sehingga ya begitu tidak ada hasil dari kegiatan yang diadakan alias sia sia saja, buang buang dana, tenaga, waktunya bahkan suara kali ya😅. Namun berbeda jika kegiatan kegiatan itu dilaksanakan dengan segala persiapan, dengan upaya, tenaga dan dana yang maksimal tentunya hasilnya juga pasti beda toh ya? Coba deh dipikirkan sendiri.
Ada lagi, datang ke majlis ta'lim, yah karena dateng hanya sebagai formalitas menggugurkan kewajiban memenuhi undangan, atau karena gaenak dengan masyarakat merasa diri menjadi tokoh, akhirnya juga di tempat ga malah mendengarkan, mencari ilmu yaa akhirnya malah ghibah sana sini, ngobrol sama tetangga sebelah dan banyak hal lain, gamalah menggugurkan dosa malah berdosa adanya, ya karena dateng hanya sebagai formalitas akhirnya serba pekewuh, mau p**ang malu (takut dibilang ga menghargai, takut dibilang ini itu, takut diomongin tetangga karena merasa dirinya yang someone banget gitu, dan yang tidak disadari adalah ketakutannya karena dia sering ngomongin orang lain alias ketakutan yang tidak beralasan wkwkw) gak p**ang kok ngantuk, gadapet apa apa, capek, yaaa begitulah kira kira kalau melakukan karena formalitas (celakanya lagi mereka tanpa sadar dijadikan contoh namun agak kurang layak dijadikan rolemodel yang baik, duh menyedihkan😞)
Akibat lain karena formalitas adalah, generasi yang kemudian menjadikan apa apa hanya untuk sekedar penggugur kewajiban, yaa tidak heran lagi lawong diajarinnya kek gitu, jadi ya kalau next time ada pemimpin, terus DPR, kepala desa atau kepala kepala lain yang sudah menghabiskan banyak dana masyarakat lah kok ga menjalankan sesuai tupoksinya jebuleee rapat sekedar dateng numpang tidur, jadi inget ini Untukmu yang duduk sambil diskusi. Untukmu yang biasa bersafari. Di sana, di gedung DPR. Di hati dan lidahmu kami berharap. Suara kami tolong dengar lalu sampaikan. Jangan ragu jangan takut karang menghadang. Bicaralah yang lantang jangan hanya diam. Wakil rakyat seharusnya merakyat. Jangan tidur waktu sidang soal rakyat. Wakil rakyat bukan paduan suara. Hanya tahu nyanyian lagu "setuju......" (Pasti bacanya sambil dilaguin hihi😅) atau ngelakuin apa apa formalitas biar ndak dituntut rakyat, yang tambah ngeri jangan jangan mengambil kebijakan tidak berdasarkan kebutuhan tapi lagi lagi ya gugurin kewajiban karena dah terlanjur janji waktu kampanye wkwkw apes dunia ini, kalo dah gini sapa yang mau disalahin bundaaaa???? ya jangan disalahin si dianya, bisa jadi manusia manusia itu hadir karena formalitas sejak dini itu ada.
DAN MASIH BANYAK LAGI KALO MAU DIBAHAS🤣 intinya kebiasaan formalitas itu tanpa sadar merugikan banyak sektor kehidupan.
Tulisan ini ditulis tidak untuk menggurui namun untuk dijadikan bahan koreksi bersama agar tercipta masyarakat yang lebih baik🥰 jadilah netijen yang bijak gaissss