30/04/2022
Penetapan Hari Pendidikan Nasional dilatarbelakangi oleh sosok yang memiliki jasa luar biasa di dunia pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, yang lahir pada tanggal 2 Mei 1889.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang diselenggarakan pada setiap tanggal 2 Mei tidak semata-mata dimaksudkan untuk mengenang hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara selaku Bapak Perintis Pendidikan Nasional, namun lebih merupakan sebuah momentum untuk kembali menumbuhkan rasa patriotisme dan nasionalisme bagi seluruh insan pendidikan.
Insan pendidikan diharapkan mengingat kembali filosofi dari nilai perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam menegakkan pondasi pendidikan di Indonesia.
Salah satu nilai perjuangan Ki Hadjar dapat dilihat pada pengelolaan Taman Siswa. Pendidikan karakter di Taman Siswa dititikberatkan pada bidang kesenian. Pendidikan kesenian dipercaya dapat memperhalus budi anak. Maka setidaknya seminggu sekali anak-anak didorong untuk berlatih kesenian, salah satunya seni tari.
Setiap hari Rabu, anak-anak berkumpul di sebuah pendopo di dalam area sekolah untuk berlatih tari. Kegiatan ini biasanya disaksikan langsung oleh para pangeran sekaligus tokoh kesenian Keraton Yogyakarta, di antaranya Pangeran Suryadiningrat dan Pangeran Tejakusuma. Mereka jugalah yang membantu Taman Siswa memperbaiki sistem pendidikan karakter siswa melalui kesenian.
Sementara itu para delegasi Kelompok Kerja Pendidikan G20 pada Maret lalu menyaksikan Tarian Srimpi Pandhelori yang diiringi musik Gendhing Pandhelori yang mempergunakan gamelan. Tarian tradisional ini biasanya ditampilkan hanya pada acara khusus di Keraton Yogyakarta.
Hal tersebut merupakan promosi budaya yang begitu diminati para delegasi. Mereka akan pulang ke negaranya membawa cerita tentang budaya kita dan yang lebih penting adalah membawa filosofinya.
ri