CITRA MANUSIA BERBUDAYA
A. Catatan Pendahuluan
Buku CITRA MANUSIA BERBUDAYA adalah salah satu buku prestisius dan magistral dari Dr. Gregor Neonbasu, SVD, PhD - terdiri dari duabelas bab. Buku ini diberi Prolog dan Epilog oleh dua orang Ilmuan besar Indonesia, Prof. Dr. Franz Magnsi Suseno, SJ dan Prof. Dr. Taufik Abdullah.
Dalam prolognya, Magnis Suseno mengatakan, “Buku ini luar biasa, tentang budaya pulau Timor, maka buku ini merupakan sumbangan penting bagi perpustakaan tentang apa dan siapa itu bangsa Indonesia.
Buku ini sungguh-sungguh sebuah karya magistral, sebuah tulisan yang akan merangsang penelitian-penelitan selajutnya. Yang khas dari buku ini adalah, baik Timor Barat Indonesia maupun Timor Leste diangkat oleh Dr. Gregor. “
Sementara itu, Taufik Abdullah dalam Epilognya menegaskan, “Bukanlah, seketika buku ini dibalik-balik, seperti dengan begitu saja “dunia yang tersembunyi” telah mulai terbuka untuk dimasuki?
Romo Gregor adalah seorang anthropolog yang telah menjadikan usaha pengenalan dan pemahaman akan corak dan dinamika kehidupan masyarakat pedesaan sebagai tugas utama….”
Saya akan mereview LIMA BAB dari SEBELAS bab dari buku ini, yang secara khusus dan intens mengkaji tentang budaya Atoin Meto.
Kelima topik yang direview adalah:
1. Sebuah Catatan Tentang Melanesia
2. Kajian Tentang Timor, Pendekatan Etik dan Emik
3. Pulau Buaya yang Sedang Tidur
4. Ekologi dan Masyarat Timor
5. Revisitasi Citra Agama Asli
Bab SATU
SEBUAH CATATAN TENTANG MELANESIA
Dalam bab ini, Gregor secara khusus mengkaji tentang Kawasan Melanesia, yang di dalamnya termasuk Indonesia dan Nusa Tenggara Timur.
Menurut Gregor, pada awal refleksi sejarah munculnya Melanesia, diungkapkan nama “Ocenia” lebih luas dibanding Lautan Pasific, yang secara konvensional merangkum lima bagian domain yakni:
(1). Benua Australia, (2). Melanesia: Papua New Guinea dan Fiji. (3) Mikronesia: Mariana, Caroline, Marshall dan Kepulauan Gilbert. (4). Polynesia: Hawai, Tahiti, semoa, Kepulauan Paskah dan Selandia Baru, serta (5). Indonesia Timur: NTT, Maluku, Papua-Indonesia dan Timor Leste.
Semua nama ini, pertama kali ditemukan oleh penjelajah Perancis bernama JULES D’URVILLE pada awal seperempat abar ke 19. Secara geo-politik, istilah Melanesia diciptakan untuk mendskripsikan wilayah geografis dan budaya sub-regional Ocenia.
Ternyata pada abad 20 – 21 pola pembagian ini direvisi dan diteliti dengan secara cermat, terlebih dari kajian antropologi di negara-negara Pasific semenjak antropolog ROGER H. KEESING (ANU Canbera), ALLAN HOWARD (Honolulu), TON OTTO (Nijmegen) dkk yang bertujuan untuk merevisi berbagai temuan di Pasific pada abad-abad silam.
Secara resmi, pokok pembicaraan mengenai Melanesia sebagai istilah, baru muncul pada abad ke – 19 yakni tahun 18 bertepatan dengan telaahan nama yang diberi oleh pakar Perancis tentang Melanesia, yang menurutnya berasal dari kata Yunani, MELAS (hitam) dan NESOS (pulau).
Sebagai kawasan, Melanesia sudah ada semenjak ribuan tahun lalu sebelum pakar Perancis memberi nama seperti disebutkan di atas. Disebutkan bahwa, jasa para misonaris katolik dan protestan mempunyai kompetensi untuk dalam memberi informasi tentang kawasan ini.
Namun untuk memastikan secara historis, dibuat kajian dan periodisasi eksplorasi bangsa-bangsa Eropa terhadap wilayah Pasific, mulai dari VASCO NUNES de BALBOA (1513), FERDINAN MAGELLAN, ALVARO DE MENDANA DE NEIRA dan PEDRO FERNANDEZ QUIROS.
Setelah deretan penamuan ini, selanjutnya makin banyak orang Eropa yang getol datang ke kawasan-kawasan ini dan membuat deskripsi faktual tentang apa yang mereka alami di kawasan-kawasan ini.
Pada kajian integral sejarah Ocenia, perlu diperhatikan bahasa dalam hal ini bahasa Austronesia. Namun ini secara asli telah membentuk satu ikatan yang sengat erat, dari segi derajat keragaman internal dan waktu yang cukup lama untuk rumpun bahasa utama lain seperti, Austro-Asiatic, Uto-Aztecan, Indo-Eropa.
Sudah sejak lama bahasa Austronesia merupakan salah satu bahasa yang paing luas di dunia, dengan penhyebarannya sepanjang pulau Madagaskar samapi ke pulau Paskah.
Saat ini orang-orang yang berbahasa Austronesia meliputi sebagian besar wilayah populasi asli Indoenesia, Malaysia, Filipina dan Madagaskar. Bahasa Austronesia juga ditemukan di Taiwan, bagian selatan Vietnam dan Camboja, Kepulauan Mergui di sekitar pantai Burma dan Pulau Hainan di Cina selatan.
Ke arah Timur, bahasa Austronesia dituturkan di beberapa wilayah pesisir Papua Nugini, Britania Baru, Irlandia baru dan menuju ke rentetan pulau Melanesia malalui Kepualaun Salomon dan Vanuatu sejauh Kaledonia Baru dan Fiji. Dari tempat itu, perluasan terus berlangsung kea rah Timur, termasuk semua bahasa Polinesia dan ke arah utara untuk memasukkannya ke semua kawasan Mikronesia.
Diperkirakan, sekitar 1000 – 2000 bahasa Austronesia yang berbeda. Bahasa tersebut dituturkan oleh kurang lebih 270 juta orang yang penyebarannya tidak cukup merata. Sekitar 2 juta orang penutur bahasa Austronesia yang bertempat di bagian barat dari garis utara ke bagian selatan sekitar 130 derajat BT, membentang dari sebelah barat pulau Caroline ke bagian timur dari kepala burung di Papua.
Kita mencoba melihat ikhtisar global peneltian antropologi tentang asal-usul dan migrasi ras Melanesia. Ada tiga pernyataan pokok: (1) Dari mana mereke berasal? (2) Kapan mereka datang? (3) Bagaimana mereka datang? Ternyata tidak ada jawaban yang mudah atas pertanyaan-pertanyaan ini.
Ada baanyak pendekatan, teristimewa apa yang telah dilakukan Melanesian Institute di Goroka pada tahun 2004 sebagai berikut: Pertama, di bidang Arkeologi Ras Melanesia dikenal memiliki daya adaptasi dengan lingkungan sepanjang waktu.
Karena selama ribuan tahun, terjadi perpindahan pendiduk dari kawasan asal munuju domain yang sekarang diduduki, baik di kawasan Pasific maupun di Nusantara atau seluruh kawasan Ocenia.
Dalam perspektif Antropologi Lingguistik, bahasa yang digunakan ras Melanesia dibag menjadi dua kelompok yaitu, Austronesia, bahasa dan Non-Austronesia.
Pertama, Bahasa Austronesia, bahasa Proto-Austronesia sebagai bahasa leluhur sudah ada di Taiwan sekitar 6000 tahun yang lalu. Taiwan masih memiliki empat bahasa Austronesia utama. Keturunan penutur tiga bahasa Austronesia (Ityalic, Tsouic, Paiwanic) hidup hanya di Taiwan.
Beberapa penutur dari Proto-Melayu-Polinesia berimigrasi ke selatan dari Taiwan ke Filipina sekitar 6000 tahun yang lalu.
Di sana dikatakan bahwa Proto-Melayu-Polinesia dibedakan menjadi keluarga pertama Proto-Melayu-Polinesia Barat (Bahasa Filipina, Kalimantan, Malaysia, Jawa, Sumatera, Madagaskar, Sulawesi, Chamic di Vietnam Selatan, dll). Dan Proto-Tengah Timur Melayau-Polinesia (Bima di Sumbawa, Sundah lebih rendah, Maluku Tengah, Kepulauan Sunda Kecil dan Pantai Selatan Papua Barat.
Kedua, Central Timur Malayu-Polinesia dipisahkan menjadi Proto-Melayu-Polinesia Tengah dan Proto-Melayu-Polinesia Timur. Ketiga, Penutur dari Proto Tengah Melayu Polinesia menetap di Indonesia Tenggara. Keempat, Penutur dari Proto Timur Polinesia pindah ke pulua-pulau Pasifik. Kelima, Proto-Melayu-Polinesia Timur dipisahkan menjadi Proto Selatan Halmahera Barat New Guinea dan Proto Ocenia. Keenam, penutur dari Proto –Ocenia pindah ke Tanah Papua Nugini dan sisianya ke Melanesia.
Dari segi Antropologi Fisik, terlihat adaptasi dari tubuh manusia. Salah satu cara untuk mempelajari asal-usul masyarakat adalah dengan melihat zat kimia dalam daarah: antigen, globulin, globulin-gamma dan pelbagai enzim. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan, penduduk Melanesia menunjukkan beberapa hubungan dengan penduduk Polinesia dan Mikronesia, dan kemudian beberapa berhubungan dengan Asia dan Aborigin, Australia. Penduduk Melanesia memiliki sedikit hubungan dengan Afrika.**
Gregor Anthropological Group
GREGOR ANTHROPOLOGICAL GROUP merupakan suatu “gerakkan akademik” yang memiliki tiga nilai fundamental yakni, PROSPERITY, SOLIDARITY dan HUMANITY.
13/12/2020
FGD DI SONAF MAESLETE KEFAMENANU
Hari ini 12 Desember 2020, Gregor Anthropological Group (GAG) bekerja sama dengan DIRJEN KEBUDAYAAN RI dan Yayasan GO GREEN - GO CLEAN JAKARTA, mengadakan FGD (Forum Group Diskusi) dengan tema: Mancari Bentuk Jejaring Sosial antara Suku ATO, BANA, LAKE, SANAK.
Acara ini difasilitasi oleh Panitia setempat, yang dipandu oleh Janssen Meko dari Staf GAG, Bapak Johanes Sanak bersama Kelompok Anak Muda SIMPANG SEMBILAN.
Hadir dalam acara ini:
• PARA USIF (Raja) Ato, Bana, Lake dan Sanak.
• Para Amaf dari ke-empat suku
• Kadis Pariwisata TTU
• Tokoh Masyarakat
• Ke-lima Staf Dirjen Kebudayaan RI
• Majen (Purnawirawan) Saurip Kadi bersama Istri
• Budayawan ABAH ALAM dari Bandung bersama staf
Keynot Speaker dalam kesempatan ini, P. Gregor Neonbasu, SVD, PhD dan Pater Dr. David Amfotis, SVD berbicara tentang EKOLOGI dalam perspektif Atoen Meto.
FGD ini sekaligus menjadi moment ETNOGRAFI yang dirangkum oleh STAF GAG untuk menjadi buku sejarah dari Ke-Empat Raja ini.
GAG baru terbentuk 3 bulan tetapi program-program kerjanya didukung sepenuhnya oleh Kemenhan, Kemendikbud, Kemenag dan Pemerintah Provinsi NTT dan tentu oleh masyarakat.
Pilihan program unggul GAG adalah FOKUS pada penelitan dan upaya menggali nilai budaya dan kearifan lokal masyatakat dengan menggunakan media FGD dan Etnografi. **
* Kefamenanu, 12 Desember 2020
27/11/2020
KETUA GAG BERTEMU MENAG
Malam ini, Ketua GAG P. Gregor Neonbasu, SVD, PhD bersama Sekretaris II GAG, Yanssen Meko, SE bertemu khusus dengan Menteri Agama RI, Jenderal (Purn) Fachrul Razi di Hotel Aston.
Kepada MENAG RI, P. Gregor, SVD menyampaikan VISI - MISI GAG dan soal kepedulian terhadap Budaya Melanesia.
MENAG RI sangat setuju dan dukung GAG yang perduli Budaya Melanesia. Beliau berjanji siap memfasilitasi kegiatan GAG.
Kepada MENAG, P. Gregor menyerahkan dua buku, (1). Citra Manusia Berbudaya, sebuah monografi tentang Timor dlm perspektif Melanesia dan (2). Sketsa Dasar Mengenal Manusia dan Madyarakat.
MENAG menerima dan memuji dua buku “berbobot” ini. Beliau berjanji utk mendukung rencana kerja GAG jangka panjang, menengah dan jangka pendek.**
* Kupang, 27 November 2020
19/11/2020
TIM GAG BERTEMU DENGAN GEBERNUR NTT
Tgl. 3 November 2020, Tim GAG bersama Ketua GAG P. Gregor Neonbasu, SVD, PhD bertemu dengan Gubernur NTT dan beberapa Kepala Dinas di Kantor Gubernur.
Agenda pertemuan adalah, membicarakan kontribusi GAG dalam upaya menggali budaya dan keatifan-kearifan lokal, yang merupakan sumber kekuatan untuk mendukung semua komponen pemerintah dalam upaya membangun NTT.
Pertemuan berlangsung 2 jam. Diwarnai dengan sharing gagasan yang bernas. Warna pertemuan lebih relaks dari pada formal.**
* Kupang, 3 November 2020
15/11/2020
MENELUSURI SEJARAH MASA LALU
Bersama Ketua GAG, Dr. Gregor Neonbasu, SVD mengadakan “Penggalian Data” Sejarah Usi Meko dan Suku Naimeko di Sonaf Manamas, 14-15 November 2020.
Banyak temuan baru yang luput dari beberapa penulis sejarah.
Terimakasih banyak untuk AMA - ENA Suku Naimeko yang berkenan hadir dan memberi sumbangan pemikiran yang sungguh bernas. **
* Manamas, 15 November 2020
05/11/2020
JUMPA KONSENTRASI DI KANTOR DPR TTS
Hari ini, 3 November 2020, setelah mengadakan pertemuan dengan GUBERNUR NTT bersama para Kepala Dinas di Kantor GUBERNUR (12.00-13.30), Tim Gregor Anthropological Group (GAG) menuju Kota SOE, untuk “Kuliah Bersama” di Kantor DPR TTS.
Yang dibahas dalam kuliah saat itu adalah, tentang TEORI KONFLIK. P. Gregor Neonbasu, SVD, PhD menjelaskan begitu rinci tentang Teori Konflik dalam perpsektif antropologis.
Hadir dalam kesempatan ini, Letjend SAURIP KADI dan Ibu Justiani dari Jakarta. Semalam di Kota Soe, menjadi “kaya” kisahya, karena aneka diskusi yang begitu inspirarif.**
* Soe, 4 November 2020
09/10/2020
PERTEMUAN VIA ZOOM
Tanggal 5 Oktober 2020, Tim Gregor Anthropological Group (GAG) mengadakan Pertemuan melalui zoom, bersama Tim Dirjen Kebudayaan - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Banyak hal yang didiskusikan dalam pertemuan ini, khususnya tentang program penelitian di bidang antropologi dan budaya.
Langkah untuk bekerjasama dengan Dirjen Kebudayaan RI, merupakan suatu cara untuk menggali nilai kearifan lokal, yang dapat menjadi sumbangan demi memperkaya nilai kehidupan bersama.**
* Oebufu, 5 Oktober 2020
09/10/2020
ZIARAH MANUSIA DALAM BINGKAI IMAN
Siang ini (9 Oktober 2020) buku ZIARAH MANUSIA DALAM BINGKAI IMAN tiba di tangan penulisnya, P. David Amfotis, SVD.
Buku yang diberi prolog oleh P. Gregor Neonbasu, SVD, PhD dan diterbitkan oleh Penerbit Pohon Cahaya - Jogyakarta bekerja sama dengan Gregor Anthropological Group (GAG) ini, merupakan sebuah buku yang bernas.
Dalam buku ini, penulis mengulas dengan begitu menarik beberapa tema tentang IMAN KRISTIANI. Dikemas dengan bahasa yang lugas, renyah dan enak dibaca.
Wawasan Anda tentang iman akan bertambah, jika Anda berkenan membaca buku ini. **
Cf.... Penulis memegang bukunya.
* Oebufu, 9 Oktober 2020
26/09/2020
APA ITU SPIRITUALITAS KOSMIS (?)
Tiga tahun yang lalu, P. Gregor Neonbasu, SVD diundang oleh Badan Kerjasa Religius Keuskupan Surabaya (BKRKS) untuk memberi seminar tentang SPIRITUALITAS KOSMIS.
Seminar mengambil tempat di Aula RKZ Surabaya. Dihadiri banyak banyak Suster, Frater, Bruder dan Romo dari beberapa tarekat.
Seminar dibuka oleh Vikep Religius (P. Fritz Meko, SVD) sekaligus bertindak sebagai moderator. Dalam sambutannya, Ketua BKRKS, Sr. Lusia Wahyuni, SSpS mengatakan, “Kahadiran P. Gregor sebagai seorang antropolog, tentu akan membawa angin segar bagi kita semua, bagaimana memahami spiritualitas kosmis. Salama ini kita hanya memahami spiritualitas ilahi. Semoga masukan dari Pater Gregor membuka wawasan kita untuk lebih memahami apa itu spiritualitas kosmis.”
Sebelum memberikan seminar, Pater Gregor sempat bertemu dengan antropolog Senior dari Universitas Airlangga, P. Dr. Habil Jozef Glinka, SVD. Keduanya berdiskusi banyak tentang relevansi antropologi dalam realitas hidup sosial politik. **
* Oebufu, 26 September 2020
24/09/2020
KUNJUNGAN SEJENAK
Mengunjungi “Setia Novanto Centre” Kupang bersama Majen Saurip Kadi bersama Istri (Bu Justin), Ketua GAG P. Gregor Neobasu, SVD, PhD dan teman-teamannya.**
* Kupang, 24 September 2020
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Contact the school
Telephone
Website
Address
Jalan Kejora/Gang Sawah Belakang Gor
Kupang
85001