19/12/2025
SERUAN SAYYIDINA IBRAHIM A.S. KEPADA SELURUH UMAT MANUSIA
Ketika Allah Swt. mewahyukan kepada Ibrahim sebagaimana firman-Nya:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Dan serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan dengan mengendarai unta-unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. al-Ḥajj: 27)
Kata “أذِّن” berasal dari kata الأذان yang berarti pengumuman atau seruan.
Kata “رجالاً”* adalah jamak dari *رَاجِل* yang berarti pejalan kaki.
Adapun “الضامر” berarti hewan tunggangan yang kurus, seperti unta dan kendaraan sejenisnya.
Kata “الفج” pada asalnya bermakna celah atau jarak di antara dua gunung, kemudian digunakan untuk menunjukkan jalan-jalan yang luas.
Sedangkan “عميق” bermakna jauhnya jarak tempuh.
Disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Ibrahim dalam tafsirnya:
"Ketika Sayyidina Ibrahim menerima perintah Ilahi tersebut, ia berkata: “Wahai Tuhanku, suaraku tidak akan sampai ke pendengaran seluruh manusia.” Maka Allah Swt. berfirman: “Tugasmu hanyalah menyeru, dan kewajiban-Ku-lah menyampaikan.” Lalu Sayyidina Ibrahim a.s. naik ke tempat maqam, meletakkan kedua jarinya di telinganya, dan berseru: “Wahai manusia! Telah diwajibkan atas kalian haji ke Baitullah al-‘Atiq, maka penuhilah panggilan Tuhan kalian.” Lalu Allah Swt. menyampaikan seruan itu hingga sampai ke pendengaran seluruh manusia, bahkan kepada mereka yang masih berada di sulbi ayah-ayah mereka dan di rahim ibu-ibu mereka. Lalu mereka menjawab: “Labbaikallāhumma labbaik.”
Sesungguhnya orang-orang yang menunaikan ibadah haji sejak hari itu hingga Hari Kiamat adalah mereka yang telah memenuhi seruan Nabi Ibrahim a.s.
Pengertian Haji
Secara bahasa, haji berarti menuju dan mendatangi sesuatu yang diagungkan. Secara istilah syariat, haji adalah menuju Baitullah al-Ḥaram dan tempat-tempat suci lainnya untuk menunaikan ibadah tertentu, pada waktu tertentu, dan dengan tata cara tertentu.
---
Awal Kisah
Allah Swt. berfirman:
وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa perintah, lalu Ibrahim melaksanakannya dengan sempurna. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi manusia.’".(QS. al-Baqarah: 124)
Pertama:
Ketika Allah Swt. menguji Nabi Ibrahim dengan berbagai kewajiban syariat, lalu beliau menunaikannya secara sempurna. Di antaranya adalah ketika Allah memerintahkannya membawa putranya Sayyidina Ismail dan istrinya Siti Hajar ke sebuah lembah tandus, tidak berpenghuni, tanpa tanaman dan air, di sekitar Baitullah al-Ḥaram—yang pada saat itu jejaknya telah tertimbun oleh faktor alam dan kekeringan.
Sayyidina Ibrahim a.s. melaksanakan perintah tersebut dengan penuh kepatuhan kepada Allah Swt. Padahal hal itu merupakan ujian yang sangat berat bagi seorang ayah, terlebih beliau baru dikaruniai anak di usia lanjut, sekitar delapan puluh tahun.
Ia meninggalkan keduanya dengan keyakinan penuh bahwa Allah Swt. tidak akan menelantarkan mereka, seraya berdoa:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dimuliakan.” (QS. Ibrahim: 37).
Adapun hikmah pemilihan tempat tersebut, beliau memanjatkan doa:
رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ “Ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan agar mereka bersyukur.”
Kedua :
Ketika Sayyidina Ibrahim a.s. melihat dalam mimpi bahwa ia menyembelih putranya. Mimpi para nabi adalah wahyu dari Allah Swt. Ismail saat itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat, dan Allah menggambarkannya sebagai anak yang penyantun: فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
“Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang halim.” (QS. aṣ-Ṣāffāt: 101).
Sayyidina Ibrahim a.s. berkata:
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”**
Tanpa ragu, Sayyidina Ibrahim a.s. bertekad melaksanakan perintah Allah. Ia tidak menoleh pada rasa iba dan kasih sayang ayah terhadap anaknya, tidak p**a menghiraukan jeritan hati seorang ibu, Siti Hajar, dan tidak tergoda oleh bisikan setan. Yang ada hanyalah kekuatan iman dan keteguhan tekad untuk menaati perintah Allah Swt.
Hingga datanglah pertolongan Allah Swt., sebagaimana firman-Nya:
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ(106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, Kami pun memanggilnya: ‘Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar.” (QS. aṣ-Ṣāffāt: 103–107).
Dari peristiwa inilah Allah Swt. mensyariatkan ibadah kurban (nahr) pada pagi hari Idul Adha, yang kemudian menjadi bagian dari manasik haji.
---
Setelah itu, Sayyidina Ibrahim menerima perintah Allah Swt.:
إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang beriktikaf, yang rukuk dan sujud.’” (QS. al-Baqarah: 125).
Lalu keduanya meninggikan fondasi Baitullah al-Ḥaram. Baitullah dibangun di padang pasir Arab yang gersang sebagai pusat tauhid, menolak kesyirikan dan penyembahan berhala. Orang-orang beriman pun menjadikannya tempat suci yang diziarahi setiap tahun. Diriwayatkan p**a bahwa para nabi setelah Sayyidina Ibrahim a.s. juga menunaikan haji ke Baitullah.
Namun, seiring waktu, penyembahan berhala masuk ke Makkah. Kaum Arab menempatkan patung-patung di sekitar Ka‘bah dan berhaji dengan niat mendekatkan diri kepada berhala, bukan kepada Allah Swt. Lalu Allah Swt. mengabulkan doa Nabi Ibrahim a.s.:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ “Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan ayat-ayat-Mu kepada mereka, mengajarkan Kitab dan hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Baqarah: 129).
Ketika Allah Swt. mengutus Baginda Nabi Muhammad saw., beliau membebaskan Makkah dari belenggu kesyirikan dan membersihkan Baitullah dari berhala-berhala. Sejak saat itu, kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia datang setiap tahun dari tempat-tempat yang jauh untuk menunaikan haji, dalam pemandangan yang agung dan menggugah jiwa, seraya memenuhi seruan Sayyidina Nabi Ibrahim a.s. dan mengumandangkan kalimat tauhid:
Labbaikallāhumma labbaik.
Labbaik lā syarīka laka labbaik.
Innal-ḥamda wan-ni‘mata laka wal-mulk,
lā syarīka lak.
---
Referensi: https://gate.ahram.org.eg/News/2249687.aspx