25/04/2013
Banyu Panguripan ?
Ada yang tau Ceritanya ?
bawah menara kudus sendiri terdapat
sumur kehidupan,konon katanya jika orang
mati disiram pakai air dari sumur ini maka
orang mati itu akan hidup kembali,apalagi
orang sakit.
Bahkan katanya sumur ini pernah di ukur
kedalamannya,tapi aneh sumur ini tak
mempunyai dasar.
cerita rakyat, konon di bawah
Menara Kudus, dahulu ada sumur yang
disebut “banyu penguripan.” Namun
setelah Islam datang air penghidupan di
tutup dan diatasnya di bangun sebuah
menara.
Bahaya, Sumur Penguripan pun
Ditutup
SITUS Menara Kudus Kulon, sebagaimana
diberitakan sewaktu direnovasi dan
direvitalisasi. Bagaimana dan mengapa
perbaikan c***r budaya itu dilakukan?
Berikut laporannya
Air Penguripan
Mengapa menara tak direnovasi? Najib
beralasan secara teknis dan pertimbangan
faktor lain, renovasi tak mungkin itu
dilakukan. Alasan teknis yang
dikemukakannya patut dipertanyakan.
Sebab, dia bukan ahlinya. Apalagi, kata
perencana dan pemugar dari Kantor Suaka
Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jateng,
Sudarno ST, asal ada dana dan kerusakan
parah, bisa saja menara direnovasi.
Yang disebut Najib "faktor lain" itulah
rupanya yang jadi alasan pokok persoalan
kenapa dia tak berani merenovasi. Yakni,
pertimbangan mistis atau supranatural. Dia
tak begitu berselera menjelaskan latar
belakang alasan itu.
Mungkin saja, sebagaimana cerita yang
beredar di sejumlah kalangan orang Kudus,
yang dimaksudkan "faktor lain" oleh Najib
adalah kisah sumber air kembar. Menurut
cerita rakyat, legenda, atau apa pun
namanya, di bawah bangunan menara ada
sumber air.
Syafwandi dalam bukunya pun
menyinggung soal sumber air itu. Konon,
sebelum menara dibuat di lokasi itu ada
dua sumber air kembar yang disebut banyu
penguripan (air kehidupan). Disebutkan,
siapa yang meminum air dari sumber itu
bakal hidup abadi.
Para wali menganggap itu berbahaya bila
dimanfaatkan orang-orang jahat. Karena itu
Sunan Kudus menutup sumur itu dengan
mendirikan bangunan menara di atasnya.
"Bapak (KH Turaichan) pernah bercerita
pada saya dan Ibu. Zaman cilikannya (kecil-
Red) dulu mengulurkan sepanjang-
panjangnya benang layang-layang yang
diberi bandul batu dari atas menara, lalu
terdengar suara plung. Tapi saat ditarik
kembali, benang itu tidak basah. Dulu ada
lubang di atas menara. Sekarang sudah
ditutup," tutur KH Khoiruzzad.
Putra KH Turaichan (almarhum) itu
menuturkan ayahnya, yang kelahiran tahun
1915, sering bermain di atas menara
sebelum tahun 1930. KH Khooiruzzad tak
ingin memastikan di bawah menara itu
benar-benar ada sumur. "Apa itu bisa
disamakan dengan cerita Dewa Ruci, yakni
Bima mencari air kehidupan?" tanya dia.
Dia cenderung menilai sumur kembar
dengan banyu penguripan itu sebagai
sanepa (kiasan). "Sebab, sesungguhnya kita
hidup di dunia ini kan untuk mencari bekal
hidup yang lebih lama lagi?" ucap dia.
Terlepas dari semua itu, dalam pandangan
KH Khoiruzzad, seharusnya dilakukan
istikharah atau nelik lebih dulu bilamana
ada rencana merenovasi bangunan itu.
"Kalaupun direnovasi pasti tidak akan
seindah atau sama dengan sebelum
direnovasi," kata Najib, seakan menegaskan
tak perlu renovasi.
Tetap Jadi Magnet
Kompleks Masjid Menara, dengan lebar 50
m (depan) dan 75 m (belakang) serta
panjang 150 m, berada di Desa Kauman,
Kudus Kulon, atau di utara ruas Jalan Sunan
Kudus. Selain bangunan menara dan pagar
serta gapura kuno, di kompleks itu ada
Masjid Al Aqsha, madrasah, pendapa tajug,
dan makam.
Di makam belakang masjid ada pusara
Sunan Kudus. Ratusan penziarah setiap hari
selama 24 jam mengunjungi makam Raden
Dja'far Sodiq, satu dari Wali Songo itu. Lalu
lalang penziarah tak urung cukup
mengganggu para pekerja yang merenovasi
gapura di dekat cungkup makam sang
sunan.
Karena itu tak mengherankan bila dua
pekerja dari Kantor Suaka Peninggalan
Sejarah dan Purbakala Jateng (Prambanan)
mengeluhkan "gangguan" yang sering
mereka alami. Bata-bata kuno bongkaran
gapura yang sebelumnya dibersihkan dan
dipasang kembali satu per satu amburadul
kembali karena terinjak para penziarah.
"Ini terjadi karena tujuan orang yang
datang ke makam Wali Songo lain dari saat
mereka mengunjungi candi atau tempat
bersejarah lain. Begitu orang selesai ziarah
ke makam Sunan, ya sudah selesai dan
pulang. Mereka tidak mengamati
keindahan bangunan kuno ini," cetus
Rabiman dan Supardi dari Kantor Suaka
Peninggalan Sejarah dan Purbakala.
Pengelolaan situs menara yang dilakukan
YM3SK, antara lain memanfaatkan,
memperbaiki, membersihkan, dan
merawat, tentu menyedot dana tak sedikit.
Keterbatasan dana pemerintah memaksa
mereka memikul sendirian biaya yang
dibutuhkan. Dana antara lain diperoleh dari
pengunjung atau penziarah, yang
memberikan secara sukarela.
Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan
Purbakala sejak tahun 1976 hingga
sekarang hanya membantu secara teknis
dalam pemugaran atau renovasi. Tahun
1977, misalnya, merenovasi sebagian pagar
dan gapura kuno. Juga renovasi yang kini
digarap.
"Kompleks masjid Menara Kudus
merupakan living monument," kata
perencana dan pemugar dari kantor suaka
itu, Sudarno ST. Dia menuturkan sebagian
unsur bangunan seperti masjid yang terdiri
atas ruang utama, serambi, tempat wudu,
dan bangunan penyerta seperti sekolah
adalah baru. "Jadi dapat diubah."
Menara tetap menjadi magnet pada era
gobal sekarang. Puncaknya, selain pada
hari-hari menjelang awal Ramadan juga
saat dilangsungkan acara ritual buka luwu.
Buka luwur adalah upacara mengganti tirai
atau kelambu cungkup dan pusara makam
Sunan Kudus setiap tanggal 10 Muharam.
Belasan ribu warga dari berbagai kota
menyempatkan diri datang saat buka
luwur. Mereka ngalap berkah, antara lain
rela antre untuk mendapat bagian nasi
berbungkus daun jati. YM3SK menyediakan
nasi bungkus, rata-rata di atas 15.000
bungkus setiap 10 Muharam.
Puluhan ulama dan tokoh masyarakat
mengikuti secara khusus pembacaan tahlil
dan doa sebelum pemasangan luwur baru
dilakukan. Acara itu biasanya dilangsungkan
di sekitar tajug (pendapa kecil) yang
merupakan jalan masuk utama bagi orang
yang akan berziarah.
Pembacaan tahlil dipimpin ulama yang
dituakan. Saat buka luwur yang baru lalu
pemimpin pembacaan tahlil adalah KH
Sya'roni Achmadi. Ketika masih sehat, KH
Turaichan yang memimpin. Ulama yang ahli
ilmu falak itu meninggal beberapa tahun
lalu dan dimakamkan di sebelah selatan
cungkup makam Sunan Kudus.
Di samping buka luwur, ritual lain yang
diadakan di tajug adalah jamasan pusaka
Sunan Kudus berupa keris Ciptaka setiap
tahun sekali. Acara itu selalu dilangsungkan
pada hari terakhir tasyrik pada bulan
Dzulhijah.