09/07/2017
SEANDAINYA TAHU, ENGKAU TIDAK AKAN MAU JADI FOLLOWER-KU
"MasyaAllah followernya sudah banyak sekali ustadz…"
~(berkata dalam hati) “follower aku sudah banyak, berarti aku memang orang penting dalam dakwah”
~(berkata dalam hati) “sering-sering copas sana, copas sini ah, supaya status tersebar, banyak yang share trus nanti banyak yang follow akun ku”
“Ustadz, kok ga’ bisa add friend? Aku mau jadi friend ustadz, karena banyak faidahnya, atau aku follow saja ustadz?”
✏✏ Seandainya engkau tahu 😞😞
✒ “Seandainya engkau tahu, ternyata aku sering melanggar apa yang aku ucapkan, melanggar apa yang aku jadikan status, melanggar nasehat yang sering aku share, tentu engkau akan tidak simpati setiap melihatku”
✒ “Seandainya engkau tahu, ternyata aku sering bermaksiat tatkala sendiri, tatkala hanya berdua saja aku dan Allah yang tahu, tentu engkau akan meludah di tempat atau bahkan di mukaku”
✒ “Seandainya engkau tahu, ternyata aku sering masbuk ketinggalan shalat berjamaah”
✒ “Seandainya engkau tahu, ternyata aku hanya rajin ketika bersama orang lain saja, agar dipuji dan disanjung”
"Seandainya engkau tahu, ternyata aku hanya ramah pada teman-teman saja di luar, di rumah terhadap keluarga aku kasar dan tidak bertanggung jawab”
🔸🔸
Demikianlah orang yang shalih dan tidak menyucikan dirinya sendiri.
Ibnu Mas’ud yang memilik banyak pengikut (mengikuti untuk belajar, karena belajar di zaman dahulu demikian, diikuti untuk mengambil faidah dari ilmu, akhlak dan sikapnya).
✏✏ Akan tetapi beliau berkata, sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu :
ﻟﻮ ﺗﻌﻠﻤﻮﻥ ﺫﻧﻮﺑﻲ ﻣﺎ ﻭﻃﺊ ﻋﻘﺒﻲ ﺍﺛﻨﺎﻥ، ﻭﻟﺤﺜﻴﺘﻢ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﺳﻲ، ﻭﻟﻮﺩﺩﺕ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﺫﻧﺒﺎ ﻣﻦ ﺫﻧﻮﺑﻲ، ﻭﺃﻧﻲ ﺩﻋﻴﺖ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺭﻭﺛﺔ . ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻭﻏﻴﺮﻩ .
“Kalau kalian mengetahui dosa dosaku maka tidak akan ada dua orang yang berjalan di belakangku (mengikutiku) dan sungguh kalian akan melemparkan tanah di atas kepalaku, dan aku berangan-angan Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan aku dipanggil Abdullah bin Kotoran.” [1]