08/08/2019
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَا الْعَمَلُ في أيَّامِ الْعَشْرِ أفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِيْ هَذِهِ. "Tidak ada amal yang lebih utama daripada sepuluh hari (pertama bulan Dzulhijjah) ini." [HR. Al-Bukhari no.969]
Sebagian istri Rasulullah menghikayatkan,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَصُوْمُ تِسْعَ ذِيْ الْحِجَّةِ
"Rasulullah berpuasa sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah." [HR. Abu Dawud no. 2437]
Asy-Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami karenanya menyatakan:
وَيُسَنُّ بَلْ يَتَأَكَّدُ صَوْمُ تِسْعِ الْحِجَّةِ
"Disunnahkan, bahkan sangat ditekankan, puasa sunnah pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah."
[Tuhfatul Muhtaj (III/454)] Asy-Syaikh Syamsuddin Ar-Ramli mempertegas:
وَيُسَنُّ صَوْمُ الثَّمَانِيَةِ أَيَّامٍ قَبْلَ يَوْمِ عَرَفَة َ
"Disunnahkan juga puasa delapan hari pertama bulan Dzulhijjah sebelum hari 'Arafah." [Nihayatul Muhtaj (III/207)] Adapun perkataan 'Aisyah radhiyallahu 'anha, "Aku belum pernah melihat Rasulullah puasa di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sama sekali." [HR. Muslim no. 1176], maka ia dijelaskan oleh Al-Imam An-Nawawi:
"Puasa di sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah tidaklah makruh. Justru ia sangat mustahabb (dianjurkan), apalagi puasa di hari ke-9 yang merupakan hari 'Arafah. ... Ucapan 'Aisyah ini dipahami bahwa maksudnya Rasulullah tidak berpuasa saat itu karena sakit atau safar. Juga mungkin saja itu sepengetahuan 'Aisyah berdasarkan yang beliau lihat. Ini tidak serta merta menjdi bukti bahwa Rasulullah sama sekali tidak berpuasa di kesempatan lain."
[Al-Minhaj Syarh Muslim (VIII/102)] Sampai-sampai Al-Imam Al-Baihaqi membawakan kaidah, "Riwayat yang mengiyakan lebih diunggulkan daripada riwayat yang menafikan." [Fadahilul Awqat hlm. 92, cet. Darul Kutubil 'Ilmiyyah Beirut 1997]
Dianjurkannya puasa sembilan hari ini juga merupakan amalan para shahabat & tabi'in. Ia bahkan pendapat keempat Mazhab beserta juga Mazhab Dzhahiri. Memang ada juga sebagian kecil ulama yang tidak mengajurkan puasa 8 hari pertama Dzulhijjah sebagaimana diisyaratkan dalam kitab Lathaiful Ma'arif (hlm. 583-584, cet. Dar Ibni Khuzaimah Riyadh 2007). Wallahul Muwaffiq. *) oleh ust Nur Fajri Romadhon