14/01/2026
Sayyiduna Jabir bin Abdullah ra. bercerita.
Ketika kami sedang duduk, Seorang wanita datang pada Rasulullah ﷺ. Lalu wanita itu berkata,
"Assalamualaika Ya Rasulallah. Aku adalah utusan para wanita untuk datang padamu.
Allah adalah Tuhannya pria dan Tuhannya wanita, Adam adalah ayahnya pria dan ayahnya wanita, Allah Mengutus engkau wahai Rasulullah kepada pria dan wanita.
Namun para pria jika keluar di jalan Allah (berjihad), kalau terbunuh mereka tetap hidup mendapat rejeki di sisi Tuhannya, dan jika keluar (berjihad) mereka mendapat pahala dari apa yang mereka lakukan itu, sedangkan kami (para wanita) hanya berkhidmah pada suami dan duduk saja, lalu apa pahala buat kami?
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Sampaikan salamku untuk para wanita. Katakanlah pada mereka bahwa taatnya mereka pada suami pahala menyamai para pria yang berjuang disana itu. Dan sedikit dari kalian para wanita yang (sanggup) melakukannya".
Di kesempatan lain, Rasulullah ﷺ bersabda,
"Allah -Tabaroka Wa Ta'ala- Tidak Mau Melihat (dengan pandangan rahmat) kepada seorang wanita yang tidak berterima kasih pada suaminya, padahal wanita itu masih selalu membutuhkannya".
Maksudnya, setiap hari wanita ini masih menerima nafkah dari suami, masih dicukupi suami, masih tinggal si trmpat yang diberikan suami, namun begitu ada sedikit kekurangan dari suami, wanita itu lantas mengeluhkan nya seolah tak ada kebaikan sama sekali pada suaminya.
Pelajaran :
1. Pahala berkhidmah pada suami sangat besar. Bahkan mengimbangi besarnya pahala suami yang keluar berjihad di jalan Allah.
2. Berkhidmah pada suami hendaklah dengan rasa syukur dan keikhlasan. Sebab demikianlah seharusnya sikap seseorang yang tahu besarnya ganjaran.
3. Seperti apapun kekurangan suami, tidak mungkin tidak ada kelebihannya. Bersyukurlah pada Allah atas kelebihan suami, lalu bersabarlah karena Allah atas kekurangan suami. Dalam syukur dan sabar, keduanya mendatangkan Ridho Allah.