Meme Dakwah Islam v2

Meme Dakwah Islam v2 Untuk Dakwah

Hikmah di Balik Penindasan yang Dialami Rasulullah dan SahabatMelihat dakwah Rasulullah semakin masif dan banyak orang M...
17/09/2022

Hikmah di Balik Penindasan yang Dialami Rasulullah dan Sahabat

Melihat dakwah Rasulullah semakin masif dan banyak orang Mekah yang mengikuti ajarannya, membuat kaum Quraisy semakin geram. Sebagai respons atas semua itu, kaum Quraisy memutuskan untuk melakukan penyiksaan dan penindasan terhadap Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti ajarannya.

Aksi penindasan itu dipelopori oleh Abu Lahab, musuh bebuyutan umat Islam. Posisinya sebagai salah satu pemuka Quraisy, membuatnya lebih memiliki power untuk melancarkan aksi-aksinya.

Abu Lahab pernah menguntit Rasulullah saat musim haji dan di pasar-pasar. Ia mendustakan Rasulullah. Bahkan, ia juga memukuli Rasulullah dengan batu hingga kedua tumitnya berdarah. Ummu Jamil, istri Abu Lahab, juga tidak jauh beda dengan kelakuan suaminya.

Dia pernah memasang duri di jalan biasa Rasulullah lalui, mencaci, menyebar berita hoaks, menyulut api fitnah dan mengobarkan peperangan terhadap Nabi. Al-Qur'an telah mengabadikan kekejaman mereka dalam surat Al-Lahab.

Pernah suatu ketika Abu Jahal melewati Rasulullah di bukit Shafa. Ia mengganggu dan mencaci Rasuullah. Melihat tidak ada respons, Abu Jahal memukul kepala Rasulullah sampai mengalirkan darah.

Seorang bernama Uqbah bin Abi Muith pernah melilitkan kain ke leher Rasulullah hingga beliau tercekik. Saat itu posisi beliau sedang shalat di Hijir Ismail. Untung saat itu ada Abu Bakar yang segera merengkuh bahu Uqbah dan mendorongnya.

Uqbah juga pernah melemparkan jeroan unta ke punggung Rasulullah saat beliau sedang sujud. Beliau tidak bisa bangkit. Siti Fatimah datang dan mengangkat jeroan itu dari punggung ayahnya.

Pernah suatu ketika seorang kafir Quraisy menaburkan debu ke kepala Rasulullah saat lewat dekat Mekah. Sampai di rumah, wajah beliau penuh debu. Salah seorang putri beliau menyeka debu itu sambil menangis.

“Wahai putriku, janganlah engkau menangis. Sesungguhnya Allah selalu menjaga ayahmu,” tutur Rasulullah menabahkan putrinya.

Penindasan yang dialami oleh para sahabat juga tidak jauh memedihkan, bahkan lebih kejam lagi. Tidak sedikit mereka yang sampai meregang nyawa demi mempertahankan keimanannya.

Adalah Ammar bin Yasir, mantan budak Bani Makhzum, ia beserta keluarganya mengalami penyiksaan yang luar biasa. Mereka diseret di tengah terik matahari kota Makkah yang sangat panas. Ayah Ammar, Yasir, meninggal dalam penyiksaan itu. Disusul ibunya, Sumayyah.

Khabbab bin al-Arat, seorang budak milik Ummi Anmar binti Siba’ al-Khuza’iyyah, juga mengalami siksaan yang amat pedih. Ia sampai dilemparkan di api yang membara. Kemudian jasadnya ditarik-tarik hingga api padam oleh lemak yang meleleh dari punggungnya.

Seorang sahabat Nabi Saw yang berama Shuhaib bin Sinan al-Rumi disiksa sampai hilang ingatannya dan tidak mengerti apa yang diucapkannya sendiri.

Bilal, budak milik Umayyah bin Khalaf al-Jumahi, lehernya dililit dengan tali. Lalu tali tersebut diserahkan ke anak kecil untuk dibawa keliling sepanjang perbukitan Makkah. Kadang ia dipaksa duduk di bawah terik sinar matahari.

Puncaknya, ia pernah diseret keluar pada siang hari yang sangat panas. Lalu dilemparkan di tanah lapang berkerikil di kota Makkah. Setelah itu dadanya ditindih batu besar.

Masih banyak lagi bentuk penindasan yang dialami oleh umat muslim saat itu. Namun penulis tidak akan menyebutkan semuanya di sini.

Hikmah dan Pelajaran

1) Menjadi Hamba Sejati

Sebagai konsekuensi seorang hamba Allah di dunia, pasti harus menerima taklif (tanggungan). Konsekuensi taklif adalah menanggung beban-beban dalam menjalani ibadah. Sebagai contoh, shalat merupakan konsekuensi bagi seorang hamba. Dalam shalat lima waktu itu, sering seorang hamba tidak sepenuhnya melaksanakan, atau melaksanakan tapi masih ada paksaan.

Itu artinya, shalat merupakan bentuk taklif karena menjadi ‘beban’ bagi hamba. Semakin seorang hamba bisa menjalankan beban yang ditanggungnya dengan baik, semakin sempurna p**a kedudukannya di sisi Allah sebagai hamba yang taat.

Begitu pun Rasulullah dan para sahabat saat itu. Menyebarkan agama Islam dan berjihad merupakan bentuk taklif yang paling tinggi levelnya. Mengingat nasib agama Islam ada di tangan mereka saat itu. Jika mereka tetap mempertahankan dan menyebarluaskan Islam, maka Islam semakin besar.

Sebaliknya, seandainya mereka menyerah, bisa jadi Islam tidak akan sebesar sekarang. Dengan tingginya level taklif saat itu, dan mereka sanggup menjalankannya, maka mereka memperoleh derajat kehambaan yang sempurna di sisi Allah Swt.

Perlu diketahui, derajat kehambaan (‘ubudiyyah) merupakan derajat yang paling tinggi. Rasulullah sendiri pernah suatu ketika diberi pilihan oleh Allah, ingin menjadi Nabi sekaligus raja atau Nabi sekaligus hamba. Nabi lebih memilih menjadi Nabi sekaligus hamba yang mengabdi kepada Tuhannya. Nabi tahu, derajat kehambaan (‘ubudiyyah) merupakan derajat yang paling tinggi di sisi Allah. Bahkan lebih tinggi dari seorang raja sekalipun.

Bisa saja Allah memudahkan jalan dakwah Nabi Muhammad dan para sahabat saat itu, tanpa harus melalui penindasan demi penindasan. Tapi Allah ingin menempa mereka dengan menguji ketulusan iman mereka melalui cobaan demi cobaan. Sehingga mereka menjadi hamba sejati. (lihat Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah, hal 78)

Sehingga disimpulkan. Kehambaan berkonsekuensi adanya taklif, dan taklif berkonsekuensi adanya beban (masyaqqoh). (lihat Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah, hal 78)

2) Mengangkat Derajat Orang-Orang yang Beriman

Allah Swt memberi cobaan sesuai dengan tinggi derajat hamba di sisi-Nya. Semakin tinggi derajatnya, semakin berat dan berliku p**a cobaan yang diterimanya. Rasulullah Saw. dan para sahabat adalah hamba-hamba yang memiliki derajat tinggi di sisi Allah.

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?”

Beliau menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ

ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat p**a ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”

3) Menguji Ketulusan Iman

Setiap ketulusan butuh pembuktian. Allah Swt. memberikan cobaan kepada Rasulullah Saw. dan para sahabat pada saat itu juga sebagai penguji ketulusan iman mereka. Sejauh mana mereka komitmen dengan keimanannya, sejauh itu p**a ketulusan mereka. Kalau Rasulullah sudah jelas ketulusannya.

Nabi Muhammad Saw. bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar p**a. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang ridha (menerimanya) maka Allah akan meridhainya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi menuturkan,

“Kedekatan setiap muslim dengan tujuan yang hendak dicapai sebanding dengan siksaan yang mereka hadapi.” (lihat Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah, hal 79)

Masih menurut al-Buthi, beliau juga menuturkan,

“Kalau saja manusia dibiarkan mengaku-aku beriman dan mencintai Allah Swt. di bibir saja, susah membedakan mana mana yang benar-benar beriman dan mana yang isapan jempol belaka, Jadi, cobaan akan menjadi alat ukur untuk membedakan mereka yang jujur dari mereka yang dusta.” (lihat Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah, hal 78)

4) Sebagai Sunnatullah

Penindasan pan penyiksaan yang dialami oleh Rasulullah Saw. dan para sahabat merupakan sunnatullah. Artinya, nabi-nabi sebelumnya pun mengalami hal yang sama. Begitupun Nabi Muhammad Saw. Sahabat yang disiksa dengan kejam sampai meregang nyawa, juga dulu sempat dialami oleh umat nabi-nabi terdahulu. (lihat Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah, hal 79)

Sumber: https://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/hikmah-di-balik-penindasan-yang-dialami-rasulullah-dan-sahabat-booAg

Tiga Fenomena Awal Kerasulan Nabi MuhammadKeturunan dan nasab Nabi Muhammad saw merupakan nasab paling mulia nan luhur, ...
16/09/2022

Tiga Fenomena Awal Kerasulan Nabi Muhammad

Keturunan dan nasab Nabi Muhammad saw merupakan nasab paling mulia nan luhur, paling sempurna akhlak dan pribadinya. Kemuliaan nasabnya bersambung dan turun-temurun dari jalur Nabi Ismail hingga bersambung dengan ayahnya, Nabi Ibrahim.

Berikut nasabnya, Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nudhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Mu’ad bin Adnan bin Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim as.

Nasab keturunannya merupakan nasab suci yang tidak pernah dikotori dengan menyembah berhala. Kakek dan buyutnya merupakan orang-orang mulia yang sangat taat pada ajaran yang dibawa oleh kakeknya, Nabi Ibrahim. Oleh karenanya, nasab nabi Muhammad merupakan nasab mulia nan luhur, terhindar dari kemusyrikan menyembah barhala dan lainnya.

Dari sekilas penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa garis keturunan Nabi Muhammad merupakan garis pilihan secara khusus yang Allah tentukan kepadanya. Dengan kata lain, garis keturunan orang yang kelak akan mengemban risalah rasul dan kenabian merupakan keturunan suci yang tidak pernah dikotori oleh pekerjaan musyrik dan keburukan lainnya.

Pernikahan Abdullah dan Permulaan Kenabian

Syekh Ali as-Shalabi dalam kitab ¬Sirah-nya mengatakan, Sayyid Abdullah merupakan sosok seorang tokoh berpengaruh di kalangan suku Quraisy, kebaikan dan sikapnya yang sangat bertanggung jawab menjadikannya sebagai sosok yang sangat disegani. Oleh karenanya, Abdul Muthallib menikahkannya dengan wanita yang juga memiliki keturunan mulia dan nasab yang luhur, yaitu Sayyidah Siti Aminah.

Nasab Sayyid Abdullah dan Sayyidah Aminah bersambung pada urutan kelima dari kakeknya, yaitu Sayyidah Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zahrah bin Kilab. Hanya saja, setelah Sayyidah Aminah dalam keadaan hamil, suaminya wafat meninggalkannya dan anaknya, yang kelak akan menjadi nabi dan rasul.

Sebagaimana ditegaskan oleh Syekh as-Shalabi, pernikahan antara keduanya, merupakan awal mula dimulainya risalah kenabian. Dalam sebuah hadits, ketika Rasulullah ditanyakan perihal permulaan kenabiannya. Beliau bersabda,

يَخْرُجُ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ مِنْهَا قُصُورُ الشَّامِ

Artinya, “Aku (adalah) hasil doa ayahku (Nabi) Ibrahim, dan kabar gembira (Nabi) Isa. Ibuku bermimpi (ketika ia mengandungku) seakan keluar cahaya darinya, menyinari istana-istana di kota Syam.” (HR Ahmad). (As-Shalabi, as-Sirah Nabawiyah ‘Irdu Waqa’i wa Tahlili Ahdatsin, [Beirut, Darul Ma’rifah, cetakan ketujuh: 2008], halaman 46).

Dari hadits di atas, dapat kita pahami bahwa permulaan kenabian ditinjau dari tiga aspek, (1) doa Nabi Ibrahim; (2) kabar gembira Nabi Isa perihal akan diutusnya nabi dan rasul setelahnya yang akan membenarkan risalah yang dibawanya; dan (3) cahaya kanabian yang dilihat oleh ibunda Nabi Muhammad.

1. Doa Nabi Ibrahim as

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman mengabarkan tentang doa permohonan Nabi Ibrahim pada kesempurnaan penduduk Tanah Haram (Makkah). Ia memohon kepada Allah untuk mengutus seorang nabi dan rasul yang berasal dari kalangan mereka sendiri, yaitu keturunan Nabi Ibrahim. Doa itu ia panjatkan setelah membangun Ka’bah. Ia berdoa kepada Allah swt, tepatnya dalam surat Al-Baqarah, ayat 129:

رَبَّنا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آياتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya, “Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Surat Al-Baqarah, ayat 129).

Syekh Wahbah Zuhayli dalam kitab tafsirnya mengatakan, pengutusan Nabi Muhammad saw merupakan jawaban dari Allah atas doa yang pernah dipanjatkan Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah. Bahkan, semua yang diminta olehnya bisa ditemukan dalam diri Nabi Muhammad. Misalnya, Rasulullah saw membacakan dan mengajarkan ayat Al-Qur’an kepada kaumnya, mengajarkan hikmah, ilmu-ilmu syariat dan lainnya. (Az-Zuhaili, Tafsirul Munir liz Zuhayli, [Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua: 2000 M], juz I, halaman 312).

Syekh Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alusi (wafat 1270 H) menjelaskan perihal makna ayat di atas. Menurutnya, yang dimaksud “membacakan ayat-ayat Allah” adalah membacakan ayat yang menjadi wahyu bagi Rasulullah perihal tauhid dan kenabian, serta ajaran-ajaran Islam lainnya. Sedangkan yang dimaksud “mengajarkan Kitab” adalah mengajarkan lafal-lafal Al-Qur’an dan tata cara pembacaannya. Adapun yang dimaksud “mengajarkan Hikmah” adalah mengajarkan makna-makna yang tersirat di dalam Al-Qur’an.

Yang dimaksud “Dan menyucikan mereka” adalah mendoakan kaumnya dengan doa-doa yang baik, yang mengandung permohonan hidayah kepada Allah dan menerima ajaran yang dibawanya.” (Al-Alusi, Tafsir Ruhil Ma’ani, [Beirut, Darul Kutubil ‘Ilmiah, cetakan pertama: 1999 M], juz III, halaman 301).

Dari penjelasan Syekh al-Alusi di atas, dapat dipahami bahwa Rasulullah saw merupakan potret dan representasi dari doa Nabi Ibrahim setelah membangun Ka’bah yang diterima dan dikabulkan oleh Allah, setelah waktu yang sangat panjang.

2. Berita Gembira dari Nabi Isa as

Pada poin kedua, perihal permulaan pengutusan Nabi Muhammad saw, berasal dari Nabi Isa as, yaitu nabi yang diutus sebelumnya. Pada suatu kesempatan Nabi Isa pernah menyampaikan tentang akan diutusnya Nabi Muhammad sekaligus memberi kabar gembira akan datangnya suatu utusan yang namanya Ahmad. Hal ini, terekam dan diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman,

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

Artinya, “(Ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, ‘Wahai Bani Israil! Sungguh aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).’” (Surat As-Saff ayat 6).

Syekh Wahbah Zuhayli dalam kitab tafsirnya mengatakan, pengutusan Nabi Muhammad setelah Nabi Isa pada seyogyanya sudah disebutkan dalam Kitab Injil. Hal itu dibenarkan olehnya kemudian disampaikan kepada umatnya. Tidak hanya itu, Nabi Isa juga menjelaskan bahwa rasul setelahnya berasal dari orang Arab. Sifat dan kemuliannya melebihi nabi-nabi dan rasul-rasul yang lain. (Az-Zuhayli, 2000: XXV/168).

3. Cahaya yang Keluar dari Jiwa Ibunya

Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitabnya menjelaskan, cahaya yang keluar dari jiwa Sayyidah Siti Aminah terjadi dua kali, (1) ketika sedang tertidur dan dalam keadaan mengandung Nabi Muhammad, cahaya itu seakan keluar dari dalam tubuhnya dan menyinari semua istana-istana yang ada di kota Syam; dan (2) pada malam hari Senin sebelum esok harinya melahirkan, ia kembali melihat secara langsung cahaya itu keluar dari dalam tubuhnya. (As-Suyuthi, al-Khasa’isul Kubra, [Beirut, Darul Kutubil ‘Ilmiah: 1985 M], juz I, halaman 78).

Menurut Syekh Ali as-Shalabi, cahaya yang dilihat oleh Sayyidah Siti Aminah, baik di dalam mimpi maupun di saat yang nyata, merupakan sebuah isyarat terhadap apa yang akan datang dan dibawa oleh Nabi Muhammad. Cahaya itu merupakan representasi dari hidayah dan penerang bagi penduduk bumi, sebagaimana datangnya Nabi Muhammad sebagai penunjuk hidayah dan menghilangkan kesyirikan di muka bumi. (As-Shalabi, 2008 M: 52).

Demikian tiga permulaan tanda-tanda pengutusan Nabi Muhammad saw. Semoga bisa menjadi penambah rasa cinta kepadanya dan bisa lebih semangat untuk membaca shalawat kepadanya, khususnya di bulan Rabiul Awal, yang merupakan bulan dilahirkannya Nabi Muhammad saw.

Sumber : https://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/tiga-fenomena-awal-kerasulan-nabi-muhammad-BeGF5

Praktik Judi pada Zaman Jahiliah Sebelum diharamkan, praktik perjudian sudah mendarah daging di kehidupan masyarakat jah...
12/09/2022

Praktik Judi pada Zaman Jahiliah

Sebelum diharamkan, praktik perjudian sudah mendarah daging di kehidupan masyarakat jahiliah. Mereka melakukan perjudian ada kalanya sebatas untuk bersenang-senang, ada p**a yang memang menjadikannya sebagai salah satu mata pencaharian.

Hanya saja, karena praktik ini memiliki banyak mudharat seperti pemborosan, menimbulkan permusuhan, dan sebagainya, maka Islam mengharamkannya.

Dalam bahasa Arab, yang juga disebutkan dalam Al-Qur’an, kata ‘judi’ diistilahkan dengan ‘al-maysir’ (الْمَيْسِر) yang secara etimologi berarti ‘mudah’. Kata ‘al-maysir’ sendiri diambil dari kata ‘yusrun’ (يُسْرٌ) yang memiliki arti gampang atau mudah. Alasan penamaan ini karena praktik judi dianggap sebagai upaya mendapatkan kekayaan tanpa harus bekerja keras. (Az-Zamaskhsyari, Tafsir al-Kasysyaf, 1998: juz I, halaman 427)

* Judi pada Zaman Jahiliah

Zaman jahiliah merupakan masa saat Nabi Muhammad belum diutus. Kendati masyarakat jahiliah terkenal banyak pelanggaran moralnya seperti memiliki fanatisme kesukuan, membunuh anak perempuan, dan sebagainya, akan tetapi mereka masih memiliki beberapa sifat luhur seperti dermawan, menepati janji, kompak, dan sebagainya.

Sejarawan Sayfurrahman al-Mubarakfuri menjelaskan, saking tingginya sifat dermawan masyarakat jahiliah, ketika rumah mereka didatangi tamu padahal kondisi ekonomi keluarga sedang sangat memburuk, mereka akan tetap menghormati tamu tersebut dengan jamuan hidangan terbaik. Bahkan andaikan hanya memiliki satu ekor unta, mereka akan menyembelihnya untuk disuguhkan pada si tamu.

Salah satu ekspresi kedermawanan ini adalah kebiasaan meminum khamr dan berjudi. Mengonsumsi khamr bagi mereka merupakan simbol kedermawanan, karena di sinilah mereka bisa menghambur-hamburkan uang. Sementara dalam praktik judi, biasanya keuntungan hasil permainan ini akan disedekahkan untuk fakir miskin. (Sayfurrahman al-Mubarakfuri, Rahiq al-Makhtum, 2016: halaman 29)

Demikianlah gambaran mengonsumsi khamr dan praktik judi pada zaman jahiliah. Masyarakat lebih memandangnya sebagai ekspresi kedermawanan, tanpa disadari bahwa sebenarnya di balik itu banyak mudharat yang mengintai.

Pengharaman Judi Praktik perjudian bagi masyarakat jahiliah sudah begitu mentradisi dan menjadi bagian dari hidup. Oleh sebab itu, Allah swt tidak langsung menurunkan ayat yang mengharamkannya, akan tetapi terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam permainan judi terdapat banyak mudharat yang merugikan banyak pihak. Allah swt berfirman,

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ وَيَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ەۗ قُلِ الْعَفْوَۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَۙ

Artinya, “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.’ Mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan.” (QS Al-Baqarah [2]: 219)

Pada ayat ini praktik perjudian belum diharamkan, hanya saja Allah swt menyinggungnya bahwa judi sebenarnya memiliki manfaat seperti berpotensi menguntungkan pemainnya, akan tetapi mudharatnya lebih besar lagi karena menjadi menyebabkan banyak kerugian, melalaikan dari berdzikir, menimbulkan permusuhan, dan sebagainya. Sehingga, setelah turun ayat ini, sebagian orang mulai meninggalkan, tapi masih banyak juga yang melakukannya.

Imam al-Qurthubi dengan mengutip Ibnu Abbas menjelaskan, sebab turunnya ayat ini adalah sekali waktu pada masa jahiliah ada seorang laki-laki beradu spekulasi dengan laki-laki lain dengan taruhan berupa keluarga dan harta bendanya. Siapa yang undiannya keluar, maka ia berhak membawa harta laki-laki lainnya beserta keluarga. (Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 2019: juz II, halaman 41)

Kemudian, setelah masyarakat sudah mulai mengerti bahaya judi, Allah swt menurunkan ayat yang mengharamkan permainan merugikan ini. Disebutkan dalam Al-Qur’an,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” (QS Al-Maidah [5]: 90-91)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, alasan Allah swt menurunkan keharaman judi dan meminum khamr secara bersamaan karena keduanya memiliki keserupaan. Pertama, meminum sedikit khamr sehingga tidak memabukkan hukumnya haram, sebagaimana bermain judi hukumnya haram meski tidak memabukkan.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, alasan Allah swt menurunkan keharaman judi dan meminum khamr secara bersamaan karena keduanya memiliki keserupaan.

Pertama, meminum sedikit khamr sehingga tidak memabukkan hukumnya haram, sebagaimana bermain judi hukumnya haram meski tidak memabukkan.

Kedua, meminum khamr bisa membuat orang lalai beribadah karena pengaruh memabukannya, demikian juga judi bisa membuat pemainnya larut dalam kesenangan sehingga membuatnya lalai. (Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 2006: juz VIII, halaman 165)

Simp**annya, alasan judi diharamkan dalam Islam karena memiliki beberapa faktor, yaitu; merugikan banyak pihak, bisa menyulut api permusuhan antar sesama, membuat seseorang lalai untuk beribadah kepada Allah swt, dan pelakunya bisa terjerumus dalam mengonsumsi barang haram karena uang hasil judi jelas haram. Wallahu a’lam.

Sumber: https://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/praktik-judi-pada-zaman-jahiliah-TtIbT

Timbangan Amal Manusia di Akhirat dan Amalan yang MemperberatnyaSebagaimana diketahui bahwa seluruh amal manusia di akhi...
11/09/2022

Timbangan Amal Manusia di Akhirat dan Amalan yang Memperberatnya

Sebagaimana diketahui bahwa seluruh amal manusia di akhirat akan ditimbang dalam timbangan amal (mizan). Jika timbangan amal baiknya lebih berat, maka pertanda ia akan selamat. Sebaliknya, jika timbangan amal buruknya yang lebih berat, maka pertana ia akan celaka.

Itu p**a yang digambarkan dalam hadits riwayat Ibnu Mas‘ud. Walau status hadits ini mauquf, namun tidak mungkin seorang sahabat menyampaikan berita jika bukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, terlebih yang berkaitan dengan berita gaib.

Dalam riwayat tersebut, Ibnu Mas‘ud menyampaikan, “Pada hari Kiamat, manusia akan dihisab. Siapa saja yang amal baiknya lebih banyak dari amal buruknya, walau hanya selisih satu amal, maka ia akan masuk surga. Sementara orang yang amal buruknya lebih banyak dari amal baiknya, walau hanya selisih satu amal, maka ia akan masuk neraka.”

Kemudian, Ibnu Mas‘ud melantunkan ayat, yang artinya, “Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami,” (QS Al-A‘raf [7]: 8-9).

Ibnu Mas‘ud melanjutkan, “Sesungguhnya timbangan amal baik bisa ringan atau kalah walau hanya kurang seberat biji sawi. Sehingga orang yang imbang antara amal baik dan buruknya, maka dia termasuk ash-habul a’raf (orang-orang yang diberi pengetahuan). Mereka berdiri di hadapan ash-Shirath. Dari situ, mereka tahu para penghuni surga dan penghuni neraka. Ketika melihat para penghuni surga, mereka menyeru, ‘Salam keselamatan untuk kalian.’ Saat menoleh ke arah kiri, mereka melihat para penghuni neraka, lantas berdoa, sebagaimana dalam ayat, "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu,’” (QS Al-A‘raf [7]: 47).

Terakhir, Ibnu Mas‘ud berpesan, “Sesungguhnya seorang hamba, jika melakukan satu kebaikan, maka akan dicatat untuknya sepuluh kali lipat. Dan jika ia melakukan satu keburukan, maka akan dicatat untuknya satu kali lipatnya. Maka celakalah orang yang satu kali lipatnya mengalahkan sepuluh kali lipatnya,” (Lihat: Ibnu al-Mubarak, az-Zuhd wa ar-Raqa’iq, jilid 2, hal. 123).

Timbangan amal sendiri merupakan timbangan raksasa. Saking besarnya, andai langit dan bumi diletakkan di atasnya, niscaya mampu ditimbangnya. Apalagi hanya sekadar dipakai menimbang amalan hamba. Demikian seperti yang digambarkan dalam hadits riwayat al-Hakim dari Salman. Melalui riwayat ini, Rasulullah saw. bersabda:

يُوضَعُ الْمِيزَانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَلَوْ وُزِنَتْ أَوْ وُضِعَتْ فِيهِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ لَوُضِعَتْ فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ يَا رَبِّ لِمَنْ يَزِنُ هَذَا؟ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى لِمَنْ شِئْت مِنْ خَلْقِي فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ سُبْحَانَك مَا عَبَدْنَاك حَقَّ عِبَادَتِك.

Pada hari Kiamat, timbangan amal akan diletakkan. Andai langit dan bumi ditimbang atau diletakkan di atasnya, niscaya akan tertimbang. Kemudian para malaikat bertanya, “Wahai Tuhanku, untuk siapa timbangan ini?” Allah menjawab, “Untuk makhluk-Ku yang Aku kehendaki.” Malaikat pun berkata, “Maha suci Engkau, maka selamanya kami akan menyembah-Mu dengan sebenar-benarnya,” (HR Al-Hakim).

Siapa pun tentu berharap agar timbangan amal baiknya lebih berat daripada timbangan amal buruknya. Dalam kaitan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menawarkan berbagai amalan yang memperberat timbangan kebaikan, mulai dari amalan terberat hingga amalan teringan. Amalan-amalan tersebut antara lain adalah berakhlak mulia, sebagaimana sabda-Nya, “Sesungguhnya di antara amalan yang paling berat dalam timbangan amal pada hari Kiamat adalah berakhlak bagus,” (HR Ath-Thabrani).

Amalan berikutnya adalah mengucap akalimat thayyibah. Diriwayatklan, pada saat timbangan-timbangan amal pada hari Kiamat dipasangkan, maka didatangkanlah seorang laki-laki. Setelah amalnya ditimbang, diputuskan bahwa ia harus masuk neraka. Namun, terdengar satu perintah dari sisi Allah, “Janganlah kalian tergesa-gesa. Sebab, masih ada satu amal lagi yang tersisi untuknya.” Tak lama datanglah satu lembaran yang berisi tulisan Lailahailallah. Setelah lembaran itu ditambahkan, maka bertambah beratlah amal kebaikannya. Demikian yang disarikan dari hadits riwayat Ahmad dalam Musnad-Nya dari ‘Amr ibn al-Ash.

Amalan yang sangat ringan, namun berat dalam timbangan amal juga dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits berikut:

خَصْلَتَانِ لَا يُحْصِيهِمَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَهُمَا يَسِيرٌ، وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ قَالُوا: وَمَا هُمَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: يُسَبِّحُ أَحَدُكُمْ عَشْرًا، وَيَحْمَدُ عَشْرًا، وَيُكَبِّرُ عَشْرًا فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ، فَتِلْكَ خَمْسُونَ وَمِائَةٌ بِاللِّسَانِ، وَأَلْفٌ وَخَمْسُ مِائَةٍ فِي الْمِيزَانِ

Artinya, “Dua amalan yang tidaklah dihitung (dijaga) oleh seorang muslim kecuali akan masuk surga. Dua amalan itu sangat sederhana, namun orang yang menunaikannya sedikit. Ditanya oleh para sahabat, ‘Amal apa itu, wahai Rasulullah?’ Beliau meneruskan, ‘Salah seorang kalian bertasbih sepuluh kali, membaca tahmid sepuluh kali, dan membaca takbir sepuluh kali setiap usai shalat. Jadi totalnya 150 kali dalam lisan, namun jadi 1500 dalam timbangan amal,’” (HR Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dll).

Di samping amal yang memperberat timbangan kebaikan, Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan amal yang justru akan memberatkan timbangan keburukan. Salah satunya adalah perbuatan gibah. Saat ada para sahabat yang menertawakan seseorang karena betisnya yang kecil, beliau lantas menegur mereka, “Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, perbuatan itu lebih berat dalam timbangan amal buruk dari gunung Uhud.”

Meski demikian, kita senantiasa berharap semoga timbangan amal baik kita lebih berat daripada timbangan amal buruk.

Pada saat yang sama, kita tak boleh henti berdoa semoga kelak mendapat pertolongan dari Penguasa alam dan juga syafaat dari nabi terkasih-Nya yang bersiap membela umatnya di timbangan amal, jembatan ash-Shirath, dan telaga Kautsar. Ingatlah bahwa berapa pun amal kita, baik atau pun buruk, pasti akan terlihat, Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya p**a, (QS Az-Zalzalah [99]: 7-8). Wallahu ‘alam.

Sumber: https://islam.nu.or.id/ilmu-tauhid/timbangan-amal-manusia-di-akhirat-dan-amalan-yang-memperberatnya-YPn76

Address

Jalan Jalan
Kotamobagu
19471

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Meme Dakwah Islam v2 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category