Raudhatul Abbrar

Raudhatul Abbrar WADAHUNTUK PENGAJIAN KITAB KUNING YANGBERUPA BENTUK SALAFI

03/06/2015

salm

18/01/2015

~ Beda ketika PACARAN dan sesudah MENIKAH ~
(1). Kepeleset
☑ Pacaran: ops hati-hati beibh, sambil merangkulnya.
☑ Menikah: makanya hati-hati, mata ditaruh di mana?..
(2). Nonton di bioskop
☑ Pacaran: ngantuk beibh, sini kepalanya rebahin aja di bahu abang.
☑ Menikah: ngantuk? Kalo mau tidur di rumah aja, ayo p**ang...
(3). Sakit
☑ Pacaran: biar abang temenin, abang selalu ada di samping kamu beib..
☑ Menikah: lebay banget sich lo... Segitu aja sakit!
(4). Laper
☑ Pacaran: ya nanti abang anterin makanannya ya beibh...
☑ Menikah: makan sono, manja banget sich lo!
(5). Beli pakaian
☑ Pacaran: biar abang yang bayarin beibh.
☑ Menikah: belanja mulu lo, lo kira gampang apa cari duit!
(6). Boncengan dimotor
☑ Pacaran: dingin ya beibh, peluk abang aja.
☑ Menikah: makanya bawa jaket, dongo banget sich lo!
(7). Minta anterin
☑ Pacaran: biar abang aja yang anterin beibh...
☑ Menikah: lo kan bisa pergi sendiri!
(8). Makan sepiring berdua
☑ Pacaran: karena romantis.
☑ Menikah: karena susahnya hidup .... hahaha.
(9). Makan di luar
☑ Pacaran: di Cafe.
☑ Menikah: di Warteg.
(10). Kebelet pipis
☑ Pacaran: dianterin dan ditungguin ke WC VIP.
☑ Menikah: sono ke Jamban pinggir empang, biar gratis
Makanya JANGAN PACARAN sebelum MENIKAH. Tapi PACARANLAH sesudah MENIKAH. Agar keromantisan itu terjaga dinaungi oleh
Rahmat Allah Swt mudah-mudahan sampai ajal memisahkan.
Ya Allah, jadikanlah rumah tangga kami semua khususnya yang mengucapkan Aamiin di kolom komentar, menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah serta memiliki anak keturunan yang sholeh sholeha, serta yang belum punya jodoh Engkau berikan jodohnya. Aamiin

18/01/2015
05/01/2015

sepi.......................

07/08/2014

Salam sejahtra kawan kawan ngaji sudah mulai aktif lagi seperti biasa nya jangan lalai lagi

Lebih Memilih Gadis yang Pemalu yang Tak Pernah Kenal PacaranItulah sifat seorang gadis, asalnya itu pemalu. Ketika ada ...
03/05/2014

Lebih Memilih Gadis yang Pemalu yang Tak Pernah Kenal Pacaran
Itulah sifat seorang gadis, asalnya itu pemalu. Ketika ada pria yang menghampirinya, ia akan bersembunyi, tersipu malu. Jilbabnya yang menutupi dirinya akan segera menyelimuti wajahnya tatkala ada yang berusaha memandanginya. Berbeda dengan wanita yang sudah mengenal pergaulan dengan lainnya, tentu tidak ditemukan demikian.
Ketika ada yang mau meminang pun, ia akan sulit berkata “iya”. Yang bisa gadis ini lakukan adalah menganggukkan kepala, itu sebagai tanda senang, tanda setuju atau mau menerima lamaran. Hal ini berbeda dengan gadis saat ini, yang begitu berani mengatakan “iya” ketika ada yang ingin menjalin kasih dengannya dalam jalinan cinta kasih anak muda ‘pacaran’. Padahal hubungan tersebut tidaklah diridhai oleh Allah. Sungguh berbeda gadis yang jauh dari pergaulan bebas dengan gadis yang mau dibawa oleh sembarang lelaki.
Selengkapnya di Rumaysho.Com: http://remajaislam.com/515-lebih-memilih-gadis-yang-pemalu
Gadis itulah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan untuk menaruh pilihan padanya. Jikalau ada seorang janda, meskipun janda kembang yang ayu dan menawan, tetap gadis yang lebih diutamakan dijadikan tambatan hati. Karena seorang gadis yang pemalu bisa diajak bersenang-senang, bersenda gurau, dan bercanda. Beda halnya dengan gadis yang sudah lebih dahulu menjalin hubungan dengan pria lain atau pria yang ia nikahi saat itu, ia tidak bisa merasakan apa yang baru saja diutarakan.
Intiya kalau mau memilih, tentu saja memilih gadis (perawan) itu lebih utama. Dari ‘Utbah bin ‘Uwaim, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَلَيْكُمْ بِالأَبْكَارِ فَإِنَّهُنَّ أَعْذَبُ أَفْوَاهًا وَأَنْتَقُ أَرْحَامًا وَأَرْضَى بِالْيَسِيرِ
“Hendaklah kalian menikahi gadis (perawan) karena bibirnya masihlah manis, bisa menghasilkan banyak keturunan dan tetap ridha dengan pemberian yang sedikit.” (HR. Ibnu Majah no. 1861, hasan).
Gadis yang dimaksud di sini tentu adalah gadis yang masih perawan yang bukan mantan pacar siapa-siapa. Itulah gadis yang terbaik. Namun sulit sekali wanita yang disebutkan dalam hadits tersebut dicari di zaman yang penuh kerusakan.
Jadi, jika Anda memperoleh gadis lugu yang tak kenal pacaran sama sekali, sungguh itu anugerah luar biasa. Semoga Allah mudahkan.

Disusun di Pesantren Darush Sholihin, menunggu tenggelamnya matahari, 2 Rajab 1435 H

Itulah sifat seorang gadis, asalnya itu pemalu. Ketika ada pria yang menghampirinya, ia akan bersembunyi, tersipu malu. Jilbabnya yang menutupi dirinya akan segera menyelimuti wajahnya tatkala ada yang berusaha memandanginya. Berbeda dengan wanita yang sudah mengenal pergaulan dengan lainnya, tentu…

22/02/2014

kaifa haluk ya akhi ...?

17/02/2014

ISI SURAT MISI Kristenisasi
INDONESIA Dengan menyebut nama
Allah yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang Tolong di share ke teman yg
lain ya, sesama muslim harus saling
mengingatkan. Inilah suratnya:
===================== PROKLAMASI
PERNYATAAN DEWAN GEREJA
INDONESIA "MEGA PROYEK RENCANA
kristenisasi di INDONESIA "Jakarta,
21 Mei 1998 Nomor: 013/SGT - CSIS /
V/98 ... Lamp. : 1 (satu) berkas Sifat:
SANGAT RAHASIA Perihal: Rencana
Kristenisasi di Indonesia Kepada Yth: 1.
Para pendeta PGI. 2. Para Pimpinan Wali
Gereja. 3. Para Penginjil. 4. Ketua Umum
GMKI 5. Ketua Umum PMKRI 6.
Para Ketua DEMA UKI. 7. Para Ketua
DEMA Atma Jaya. 8. Para Ketua DEMA
Sekolah Teologia Kristen Indonesia. 9.
Para Jemaat PGI dan Wali Gereja yang
terkasih. 10. Pimpinan Redaksi KOMPAS.
11. Pimpinan Redaksi SUARA
PEMBAHARUAN. 12. Media Elektronika
Radio / TV Swasta Afiliasi Kristen. di
Seluruh Indonesia * Salam sejahtera
dalam Kasih Tuhan, Jesus Kristus.
Sebagai pernyataan rasa solidaritas
Oikumene dan konsistensi serta
eksistensi kita sebagai Ummat Kristiani di
Indonesia, yang bergabung dalam wadah
yang bernama "CSIS" dan "SINAR
GARUDA TIMUR ", maka kami pemimpin
kedua wadah tersebut bergandengan
tangan dalam Oikumene menyerukan
kepada segenap Ummat Kristiani di
seluruh penjuru Indonesia dalam
menghadapi tantangan berat dalam
masa Reformasi dari "Orang-orang
Islam "yang nota bene menggangap kita
minoritas. * Setelah memperhatikan
sikap dan tindakan-tindakan orang-orang
Islam di Indonesia baik yang menjadi
Pejabat Tinggi Negara maupun
pengusaha dan para ulamanya secara
terus menerus ingin menghentikan
perkembangan Kristen di Indonesia,
apalagi mereka orang-orang Islam sudah
mendominasi politik Golkar dan sudah
mengendalikan Soeharto sehingga
kegiatan mereka makin menjadi-jadi.
Soeharto dan antek-anteknya sudah
memilih pejabat-pejabat Islam lebih
banyak dari Kristen. Lebih-lebih
dengan munculnya tokoh radikal Islam
seperti Zainuddin MZ, Amin Rais,
Nurcholis Madjid yang tergabung dalam
ICMI. Hal tersebut rasanya menyulitkan
kita untuk berkembang sebagaimana
rencana kita 25 tahun silam. Namun
demikian, nuansa baru telah tiba dengan
adanya tuntutan REFORMASI dari para
mahasiswa yang nota bene sangat
menguntungkan kita dalam
memperjuangkan kembali misi mulia kita
yang sempat terhenti oleh antek-
anteknya Soeharto. Di era ini, kita
harus manfaatkan dengan sebaik-baiknya
tiap momentum sehingga reformasi
tetap disuarakan oleh mahasiswa sampai
tumbangnya Habibie dengan ICMI-nya.
Saudara-saudara para gembala yang
tergabung dalam Forum Reformasi
Mahasiswa Kristen Indonesia (FRMKI),
kita harus tetap berjuang dengan
memboncengi unjuk rasa mahasiswa
untuk agar tujuan kitra tercapai, "Kristen
Jaya di Republik Indonesia "seperti
periode awal era Soeharto. Sehubungan
dengan momentum reformasi yang
mulus ini, maka kami telah berkunjung ke
Amerika Serikat untuk mendapatkan
petunjuk tentang misi kita dalam
menjadikan agama Kristen sebagai
agama mayoritas penduduk Indonesia
dan kalau perlu menghalangi dengan cara
apapun untuk memecah belah antara
Islam sehingga perkembangan Islam di
Indonesia terhenti dan menjadikan
mereka golongan minoritas seperti di
Filipina, Bosnia, Kosovo, dll. Dari hasil
wawancara kami dengan pemuka agama
Kristen Amerika yang duduk di Kongres
Amerika dan pengusaha-pengusaha
Kristen Amerika, mereka siap membantu
kita dengan DANA dan TENAGA untuk
menekan pemerintah Habibie sehingga
rakyat makin menderita dan terus
mengadakan reformasi, kalau perlu kita
tiupkan nuansa REVOLUSI, yang nantinya
akan dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh kita
yang pernah menjabat dalam
pemerintahan Soeharto, seperti Jendral
Benny Moerdani, Mayjen TB Silalahi, Pak
Soemarlin, Pak Radius, Pak Moey. Pak
Sudrajat, Pak Frans Seda, Pak SAE
Nababan, Pak Romo Sandyawan, Pak
Mochtar Pakpahan, Pak YB
Mangunwijaya, dan tokoh muda kita sdr.
Budiman Sudjatmiko, dan sdr. Pius. Misi
mulia kita tetap satu. Kristenisasi
Indonesia dalam waktu 25 tahun dengan
cara apapun. CIA dalam hal ini juga yang
membantu kita, seperti bantuan mereka
pada negara-negara lain untuk
mengucilkan negara-negara Islam di
seluruh Indonesia dan memecah belah
persatuan dan kesatuan Islam. * Program
Kristenisasi secara umum diadakan di
seluruh dunia di negara-negara Islam dan
negara-negara mayoritas Islam, untuk
mewujudkan misi mulia sang gembala
dalam mendamaikan dunia dalam Kasih
Tuhan Yesus Kristus Juru Selamat. Bila
Kristen telah menjadi agama mayoritas di
seluruh dunia, dunia akan aman dan
damai,. Untuk itu, kita harus bersatu
dalam OIKUMENE NASIONAL. Dalam
mengkristenkan orang-orang Islam di
Indonesia. Terutama generasi muda
(siswa dan mahasiswa). Misi kita akan
dipantau dan dibantu oleh Amerika
dalam bentuk dana dan tenaga (CIA).
Harus di upayakan agar misi kita tidak
akan terbaca oleh mereka. Seakan-akan
tuntutan reformasi murni dari orang-
orang (mahasiswa dan pemuda) Islam.
Insiden 12 Novemer 1991 di Dili dan
peristiwa berdarah di Masjid Tanjung
Priok merupakan bukti nyata kekuatan
kita. Saudara seiman kita "Xanana
Goesmau "harus segera dibebaskan agar
dapat melanjutkan misinya dalam
mengucilkan orang Islam di Dili. Jadi misi
kita saat ini bermotifkan "Reformasi
Mahasiswa "yang kita tumpangi secara
tersamar dan ambil manfaat sebaik-
baiknya agar tokoh-tokoh Islam tidak lagi
mendapat simpati di hati rakyat
Indonesia. Kita tonjolkan kedermawanan
tokoh-tokoh Kristen untuk mendapatkan
simpati rakyat. "Daftar Hitam" yang
harus diperhatikan amtara lain: Prof.
Habibie dengan ICMI-nya, Amin Rais
dengan Muhammadiyah-nya, Gus Dur
dengan NU-nya, Nurcholis Madjid dengan
Islam radikalnya, Emha Ainun Nadjib
dengan Budaya Islamnya, Faisal Tanjung,
Wiranto, Syarwan Hamid, Yunus Josfiah,
dan rekan-rekannya. Tugas Utama kita
yaitu mendukung Jendral Tri Sutrisno
sebagai Presiden priode mendatang,
karena Pak Tri mudah dipengaruhi dan
mudah dikendalikan. Juga orang-orang
seperti Moerdiyono, Rudini, Emil Salim,
Ali Sadikin, Sarwono, dan rekan-rekannya
yang ambisi kekuasaan kita pegang
mereka dan selanjutnya lakukan politik
memecah belah mereka. Untuk itu tugas
kita yang utama adalah menciptakan
perselisihan dan pertengkaran antara
orang-orang Islam fanatik dan Islam
abangan sehingga terjadi perang saudara
antara mereka, dengan memberikan
sandang-pangan cuma-cuma, besiswa,
anak asuh, pekerjaan yang dikelola oleh
pengusaha Kristen Pribumi dan
keturunan , seperti Sofyan Wanandi, dan
Pak Yusuf Wanandi, Pak Salim Sudono,
Pak Ciputra, Pak Usman Wibisono, Pak
Eka Cipta, yang membantu misi mulia ini.
* Saudara-saudara seiman dalam kasih
Tuhan Yesus Kristus, saudara-saudara
harus ingat bahwa tugas kita ummat
Kristiani adalah tugas mulia, dan harus
dilaksanakan oleh setiap ummat Kristiani
sejati sebagai wujud nyata kecintaan kita
kepada sang Penebus kita, Yesus Kristus,
pemberi terang dan tenteram bagi
seluruh dunia. Kasih Jesus Kristus Juru
selamat kita pasti diberikan kepada kita
yang berada di garis terdepan dalam
melanjutkan perjuangan Sang Gembala
selama hayat kita. Sarana informasi
sangat dominan dalam mempercepat
upaya kita untuk mewujudlkan
peselisihan diantara orang Islam dan
menimbulkan kekacauan di masyarakat,
sehingga bantuan MF tidak dapat
digunakan. Kita manfaatkan momentum
ini dengan sebaik-baiknya, membonceng
reformasi yang lebih keras dan lebih
revolusioner sampai pemerintahan
Habibie jatuh. Dalam hal ini, media cetak
dan elektronika seperti Kompas, Suara
Pembaharuan, dan media cetak Kristen
lainnya sangat membantu, demikian juga
TV swasta yang berafiliasi kepada kita.
Lemparkan isue-isue yang sifatnya
menghilangkan kepercayaan masyarakat
kepada Habibie cs. * Rencana
selanjutnya yaitu media cetak dan
elektronika harus dikuasai oramg-orang
kita sehingga dengan leluasa dapat
memutarbalikan fakta di masyarakat.
Tujuan utama kita menjatuhkan
pemerintah Habibie dan ICMI selama-
lamanya dari bumi Indonesia. Untuk itu
kaum intelektual, pengusaha, dan kaum
muda kita, utamanya mahasiswa yang
pegang peranan aktif dalam hal ini,
teruslah berjuang dan kalau perlu pakai
jilbab dan pakai kopiah, berikan salam
untuk mengibuli mereka. Budayawan
Kristen seperti Pak Chris Pattikawa dan
teman-temannya, Ibu Ratna Sarumpaet
dengan kawan-kawannya menurut
sertakan artis Islam dalam segala
kegiatan untuk melunturkan fanatisme
mereka terhadap Islam. Kawini orang
Islam dengan tujuan merobah mereka
menjadi kristen taat, misalnya Rina
Hasyim. Ini tugas mulia kita. Kita harus
kuasai pemerintah pusat maupun daerah
dan ABRI, jabatan-jabatan penting harus
dikendalikan oleh tokoh-tokoh Kristen
agar memberikan fasilitas dan segala
fasilitas untuk orang Kristen untuk
bekerja, sekolah, masuk ABRI, masuk
universitas, kenaikan pangkat dan lain
sebagainya sehingga suatu saat kita yang
dominan di dalam pemerintah di pusat
daerah ABRI contoh nyata yaitu Timor
Timur, NTT / Kupang, Sulawesi Utara /
Menado, dan Maluku / Ambon sudah
dikuasi sehingga orang-orang Kristen
dapat berkembang leluasa mendominasi
orang Islam. Yang masih harus kita bantu
yaitu Sulawesi Selatan, disana orang
Kristen (Tanah Toraja) sangat berani dan
taat. Agar cepat berkembang dan
mendominasi orang Islam. Sementara itu,
Jakarta, Surabaya, Yogya, Semarang, dan
Medan harus segera dikuasai. Proses
nepotisme kita utamakan bagi orang-
orang kita, bukan untuk orang Islam. Kita
tiupkan nepotisme dan toleransi agama
ke kantor Islam, sehingga tidak
terpercaya dan diganti orang kita, Islam
abangan, atau golongan nasionalis.
Adalah mulia bila saudara-saudara
kedepankan misi suci Kristus Penebus
Dosa dari kepentingan pribadi. *
Angkatan Bersenjata mutlak harus
dikuasi karena ABRI merupakan tulang
punggung negara. Momentum ini sangat
baik untuk kita untuk memecah belah
kalangan ABRI sehingga ABRI yang
fanatik Kristen dapat mendominasi
Angkatan Bersenjata. * Kita upayakan KB
di kalangan orang Islam dengan berbagai
cara, terutama informasi KB kepada
ulama, kyai, santri, tokoh Islam, sehingga
masyarakat Islam ber-KB. Kita sebagai
orang Kristen dilarang untuk ber-KB
karena itu menyalahi tugas mulia ya ng
diemban oleh Yesus Kristus, Sang
Penebus. Untuk menjalankan
kebijaksanaan ini, maka sebagian besar
dokter bidan, perawat, dan pegawai
BKKBN haruslah orang-orang Kristen agar
memudahkan KB mantap bagi pasangan-
pasangan Islam. Selain Itu ummat
kristiani harus mendirikan lebih banyak
lagi Rumah Sakit di seluruh Indonesia
untuk mencapai sasaran kita. * Kita haus
membantu perekonomian rakyat kecil
dalam hal memberikan lahan kerja
memberikan makanan cuma-cuma
mengangkat anak asuh agar orang Islam
abangan dapat mengikuti ajaran Kristus,
membuat tempat ibadah di masyarakat
Islam, menghidupkan judi, tempat
pelacuran, bar-bar, memasok pil ektasi,
bir, putaw, dll. agar digunakan oleh
generasi muda Islam sehingga lambat
laun akan mengganggu moral mereka dan
menghilangkan fanatisme mereka
terhadap Islam. * Posisi agama Kristen di
bidang pendidikan sangat menetukan
generasi mendatang Sarana pendidikan
harus dikuasai oleh kita. Perbanyak SD,
SMP SMU Universitas Kristen di seluruh
Indonesia, dengan memasukkan ajaran
Kristen penuh dalam Kurikulum
pendidikan di sekolah penting dalam
jajaran Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan harus dijabat oleh orang
Kristen fanatik dan memberikan fasilitas
kepada siswa dan mahasiswa Kristen
karena mereka adalah asset utama
Agama Kristen di masa mendatang. *
Demikianlah secara singkat rencana
Kristenisasi kita yang pernah tertunda di
zaman rezim Soeharto, dan pada era
baru ini, kita harus cepat dan tanggap
dalam membaca situasi dan tetap
berusaha mendeskriditkan Pemerintahan
Habiibie dan tetap menuntut SI MPR
dilaksanakan agar Pak Tri dapat
menduduki jabatan Presiden RI demi
kemajuan Kristen di Indonesia.
Pemimpin-peminpin dari media cetak
kita telah siap memberikan informasi
dan tanggapan yang mendeskreditkan
Habibie agar rakyat tidak
mempercayainya lagi,. Untuk itu saudara-
saudara harus turut membantu terutama
kalangan intelektual budayawan, artis,
tokoh muda, mahasiswa, siswa, dan
semua gembala-gembala Yesus Kristus
harus bersatu padu dalam OIKUMENE
untuk mencapai cita-cita mulia kita.
Mahasiswa harus tetap menjalankan
unjuk rasa dan mengacaukan masyarakat.
Daam hal ini pak Frans Seda, Pak Benny,
Pak Romo Sadyawan, Pak Yacob Utama,
Pak YB Mangunwijaya, Pak Mochtar
Pakpahan, Ibu Ratna Sarumpaet, Pak
Saban Sirait, Pak SAE Nababan, Sdr.
Budiman Sudjatmiko, dan Sdr. Pius, serta
reformis-reformis Kristen lainnya.
Sebagai pelopor utama reformasi akan
mengacaukan dan mengambil alih
kekuasaan orang-orang Islam dalam
pemerintahan. Saudara-Saudara harus
ingat pesan kami: JANGAN PERCAYA
setiap orang sebelum yakin bahwa dia
adalah KRISTEN sejati pengemban misi
Yesus Kristus Sang Penebus Dosa.
Upayakanlah agar informasi ini tidak
sampai ke tangan yang TIDAK
BERTANGGUNG JAWAB yang pada
akhirnya akan mengacaukan misi mulia
kita. Kami percaya bahwa "Yesus Kristus
"selalu bersama kita dalam menegakkan
keadilan dan kedamaian di dunia sesuai
ajarannya
Vini ....... Vidi ........ Vici .................................
Salam Oikumene kasih Kristus! an
Dewan Pengurus SGT & CSIS ttd, Jend.
Benny Moerdani, Drs. rans Drs. Sabam
Sirait, Pdt. SAE Nababan, YB
Mangunwijaya, Mayjend. TB Silalahi,
Ratna Sarumpaet, Mochtar Pakpahan,
Budiman Sudjatmik

16/02/2014

Membincang Fenomena ‘Pemaksaan’ Anak Masuk Pesantren (Terlebih Pada Usia Dini)
Published by Adni on January 30, 2013 | 3 Comments
Kita sama-sama mengetahui bahwa Islam menempatkan orang yang berilmu, khususnya ilmu agama, pada posisi yang tinggi. Banyak sekali teks keagamaan yang mewartakan hal tersebut. Di antaranya adalah sabda Nabi—shallāllāhu `alayhi wa sallam—yang masyhur,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sungguh, ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham. Namun mereka mewariskan ilmu. Siapa yang mengambil warisan tersebut, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” [HR Abū Dāwūd II/341/3641, Ibn Mājah I/81/223, Ahmad V/196/21763, dan lain-lain, dengan sanad yang valid.]

Ilmu yang diwariskan oleh para Nabi tentu bukan Matematika, Fisika, Kimia, Geografi, atau yang semisalnya, melainkan ilmu agama.

Quran juga menyebutkan:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” [QS al-Mujādilah/58: 11.]

Kesadaran dan semangat untuk menuntut ilmu agama saat ini telah menjadi trend yang berkembang di kalangan sebagian masyarakat. Hal tersebut tentu merupakan fakta yang patut disyukuri. Alhamdulillāh.

Salah satu dampak dari trend tersebut adalah adanya fenomena sebagian orang tua yang terkesan ‘memaksa’ anak ke pesantren. Harapannya adalah sang anak menjadi ustadz atau ulama. Tidak ada yang salah dengan harapan tersebut, bahkan itu sangat mulia.

Kalau saja keinginan orang tua tersebut sejalan dengan keinginan anak maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan. Namun, bagaimana jika tidak selaras?

Saya ingin sedikit bercerita terkait dengan hal ini. Kebetulan saya dulu sempat ‘mampir’ di salah satu pondok pesantren.

Pernah suatu ketika sejumlah santri merasa resah. Koleksi bukunya terus menyusut. Bukan hanya buku yang raib, beberapa benda berharga juga ikut-ikutan lenyap. Akhirnya, tim kecil pun dibentuk untuk mengusut kasus pencurian ini. Saya jadi bagian dari tim tersebut.

Akhirnya, dengan sejumlah trik dan teknik investigasi (ala Sherlock Holmes, hehe), pencuri pun tertangkap. Kami lalu menginterogasi si pelaku, dan juga sempat melakukan wawancara dengan orang tuanya.

Terkuak fakta bahwa pelaku sebenarnya sejak awal tidak berniat masuk pesantren. Ia ingin bersekolah umum (STM). Namun, bapaknya memaksa agar ia masuk pesantren untuk mendalami ilmu agama. Karena sejak awalnya kurang niat belajar di pesantren, pelaku pun melakukan perbuatan yang seharusnya tidak terjadi. Singkat kata, ia pun dikeluarkan dari pesantren.

Ada kisah lain yang berseberangan secara diametral dengan cerita di atas, yang terjadi di pesantren yang sama, pada waktu yang hampir bersamaan. Ini adalah cerita tentang seorang sahabat saya yang luar biasa.

Ia adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang ternama, namun memutuskan untuk keluar kuliah dan masuk pesantren. Ia ingin ‘banting setir’, beralih dari belajar ilmu umum (yang telah dijalaninya sekian lama), ke ilmu agama. Keinginan tersebut awalnya tidak disetujui oleh keluarganya, yang mengharapkan ia segera menyelesaikan kuliahnya, mendapat pekerjaan yang bagus, dan kemudian membantu penghidupan keluarga.

Kakaknya yang sebenarnya juga telah diterima di salah satu PTN bahkan sampai rela tidak kuliah, dan kemudian bekerja demi memberikan kesempatan kuliah kepadanya. Namun, sahabat ini tetap bergeming pada keputusannya, dengan tetap meminta restu dan memberi pengertian yang baik kepada keluarganya.

Rupanya ia tak butuh waktu lama di pesantren, karena tak lama kemudian ia diterima di universitas keagamaan terkemuka di luar negeri. Saat ini (ketika artikel ini ditulis), ia tengah menempuh jenjang doktoral di universitas tersebut.

Di saat-saat liburan, ia sering p**ang ke tanah air untuk memberikan pengajian ke berbagai daerah. Namanya dikenal baik oleh banyak kalangan. Ia juga mengisi di radio dan televisi dakwah. Penghidupannya baik, dan ia mampu membantu keluarganya, mungkin lebih baik daripada yang dulu diharapkan.

Kisahnya merupakan pembenaran dari sabda Nabi—shallāllāhu `alayhi wa sallam,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاء الله جَلَّ وَعَزَّ إِلاَّ أَعْطَاكَ اللهُ خَيْرًا مِنْهَ

“Tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah, melainkan Allah memberimu yang lebih baik darinya.” [HR Ahmad V/78/20758 dan al-Bayhaqiy dalam al-Syu`ab V/53/5748. Syekh al-Arnā-uth menyatakan sanadnya valid.]

Jadi, kisah pertama adalah tentang orang tua yang memaksa anaknya belajar agama di pesantren namun sang anak sebenarnya lebih s**a belajar umum (teknik). Sedangkan kisah kedua adalah tentang orang tua yang (awalnya) berharap anaknya menyelesaikan kuliah umum, namun ternyata sang anak lebih s**a belajar agama.

Ada juga beberapa kawan lain saya yang ingin pindah dari kuliah umum ke pesantren, tapi orang tuanya tidak mengijinkan. Sebagai gantinya, orang tua memberikan fasilitas yang cukup agar ia dapat belajar ilmu agama dengan baik, di samping ia tetap belajar ilmu umum. Hasilnya, lahir individu profesional dengan pengetahuan agama yang mumpuni. Sebagian kawan lain bahkan ada yang kuliah agama setelah ia menyelesaikan kuliah umumnya dengan prestasi yang baik. Tapi, memang dibutuhkan kemampuan yang memadai untuk bisa demikian.

Yang ingin saya tegaskan dari cerita di atas adalah, pemaksaan seringkali tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Menjadi ustadz atau ulama, atau masuk pesantren tentu merupakan hal yang baik. Tidak ada yang meragukan hal tersebut. Tetapi memaksakan keinginan tersebut pada anak bisa jadi berakibat buruk.

Mungkin banyak orang tua menganggap bahwa anaknya belum cukup dewasa untuk dapat memproduksi keputusan yang tepat bagi kehidupannya, sehingga mereka pun mengambil alih tugas pengambilan keputusan tersebut (baca: memaksakan keinginannya).

Namun, patut diingat bahwa keterpaksaan seringkali menghasilkan kekecewaan. Selain itu, tekanan dari luar (baca: paksaan) umumnya lebih lemah dan lebih temprorer dibandingkan dorongan dari dalam.

Karena itu, sebagai ganti dari pemaksaan keinginan terhadap anak, lebih baik anak diberikan penjelasan, pengertian, dorongan, motivasi, serta penjelasan tentang manfaat dan risiko dari keinginan orang tua. Dengan melakukan hal-hal tersebut, diharapkan keinginan orang tua akan selaras dengan keinginan anak. Ini memang lebih s**ar, tetapi dampaknya lebih baik. Dan, di situlah letak tantangannya.

Sekiranya ada yang bilang: “Bukankah sesuatu yang awalnya dipaksakan itu bisa berubah menjadi kegemaran dan kesadaran pribadi?” Jawabnya, saya juga tidak menafikan adanya probabilitas itu, seberapa pun kecilnya peluang tersebut. Tetapi, jika dimungkinkan untuk membangun kesadaran dan inisiatif pribadi, maka bukankah itu lebih baik ketimbang pemaksaan?

Efek destruktif yang mungkin timbul dari pemaksaan tersebut juga tidaklah ringan. Fakta bahwa tidak sedikit anak pesantren yang ‘rusak’ saat di luar pesantren atau segera setelah lulus pesantren bisa jadi karena pemaksaan dimaksud. Mereka menjadi generasi yang rentan terhadap godaan dunia. Hasil imunitas yang diharapkan orang tua melalui program sterilisasi (baca: pemaksaan masuk pesantren) jauh panggang dari api. Dunia publik menjadi sarang pelarian dimana ‘belenggu’ dipatahkan dan ‘tirani’ dirobohkan. Na`udzu billah min dzalik.

Belum lagi jika anak yang dipaksa masuk pesantren itu masih berusia sangat dini. Kondisi yang demikian ini dapat dikaitkan dengan hadits Nabi—shallāllāhu `alayhi wa sallam:

مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدَةِ وَوَلَدِهَا فَرَّقَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحِبَّتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa yang memisahkan antara ibu dan anaknya, maka Allah akan memisahkan antara dirinya dan orang-orang yang dicintainya pada hari Kiamat.”

[HR al-Tirmidziy IV/134/1566, Ahmad V/412/23546, dan lain-lain, dari Abū Ayyūb al-Anshāriy. Abū `Isā al-Tirmidziy berkata, “Dalam bab ini terdapat riwayat dari `Aliy. Ini adalah hadits hasan gharīb. Hadits tersebut diamalkan oleh ulama dari Sahabat Nabi—shallāllāhu `alayhi wa sallam—dan selainnya. Mereka membenci pemisahan antara tawanan, [yaitu] antara ibu dan anak, bapak dan anak, dan antara sesama saudara.” Hadits dimaksud dinyatakan hasan oleh Syekh al-Albaniy.]

Dalam hadits lain disebutkan:

عَنْ عُبَادَة بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، يَقُوْلُ: نَهَى رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُفرقَ بَيْنَ الْأُمِّ وَوَلَدِهَا . فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ الله إِلَى مَتَى؟ قال: حَتَّى يَبْلُغَ الْغُلاَمُ، وَتَحِيْضُ الْجَارِيَة.

Dari `Ubādah ibn al-Shāmit, radliyallāhu `anhu, ia mengisahkan bahwa Rasulullāh—shallāllāhu `alaihi wa sallam—melarang pemisahan antara ibu dan anaknya. Ada yang bertanya pada beliau, “Wahai Rasulullah, sampai kapan?” Beliau menjawab, “Sampai anak laki-laki mencapai baligh dan anak perempuan mencapai haid.”

[HR al-Hakim dalam al-Mustadrak II/64/2335 dan al-Dāruquthniy dalam Sunan-nya III/68/258. Imam Ibn Hajar berkata dalam al-Talkhīsh, vol. III, hlm. 16, “Di dalam sanad hadits yang dibawakan keduanya tersebut terdapat `Abdullāh ibn `Amr al-Wāqifiy. Ia adalah perawi yang lemah, (bahkan) `Aliy ibn al-Madīniy menganggapnya pendusta.”]

Hadits di atas termasuk salah satu keindahan ajaran Islam yang melindungi hubungan kasih sayang antar ibu dan anak. Para ahli fiqh memasukkan hadits tersebut dalam pembahasan tentang hadlānah (pemeliharaan anak), jual beli (buyū`), dan sejumlah permasalahan lainnya. Salah satu yang mereka simpulkan dari hadit tersebut misalnya larangan untuk memisahkan budak wanita dan anaknya yang belum baligh dalam hal penjualan. [Periksa misalnya: al-Mughniy, Ibn Qudāmah, vol. IV, hlm. 260.]

Terdapat rincian dan perbedaan pendapat di kalangan ulama, khususnya ahli fiqh, dalam memahami hadits tersebut, seperti tentang apakah larangan pemisahan tersebut juga berlaku untuk bapak-anak serta kakak-adik, sampai kapan batas usia anak yang dimaksud, dan lain sebagainya. Namun, bukan di sini tempat yang tepat untuk memaparkannya. Yang jelas, keumuman redaksi hadits di atas menunjukkan larangan untuk memisahkan ibu dari anaknya.

Pada kenyataannya, banyak orang tua (khususnya ibu) yang sangat bersedih ketika berpisah dengan anaknya yang masuk pesantren. Demikian p**a halnya dengan sang anak. Akibatnya orang tua tidak dapat beraktivitas dengan tenang, sementara sang anak tidak dapat belajar dengan baik.

Di sisi lain, perlu diingat bahwa seseorang hanya akan mencapai potensi terbaiknya apabila ia melakukan hal yang sesuai dengan passion dan keinginannya. Saya tidak mengetahui ada orang yang bisa mencapai derajat ulama yang mumpuni, sementara ia dalam kondisi terpaksa mendalami ilmu agama, atau bahwa ia sebenarnya tidak tertarik untuk itu. Sependek yang saya ketahui kejadian semacam itu tidak ada, dan saya yakin tidak akan pernah ada.

Kenapa orang tua bersikeras memasukkan anak ke pesantren? Banyak sekali ragam alasannya. Yang jelas, hampir tidak ada orang tua yang menginginkan keburukan bagi anaknya. Semuanya menginginkan kebaikan.

Banyak orang tua yang mungkin ‘merasa terlambat’ belajar agama sehingga ingin anaknya jauh lebih baik daripada dirinya. Mereka juga berharap bahwa dengan menjadikan anaknya sebagai ustadz, maka terwujudlah anak saleh yang memberi manfaat kepada orang tua, baik pada saat mereka masih hidup dan khususnya setelah wafat. Ada p**a yang merasa inferior (baca: minder) dengan kondisi dirinya, sehingga dianggap lebih baik pendidikan anak diserahkan kepada yang lebih kompeten. Tidak ada yang salah dengan alasan maupun upaya tersebut.

Sekali lagi masalahnya adalah, bagaimana jika anak memiliki keinginan yang berbeda dari orang tua? Jika anak punya cita-cita yang jelek, seperti jadi koruptor misalnya, tentu orang tua wajib menghalangi, memberi pengertian dan bahkan memaksa anak untuk mengganti cita-citanya tersebut. Namun, bagaimana jika anak ingin menjadi ilmuwan, astronom, pengusaha, dan lain sebagainya? Why not?

Seringkali, pilihan di sini bukanlah tentang baik dan buruk, tetapi tentang mana yang dianggap lebih baik dari sekian banyak hal yang baik.

Menjadi ulama dan ustadz tentu merupakan kebaikan. Namun demikian, tidaklah tertutup kemungkinan seseorang meraih kebaikan yang lebih tinggi meskipun ia bukan pada posisi tersebut.

Nabi—shallāllāhu `alayhi wa sallam—bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.” [HR al-Thabraniy dalam al-Awsath, vol. VI, hlm. 58, dan dinyatakan hasan oleh Syekh al-Albaniy dalam Shahīh al-Jāmi` no. 6662.]

Bukankah tidak tertutup kemungkinan bahwa ada seorang pemimpin yang saleh, pengusaha yang saleh, atau profesi lainnya, yang lebih memberikan manfaat, dampak dan influence bagi umat dibandingkan seorang ulama?

Tentu saja tiap muslim berkewajiban untuk belajar tentang agamanya, yaitu untuk mengetahui hal-hal yang Allah Ta`ālā wajibkan atau haramkan terhadap dirinya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban tiap muslim.” [HR Ibn Mājah I/81/224 dan lain-lain, dengan sanad yang valid.]

Namun demikian, tidak semua muslim wajib memiliki ilmu agama yang sangat mendalam, menghafal dalil, menguasai pendapat ahli fiqh, dan sebagainya, sebagaimana halnya yang dilakukan ulama dan ustadz.

Jika kita melihat kondisi pada para Sahabat Nabi—shallāllāhu `alayhi wa sallam, niscaya kita dapati keberagaman kondisi mereka. Tingkatan ilmu agama mereka pun bermacam-macam. Ada yang menjadi ulama, pengajar atau m***i; dan ada p**a yang tidak. Meskipun demikian, mereka semua berserikat dalam kebaikan dan keutamaan.

Saya ingin menutup artikel ini dengan kisah Imam Mālik—rahimahullāh:

Suatu ketika, `Abdullāh ibn `Abd al-`Azīz al-`Umariy, seorang ahli ibadah pada masa itu, menulis surat untuk Imam Mālik. Ia mengajak untuk menggiatkan ibadah, menyepi dan menghindari berkumpul dengan orang-orang di majelis ilmu.

Imam Mālik kemudian menulis jawaban atas surat tersebut, yang bunyinya:

إن الله تعالى قسم بين عباده الأعمال كما قسم الأرزاق. فرب رجل فتح له في الصلاة، ولم يفتح له في الصوم، وآخر فتح الله له في الجهاد، ولم يفتح له في الصلاة، وآخر فتح له في الصدقة، ولم يفتح له في الصيام. وقد علمت أن نشر العلم وتعليمه من أفضل أعمال، وقد رضيت بما فتح الله لي فيه، وقسم لي منه، وما أظن ما أنا فيه بدون ما أنت فيه من العبادة، وكلانا على خير إن شاء الله

“Sesungguhnya Allah Ta`ālā telah membagi-bagikan amal di antara para hamba-Nya, sebagaimana Dia membagikan rizki. Ada yang dibukakan pintu shalat (sunnah), namun tidak dibukakan baginya pintu puasa (sunnah); ada juga yang dibukakan pintu jihad, tetapi tidak dengan pintu shalat (sunnah); dan ada p**a yang dibukakan pintu sedekah, namun tidak dengan pintu puasa (sunnah). Engkau telah mengetahui bahwa menyebarkan ilmu dan mengajarkannya termasuk amal yang paling utama. Saya ridha dengan pintu yang Allah bukakan bagi saya, dan bagian yang diberikan untuk saya. Saya kira kondisi saya yang demikian ini tidak lebih rendah dibandingkan dengan kondisi ibadah yang engkau lakukan. Kita berdua sama-sama di atas kebaikan, in syā-allāh.” [Lihat: al-Istidzkār, Ibn `Abd al-Barr, vol. V, hlm. 146.]

Intinya, menjadi orang yang berilmu agama secara mumpuni merupakan pilihan yang baik, bahkan sangat baik. Namun itu tidaklah menafikan keutamaan dan keunggulan dari pilihan-pilihan baik lainnya. Selanjutnya, keterpaksaan dalam penentuan pilihan-pilihan tersebut perlu dihindari sedapat mungkin. Sebagai gantinya, yang perlu ditumbuhkan adalah dorongan, kesadaran, kegemaran serta inisiatif pribadi. Ini memang tidak mudah.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga ada manfaatnya. Wallahu a`lam bish-shawab.

Salam,

Address

Peudawa Rayeuk
Kota Bawah Timur
24454

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Raudhatul Abbrar posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category