Majelis Ibu Taat Allah

Majelis Ibu Taat Allah Visi : Membina Ibu dengan Islam sebagai bekal dalam mewujudkan keluarga yang SAMARA.

Assalamu'alaikum wrwb📣 UNDANGAN MAJELIS TAKLIM MUSLIMAH🕌 Masjid Darussalam, Bandungan – Jatinom, Klaten✨ Bukan Hanya Tep...
24/10/2025

Assalamu'alaikum wrwb

📣 UNDANGAN MAJELIS TAKLIM MUSLIMAH
🕌 Masjid Darussalam, Bandungan – Jatinom, Klaten

✨ Bukan Hanya Tepuk Sakinah: Mencari Sakinah yang Hakiki

Bersama:
🧕 Ustazah Nila Yusnita
🗓️ Sabtu, 1 November 2025
⏰ Pukul 15.30 WIB – Sakinah
📍 Masjid Darussalam, Bandungan, Jatinom, Klaten

---

💬 “Keluarga sakinah bukan lahir dari yel-yel dan semangat sesaat, tetapi dari ketaatan kepada Allah dan ketundukan pada syariat-Nya.”

Mari hadir, saling menguatkan hati dan ilmu, agar rumah kita menjadi tempat turunnya sakinah, mawaddah, dan rahmah 💕

Wassalamu'alaikum wrwb

Assalamu’alaikum wrwbUNDANGAN KAJIAN RUTIN Majelis Ibu Taat Allah 🧕💬 “BANYAK ANAK BANYAK REZEKI?”Masih cocok nggak sih k...
29/06/2025

Assalamu’alaikum wrwb
UNDANGAN KAJIAN RUTIN
Majelis Ibu Taat Allah

🧕💬 “BANYAK ANAK BANYAK REZEKI?”
Masih cocok nggak sih kalimat itu di zaman sekarang?
Harga naik, penghasilan seret, dapur ngepul terus…
Eh, ada yang bilang: “Miskin kok anak banyak!”
Tapi bener nggak sih? Apa betul banyak anak bikin susah?
Terus kenapa ya, kok malah ada yang kampanye vasektomi sebagai syarat bansos?

📚 Dalam kajian ini kita akan bahas bareng-bareng:
❓ Banyak Anak Banyak Rezeki – masih cocok dengan sekarang ?
👶 Bagaimana Islam memandang anak dan pernikahan?
💉 Bagaimana Islam memandang KB, vasektomi, tubektomi?
🛠️ Dan yang paling penting:
Apa solusi Islam atas kemiskinan dan beratnya hidup kita hari ini?

📆 Hari/Tanggal: 5 Juli 2025
🕘 Waktu: 15.30 - selesai
📍 Tempat: Masjid Darussalam Bandungan, Jatinom
🎙️ Pemateri: Ustadzah Nur (Pengamat Sosial, Guru dan Ibu dari 6 orang anak)

💬 Bawa hati, bawa pikiran, bawa teman!
Karena jadi ibu itu berat… tapi insyaAllah bisa kuat kalau bareng yang taat. 😌💪

Wassalamu’alaikum wrwb





Assalamu'alaikum wrwbMajelis Ibu Taat Allah mengucapkan : Selamat Hari Raya IDUL ADHA 1446 HMomentum mengevaluasi sudahk...
06/06/2025

Assalamu'alaikum wrwb
Majelis Ibu Taat Allah mengucapkan :

Selamat Hari Raya
IDUL ADHA 1446 H

Momentum mengevaluasi sudahkah keluarga menjadi wadah tempat ayah, ibu, anak-anak menjadi orang Bertakwa.

Wassalamu'alaikum wrwb

01/06/2025

Alhamdulillah… acara kajian "Peran Ibu dalam Mencegah Kekerasan Seksual" telah terlaksana dengan penuh kehangatan.

Di tengah gerimis hujan ibu-ibu pejuang rumah tangga, kami belajar satu hal penting:
kekerasan seksual bukan hanya urusan kota besar. Ia bisa tumbuh di desa jika nafsu dibiarkan tanpa aturan.

Sebagai ibu, kami belajar bahwa menjaga pandangan, menjaga adab anak, dan mengawasi media digital itu bukan cerewet—tapi bentuk cinta.

Dan ternyata... akar semua ini tak cukup diatasi dengan nasehat, tapi dengan sistem yang menutup jalan ke maksiat.

Islam bukan hanya ibadah, tapi juga pelindung bagi seluruh keluarga.

📍Terima kasih untuk semua ibu-ibu tangguh di yang hadir.
Semoga ilmu ini jadi amal jariyah.
Langkah kecil hari ini, insyaAllah jadi pelindung besar untuk generasi.

---








25/05/2025

UNDANGAN KAJIAN MUSLIMAH

Assalamu’alaikum wrwb

Ibu, di tengah zaman yang makin mengkhawatirkan,
perlindungan anak dan keluarga bukan hanya soal doa dan waspada.
Kita perlu ilmu, kesadaran, dan solusi yang benar dari Islam.

Mari, hadir bersama kami dalam kajian spesial untuk ibu muda:
“Ketika Dunia Tak Lagi Aman : Peran Ibu Hadapi Kekerasan Seksual”

🗓 Hari, Tanggal : Sabtu, 31 Mei 2025
🕰 Waktu : 15.30 - selesai
🕌 Tempat : Masjid Darussalam, Bandungan, Jatinom, Klaten
👩‍🚀 Pemateri: Ustadzah Wening

Bersama kita belajar, membuka mata, dan memperkuat langkah menjaga keluarga dari kerusakan.

Terbuka untuk semua ibu muda & remaja putri
Disediakan snack

Wassalamu’alaikum wrwb

Ibu ajak tetangga. Kita kuat jika bersama

Pergaulan Laki dan PerempuanBanyak dari kita merasa pergaulan itu soal niat.“Asal niatnya baik, kan nggak papa?”Padahal…...
13/05/2025

Pergaulan Laki dan Perempuan

Banyak dari kita merasa pergaulan itu soal niat.
“Asal niatnya baik, kan nggak papa?”
Padahal… syariat bukan soal niat aja. Tapi juga cara.

Islam mengatur pergaulan laki-laki dan perempuan bukan karena anti cinta. Tapi justru karena Islam ingin melindungi rasa.
Agar kasih sayang tak salah tempat.
Agar simpati tak berubah jadi dosa.

Gharizah nau’ itu fitrah. Tapi kalau tak dikawal hukum syara’, bisa jadi pintu zina.
Dan itu dimulai dari hal-hal sepele:
Senyum yang menggoda, suara yang dilembutkan, atau perhatian yang salah sasaran.

Jangan tertipu kemasan "silaturahmi", "sepupu", atau "teman lama".
Kalau dia bukan mahram, jaga batasnya.
Bukan karena jaim, tapi karena kita bertaqwa.

---



---

01/04/2025

Assalamu'alaikum Wr Wb

Selamat Hari Raya
IDUL FITRI 1446 H / 2025 M

ﺗَﻘَﺒَّﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣِﻨَّﺎ ﻭَﻣِﻨْﻜُﻢ صَالِحَ الأَعْمَالِ

Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita.
Mohon maaf atas segala salah & khilaf.

Wassalamu'alaikum Wr Wb
Keluarga Besar Majelis Ibu Taat Allah

Pria Mapan Bikin Bahagia Pernikahan?Obrolan dengan tema pria mapan ini erat kaitannya dengan pernikahan. Di media sosial...
18/03/2025

Pria Mapan Bikin Bahagia Pernikahan?

Obrolan dengan tema pria mapan ini erat kaitannya dengan pernikahan. Di media sosial banyak Gen Z yang mengkritik lelaki ’mokondo’, sebutan mereka, tapi nekat nikah. Ujungnya istri dan anak sengsara. Apalagi banyak pemberitaan tentan kasus keluarga yang terlantar karena ulah suaminya; pengangguran atau ekonomi lemah, akhirnya anak dan istri jadi korban. Maka, banyak Gen Z yang beri peringatan keras kalau belum mapan jangan dulu berani ngajak ke pelaminan.

Apalagi, kata mereka, hari ini semakin banyak perempuan jadi independent woman. Punya pekerjaan, pendidikan tinggi, dan secara finansial mumpuni. Laki yang belum mapan jangan berani-berani ajukan proposal nikahan, kecuali yang tak tahu diri.

Material World

Secara Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mapan itu berarti; mantap (baik, tidak goyah, stabil) kedudukannya (kehidupannya): dia yang dulu lontang-lantung, kini hidupnya telah –; Dalam perbincangan sehari-hari, mapan identik dengan pribadi yang punya kemampuan finansial memadai. Penghasilan tinggi, punya kendaraan atau bahkan rumah pribadi.

Cuma, apa standar kemapanan itu? Ini yang nge-blur. Gak jelas. Gen Z atau orang Indonesia hari ini ramai bicarakan mapan banyak terpengaruh obrolan di media sosial. Juga melihat dari gaya hidup sebagian orang yang diekspos di akun-akun medsos mereka, alias flexing. Akhirnya itu kerap jadi standar kemapanan seseorang. Kalau punya motor sport, bisa sering ngopi di kafe-kafe, rutin traveling, outfitnya merk anu dengan harga sekian ratus ribu, dsb.

Belakangan kriteria mapan juga ditambah lagi punya kepribadian baik, dewasa, s**a membantu keluarga, dsb. Tapi, standar finansial tetap paling terdepan, apalagi kalau bahasannya opsi mencari suami.

Soal mapan dan tidak mapan ini persis lirik salah satu lagu Madonna, diva musik pop yang pernah terkenal di tahun 90-an, Material Girl.

Some boys kiss me, some boys hug me
I think they’re okay
If they don’t give me proper credit
I just walk away

Cause we are living in a material world
And I am a material girl
You know that we are living in a material world
And I am a material girl

Pemikiran seperti ini akhirnya berdampak negatif pada banyak hal, misalnya kemapanan finansial jadi ukuran tinggi rendahnya status seseorang. Makin kaya, makin dihormati dan dihargai. Cowok mapan dengan kebebasan finansial maka jadi idaman banyak perempuan. Tapi laki yang tidak mapan keuangannya, walaupun baik, bisa jadi dipinggirkan.

Karena ingin dibilang mapan, banyak orang berpura-pura dan memaksakan diri agar kelihatan mapan. Muncul perilaku FOMO (Fear Of Missing Out), flexing dan ujungnya lahir perilaku doom spending. Keuangan pun boncos. Babak belur. Beberapa riset menunjukkan banyak Gen Z yang terjerat masalah keuangan karena gaya hidup. Ada yang menyebutkan 38 % dari mereka terlilit utang akibat gaya hidup. Semua demi disebut mapan.

Dampak lain perbincangan standar kemapanan yang tidak jelas ini adalah menurunkan angka pernikahan di kalangan Gen Z. Banyak lelaki yang menunda nikah karena merasa belum mapan dan khawatir penghasilan mereka tidak mencukupi kebutuhan keluarga kelak. Sementara yang perempuan juga berpikir ulang andai diajak menikah oleh lelaki yang menurut mereka belum masuk standar kemapanan.

Berfikir Sehat

Penting untuk Gen Z berpikir sehat dan simpel tentang batas kemapanan. Pertama, diskusi soal kemapanan harusnya ada ukuran yang jelas, bukan diserahkan pada penilaian tiap orang, apalagi mengikuti FOMO. Misalnya, disebut mapan dengan ukuran seleb anu, atau punya rumah pribadi, bisa menyekolahkan anak di sekolah elit, dsb.

Percayalah, perbincangan soal mapan tanpa ukuran yang jelas bikin hidup jadi rumit dan menyusahkan. Percaya juga kalau Islam beri batasan jelas dan simpel. Akhirnya memudahkan hidup kita sebagai manusia. Padahal sebenarnya manusia itu bisa hidup damai sesuai kebutuhan dasarnya sebagai manusia. Tapi, manusia akan sengsara bila ingin hidup sesuai keinginannya. Karena kebutuhan manusia sebenarnya terbatas, tapi keinginannya itu tanpa batas.

Kalau kita bicara soal kemapanan, maka yang pertama harus dipahami adalah soal rizki. Rizki itu gift dari Allah. Mutlak. Bukan sesuatu yang bisa didapat dari kerja manusia. Kalau kerja keras itu menghasilkan rizki yang banyak, harusnya tukang batu itu adalah manusia paling mapan. Kalau kerja cerdas itu juga menghasilkan banyak uang, harusnya profesor ada di top list orang paling mapan.

Tapi Allah menetapkan bahwa Dialah Maha Pemberi Rizki. Dia bisa lapangkan atau sempitkan rizki seseorang. FirmanNya:

Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman. (TQS Az-Zumar [39]: 52)

Ada lelaki yang ketika sekolah dan kuliah masuk kelompok marjinal. Tinggal aja di masjid merangkap marbot dan guru TPA. Namun begitu lulus bisa punya karir yang bagus dan keluarga yang sakinah. Ada orang yang tadinya tajir melintir, tapi dalam hitungan tahun semua bisnisnya kolaps. Hartanya disita negara karena ternyata pundi-pundi kekayaannya didapat dari hasil menggarong uang negara.

Kedua, kenapa Gen Z gak mulai membicarakan pria matang? Beda lho antara mapan dengan matang. Kalau mapan pembahasan secara materi, kalau matang adalah soal kepribadian. Cowok mapan belum tentu matang, juga sebaliknya. Tapi lelaki yang matang dia akan berjuang untuk mendapatkan kemapanan.

Apalagi dalam Islam lelaki memang bertugas sebagai pencari nafkah untuk dirinya dan keluarganya. Menyediakan makanan, pakaian dan tempat tinggal. Lalu Allah yang Mahabijak menetapkan batas mapan itu adalah kema’rufan. FirmanNya:

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. (TQS. Al-Baqarah [2]: 233)

Juga firmanNya:

Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. (TQS. Ath-Thalaq [65]: 6)

Kalau rizki seorang suami lagi lapang, maka Allah perintahkan ia menafkahi anak-istrinya selapang-lapangnya. Tidak boleh menahan hak mereka. Firman Allah:

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (TQS. Ath-Thalaq [65]: 7)

Ketiga, kalau bicara kemapanan harus selalu kaitkan dengan kebahagiaan. Apakah seorang lelaki yang mapan dipastikan akan membuat seorang keluarganya bahagia? Ada yang bilang, belum tentu sih, tapi setidaknya dengan kemapanan dan uang berlimpah, kita bisa mendapatkan apa yang kita mau. Tapi, apakah itu namanya bahagia?

Belum tentu. Sudah banyak contoh mereka yang menikah ala kerajaan, ala princess, lalu berujung duka nestapa. Juga banyak pasangan yang hidupnya pas-pasan lalu bubar. Intinya, kebahagiaan tidak berbanding lurus dengan kemapanan suami. Kebahagiaan itu sesuatu yang harus diciptakan, di-create, dari dalam hati. Tepatnya, bersumber dari keimanan. Banyak pasangan yang bukan golongan mapan, jet set, tapi bisa menata hati dan menciptakan kebahagiaan.

Rasulullah saw mengajarkan dua prinsip kebahagiaan; sabar dan syukur. Saat kenyataan belum sesuai harapan, maka bersabar dan ridho dengan ketetapan Allah Swt. Lalu bila Allah memberikan kenikmatan – sekecil apapun – hati mensyukurinya.

Orang yang bersyukur akan bahagia meski minum kopi sachetan bubar pengajian. Jauh lebih bahagia dari mereka yang minum segelas latte macchiato dengan sepiring croissant di kafe mahal, namun hati tak pernah kunjung bersyukur.

Nyatanya, tidak banyak orang yang benar-benar bersyukur atas nikmat Allah. Pantas, bila dunia lebih banyak diisi orang-orang yang gelisah padahal mereka sudah berada di zona kemapanan. Benarlah firman Allah Swt:

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (TQS. Saba’ [34]: 13).

Orang tua dan guru punya satu kesamaan tupoksi (tugas pokok dan fungsi); mendidik. Bila orangtua mendidik anak kandung, ...
17/03/2025

Orang tua dan guru punya satu kesamaan tupoksi (tugas pokok dan fungsi); mendidik. Bila orangtua mendidik anak kandung, maka guru mendidik murid-murid yang diamanahkan orangtua siswa. Memang banyak perbedaannya juga antara guru dan orangtua dalam kegiatan pendidikan ini; dari segi durasi, kurikulum, dsb. Namun pendidikan tetaplah pendidikan, tetap membutuhkan kiat sukses yang sebelas dua belas. Tak jauh beda. Apa sajakah itu?

Pertama, orangtua dan para guru harus bertakwa pada Allah. Mereka harus paham bahwa amal perbuatan mereka akan dihisab dan dibalas di akhirat. Dengan landasan takwa, orangtua dan guru akan berhati-hati menjalankan amanah pendidikan, tidak mencari popularitas dan materi, dan menjaga diri dari perbuatan tercela.

Kedua, Mendidiklah dengan hati ikhlas. Jadikan ridlo Allah sebagai tujuan tugas mendidik. Bukan harapkan ucapan terima kasih dari orangtua murid, atau agar dikenang murid, bahkan juga bukan untuk mengharap murid menjadi cerdas dan pintar. Tapi mendidiklah sebaik-baiknya karena menghayati tugas ini adalah tugas mulia dari Allah SWT.

Ketiga, jangan mengharap pemberian dari anak didik atau orang lain. Terkadang ada orangtua yang mendidik anaknya agar kelak di masa depan anaknya sukses dalam karir atau usaha sehingga dapat menanggung hidup mereka di saat usia tua. Ini pemikiran keliru dalam dua hal; 1). Manusia tidak pernah tahu kadar rizki dan keadaan masa depan. Berapa banyak anak yang saat usia dewasa masih jadi tanggungan orangtua karena sakit keras atau Allah beri kadar rizki yang sedikit 2). Pemikiran semacam ini bisa menggugurkan pahala pendidikan yang kadarnya lebih mulia ketimbang pemberian dari anak.

Keempat, orangtua dan pendidik harus memiliki karakter positif (adab mulia). Anak-anak dan siswa akan lebih menghormati guru yang beradab, menjadi teladan, meskipun kemampuan mengajar mereka biasa saja dibandingkan guru atau orangtua yang pintar tapi buruk perilakunya. Lebih jauh lagi, Allah amat murka pada orang yang mengajarkan kebaikan tapi ia sendiri tidak mengerjakan kebaikan tersebut.

Kelima, kasih sayang adalah bekal yang harus dimiliki orangtua dan pendidik saat mengasuh anak-anak atau para siswa. Seorang ayah/ibu juga pendidik harus bisa memotivasi anak-anak, tidak mudah marah namun tegas, menyentuh perasaan mereka agar bertakwa pada Allah SWT dan sungguh-sungguh dalam belajar. Nabi SAW. adalah sosok orangtua, suami, dan pengajar yang penuh rahmah pada keluarga dan para sahabat. Beliau tidak marah ketika ada orang Arab Badui yang kencing di pojok mesjid lantaran ketidaktahuannya. Beliau juga bersabar ketika ada orang yang menarik sorban dari leher Beliau sehingga meninggalkan bekas guratan merah di lehernya.

Keenam, orangtua dan guru harus mengembangkan uslub mengajar tidak terpaku pada satu pola saja. Anak-anak dan para siswa bisa jenuh dan kehilangan semangat belajar jika mendapatkan cara pengajaran yang berulang-ulang. Orangtua dan guru bisa menggunakan uslub alat peraga, membawa anak dan siswa ke tempat yang menyenangkan seperti di taman, perpustakaan, mesjid, dsb. Atau bisa mengundang orang yang punya pengalaman menarik dan berilmu untuk berbagi pengetahuan dengan anak-anak dan para siswa.

Terakhir, sedari awal wajib dipahami orangtua dan guru bahwa keberhasilan pendidikan adalah karunia dari Allah SWT. Maka keduanya harus banyak taqarrub pada Allah dengan berdoa dan ibadah-ibadah sunnah, serta tak lupa mendoakan anak-anak didik mereka agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan mendapatkan hidayah Allah SWT.

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (TQS. Al-Qashash/28 : 56)

16/03/2025

7 TANDA KETIDAKMATANGAN EMOSI DALAM PERNIKAHAN

"Dewasa dalam mengelola emosi bukan semata kemampuan mengendalikan amarah. Kedewasaan mengelola emosi juga ditampakkan dalam kemampuan menghadapi masalah, menyelesaikan konflik, dan independen dalam mengambil keputusan.

Kematangan emosi pada suami istri begitu penting dalam menciptakan suasana pernikahan yang bahagia. Sebab pernikahan adalah relasi yang memang harus melibatkan emosi dan mesti menciptakan ikatan emosional. Rasa cinta, kasih sayang, pengorbanan, saling membantu, saling memaafkan adalah bagian dari ekspresi emosi seseorang yang harus selalu mengisi ’tanki’ cinta dalam pernikahan.

Islam sedari awal sudah mengingatkan kaum muslimin untuk berusaha untuk memiliki kendali emosi yang baik dan penuh kasih sayang. Bahkan Nabi Saw sendiri adalah pribadi tidak mudah marah dan kaya akan kasih sayang. FirmanNya:

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (TQS. At-Taubah [9]: 1128).

Prof Dr Wahbah Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir, dalam kitab tafsirnya menjelaskan makna ra’uf sebagai berikut; ”Ra’fah itu lebih lembut dari rahmah, yang mana disertai dengan kelemah lembutan yang mampu menghilangkan sebab suatu musibah. Dan rahmat itu di dalamnya mengandung kebaikan dan pemberian”.

Kendali emosi begitu ditekankan Nabi Saw dalam pergaulan suami istri. Allah Swt dan Rasulullah Saw selain memerintahkan para suami agar berlaku lemah lembut pada istri, juga agar tidak mudah marah apalagi sampai memukul. Lelaki yang terbaik disifati oleh Nabi Saw sebagai suami yang tidak (sembarangan) memukul istrinya. Sabda beliau:

لَنْ يَضْرِبَ خِيَارُكُمْ

Orang-orang terbaik diantara kalian tidak akan memukul [istrinya]. (HR Al-Hakim).

Sementara itu Allah Swt mengingatkan para suami agar senantiasa berlaku ma’ruf dalam kehidupan rumah tangga. FirmanNya:

Pergaulilah mereka secara baik. (TQS An-Nisa [4]: 19)

Tentang ayat ini penafsiran yang luar biasa dari Imam As-Shâwi. Beliau menegaskan, berbuat baik terhadap istri termasuk akhlak mulia meskipun mereka justru berbuat buruk terhadap suaminya. Wallâhu a’lam. (As-Shâwi, 1424 H/2004 M: I/280).

Namun Rasulullah Saw juga menunjukkan teladan sebagai pribadi yang punya karakter kepemimpinan kuat dalam pernikahan. Beliau pun tidak segan menasihati dan menegur istri-istrinya bila berlaku tidak ma’ruf. Di luar itu, Nabi Saw adalah pribadi yang pandai menyenangkan istri-istrinya.

Maka, kedewasaan dalam mengelola emosi bukan semata kemampuan mengendalikan amarah. Kedewasaan mengelola emosi juga ditampakkan dalam kemampuan menghadapi masalah, menyelesaikan konflik, dan independen dalam mengambil keputusan.

Tentang pentingnya mengelola emosi dengan sehat juga ditekankan para penasihat pernikahan. Dr Susan Heitler , psikolog dan konsultan pernikahan dari Rose Medical Centre, Denver, Amerika Serikat mengatakan, “Kemampuan untuk mengelola emosi dengan baik adalah kunci dalam menjaga hubungan pernikahan yang sehat.”

Ketidakmatangan emosi

Karena itu salah satu penyebab hubungan dalam pernikahan menjadi bermasalah adalah ketidakdewasaan dalam mengelola emosi. Sayangnya, tidak semua orang menyadari bila mereka punya persoalan dalam pengelolaan emosi. Akibatnya, relasi dalam rumah tangga seperti roller coaster; naik turun. Jarang tercipta ketenangan.

Berikut sejumlah sifat yang menandakan bahwa seseorang belum matang secara emosi. Semua tanda-tanda ini patut untuk diluruskan agar rumah tangga menjadi sakinah:

Minim kesadaran diri
Pernah melihat orang berpakaian seenaknya di acara-acara formal? Begadang main game atau di kafe padahal deadline tugas kuliah atau pekerjaan sudah mepet? Nah, itu beberapa tanda belum matangnya pengelolan emosional pada diri seseorang. Minim kesadaran diri. Malas, tidak respek pada orang lain, tidak menghormati yang tua, ingin dirinya didahulukan atau diistimewakan, s**a memanfaatkan kedudukan dirinya atau orang lain untuk keuntungan sendiri, dsb.

Impulsif
Seperti anak-anak, pribadi yang belum dewasa dalam mengelola emosi sering bertindak tanpa berpikir panjang. Mereka jarang memikirkan dampak perbuatan yang dilakukan, FOMO (Fear Of Missing Out). Apa yang sedang tren langsung mereka lakukan. Shopping tanpa berpikir apakah sesuai kebutuhan, juga tidak berpikir itu menghabiskan uang bulanan.

Sulit berempati
Pribadi yang secara emosional belum matang biasanya sulit untuk berempati. Dalam pernikahan ada istri yang tidak mau memahami kesulitan suami dalam mencari nafkah. Melulu berpikir kewajiban suami adalah memberi nafkah.

Suami yang miskin empati juga membuat pernikahan menjadi sulit. Suami seperti ini jarang turun tangan membantu pekerjaan rumah istri atau mengasuh anak. Dia merasa itu kewajiban istri, sedangkan kewajiban dia hanya mencari nafkah .

Mudah Marah Dan Baperan
Ini jelas tanda ketidakmatangan seseorang secara emosional. Perbedaan pendapat justru memicu pertengkaran. Ketika orang lain memberikan saran apalagi kritik, alih-alih mendengarkan dengan seksama ia malah merasa teritori kekuasaannya diserang. Akibatnya sering memicu konflik dengan orang lain.

Selain mudah marah, orang seperti ini juga mudah tersinggung. Baperan atau terlalu sensitif. Selain menunjukkan sikap marah, biasanya mereka memilih menarik diri dari circle pergaulan. Kadangkala sulit bagi mereka untuk pulih karena memendam perasaan marah atau kecewa.

No Solusi, Tapi Lari
Ketidakmatangan seseorang juga terlihat saat ia memilih menghindari masalah dan bukan berusaha mencari solusi. Akibatnya berbagai persoalan yang dihadapi tidak kunjung selesai. Ia kesulitan untuk duduk bersama dan berpikir jernih memecahkan persoalan yang dihadapi. Sampai pada akhirnya ia tertekan habis-habisan, atau mati rasa dalam menghadapi hidup.

Posesif
Cemburu dalam pernikahan itu harus, tapi cemburu yang berlebihan menjadikan pribadi yang posesif pada pasangan. Ini juga ciri ketidakmatangan dalam mengelola emosi. Pribadi yang posesif ini berpikir tidak boleh ada yang dianggap terlalu dekat dengan pasangannya, termasuk keluarganya sendiri.

Bergantung Pada Orang Lain
Sebagian orang yang tidak matang dalam menata emosinya punya sifat begitu bergantung pada orang lain. Ini bisa dialami suami ataupun istri. Ada suami yang tidak bisa ambil keputusan sendiri tapi harus dibantu oleh orang tuanya atau saudaranya. Padahal hal yang sedang dihadapi berkaitan dengan internal keluarganya.

Ada juga istri yang sampai menikah sulit hidup bersama dengan suami, karena merasa masih bergantung pada orang tuanya. Bahkan memilih LDR dengan suami ketimbang harus meninggalkan kedua orang tuanya.

🪻🪻🪻🪻🪻🪻🪻🪻Assalamualaikum wr.wb.Menjadi seorang ibu, adalah  jabatan baru yang harus di persiapkan baik secara jasmani ser...
18/08/2024

🪻🪻🪻🪻🪻🪻🪻🪻

Assalamualaikum wr.wb.

Menjadi seorang ibu, adalah jabatan baru yang harus di persiapkan baik secara jasmani serta rohani.

Bagaimana tidak ?
Dituntut untuk berperan ganda, sebagai seorang istri harus memenuhi kewajibannya kepada suami, dan sebagai seorang ibu harus memenuhi kewajibannya terhadap anak.

Tak ayal, seorang ibu itu sangat rawan berkaitan dengan kesehatan mentalnya. Terkadang yang terlihat baik-baik saja, sewaktu-waktu dapat melakukan tindakan-tindakan yang berbahaya bagi orang di sekelilingnya. Tak lain tak bukan, itu di karenakan lelahnya jiwa seorang ibu.

Bunda, tahukan anda apa itu kesehatan mental ? bagaimana ciri-ciri gangguan kesehatan mental pada seorang ibu ? serta solusi ISLAM dalam permasalahan kesehatan mental ?

Yuukk cari tahu jawabannya disini :

KAJIAN KHUSUS MUSLIMAH *"Halo Jiwa, Bagaimana Kabarnya ?" Mengenal Kesehatan Mental Ibu*

👇👇👇

Ingat tanggalnya!!
🗓️ Ahad, 25 agustus 2024
⏰ 09.00-11.00 WIB
📌 Masjid Darussaam Bandungan

Siapkan mental terbaikmu, jangan lupa buku catatannya bunda🥰🥰







Wassalamu'alaikum wr.wb

🪻🪻🪻🪻🪻🪻🪻🪻🪻

Present by Majelis Ibu Taat Allah (MITA)

Instagram https://www.instagram.com/mita.1924?igsh=NmpjZGplbjg4amV3

Address

Klaten

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Majelis Ibu Taat Allah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category