20/04/2016
Kesalahan pemikiran yang merugikan Anda (Part 2).
Banyak pekerja mengharapkan kenaikan gaji. Sebenarnya hal seperti itu sah-sah saja, siapa yang tidak mau mendapatkan penghasilan yang lebih banyak? Tetapi seharusnya kenaikan upah ini diikuti dengan kenaikan kualitas kerjanya, sebab kenaikan upah tanpa disertai kenaikan mutu dari hasil kerjanya hanya akan merugikan kita semua.
Tahukah Anda bahwa sebenarnya barang yang kita pakai itu pada prinsipnya adalah pemberian Sang Pencipta secara cuma-cuma alias gratis? Coba bayangkan, baju yang kita pakai bisa kita dapatkan secara cuma-cuma bila kita mau menanam kapas, memetiknya sendiri, lalu memintalnya menjadi benang. Kemudian kita sendiri yang menenunnya dan kemudian kita celup untuk memberi warna pada kain tersebut, kemudian kita sendiri yang menjahitnya menjadi pakaian .... gak perlu bayar khan?
Tentunya bila kita kerjakan hal seperti itu, akan memakan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan sepotong baju. Dalam era ekonomi modern sekarang ini kita tidak melakukannya dengan cara demikian. Kita membayar JASA orang lain untuk menanamkan kapas dalam jumlah banyak. Membayar JASA orang lain utnutk memetiknya, kemudian membayar JASA orang lain untuk memintalnya menjadi benang. Selanjutnya kita juga membayar JASA untuk menenunnya menjadi kain, kemudian membayar jasa orang lain untuk mewarnainya melalui pencelupan. Setelah menjadi kain kita bayar JASA orang lain p**a untuk menjadikannya pakaian. Jadi apapun barang yang kita pakai, yang kita bayar bukan barangnya tetapi JASA yang bertumpuk untuk membuat barang tersebut.
Bayangkan bila JASA yang harus dibayar itu menjadi 2 kali lipat karena upah dinaikan menjadi 2 kali lipat, apakah harga barangnya akan tetap sama? Tentunya harga barang juga akan menjadi 2 kali lipat dari harga sebelumnya. Banyak orang tidak menyadari bahwa UMR yang dinaikan tidak akan memberi penyelesaian untuk keadaan finansialnya. Mereka berpikir bahwa dengan naiknya upah, mereka akan mampu membeli barang lebih banyak, tetapi pada kenyataannya harga barang-barang juga menjadi lebih mahal. Upah naik 2 kali lipat maka harga barang akan naik p**a 2 kali lipat dari harga sebelumnya, karena upah yang membayar JASA pembuatan barang tersebut juga menjadi 2 kali lipat lebih mahal. Jadi dengan kenaikan upah tidak akan menjadikan keadaan finan sial mereka lebih baik.
Bisa kita lihat kenyataannya seperti yang terjadi antara Jakarta dengan Bandung, banyak sekai orang Jakarta yang menghabiskan akhir minggunya di kota Bandung, karena biaya yang mereka keluarkan untuk menghabiskan masa liburannya di Bandung jauh lebih murah dibandingkan dengan menghabiskan liburan di Jakarta. Jadi rejeki dari orang Jakarta mengalir ke Bandung, dan rejeki tersebut dinikmati oleh orang Bandung. Bayangkan bila UMR Bandung disamakan dengan UMR Jakarta, maka liburan di Bandung akan menjadi sangat mahal. Otomatis Bandung akan kehilangan daya tariknya karena belanja di Bandung serba mahal. Tidak heran bila hal seperti itu terjadi, maka Bandung akan kehilangan 'rejeki'-nya.
Hal yang sama terjadi antar negara juga. Di mana negara dengan upah yang rendah menjadi incaran para investor dan pengusaha. Berapa banyak perusahaan besar yang angkat kaki dari Indonesia hanya karena biaya produksi barang di Indonesia kelewat mahal? Dengan pindahnya perusahaan ke negara lain, maka orang Indonesia yang kehilangan rejekinya. Lingkaran setan ini terus berlangsung, karena sekarang banyak orang menjadi pengangguran. Dari sekeluarga beranggotakan 5 orang hanya 1 orang yang mendapat pekerjaan, sehingga upah dari 1 orang harus dibagi berlima. Yang seharusnya diperbaiki adalah perputarannya, upah rendah akan menyediakan banyak perkerjaan, sehingga 5 anggota keluarga tadi semuanya bisa mendapatkan pekerjaan. Walaupun masing-masing mendapatkan upah 50% akan tetap lebih sejahtera karena 5 orang bekerja X 50% X UMR lebih besar daripada 1 UMR dibagi ber 5.
Dalam jangka panjang, karena upah JASA nya hanya 50%, maka harga barangpun akan berangsur-angsur menjadi relatif lebih murah. Bila hal ini terjadi maka UMR yang lebih murah akan memberikan dampak yang positif bagi masyarakatnya, walaupun upah rendah tetapi harga barang murah maka daya beli masyarakat akan menjadi baik p**a. Hal lainnya, akan banyak mengundang lebih banyak pengusaha dan investor untuk menanamkan usahanya di daerah tersebut, yang berarti lebih banyak lapangan kerja yang tersedia.
Mudah-mudahan kita semua sadar dengan hal-hal seperti ini, jadi pemerintah juga tidak gampang-gampang menaikan UMR di daerahnya dan juga para pekerja tidak hanya demo-demo melulu menuntut kenaikan UMR-nya tanpa disertai dengan kenaikan mutu dari standard kerja mereka.
Silahkan di-share agar kita semua lebih cerdas finansial.
Salam sukses,
Bambang Limanto B.Sc.
Business consultant