24/08/2026
*HARUSKAH AKU CEMBURU…*
- Kecemburuan ibarat garam dalam cinta : Kalau kebanyakan akan jadi asin, kalau kurang, cinta terasa hambar. Rasa cemburu yang berlebihan merupakan pintu terjadinya cerai. Namun kurangnya rasa cemburu merupakan pintu terjadinya khianat. Sedangkan rasa cemburu yang pas, itulah pondasi istana cinta.
[Dr Muhammad Majdu’ asy Syahri pengasuh situs aefaf.com penasihat masalah rumah tangga.56]
Cemburu dalam rumah tangga merupakan sesuatu yang wajar jika dikelola dengan sebaik-baiknya, tidak berlebihan dan tidak p**a meniadakan. Cemburu merupakan bagian dari romansa cinta pasangan terhadap pasangannya, cemburu terkadang menjadi bukti betapa cintanya suami pada istrinya atau sebaliknya. Karenanya rumah tangga tanpa ada rasa cemburu ibarat rumah tangga tanpa cinta. Sebagimana pernah disampaikan oleh Ibnu Hazm Al-Andalusi rahimahullah: “Bila rasa cemburu telah hilang, maka yakinlah rasa cinta pun telah sirna.” [Kitabul Akhlak wa Siyar, hal. 136]
Cemburu adalah hal yang normal. Cemburu adalah bumbu yang akan menambah rasa cinta tergantung kadar banyak sedikitnya rasa cemburu. Cemburu jangan sampai menjadi alasan munculnya prahara rumah tangga. Cemburu harus dipahami lebih-lebih cemburunya seorang wanita , maka harus dimaklumi tanpa perlu menyudutkan dan merendahkan tabiat dasar seorang wanita.
Ath-Thabari dan ulama lainnya mengatakan;
الغيرة مُسامح للنساء فيها، لا عقوبة عليهن فيها، لما جُبِلْن عليه من ذلك.
“Rasa cemburu para wanita itu dimaklumi. Mereka tidak dihukum dalam hal tersebut karena rasa cemburu sudah menjadi tabiat bawaan mereka.” [Al-Adab asy-Syar’iyyah 1/248]
Al-Ghirah (rasa cemburu) merupakan fitrah dasar pada diri kaum hawa. oleh karenanya seorang muslimah harus menjaga fitrah ini agar tidak tercampuri oleh bisikan-bisikan setan. Dengan tali keimanan dan genggaman keimanan agar ghirah tersebut dapat berakhir menjadi baik serta memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bahkan ibunda ‘Aisyah- radhiyallaahu ‘anha- juga sangat cemburu terhadap istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain.
Dalam hal ini ada satu pelajaran mahal bagi para suami bagaimana seni memahami karakter dasar seorang wanita yang sangat pencemburu. Bagaimana meredakan luapan-luapan emosi cinta sang isteri saat cemburu. Sebuah kisah yang langsung bersumber dari rumah tangga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimanapun rumah tangga Nabi pernah mengalami masa-masa bagaimana rasanya dicemburui oleh istri beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pernahkah mendengar tentang cemburu yang dirasakan oleh Ibunda ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ?
Aisyah radhiallahu ‘anha bercerita, “Saya pernah menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada haji wada’. Kala itu beliau juga membawa serta istri-istri beliau yang lain (diantaranya Shafiyyah binti Huyaiy). Kebetulan perbekalanku ketika itu sedikit sedangkan unta tungganganku kuat dan cepat. Adapun perbekalan Shafiyyah berat, namun unta tunggangannya lambat, sehingga perjalanan kami tersendat-sendat disebabkan unta tersebut.
Untuk mengatasi keterlambatan ini, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Letakkanlah perbekalan Aisyah di atas unta Shafiyyah, sedangkan perbekalan Shafiyyah di atas onta Aisyah agar perjalanan menjadi lancar.”
Tanpa ragu sedikitpun, para sahabat segera menjalankan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Berbeda dengan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha , ia tidak kuasa menahan rasa cemburunya. Dengan lantang ia berteriak: “Wahai hamba Allah tolong, aku dikalahkan oleh perempuan Yahudi ini.”
Mendengar teriakan istri beliau ‘Aisyah, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berusaha memberikan penjelasan dengan bersabda, “Wahai Ummu Abdillah, sesungguhnya perbekalanmu itu ringan, sedangkan perbekalan Shafiyyah itu berat, sehingga perjalanan menjadi terhambat. Karenanya kami memindahkan perbekalanmu ke atas tunggangan Shafiyah sedangkan perbekalan Shafiyah kami pindahkan ke atas tungganganmu.”
Mendapat penjelasan ini, rasa cemburu ‘Aisyah belum kunjung reda juga, ia kembali berkata, “Bukankah engkau mengaku sebagai utusan Allah?”.
Rasulullah tersenyum mendengar jawaban Aisyah, lalu beliau bersabda: “Adakah keraguan akan hal tersebut wahai Ummu Abdillah?.”
‘Aisyah menjawab: “Bukankah engkau mengaku sebagai utusan Allah, kenapa engkau tidak berlaku adil?.”
Belum sempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab menanggapi ucapan ‘Aisyah, mereka dikejutkan oleh kehadiran sahabat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu. Karena mendengar ucapan putrinya seperti di atas, maka beliau marah dan segera memberi pelajaran kepada ‘Aisyah dengan menampar wajahnya.
Melhat istrinya dipukul oleh ayahnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seakan hendak mencairkan suasana dengan bersabda: “Beesikap lembutlah wahai Abu Bakar.”
Sahabat Abu Bakar menjawab: “Tidakkah engkau mendengar ucapan putriku ?.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
إِنَّ الْغَيْرَى لاَ تُبْصِرُ أَسْفَلَ الْوَادِي مِنْ أَعْلَاهُ ، إِنَّمَا التَّجَنِي فِي الْقَلْبِ
“Sesungguhnya wanita yang sedang dilanda rasa cemburu itu buta, sampai sampai tidak mampu membedakan antara dasar lembah dari bagian atasnya , dan sesungguhnya kejahatan itu hanyalah dinilai sebagai kejahatan bila dilakukan dengan sadar.” [HR. Abu Syaikh al-Ashbahani, Abu Ya’la di dalam musnadnya, dan oleh Syaikh al-Albani dinyatakn sebagai hadits dhaif Silsilah adh-Dhaifah No. 2985)]
Pada riwayat ini tergambar betapa arif Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dengan lihai mencairkan suasana, sehingga keasalahpahaman tidak berkelanjutan hingga terjadi prahara. Tergambar dengan nyata , betapa beliau benar-benar memahami kaarakter dasar wanita. Sehingga, beliau memahami bahwa seluruh ucapan Aisyah di atas semata-mata karena luapan cemburunya, rasa cemburu adalah luapan cinta yang sangat mendalam.
Bukan hanya memahami alasan, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan pembelaan pada istrinya dari luapan amarah sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Pembelaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini menyebabkan Aisyah melunak, dan semakin memahami bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar sosok suami yang luar biasa.
Ada pelajaran berharga dari cuplikan 'pernak pernik' rumah tanggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas. Yaitu bahwa pasangan suami isteri memiliki pola komunikasi yang khas. Kekhasan yang apabila dikelola dengan bijak dapat menjadi kehangatan hidup berumah tangga.
Di antara bentuk komunikasi suami isteri yang sehat adalah manakala komunikasinya telah bersifat lepas, tidak 'anggah ungguh', serta tidak terbelenggu oleh simbol dan kedudukan yang ada pada masing-masing pasangan. Tentu saja, setelah hak dan kewajibannya telah dipahami masing-masing.
Pola komunikasi seperti ini, hanya dapat terwujud jika masing-masing pasangan memainkan perannya secara total dalam kehidupan rumah tangga. Namun hal tersebut bukan sesuatu yang dapat terwujud karena pandai berakting ala bintang film yang justeru banyak gagal dalam kehidupan rumah tangga sesungguhnya, tapi yang dibutuhkan adalah ketulusan cinta dan perasaan saling memiliki.
Ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha di atas, jika dilihat dari sudut pandang aqidah, jelas sangat bermasalah, karena dapat dipahami meragukan kerasulan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, tidak demikian halnya jika dilihat dari kekhasan pola komunikasi suami isteri. Yang tampak justru luapan emosi cinta yang terungkap secara lisan dan refleks bukan luapan emosi penuh kebencian. Inilah bedanya rumah tangga hari ini, tidak mampu mengelola rasa cemburu yang ada adu argumentasi yang berujung saling menyalahkan satu pihak.
Di antara bentuk komunikasi suami isteri yang sehat adalah manakala komunikasinya telah bersifat lepas, tidak merasa paling tinggi, serta tidak terbelenggu oleh simbol dan kedudukan yang ada pada masing-masing pasangan. Tentu saja, setelah hak dan kewajibannya telah dipahami masing-masing.
Pola komunikasi seperti ini, hanya dapat terwujud jika masing-masing pasangan memainkan perannya secara total dalam kehidupan rumah tangga. Namun hal tersebut bukan sesuatu yang dapat terwujud karena pandai berakting ala bintang film yang justeru banyak gagal dalam kehidupan rumah tangga sesungguhnya, tapi yang dibutuhkan adalah ketulusan cinta dan perasaan saling memiliki.
Pola komunikasi yang baik antara pasangan akan memudahkan pasangan meredakan suasana saat cemburu melanda. Komunikasi yang bersifat keterbukaan tanpa ada “rahasia” akan menjadikan cemburu ibarat hiasan yang tak harus dikomentari atau dibesar-besarkan. Dengan komunikasi yang baik tentunya menjadikan cemburu dalam rumah tangga sebagai langkah menuju kebahagiaan rumah tangga.
Cemburu dalam rumah tangga adalah bumbu-bumbu yang akan semakin menambah rasa cinta dalam rumah tangga. Cemburu jika ditempatkan pada waktu yang tepat tidak akan pernah menimbulkan prahara dan gonjang-ganjing pernikahan. Cemburu pasti ada, tapi KEDEWASAAN seseorang itu dilihat bagaimana cara MENGELOLA CEMBURU.
Wa Allahu A’lam Bisshawab
REFERENSI:
Pahit Manis Rumah Tangga Rasul: Mesra Bukan Bermakna Tidak Pernah Bermasam Muka dan Romantik Bukan Berarti Tidak Pernah Berkonflik, Oleh: A.R. Shohibul Ulum
Sumber :
--------------
https://chat.whatsapp.com/JZvIFrRyQFUBK2RC7XgBBy
___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM