29/05/2026
Kalau ada yang bertanya,
bagaimana rasanya lempar jumroh
tiga hari berturut-turut.
Saya akan bilang: tidak nyaman.
Lautan manusia
yang tidak kelihatan ujungnya.
Sumpek.
Bahkan jalan pun macet ,
dan ini terjadi di mana-mana.
Tubuh sudah minta istirahat
sejak hari pertama.
Dan ini bukan satu hari saj,
Ini berlangsung tiga hari.
Tapi di tengah semua itu,
saya sadar satu hal.
Sebanyak 1,5 juta orang
hadir di sini.
Sama-sama kelelahan,
sama-sama gerah,
sama-sama berdesakan.
Tidak ada yang dipaksa,
untuk datang.
Tidak ada yang mengeluh
karena datang.
Kenapa?
Saya ingat frasa
yang dulu sering saya dengar
dan sering saya lewatkan begitu saja.
"Karena diundang Tuhannya."
Dulu saya pikir itu kalimat
yang terlalu mudah diucapkan.
Terdengar seperti jawaban
yang tidak sungguh-sungguh
menjawab pertanyaan.
Sampai saya berdiri di Mina.
Menyaksikan jutaan orang
mengangkat tangan,
memanjatkan doa terbaik
yang mereka punya.
Wajah-wajah yang lelah,
tapi tidak ada yang tampak menyesal
untuk hadir di situ.
Dan saya akhirnya mengerti.
Frasa itu bukan klise.
Ia jawaban yang paling mendasar,
paling sederhana,
yang bisa menjawab semuanya.
Diundang Tuhannya.
Allah Subhānahu Wa Ta'ālā.
Itu saja sudah lebih dari cukup...
Terima kasih sudah membaca.
Tabik.
— cerita wawan