Biologi IAIN Kendari

Biologi IAIN Kendari memuat informasi biologi dan kaitannya dalam bahasa yang sederhana, menarik, terbaru dan untuk menge

halaman ini dikelola oleh mahasiswa tadris biologi IAIN Kendari

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang ditularkan oleh gigitan nyamuk bernama Aedes aegypti. Penyakit ini masi...
02/07/2024

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang ditularkan oleh gigitan nyamuk bernama Aedes aegypti. Penyakit ini masih menjadi salah satu isu kesehatan masyarakat di Indonesia, dan tingkat penyebarannya di Indonesia termasuk yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara.
Penyebab
Penyebab DBD adalah virus dengue yang ditularkan kepada manusia melalui nyamuk Aedes aegypti. Ketika nyamuk tersebut menggigit manusia, virus masuk ke dalam tubuh manusia. Nyamuk Aedes aegypti umumnya berukuran kecil dengan tubuh berwarna hitam pekat, memiliki dua garis vertikal putih di punggung dan garis-garis putih horizontal pada kaki. Nyamuk ini aktif terutama pada pagi hingga sore hari, meskipun kadang-kadang mereka juga menggigit pada malam hari. Mereka lebih sering ditemukan di dalam rumah yang gelap dan sejuk dibandingkan di luar rumah yang panas.

Faktor risiko seseorang terkena demam berdarah dengue antara lain tinggal atau bepergian ke daerah tropis. Tinggal atau berada di daerah tropis dan subtropis meningkatkan risiko terkena virus dengue. Daerah yang berisiko meliputi Asia Tenggara, pulau-pulau di Pasifik Barat, Amerika Latin, dan Afrika. Selain itu, memiliki riwayat terinfeksi virus dengue sebelumnya juga meningkatkan risiko mengalami gejala yang lebih parah ketika terkena DBD. Usia di bawah 15 tahun juga memiliki risiko lebih tinggi terkena demam dengue dan demam berdarah dengue.

Gejala
Gejala utama penyakit DBD meliputi demam mendadak yang tinggi, mencapai suhu hingga 39 derajat celsius. Demam ini berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari, kemudian turun dengan cepat. Gejala lain yang biasanya terjadi adalah nyeri kepala, menggigil, lemas, nyeri di belakang mata, otot, dan tulang, ruam kulit kemerahan, kesulitan menelan makanan dan minuman, mual, muntah, gusi berdarah, mimisan, timbul bintik-bintik merah pada kulit, muntah darah, dan buang air besar berwarna hitam. Pada fase kritis penyakit ini, suhu tubuh menurun dan tubuh terasa dingin, meskipun penderita mungkin merasa seperti sudah sembuh. Namun, pada fase ini perlu waspada karena dapat terjadi sindrom syok dengue yang dapat mengancam jiwa.

Diagnosis
Diagnosis DBD melibatkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium darah. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat tanda-tanda klinis seperti demam tinggi dan adanya tanda kebocoran plasma. Tes tourniquet juga dapat dilakukan untuk melihat adanya petechiae (bintik-bintik merah kecil) di bagian dalam lengan. Pemeriksaan darah dilakukan untuk melihat jumlah sel darah putih dan sel darah merah, serta untuk mendeteksi antigen virus dengue dan antibodi.

Pengobatan
Pengobatan DBD meliputi konsumsi banyak cairan untuk mencegah dehidrasi, baik melalui cairan oral maupun melalui cairan intravena jika diperlukan. Pasien juga disarankan untuk beristirahat total dan melakukan kompres pada tubuh untuk membantu mengatasi demam. Obat simptomatik seperti penurun panas (misalnya parasetamol) dan obat antimual dapat diberikan untuk meredakan gejala. Penting untuk selalu berkonsultasi dengan dokter yang memeriksa untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Pencegahan
Untuk mencegah DBD, beberapa langkah pencegahan dapat dilakukan, seperti menguras tempat penampungan air, menutup wadah-wadah penampungan air, mengubur barang-barang bekas, menjaga kebersihan rumah, menggunakan lotion atau obat nyamuk, melakukan penyemprotan nyamuk atau fogging, menggunakan kelambu saat tidur, menggunakan kawat nyamuk pada ventilasi rumah, dan mengenakan pakaian tertutup serta pakaian berwarna terang. Vaksinasi dengue juga dapat dilakukan pada anak-anak berusia 9-16 tahun.

Komplikasi
Komplikasi DBD yang perlu diwaspadai meliputi mimisan, gusi berdarah, perdarahan di bawah kulit, muntah berwarna hitam, batuk darah, feses berwarna hitam, tekanan darah menurun, denyut nadi lemah, tubuh terasa dingin, frekuensi buang air kecil menurun, jumlah urine sedikit, sesak nafas, penurunan kesadaran, dan dapat berujung pada dengue shock syndrome (DSS) yang dapat menyebabkan kematian.

Jika Anda mengalami gejala seperti demam selama 3 hari dan gangguan aktivitas, disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter dan melakukan pemeriksaan darah.

sumber : ayosehat.kemkes.go.id/topik/demam-berdarah-dengue'

SPESIEASI SIMPATRIKSpesiasi simpatrik adalah spesiasi tanpa isolasi geografis atau spesiasi antar populasi yang menunjuk...
11/05/2022

SPESIEASI SIMPATRIK

Spesiasi simpatrik adalah spesiasi tanpa isolasi geografis atau spesiasi antar populasi yang menunjukan migrasi bebas atau tidak adanya batasan wilayah (Coyne & Orr, 2004). Mekanisme ini cukup langka karena karena hanya dengan aliran gen yang sedikit akan menghilangkan perbedaan genetika antara satu bagian populasi dengan bagian populasi lainnya. Walaupun spesiasi jenis ini masih diperdebatkan dalam menjelaskanbiodiversitas pembentukan spesies ikan yang baru, beberapa penelitian mendukung adanya teori ini. Jones et al., (2003) meneliti mengenai seleksi reproduksi berdasarkan ukuran tubuh
yang menjelaskan spesiasi dari dua jenis sister spesies dari kuda laut (genus Hippocampus) yang berdistribusi tumpang tindih di wilayah Atlantis Barat dan Pasifik Barat.Penelitian menunjukan bahwa betina lebih memilih untuk kawin dengan jantan yang memiliki tubuh dengan ukuran yang sama sehingga menghasilan distribusi fenotip bimodal
berdasarkan ukuran tubuh yang dapat mengarahkan terjadinya spesiasi simpatri pada populasi.
Contoh beberapa bukti genetik juga menunjukan terjadinya spesiasi simpatrik adalah pada genus Centropyge. Spesiasi simpatrik yang terdapat pada genus Centropyge dibuktikan pada warna morfologi tubuh namun perbedaantersebut tidak didukung oleh penanda genetik. Yang menjadi pembeda pada level genetiknya adalah berdasarkan wilayah geografis, dimana ikan yang warnanya berbeda memiliki kekerabatan yang lebih dekat jika dibandingkan dengan yang warnanya sama pada wilayah yang berbeda.


#2022

Tahukah kamu, bahwa dalam sel terdapat program khusus untuk mematikan sel itu sendiri, yaitu apoptosis. Hal ini menjadi ...
12/01/2022

Tahukah kamu, bahwa dalam sel terdapat program khusus untuk mematikan sel itu sendiri, yaitu apoptosis. Hal ini menjadi proses penting dalam perkembangan organisme menjadi lebih sehat.

Mengapa demikian?

Sumber :

Bukan apel yang terkenal itu loh.
05/12/2021

Bukan apel yang terkenal itu loh.

Tidurlah pada porsinya.Ingat semua ini hanyalah dunia
05/12/2021

Tidurlah pada porsinya.
Ingat semua ini hanyalah dunia

Research flash: Kurang tidur berdampak buruk pada otak praremaja

Tidak cukup tidur atau tidak tidur nyenyak, bisa menyebabkan performa kita menurun, dan itu juga terjadi pada remaja dan praremaja yang tidurnya terlalu sedikit atau berkualitas buruk. Studi terbaru dari Boston Children's Hospital menjelaskan secara rinci bagaimana kurang tidur dapat membahayakan organisasi otak pada masa remaja awal.

Gambar ini menunjukkan bagaimana kurang tidur, sering kesulitan tidur di malam hari, dan peningkatan frekuensi mendengkur mempengaruhi jaringan regional di otak. Efek ini didistribusikan ke seluruh otak, termasuk daerah (seperti daerah korteks frontal) yang masih berkembang pada masa remaja awal dan mendukung proses kognitif tingkat tinggi seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan dan mengintergrasikan informasi dari dunia luar.

Gambar ini merupakan dokumentasi penelitian dari Skylar Brooks and Caterina Stamoulis, Boston Children's Hospital

Jurnal Referensi:
Skylar J Brooks, Eliot S Katz, Catherine Stamoulis, Shorter Duration and Lower Quality Sleep Have Widespread Detrimental Effects on Developing Functional Brain Networks in Early Adolescence, Cerebral Cortex Communications, 2021;, tgab062, https://doi.org/10.1093/texcom/tgab062

20/08/2021

Ayam jaman dulu dianggap hewan keramat dan hidup lebih lama

Ayam purba bisa hidup lebih lama daripada ayam "jaman now" karena dianggap keramat menurut temuan para arkeolog. Perbandingannya adalah Ayam modern untuk kebutuhan konsumsi saat ini hidupnya hanya sampai 33 atau 81 hari, sedangkan di zaman Besi, Romawi dan Saxon ayam bisa hidup sampai usia dua, tiga atau bahkan empat tahun.

Mencari tahu usia unggas yang hidup ribuan tahun yang lalu itu susah-susah gampang, karena metode biasa umumnya digunakan untuk memperkirakan umur mamalia bukan unggas. Para peneliti akhirnya membuat metode baru berdasarkan ukuran taji tarsometatarsal yang berkembang di kaki ayam dewasa. Metode ini terlebih dahulu diuji pada burung modern yang sudah diketahui usianya dan kemudian diterapkan pada spesimen purba.

Hal tersebut memungkinkan para ahli untuk merekonstruksi demografi unggas domestik dari Zaman Besi ke situs Modern Awal di Inggris untuk mengungkapkan perubahan dalam hubungan antara manusia dan unggas.

Dr Sean Doherty, dari University of Exeter yang ikut dalam penelitian, mengatakan: "Unggas domestik diperkenalkan pada Zaman Besi dan kemungkinan memiliki status khusus, di mana mereka dipandang keramat daripada hewan untuk dimakan. Sebagian besar tulang ayam tidak menunjukkan bukti seperti penjagalan, bahkan ayam yang dikubur masih dengan kerangka lengkap bukan sebagai sisa makanan manusia"

Studi ini mengkonfirmasi status khusus dan berharga dari unggas, dari Zaman Besi hingga Saxon mereka bertahan hidup jauh melewati kematangan seksual. Sebagian ada yang hidup lebih lama hingga empat tahun. Kemungkinan dahulu ayam dipelihara untuk ritual pengorbanan atau sabung ayam daripada produksi daging atau telur.

Para peneliti melakukan analisis pada tulang kaki modern dari ayam domestik dan ayam hutan dengan usia dan jenis kelamin yang diketahui dari beberapa koleksi. Dari 69 ayam jantan berusia di bawah 1 tahun, hanya 14 (20 persen) yang mengembangkan taji. Satu-satunya usia di mana semua ayam jantan memiliki taji adalah ayam yang berusia di atas 6 tahun. Akibatnya, ada potensi para arkeolog untuk salah mengidentifikasi ayam jantan muda tanpa taji sebagai ayam betina.

Setelah berkembang penuh, taji bertambah besar serta panjang dan dapat digunakan untuk memperkirakan usia.

Selain itu, peneliti juga melakukan pengukuran dari 1.368 tulang kaki unggas domestik dari situs Inggris yang berasal dari Zaman Besi hingga periode modern untuk merekonstruksi usia ketika mereka telah mati dan jenis kelamin mereka. Ini menunjukkan selama Zaman Besi dan periode Romawi ada lebih banyak ayam jantan daripada ayam betina, kemungkinan karena popularitas sabung ayam pada periode ini.

Foto/Video didokumentasikan oleh Julia Best

Artikel referensi: Ancient chickens lived significantly longer than modern fowl because they were seen as sacred – not food – study shows
https://www.exeter.ac.uk/news/homepage/title_861463_en.html

Jurnal referensi:
Doherty, S. P., Foster, A., Best, J., Hamilton-Dyer, S., Morris, J., Sadler, P., Skelton, C., Smallman, R., Woldekiros, H., Thomas, R., & Sykes, N. (2021). Estimating the age of domestic fowl (Gallus gallus domesticus L. 1758) cockerels through spur development. International Journal of Osteoarchaeology, 1– 12. https://doi.org/10.1002/oa.2988

Yang mau nambah pengalaman dan soft skill sangat direkomendasikan, bagi mahasiswa semester 4 keatas.
30/07/2021

Yang mau nambah pengalaman dan soft skill sangat direkomendasikan, bagi mahasiswa semester 4 keatas.

Shape the future Indonesian leaders

21/07/2021

Tahukah kamu..
Bioma secara iklim dan geografis berarti wilayah yang memiliki sifat geografis dan/atau iklim yang sama, seperti komunitas tumbuhan, hewan, organisme tanah, bakteri, dan virus;[1][2] sering juga disebut ekosistem. Beberapa bagian bumi memiliki jumlah makhluk hidup dan makhluk tak hidup dalam takaran yang berbeda, yang menjadi dasar pembagian bioma. Bioma juga ditentukan oleh stuktur tumbuhan (seperti pohon, semak, dan rerumputan), jenis daun, jarak antar tumbuhan, dan iklim. Berbeda dengan zona flora dan fauna, bioma tidak dibedakan menurut genetik, taksonomi, atau kesamaan sejarah.




01/05/2021

3 kesalahpahaman mengenai evolusi

1. Evolusi hanyalah sebuah teori

Ya, para ilmuwan menyebutnya "teori evolusi", tetapi jangan menyamakan kata teori dalam istilah sains dengan istilah awam. Teori dalam sains memiliki kedudukan ilmiah yang jelas karena berdasarkan data ilmiah. Seperti halnya teori relativitas, teori tektonik lempeng, dll. Istilah "teori" dalam sains bukan berarti sekedar bualan, tapi semua berdasarkan fakta dan data.

2. Manusia keturunan monyet

Tidak, leluhur manusia bukanlah monyet. Teori evolusi menunjukkan bahwa kita memiliki nenek moyang yang sama dengan monyet dan kera. Di antara spesies yang ada, mereka adalah kerabat terdekat kita. Manusia dan simpanse memiliki lebih dari 90% urutan genetik yang sama. Jadi konsepnya adalah kita memiliki nenek moyang yang sama yang menjelajahi bumi sekitar 7 juta tahun yang lalu.

3. Agama tidak sejalan dengan evolusi

Sebelum adanya konsep evolusi (adanya nenek moyang bersama) sudah ada jauh sebelum era Darwin. Beberapa ilmuwan dan filsuf kuno sudah memiliki konsep ini di antaranya ilmuwan muslim Al Jahiz, Anaximander, Lucretius, dan filsuf kuno Tiongkok bernama Zhuangzi. Penting untuk dijelaskan bahwa evolusi bukanlah teori tentang asal usul kehidupan. Ini adalah teori untuk menjelaskan bagaimana spesies berubah dari waktu ke waktu.

Credit: tiktok/miraclesitompul




Mantapp
16/03/2021

Mantapp

Buku sederhana untuk dibaca sebagai langkah awal memahami biodiversitas tumbuhan di dunia. Buku ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris dan telah diterjemahkan ke dalam lima bahasa, yaitu Belanda, Perancis, Portugis, Spanyol, dan Bahasa Indonesia.

Buku versi bahasa Indonesia terbit berkat kerjasama antara Meise Botanic Garden dan Yayasan Generasi Biologi Indonesia.

Judul asli: Botanical Classification and Nomenclature - an introduction

Penulis: Marc S.M. Sosef, Jérôme Degreef, Henry Engledow & Pierre Meerts

Penerjemah:
Belanda - pengarang asli.
Indonesia - Wendy A. Mustaqim
Perancis - pengarang sendiri.
Portugis - Ana Rita Simões
Spanyol - Patricia Barbéra dan Alejandro Quintanar

Buku terjemahan Bahasa Indonesia dapat diunduh pada tautan berikut:
https://zenodo.org/record/3931219

06/02/2021

Ketika jangrik jantan berada dekat dengan betina, ia akan mengeluarkan suara untuk menarik perhatian betina agar mau kawin dengannya dan suara yang dihasilkan pejantan mencerminkan kualitas dirinya yang semakin bagus semakin baik, karena sang betina ini sangat selektif dalam memilih pasangan kawin sebab dia mampu membedakan mana suara jangrik yang bagus dan yang jelek.

Akan tetapi sebuah penelitian terbaru dari jurnal Behavioral Ecology menunjukkan kemampuan betina membedakan suara pejantan dapat terganggu oleh kebisingan yang berasal dari luar seperti kebisingan lalu lintas, white noise, dan lain-lain yang disebabkan oleh manusia. Alhasil sang betina menjadi kurang selektif dalam memilih pasangan, tentu hal ini ada konsekuensinya terhadap populasi jangrik ke depan.

Artikel Referensi: Traffic noise makes mating crickets less picky https://aru.ac.uk/news/traffic-noise-makes-mating-crickets-less-picky

Jurnal Referensi:

Adam M Bent, Thomas C Ings, Sophie L Mowles, Anthropogenic noise disrupts mate choice behaviors in female Gryllus bimaculatus, Behavioral Ecology, 2021;, araa124, https://doi.org/10.1093/beheco/araa124

Address

Kendari

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Biologi IAIN Kendari posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category