31/03/2024
MA’RIFAT DAN FASTABIQURRIYA
Suatu hari seorang Ibu Guru yang mengajar di TK menjelaskan tentang ukuran besar dan kecil. Diawali dengan pertanyaan sekaligus menunjukkan gambar gajah, “anak-anak ini binatang apa namanya?” Serentak mereka menjawab, ”gajah” dilanjutkan pertanyaannya oleh Ibu Guru, ”besar atau kecil?” anak-anak polos itu menjawab, ”besar” kemudian Ibu Guru menunjukkan gambar kucing, pertanyaannya senada, menanyakan perbandingan ukuran meong dengan gajah, tentu anak-anak menjawab, “kucing lebih kecil dibandingkan dengan gajah.”
Pelajaran besar kecil berlanjut. Ibu Guru giliran menunjukkan gambar rumah. Alur pertanyaannya sama seperti sebelumnya, tetapi perbandingan ukurannya dengan gambar orang sebagai penghuni.
Dengan penjelasan itu, akhirnya anak-anak TK mempunyai gambaran kejelasan bahwa rumah lebih besar dibandingkan manusia yang menghuninya. Ibu Guru mencoba bergeser dengan menunjukkan gambar masjid kepada anak-anak yang rata-rata berusia enam tahun itu.
“Pasti semuanya sudah tahu, ini apa?” “Masjid Bu…”
”Masjid tempat apa?” ”tempat untuk shalat” diantara beberapa anak ada yang menjawab serampangan, ”tempat untuk bermain” disambut gelak tawa mereka ”masjid bukan arena permainan, tetapi tempat ibadah, dikenal juga masjid sebagai rumah Allah.”
Tiba-tiba salah satu anak ada yang mengajukan pertanyaan, ”masjid sama Allah besar mana Bu?” Ibu Guru kelihatan tercenung berfikir, dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Pertanyaan bocah itu sengaja tidak dijawabnya. Guru berhenti untuk menjelaskan dan pelajaran segera ditutup dengan doa bersama. Anak TK yang mengajukan pertanyaan itu sampai di rumah seperti ngambek dan besoknya sampai beberapa hari tidak mau berangkat sekolah. Ditanya sama Ibunya, jawabnya singkat, ”Ibu Guru tidak mau menjawab pertanyaanku.” “Lha kamu bertanya apa, Nak.” si anak cuma diam manyun.
Akhirnya Ibunda menanyakan kepada Ibu Guru perihal penyebab alfa anaknya. Ibu Guru menceritakan perjumpaanya beberapa hari yang lalu. Ibu Guru menjawab ”saya memang bingung Bu, mejawab pertanyaan itu, saya takut salah. Nanti anak bisa salah pengertian, karena ini kaitannya dengan ukuran Allah.”
Ilustrasi tersebut, saya kira bisa menerangkan bagaimana manusia memahami dan mengetahui tentang makhluk dan Tuhannya. Pengetahuan tentang Tuhan sesederhana apapun tidak bisa kita remehkan, karena hal itu merupakan tahapan ma’rifat. Kita tentu maklum kepada anak-anak yang pemahamannya tentang Tuhan sebatas ukuran bentuk materi, tidak bisa dipungkiri bahwa kadar ilmu pengetahuan juga ditentukan oleh umur, kemampuan akal, pengalaman hidup, dan keluasan ilmu pengetahuan. Ilmu Pengetahuan terus berkembang kalau seseorang selalu berusaha untuk belajar dan mempelajarinya. Ma’rifat kepada Allah juga akan berkembang, kalau manusia berusaha terus untuk mengenal Tuhannya, tentu atas perkenan-Nya.
Pada sebuah kisah pencarian Tuhan Nabi Ibrahim yang disematkan dalam al-Qurán di QS. Al-An’am: 76-77. Nabi Ibrahim pernah menyangka bahwa rembulan, matahari sebagai Tuhan. Dalam tahapan proses pencarian Ibrahim yang punya hipotesa benda-benda langit sebagai Tuhannya, harap maklum bahwa siapapun tidak bisa menilai bahwa Ibrahim tersesat. Pun juga seorang anak TK tersebut. Karena tidak dikatakan tersesat, kalau ia belum berhenti berproses.
Ibarat kita menuju ke Surabaya, ketika di perjalanan karena macet, kita ambil jalan alternative. Dalam menyusuri jalan alternative tersebut, sebelum sampai di Surabaya, bisa saja kita menemukan jalan buntu. Apakah mungkin benar apabila kita dikatakan tersesat di jalan buntu, padahal kita masih mau berusaha bertanya dan melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Boleh saja, dianggap tersesat kalau meyakini bahwa jalan buntu tersebut adalah Surabaya.
Bahwa ketemu dengan jalan buntu itu resiko perjalanan. Menganggap matahari sebagai Tuhan juga lumrahnya proses pencarian yang menunjukkan bahwa segala sesuatu membutuhkan proses, atau dalam bahasa Mbah Rifa’I tertib urut-urut. Tuhan selalu merumuskan sunahnya dengan proses tahapan, ibarat kelapa diawali dengan bluluk kemudian menjadi cengkir, terus menjadi degan,dan akhirnya menjadi kelapa. Tidak bisa sak naliko.
Dalam proses pencarian kebenaran, ma’rifat kepada Tuhannya, manusia tidak bisa dinilai tersesat kalau kehidupannya di dunia belum berakhir. Maka sebagai lumrahnya orang yang mengetahui arah, seseorang ketika melihat orang lain menemukan jalan buntu, tanpa ditanya, ia biasanya tak tega menghampiri untuk menunjukkan jalan terusannya menuju tujuan akhir.
Fenomena yang terjadi sekarang seseorang berusaha mengingatkan ke jalan yang benar, tetapi bukan kepada seseorang yang terjebak di jalan buntu. Malah memberi tahunya lewat corong masjid (medsos).
Diumumkan disana, ”wahai orang yang tersesat. Itu jalan buntu, jangan lewat situ.” Sehingga bukannya tepat sasaran, tapi malah memantik kegaduhan warga yang penasaran dengan pengumuman di masjid itu. Dibenak mereka timbul pertanyaan, Siapa yang tersesat? Jangan-jangan saya yang tersesat, karena tinggal di jalan buntu? Akhirnya musafir itu justru lari terbirit-birit, melihat warga keluar dari rumah masing-masing, entah karena malu atau apa? Bukannya malah mendapatkan informasi yang benar, tetapi malah lari tunggang langgang.
Di tengah Jaman yang penuh fastabiqur riya ini, kita patut mencontoh keteladanan Kiai Nasikhun, seorang arif dari tanah Menjangan Bojong Pekalongan. Beliau selalu mengusahakan untuk mengingatkan seseorang dengan cara empat mata, justru agar tidak diketahui oleh orang lain.
Paesan, 31/3/24
ahsa