24/03/2020
Maklumat Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri
Tertanggal 28 Rajab 1441 H./23 maret 2020 M.
Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Rutinan NGAJI HIKAM KEMIS LEGI, Education, Lirboyo , Mojoroto, Kota Kediri, Kediri.
24/03/2020
Maklumat Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri
Tertanggal 28 Rajab 1441 H./23 maret 2020 M.
02/12/2019
Diberitahukan kepada seluruh Alumni Pondok Pesantren Lirboyo khususnya, untuk pelaksanaan Rutinan Ngaji Hikam Kemis Legi InsyaAllah akan dilaksanakan kembali pada:
Hari & Tanggal : Kamis legi 12 Desember 2019/15 R. Akhir 1441.
Waktu : 08.00 WIB
Tempat : Aula al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur
Untuk itu, ingat selalu pesan beliau Romo KH. M. Anwar Manshur, "Seberapa sibuknya Anda, sempatkanlah mengaji. Karena dengan mengaji kita selamat."
28/10/2019
Pemberitahuan rutinitas pengajian kitab al-hikam kemis legi
..
Rutinitas pengajian kemis legi yang dijadwalkan pada kamis 10 R. Awal 1441 H./10 Nopember 2019 M. Diundur pada pertemuan kemis legi berikutnya.
27/09/2019
26/07/2019
KESAN ALUMNI II
===============
"TANGISAN DOA SEORANG GURU"
Seperti kebiasaan ngaji-ngaji sebelumnya, setelah romo Kyai Anwar Manshur selesai membacakan kitab Hikam, beliau menambahkan mutiara-mutiara hikmah sebagai bekal para alumni untuk dibawa p**ang, sebelum akhirnya beliau mengakhiri pengajian dengan bacaan doa.
Pada kesempatan itu beliau dawuh, 'Alhamdulillah kita semua masih diberi nikmat yang besar oleh Allah, yakni nikmat bisa mengaji, marilah kita terus mengaji walaupun sesibuk apapun'.
Dalam kesempatan itu p**a, beliau meminta doa dari para alumni, karena tahun ini beliau dikaruniai oleh Allah bisa berangkat haji. Beliaupun mendoakan para alumni agar bisa berangkat haji di tahun-tahun mendatang.
Disaat beliau mendoakan para alumni agar bisa haji di tahun-tahun mendatang, berlinanglah air mata beliau, dan terdengarlah isak tangis beliau ke seluruh telinga para alumni. Mendengar isak tangis beliau, gemetarlah hati para alumni dan bercucurlah air mata mendengar keikhlasan seorang kyai yang mendoakan para santri-santrinya agar bisa beribadah haji.
Kyaiku....semoga panjenengan sehat selalu, air mata keikhlasan panjenengan semoga ditiru para santri-santri. Semoga dimudahkan dalam hajinya dan bisa kembali ke Lirboyo untuk kembali mendidik para santri.
Kyaiku....sedikit sekali dawuh panjenengan, namun demikian, hati ini sungguh terobati dan menjadi tentram.
Kyaiku...akuilah kami sebagai santri-santri panjenngan, bimbinglah kami dalam mutiara doa-doamu.
Kyaiku.. hati ini selalu rindu, rindu tangisan doa seorang guru.
26/07/2019
Rutinan Ngaji Hikam Kemis Legi Rutinan Pengajian al-Hikam kamis legi di Aula al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo 22 Dzulqo'dah 1440 H./ 25 Juli 2019 M. Oleh: KH. M. Anwar Manshur
26/07/2019
Inspirasi KEMIS LEGI
=================
☀☀☀☀☀☀☀☀
☁☁☁☁☁☁☁☁
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
25/07/2019
KESAN ALUMNI
=============
"GuruKu"
Pembukaan thn ini sangat trharu,bermakna,ktika beliau mendoakan alumni saget istiqomah ngaji,lan bliau ywon doaipun krena thn ini bliau saget nglampahi ibadah HAJI,namun yg sangat tergugah hati kami ktika bliau "nulAr" / menangis ktika beliau mndoakan alumni seemoga saget ngelampahi ibadah HAJI...
Semoga beliau kipinaringan sehat lan panjang umur amin amin amin....
Al hamdulillah , semoga saget istiqomah amin...
Ngaji Al HIKAM kamis legi LIRBOYO
25/07/2019
CATATAN SEBAGIAN ALUMNI
========================
Di pamungkas Ngaji Hikam tadi pagi, lamat-lamat, di sela-sela kawan yang mengajak bincang kangen, kudengar Beliau Mbah Yai Anwar --Athalallahu Umrahu Ma’asSihhah berkah was-Salaamah. Amiin-- mewejang yang intinya kalau tidak salah: “Serepot-repotnya kita, diusahakan tetep ngaji. Biar dapat wejangan dan ilmu dari para Ulama. Wong sudah alim saja masih bisa keliru. Apalagi yang bodoh. Sepandai-pandainya tupai melompat, akan terpeleset juga”. Lalu dengan suara agak berat seperti menahan air mata, Beliau berpamitan mau berangkat haji, dan mendoakan seluruh hadirin agar bisa berangkat ke tanah suci (Hamba amini dengan mantab).
Dalam kitab Hikam. Senang diistilahkan dengan Basthun; lapang. Dan susah dengan Qabdun; tergenggam/terhalang .
Susah senang ibarat mata koin; ibarat siang malam. Namun, terlalu senang akan melupakan ke-Esaan-Nya. Terlalu susah, kadang menyalahkan taqdir-Nya. Itu inti dari ngaji Hikam tadi pagi. Walaupun ia seorang hamba yang taat, kok terlalu bersenang-senang. Kelak di akhirat akan menuai kesusahan. (Plakk! Serasa tertampar diri ini. Hawong motto hidup saya yang tercantum dalam buku memory tamatan adalah: “Hidup cuma sekali, mati pasti menanti … Don’t worry, be happy” wkwk)
Dikisahkan. Ada seorang Syaikh, yang bermimpi bertemu gurunya. Ia melihat sang guru begitu susah. “Duhai guruku, kenapa kau terlihat susah” tanyanya. “Nak! Susah dan senang adalah dua maqam yang berbeda. Yang tidak mencapainya di dunia akan merengkuhnya di akhirat (Yakni, Yang susah di dunia, akan bahagia di akhirat, begitu p**a sebaliknya)”. Dan sang guru. Walau alim. Di dunia kebanyakan hidupnya terhiasi dengan kesenangan; kebahagiaan. Hingga kebanyakan ahli makrifat, kok mendapati dirinya berbunga-bunga dan bahagia, malah khawatir! Waduh, berat nggak?! Iya! Alasan Beliau-beliau: Sebab, ketika kita dalam keadaan bahagia, kadang adab kepada Allah menjadi berkurang, bahkan sedikit. Lupa bersyukurlah, lupa bahwa kesenangan itu yang memberi Allah. Yang lebih parah, malah berkurang atau bahkan lupa beribadah pada-Nya. Beda sekali dengan susah. Tau sendiri kan? Yang biasanya berdoanya paling mantab, bahkan nangis bombay, padahal biasanya mata kering dan hati keras, adalah orang-orang yang susah! Tapi yang repot, terlalu susah, dan hati tidak kuat, bisa bahaya. Tidak cuma menyalahkan keadaan. Tapi dengan lantang, ia akan mengutuk Allah! Ingat dialog-dialog di film-film kan?!
Berarti, susah ada tatakramanya. Yup! Begitup**a bahagia. Namun, Syaikh Ibrahim yang mengarang syarah Hikam sendiri berkata: “Adab menghadapi susah dan senang. Terus terang sampai sekarang, Aku belum menemukan ada Ulama yang mampu menjelaskannya secara utuh! Baik ulama shufiyyah, ataupun pengarang kitab aliran sufi”.
Cuman, di baris selanjutnya. Beliau menyitir pendapat Syaikh Abu Hasan as-Syadzili, yang menurutnya hampir memenuhi penjelasan utuh bagaimana seorang hamba ketika menghadapi susah dan senang, yang singkatnya begini:
Penyebab susah ada tiga:
1. Dosa yang diperbuatnya. Adab, atau cara menghadapinya adalah: Taubat. Kalau sedang ditengah melakukan maksiat, namun hati berontak atau susah, hentikan!
2. Harta yang hilang atau berkurang darinya. Adab, atau cara menghadapinya adalah: Pasrah, rela dan mengharapkan mendapat pahala dari kejadian itu.
3. Si Dzalim yang menganiaya dirinya, mencemarkan harga dirinya, atau menjerumuskan agamanya, dan lainnya. Sedang waktu itu, ia tak mampu berbuat apa-apa. Adab, atau cara menghadapinya adalah: Sabar dan berusaha menerima. Ingat, jangan sampai membalas kedzaliman, dengan kedzaliman lain!
Syaikh Abu Hasan as-Syadzili, menambahkan: “Kalau kalian merasa susah. Tapi tidak menemukan penyebabnya. Yang wajib kalian lakukan adalah diam! Ucapan, diam. Gerakan, diam. Keinginan diri, diam. Kalau kalian melakukan itu, susah akan hilang dengan sendirinya. Ibarat malam yang hilang sebab munculnya matahari siangmu. Atau munculnya bintang sebagai penunjuk arah. Atau temaram malam yang tersingkap rembulan … Sebab kalau kau bergerak digelap pekat (Dalam keadaan susah) maka, prosentase keselamatanmu dari kerusakan, sangat minim!”.
Penyebab bahagia/senang ada tiga:
1. Bertambahnya ketaatan atau mendapat hasil yang ia inginkan, seperti ilmu dan kemakrifatan.
2. Tambah dunianya. Baik pekerjaan, kemulyaan, hibbah, atau bertambahnya karib.
3. Pujian manusia dan wajah mereka terpaku padamu, dengan meminta doa darimu, mencium kedua tanganmu.
Ketiga hal ini. Adab, atau cara menghadapinya adalah: Ubudiyyah; Beribadah, sebab dengannya, bisa memantapkan dirimu, bahwa segala kenikmatan dan anugrah ini adalah dari Allah Ta’ala. Jangan sampai sedikitpun beranggapan itu adalah usaha dirimu sendiri. Dan jauhkan nafsu untuk takut kehilangan nikmat tersebut. Sebab takut kehilangan, menyebabkan seseorang bisa melakukan hal yang di benci agama dan membuat murka Allah Ta’ala. Serta senantiasa bersyukur, seraya waspada terhadap sisi negative yang mungkin saja bisa muncul (Seperti sombong, riya’, ujub, dan penyakit hati lainnya)
Sedang kebahagiaan yang tidak diketahui penyebabnya. Syaikh Abu Hasan as-Syadzili mewejang: “Jangan mempertanyakan. Jangan mencari tahu. Dan jangan sombong dihadapan lelaki maupun wanita”. Jadi, dinikmati saja. Seperti waktu ngetik ini, yang tiba-tiba senyam-senyum sendiri. Alhamdulillahhhh ….
Begitulah ringkasan ngaji Hikam yang hamba dapat hari ini.
Setelah ngaji. Seperti biasa. Kami se CS. Ngrumpi dan njengkol bareng. Kisah-kisahnya pokoknya indah wkwk.
Usai itu, tak sengaja hamba mampir di salah satu toko fotokopi yang menyediakan jasa cetak foto hape. Ditengah antrian nunggu hasil cetakan. Ada orang Chinese sepuh yang membawa klise lawas. Penjaga tokonya geleng-geleng. “Anu, Koh. Untuk yang klise agak besar ini, alatnya sudah tidak ada. Nah, kalau yang kecil ini, masih ada”. “Kalau di potong, masak tidak bisa?” tawar si Kongkong. “Iya, saya coba dulu, ya” jawab pelayan sambil berlalu.
“Photo tahun berapa, Koh?” tanyaku.
“Tahun 81, Dik”
“Wuih, lama ya..”.
“He he, Iya, Dik. Sayang dibuang. Kan, Kenangan, tidak akan terbeli dengan apapun?!” katanya sambil senyum.
Perkataannya begitu mengena di hati. Hingga tanpa sadar, ketika musik mobil mengalunkan lagu Iwan Fals buku ini aku pinjam. Otomatis tanganku bergerak memutar tombol volume dan mengeraskannya. Dan kenangan masa lalu, seakan berjejer tampil satu persatu menyapaku.
22/07/2019
PEMBUKAAN
Pengajial Al Hikam
KAMIS LEGI