03/05/2020
*_____________ -﷽-_____________*
*Puasa adalah ibadah agung* untuk bertakhalluq dengan akhlak Allah, tasyakkul dan tanazul dengan sifat Allah Ta’ala secara majaziah karena sifat-sifat itu pada hakekatnya bukanlah sifat kita.
*Jadi hakekat puasa adalah sifat Allah,* oleh karena itulah _*tak ada malaikat yang mampu mencatat pahalanya*_.
Berbeda dengan sedekah, sholat, berbuat baik kepada orang tua, baca alquran dan semuanya ditentukan rinci pahalanya, ada yang sepuluh kali lipat, ada yang tujuh puluh kali lipat, ada yang tujuh ratus kali lipat dan seterusnya.
Sementara puasa, Allah tidak memberi tahu. Allah hanya mengatakan dalam hadits:
_وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا..._
(رواه البخاري)
_“…dan Aku yang akan membalasnya dan sementara kebaikan selain puasa itu pahalanya sepuluh kali lipat…”_
```Hadits di atas adalah sebuah isyarat yang agung bahwa Allah ingin mengatakan pada kita; Takhalluq (bersifat) dengan sifat Allah tidak bisa ditimbang pahalanya,``` *bahkan pada hari kiamatpun pahala puasa ini tidak bisa ditimbang dengan mizan*
Sementara amal-amal yang lain semuanya dapat ditimbang.
Siapakah yang dapat menimbang beratnya sifat Allah ?!
Tak mungkin, itu mustahil.
Tak ada satu makhlukpun yang dapat mengukur seberapa besar beratnya timbangan sifat Allah. *Mustahil !!!*
Oleh karena itulah Allah mensifati orang-orang yang bersifat dengan sifat-Nya sebagai Rabbaniyun:
_وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ..._
(آل عمران: 79)
“Akan tetapi jadilah kamu seorang hamba yang bersifat dengan sifat-sifat Rabb-mu.”
Semoga puasa kita tidak hanya sebatas rutinitas apalagi hanya dapat lapar dan dahaga.