16/01/2026
::Mauidzoh Hasanah KH. M. Anwar Iskandar dalam HAUL KH. ASKANDAR & Memperingati Isra' Mi'raj Bersama Jamaah PMJ::
Haul KH. Askandar yang diselenggarakan bersama Jamaah PMJ pada malam Jum'at di Pondok Pesantren Al Amien Kediri berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan makna. Dalam kesempatan tersebut, KH. M. Anwar Iskandar menyampaikan mau‘idzah hasanah yang menegaskan pentingnya tradisi mendoakan para ulama dan orang-orang saleh yang telah wafat, sekaligus meluruskan pemahaman umat tentang dasar-dasar amaliah haul dalam Islam.
Dalam tausiyahnya, beliau menjelaskan bahwa tradisi haul memiliki landasan kuat dalam keteladanan Rasulullah SAW. Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sebagaimana diriwayatkan dalam berbagai hadis, secara rutin mendatangi makam para syuhada di sekitar Gunung Uhud, termasuk makam pamannya Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, untuk mendoakan mereka. Rasulullah SAW bahkan mengajak para sahabat untuk bersama-sama berziarah dan memanjatkan doa bagi para pahlawan yang gugur di jalan Allah.
Peristiwa tersebut, menurut KH. M. Anwar Iskandar, menunjukkan bahwa Rasulullah SAW telah mencontohkan praktik berkumpul dan mendoakan orang-orang yang telah wafat secara berkala. Meski pada masa itu belum disebut dengan istilah “haul”, hakikat dan substansinya telah dilakukan langsung oleh Nabi. Oleh karena itu, kegiatan haul yang dilaksanakan umat Islam hari ini, termasuk mendoakan para kiai dan alim ulama yang telah mendahului, bukanlah amalan tanpa dasar, melainkan memiliki pijakan kuat dalam sunnah Nabi Muhammad SAW.
Beliau menegaskan bahwa doa memiliki manfaat yang nyata. Orang yang wafat sejatinya hanya berpisah jasadnya dengan dunia, sementara ruhnya tetap hidup dalam alam yang lain. Doa dari orang-orang yang masih hidup menjadi sebab ketenangan dan kebaikan bagi mereka. Islam mengajarkan bahwa orang hidup dapat memberikan “hadiah” kepada orang yang telah meninggal, dan hadiah terbaik itu adalah doa serta permohonan ampunan kepada Allah SWT.
هَدِيَّةُ الْأَحْيَاءِ لِلْأَمْوَاتِ الدُّعَاءُ
Artinya: "Hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang yang telah meninggal adalah doa".
Hal ini sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa hadiah orang-orang hidup kepada orang-orang yang telah wafat adalah doa. Ajaran tersebut juga ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui doa yang diajarkan untuk kedua orang tua:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil.” Doa ini menunjukkan bahwa hubungan bakti seorang anak kepada orang tua tidak terputus meskipun telah dibatasi oleh kematian.
Selain doa, KH. M. Anwar Iskandar menjelaskan bahwa sedekah juga termasuk bentuk hadiah yang pahalanya dapat diniatkan untuk orang yang telah meninggal. Misalnya dengan menyedekahkan mushaf Al-Qur’an, membantu pembangunan masjid, atau mendukung lembaga pendidikan, dengan niat pahalanya dihadiahkan kepada orang tua atau keluarga yang telah wafat. Amalan tersebut termasuk sedekah jariyah yang manfaat dan pahalanya terus mengalir.
Beliau menukil kisah sahabat Nabi yang pernah mengadu kepada Rasulullah SAW karena ditinggal wafat oleh ibunya. Sahabat tersebut bertanya apakah ia boleh melanjutkan kebiasaan ibunya yang gemar bersedekah, dengan meniatkan pahalanya untuk sang ibu. Rasulullah SAW menjawab dengan tegas, “Na‘am” (ya), yang menegaskan bahwa sedekah dapat menjadi hadiah bagi orang yang telah meninggal dunia.
Lebih lanjut, KH. M. Anwar Iskandar menekankan bahwa selain doa dan sedekah, ilmu yang bermanfaat juga merupakan amal yang pahalanya terus mengalir. Terlebih jika seseorang mendidik anaknya dengan baik, membekali ilmu agama, dan menjadikannya anak yang saleh, maka setiap amal kebaikan, bacaan Al-Qur’an, dan pengabdian anak tersebut di jalan Allah akan menjadi aliran pahala bagi orang tuanya, meskipun telah wafat. Semakin dini anak diajarkan Al-Qur’an dan dasar-dasar agama, semakin besar p**a pahala yang terus mengalir kepada orang tua.
Dalam pesannya kepada Jamaah PMJ, beliau mengingatkan pentingnya membekali anak-anak dengan ilmu agama sejak dini. Anak boleh menekuni profesi apa pun di masa depan, namun fondasi iman, akhlak, dan pemahaman agama harus menjadi dasar utama sebagai bekal hidup di dunia dan akhirat.
Menjelang akhir mau‘idzah, KH. M. Anwar Iskandar mengajak jamaah untuk semakin memuliakan Allah SWT, salah satunya dengan menjaga kualitas shalat. Beliau mengingatkan bahwa bulan Rajab merupakan bulan bersejarah, karena di dalamnya diperingati peristiwa turunnya perintah shalat melalui Isra Mi‘raj. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbaiki shalat dan meningkatkan amalan-amalan kebaikan lainnya.
Kematian, menurut beliau, adalah pengingat bagi orang-orang yang masih hidup. Selama nyawa masih dikandung badan, tidak ada alasan untuk meninggalkan shalat. Shalat merupakan sarana terbaik untuk menjaga dan memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Dengan menjaga shalat, iman akan terpelihara dan kehidupan akan lebih terarah.
Menutup mau‘idzah hasanahnya, KH. M. Anwar Iskandar memanjatkan doa agar seluruh jamaah senantiasa mampu memanfaatkan kesempatan hidup dengan sebaik-baiknya, diberikan keimanan yang kuat, akhlak yang mulia, serta keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Aamiin.