PonPes Al Amien Kediri

PonPes Al Amien Kediri

Share

Akun Resmi Pondok Pesantren Al Amien Ngasinan Rejomulyo Kediri

02/03/2026

✨Telah dibuka Pendaftaran Santri Baru Pondok Pesantren Al-Amien Kota Kediri Tahun Ajaran 2026/2027 ✨

Segera Daftarkan Diri Anda dan Bergabung Menjadi Keluarga Besar Pondok Pesantren Al-Amien 😇

📌Pendaftaran dapat diakses pada link di bawah ini :
https://bit.ly/PSB_PP_AL-AMIEN_2026

Mari wujudkan pendidikan yang berkualitas dalam naungan nilai-nilai keislaman. Bersama Ponpes Al-Amien, menyiapkan generasi beriman, berilmu, dan berakhlak karimah.

📞 Informasi lebih lanjut hubungi contact person yang tertera di bawah :
Putra :
Kang Dede :
https://wa.me/6281223684840
Kang Azka :
https://wa.me/6282244664901

Putri :
Mbak Anisya :
https://wa.me/6281615493833
Mbak Alya :
https://wa.me/6285746600587

16/01/2026

::Mauidzoh Hasanah KH. M. Anwar Iskandar dalam HAUL KH. ASKANDAR & Memperingati Isra' Mi'raj Bersama Jamaah PMJ::

Haul KH. Askandar yang diselenggarakan bersama Jamaah PMJ pada malam Jum'at di Pondok Pesantren Al Amien Kediri berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan makna. Dalam kesempatan tersebut, KH. M. Anwar Iskandar menyampaikan mau‘idzah hasanah yang menegaskan pentingnya tradisi mendoakan para ulama dan orang-orang saleh yang telah wafat, sekaligus meluruskan pemahaman umat tentang dasar-dasar amaliah haul dalam Islam.

Dalam tausiyahnya, beliau menjelaskan bahwa tradisi haul memiliki landasan kuat dalam keteladanan Rasulullah SAW. Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sebagaimana diriwayatkan dalam berbagai hadis, secara rutin mendatangi makam para syuhada di sekitar Gunung Uhud, termasuk makam pamannya Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, untuk mendoakan mereka. Rasulullah SAW bahkan mengajak para sahabat untuk bersama-sama berziarah dan memanjatkan doa bagi para pahlawan yang gugur di jalan Allah.

Peristiwa tersebut, menurut KH. M. Anwar Iskandar, menunjukkan bahwa Rasulullah SAW telah mencontohkan praktik berkumpul dan mendoakan orang-orang yang telah wafat secara berkala. Meski pada masa itu belum disebut dengan istilah “haul”, hakikat dan substansinya telah dilakukan langsung oleh Nabi. Oleh karena itu, kegiatan haul yang dilaksanakan umat Islam hari ini, termasuk mendoakan para kiai dan alim ulama yang telah mendahului, bukanlah amalan tanpa dasar, melainkan memiliki pijakan kuat dalam sunnah Nabi Muhammad SAW.

Beliau menegaskan bahwa doa memiliki manfaat yang nyata. Orang yang wafat sejatinya hanya berpisah jasadnya dengan dunia, sementara ruhnya tetap hidup dalam alam yang lain. Doa dari orang-orang yang masih hidup menjadi sebab ketenangan dan kebaikan bagi mereka. Islam mengajarkan bahwa orang hidup dapat memberikan “hadiah” kepada orang yang telah meninggal, dan hadiah terbaik itu adalah doa serta permohonan ampunan kepada Allah SWT.
هَدِيَّةُ الْأَحْيَاءِ لِلْأَمْوَاتِ الدُّعَاءُ
Artinya: "Hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang yang telah meninggal adalah doa".

Hal ini sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa hadiah orang-orang hidup kepada orang-orang yang telah wafat adalah doa. Ajaran tersebut juga ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui doa yang diajarkan untuk kedua orang tua:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil.” Doa ini menunjukkan bahwa hubungan bakti seorang anak kepada orang tua tidak terputus meskipun telah dibatasi oleh kematian.

Selain doa, KH. M. Anwar Iskandar menjelaskan bahwa sedekah juga termasuk bentuk hadiah yang pahalanya dapat diniatkan untuk orang yang telah meninggal. Misalnya dengan menyedekahkan mushaf Al-Qur’an, membantu pembangunan masjid, atau mendukung lembaga pendidikan, dengan niat pahalanya dihadiahkan kepada orang tua atau keluarga yang telah wafat. Amalan tersebut termasuk sedekah jariyah yang manfaat dan pahalanya terus mengalir.

Beliau menukil kisah sahabat Nabi yang pernah mengadu kepada Rasulullah SAW karena ditinggal wafat oleh ibunya. Sahabat tersebut bertanya apakah ia boleh melanjutkan kebiasaan ibunya yang gemar bersedekah, dengan meniatkan pahalanya untuk sang ibu. Rasulullah SAW menjawab dengan tegas, “Na‘am” (ya), yang menegaskan bahwa sedekah dapat menjadi hadiah bagi orang yang telah meninggal dunia.

Lebih lanjut, KH. M. Anwar Iskandar menekankan bahwa selain doa dan sedekah, ilmu yang bermanfaat juga merupakan amal yang pahalanya terus mengalir. Terlebih jika seseorang mendidik anaknya dengan baik, membekali ilmu agama, dan menjadikannya anak yang saleh, maka setiap amal kebaikan, bacaan Al-Qur’an, dan pengabdian anak tersebut di jalan Allah akan menjadi aliran pahala bagi orang tuanya, meskipun telah wafat. Semakin dini anak diajarkan Al-Qur’an dan dasar-dasar agama, semakin besar p**a pahala yang terus mengalir kepada orang tua.

Dalam pesannya kepada Jamaah PMJ, beliau mengingatkan pentingnya membekali anak-anak dengan ilmu agama sejak dini. Anak boleh menekuni profesi apa pun di masa depan, namun fondasi iman, akhlak, dan pemahaman agama harus menjadi dasar utama sebagai bekal hidup di dunia dan akhirat.

Menjelang akhir mau‘idzah, KH. M. Anwar Iskandar mengajak jamaah untuk semakin memuliakan Allah SWT, salah satunya dengan menjaga kualitas shalat. Beliau mengingatkan bahwa bulan Rajab merupakan bulan bersejarah, karena di dalamnya diperingati peristiwa turunnya perintah shalat melalui Isra Mi‘raj. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbaiki shalat dan meningkatkan amalan-amalan kebaikan lainnya.

Kematian, menurut beliau, adalah pengingat bagi orang-orang yang masih hidup. Selama nyawa masih dikandung badan, tidak ada alasan untuk meninggalkan shalat. Shalat merupakan sarana terbaik untuk menjaga dan memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Dengan menjaga shalat, iman akan terpelihara dan kehidupan akan lebih terarah.

Menutup mau‘idzah hasanahnya, KH. M. Anwar Iskandar memanjatkan doa agar seluruh jamaah senantiasa mampu memanfaatkan kesempatan hidup dengan sebaik-baiknya, diberikan keimanan yang kuat, akhlak yang mulia, serta keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Aamiin.

12/01/2026

::Peringatan Isro' Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al Amien::

Dalam rangka memperingati peristiwa agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Pondok Pesantren Al Amien menyelenggarakan kegiatan mau‘idzah hasanah yang berlangsung dengan khidmat dan lancar pada Selasa, 7 Januari 2026, bertempat di Aula Pondok Pesantren Al Amien. Acara ini diikuti oleh para santri, asatidz, dan jamaah dengan penuh antusias dan kekhusyukan.

Pada kesempatan tersebut, KH. M. Anwar Iskandar menyampaikan tausiyah yang menekankan makna mendalam Isra Mi’raj sebagai fondasi keimanan dan pembentukan karakter umat Islam. Beliau menjelaskan bahwa Isra bermakna perjalanan Nabi Muhammad SAW pada waktu malam dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis, Yerusalem, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Adapun Mi’raj adalah peristiwa dinaikkannya Rasulullah SAW ke langit untuk menerima perintah langsung dari Allah SWT.

Dalam mau‘idzahnya, KH. M. Anwar Iskandar menegaskan betapa pentingnya thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu), khususnya bagi generasi muda. Menurut beliau, seseorang yang membekali dirinya dengan ilmu sejatinya sedang menapaki jalan keberhasilan dan kemuliaan di masa depan. Sebaliknya, masa muda yang dihabiskan dengan kemalasan, enggan mengaji, dan tanpa kesungguhan belajar, hanya akan menjerumuskan seseorang pada penyesalan di kemudian hari, terlebih ketika dihadapkan pada berbagai persoalan kehidupan.

Beliau menekankan bahwa tidak ada sikap terbaik di masa muda selain bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Menukil pandangan Imam Syafi‘i, beliau menyampaikan bahwa manusia akan mampu hidup dan bertahan menghadapi tantangan zaman apabila memiliki ilmu dan takwa. Namun, jika seseorang tidak memiliki ilmu dan tidak dihiasi ketakwaan, maka sejatinya ia telah “mati sebelum mati”, karena hidupnya kehilangan arah, nilai, dan makna.

Hakikat hidup seorang pemuda, lanjut beliau, terletak pada keberadaan ilmu dan takwa dalam dirinya. Ilmu menjadi bekal untuk meraih kesuksesan dunia, membangun masa depan, dan memahami kehidupan secara bijak. Sementara takwa menjadi bekal keselamatan di sisi Allah SWT dan di tengah masyarakat, yang tercermin dalam ketaatan beribadah, akhlak yang mulia, serta keteguhan iman. Oleh karena itu, generasi muda tidak boleh mudah menyerah, tetapi harus terus mengisi diri dengan ilmu dan ketakwaan.

Dalam konteks Isra Mi’raj, KH. M. Anwar Iskandar mengingatkan bahwa peristiwa ini merupakan momentum turunnya perintah shalat secara langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, tanpa perantara malaikat. Hal ini menunjukkan betapa agung dan sentralnya kedudukan shalat dalam kehidupan seorang Muslim. Shalat menjadi indikator utama kualitas iman seseorang. Barang siapa menjaga shalatnya dengan baik, maka Allah SWT akan memuliakan hidupnya. Sebaliknya, kelalaian dalam shalat merupakan tanda jauhnya seseorang dari rahmat Allah.

Beliau menegaskan bahwa iman, ilmu, dan shalat merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Seorang santri sejati adalah mereka yang memiliki etos kuat dalam menuntut ilmu, keteguhan dalam iman, kedalaman takwa, serta kedisiplinan dalam beribadah, khususnya shalat.

Menutup tausiyahnya, KH. M. Anwar Iskandar berpesan kepada para santri dan generasi muda agar memegang teguh empat prinsip utama dalam hidup: bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, menjaga akhlak yang mulia, menguatkan iman, dan menata shalat dengan baik. Dengan empat bekal tersebut, beliau meyakini dan mendoakan agar setiap insan akan memperoleh kemuliaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana janji Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.

01/09/2025

::Pesan Gus Fuad Fajrushobah Untuk Santri Akhir Zaman::

Menyoroti kelemahan generasi pembelajar yang masih kerap blunder dalam memanfaatkan kemajuan tekhnologi dan informasi, pada salah satu pengajian harian Gus Fuad Fajrusshobah mengingatkan kembali akan dampak buruk penyalahan teknologi, khususnya telepon genggam yang notabene saat ini paling akrab dengan kita.

“Membicarakan keburukan orang lain, misalnya. Tidak lagi pakai mulut tapi pakai tangan. Tidak perlu ketemu sama teman, dengan hape di rumah saja sudah bisa ghibah,” tuturnya. “Dengan HP pengen apapun sudah bisa didapat hanya dengan menekan tombol.”

Gus Fuad menambahkan, kemudahan tekhnologi jika tidak dibarengi dengan pengendalian diri justru akan menjebloskan manusia ke dalam musibah.

Di samping menyebut dampak negatif lain dari kurangnya pengendalian diri dalam pemanfaatan tekhnologi seperti terjebak pinjaman online, judi online dan hiburan-hiburan adiktif, Gus Fuad juga mengingatkan “Mendekati kiamat, ujian manusia semakin banyak dan semakin berat.”

Untuk memagari teman-teman santri dari fitnah jaman ini, Gus Fuad mengajak para santri merenungkan kegiatan belajar sehari-hari di pondok.

"Kita tidak hanya masuk (mengaji dan diniyah) untuk mencari nilai saja. Banyak makna yang terkadung di dalam kegiatan ini. Kita belajar kitab ulama, salafus sholih. Kita berangkat tepat waktu, mengikuti ujian, menghadapi koreksian kitab, itu hanya dalam rangka menertibkan.”

“Tapi intinya, hikmah dari kegiatan kita di pondok adalah pada akhirnya kita bisa berpikir kritis. Tidak gampang terbawa arus. Kita dipandu dengan hadits dan fatwa ulama untuk menghadapi akhir jaman. Semuanya bermuara pada, mengamalkan isi daripada pelajaran-pelajaran yang kita terima.”

Gus Fuad memungkasi dengan pesan yang sering terlewatkan oleh santri jaman sekarang yang seakan hidup untuk saat ini dan untuk diri sendiri saja.

“Mari berpikir jangka panjang. Jangan cuma sambat; hapalannya banyak, disuruh berdiri kalau datang terlambat. Intinya, kita dibentuk untuk menjadi orang yang semakin baik. Orang yang kuat saat dihadapkan pada berbagai situasi. Di lingkungan apapun kita bisa hidup dan tidak gampang terpengaruh.”

18/06/2024

::Berkah Dalam Berkurban::

Idul Adha adalah hari disunnahkannya umat muslim untuk berkurban. Hal ini didasarkan pada kisah Nabi Ibrahim as. Yang mengurbankan putranya, Nabi Ismail as.

Kurban sendiri berasal dari diksi arab, udhhiyah yang merupakan bentuk jama' dari dhaha (waktu Dhuha) di tanggal 10-13 Dzulhijjah. Diksi inilah yang menjadi akar kata "idul adha"

Di samping teladan atas kisah nabi Ibrahim dan Ismail, berkurban juga ditujukan pada manusia agar senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karenanya, kurban dianjurkan bagi orang-orang yang mampu.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa yang mempunyai kemampuan, tetapi ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat shalat kami," (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Kurban pun bertujuan untuk menghilangkan sikap egois, serakah dan sifat individualis dalam diri seorang muslim.

Seperti halnya dawuh KH. M. Quraish Shihab :
"Hakikat berkurban adalah "menyembelih" sifat binatang pada diri manusia. Rakus dan tamak merupakan sifat binatang buas."

Oleh sebab itu, Allah menerima kurban seseorang dari ketakwaan serta ketulusan hatinya. Bukan seberapa besar atau banyak hewan yang dikurbankan.

Kontributor: Maelani Aistin

17/06/2024

Keluarga besar Yayasan Pondok pesantren Al-Amien
Mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Adha 1443 H

16/06/2024

::Menghidupkan Hati Dengan Berdzikir::

Di dalam ajaran islam senantiasa dianjurkan untuk mengingat Allah Swt dengan cara berdzikir baik secara lisan, hati serta tindakan (badan/jiwa).

Secara harfiah, dzikir merupakan mengingat Allah Swt melalui berbagai macam bacaan dan kalimat tayyibah. Sedangkan praktiknya dzikir ialah upaya atau proses mengingat Allah Swt yang diperoleh melalui ilmu yang nantinya dapat tersambung (wushul) kepada Allah Swt.

Sebagaimana pada Al Qur’an Surat Al Ahzab ayat 41 yang berbunyi,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Yang artinya: “Hai orang- orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya)”

Pada pengaosan umum kitab Riyadhus Sholihin, Agus H. Ahmad Faris Idrisa menyampaikan bahwa berdzikir itu tidak hanya sekedar mengucap secara lisan saja. Namun berdzikir itu bagaikan ruhnya badan, jika kita menghidupkan ruh maka kita akan senantiasa dekat (sambung) kepada Allah Swt.

Berdzikir itu ada tiga macamnya, yakni dzikrul lisan (qauli), dzikrul qalbi (hati), dzikrul jawarih (tindakan).

Saking pentingnya berdzikir, uraiannya banyak tertuang dalam Al Qur’an. Salah satunya dalam Al Qur’an Surat Ali Imran ayat 191 yang berbunyi:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ

Yang Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring” (QS. Ali Imran: 191).

Berdzikir dapat menghidupkan hati, sedangkan lalai akan mematikan hati. Ciri ciri puncak kelalaian sendiri yakni dengan menganggap baik suatu yang sebenarnya tidak baik, dan lupa merupakan ketidakbaikan hal tersebut. Kalaupun hati lalai setidaknya lisan tetap terucap.

Semua itu diniatkan untuk ketaatan kepada Allah Swt. artinya semua akan dinilai dzikir kepada allah jika benar-benar sambung kepada Allah Swt bukan hanya menyebut secara lisan saja. Tidak ada alasan untuk meninggalkan sesuatu yang kecil, karena suatu hal yang besar dimulai dari hal hal yang kecil.

Agus H. Ahmad Faris juga Idrisa mengingatkan bahwa betapa beruntungnya kita semua diberikan nikmat untuk berdzikir, sudah sepantasnya kita semua mensyukurinya dengan cara melakukan (tindakan) serta berharap agar nikmatnya bertambah seperti halnya agar tidak hanya lisan saja tetapi juga bisa bertambah sambung (wushul) kepada Allah Swt.

Semoga kita semua dapat konsisten mengingat Allah Swt dan senantiasa dipermudah dalam melakukan ketaatan kepada Allah Swt. Aamiin

Kontributor: Arina Sabila

Photos from PonPes Al Amien Kediri's post 07/04/2024

Selamat Berlibur nggeh, Sahabat Santri! Selalu ingat dawuhnya abah

"Jadikanlah liburan ini sebagai ajang untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang sudah diperoleh selama di pesantren"

Dan jangan lupa, kembali tepat waktu

#8 RAPOT - TIDURNYA ORANG PUASA 06/04/2024

Kalian banyak tidurnya atau ibadahnya?

#8 RAPOT - TIDURNYA ORANG PUASA Ramadhan Podcast (RAPOT) merupakan program terbaru dari Ngasinan Multimedia yang membahas hal-hal penting dan gak begitu penting seputar bulan Ramadhan bersa...

Want your school to be the top-listed School/college in Kediri?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Website

Address


Jalan Ngasinan No. 18 Rejomulyo Kota Kediri
Kediri
64129