14/07/2020
Nabi Musa Sebagai Murid
Ketika Nabi Musa telah bertemu dengan Nabi Khidir untuk berguru kepadanya Nabi Musa mengatakan:
هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajariku ilmu yang benar dari apa yang telah diajarkan Allah kepadamu?” (QS. Al-Kahfi: 66)
Imam Ar-Razi di dalam tafsirnya Mafaatihul Ghaib menjelaskan panjang lebar perihal ucapan singkat Nabi Musa tersebut. Ia menilai bahwa dengan ucapan itu Nabi Musa menampakkan sikap tawadlu’nya yang sangat kuat ketika beliau berposisi sebagai seorang murid, di antaranya:
1. Nabi Musa meminta ijin lebih dahulu sebelum belajar kepada Nabi Khidir sebagai sang guru.
2. Meski tujuan bertemu dengan Nabi Khidir untuk belajar namun ijin yang diminta pertama kali oleh Nabi Musa bukanlah untuk belajar, tapi untuk mengikutinya; ittiba’ dan berkhidmah pada sang guru baru kemudian menyerap ilmunya. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi Musa akan melakukan perbuatan-perbuatan yang serupa dengan apa yang dilakukan sang guru semata-mata hanya karena sang guru melakukan perbuatan tersebut.
3. Ucapan itu juga menunjukkan bahwa sebagai seorang murid Nabi Musa—meski ia telah menjadi seorang nabi—tidak merasa berilmu dan mengakui bahwa sang gurulah yang layak disebut ‘alim; yang berilmu.
Demikian sebagian makna yang dijabarkan Imam Ar-Razi atas ungkapan Nabi Musa tersebut.
Ini adalah musimnya orang tua menyekolahkan anaknya, musim para siswa kembali bertemu sang guru untuk belajar ilmu kepadanya. Akan lebih baik bila orang tua men-sowan-kan anaknya kepada sang guru, untuk memintakan ijin dan menyerahkan dengan sepenuh hati sang anak kepada sang guru untuk dididik ilmu yang benar.
Ada baiknya p**a orang tua menuturi anaknya untuk bersikap santun pada sang guru, baik ucapan maupun tindakan.
Semua demi menunjukkan sikap tawadlu’ seorang murid pada gurunya, seorang awam pada ulamanya, satu sikap yang kini mulai hilang dari dari para murid dan awam di negeri ini.