Jaspas Official

Jaspas Official Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Jaspas Official, Education Website, Karimunjawa.

12/12/2022

Cara mentafsiri ayat al - qur'an menurut KH. Aniq Muhammadun Pakis Tayu Pati

17/07/2022
06/07/2022
Mauidoh Hasanah Romo K.H. Muhammad Aniq Muhammadun di Acara HBH JASPAS 2022 Link video bisa klik tautan di bawahhttps://...
05/07/2022

Mauidoh Hasanah Romo K.H. Muhammad Aniq Muhammadun di Acara HBH JASPAS 2022

Link video bisa klik tautan di bawah
https://youtu.be/1mq_yrgBsuk

_____________________________________________________
Dukung media sosial kami di :
- Media Youtube Jaspas : Jaspas Official Channel
https://www.youtube.com/c/JASPASOFFICIALCHANNEL
- Media Instagram Jaspas :
https://www.instagram.com/jaspasofficial/
- Media Fanspage Jaspas : Jaspas Official
https://web.facebook.com/Jaspasofficial/?ref=page_internal

Salah satu inti acara di HBH Jaspas 2022 yaitu Mauidhoh Hasanah oleh beliau Romo K.H. Muhammad Aniq Muhammadun.Semoga kita semua bisa mendapatkan manfaat dan...

Pengajian Selapanan Vol. 16 SUDAAAH TAYANG !!!Bisa di tonton di Media Youtube Jaspas Link di bawah 👇👇👇https://youtu.be/G...
04/07/2022

Pengajian Selapanan Vol. 16
SUDAAAH TAYANG !!!

Bisa di tonton di Media Youtube Jaspas
Link di bawah 👇👇👇
https://youtu.be/GsBVO9aSKzo

Kajian Syarh Nashoihul Ibad Vol. 16 - Pengajian Selapanan Jaspas merupakan acara rutinan jaspas untuk menambah pengetahuan dan wawasan JASPAS OFFICIAL CHANNE...

Shalat Jumat vs Shalat ZhuhurBelajar ilmu fiqih itu asyik dan seru, ada sejumlah aturan dan ketentuan yang unik dan perl...
03/07/2022

Shalat Jumat vs Shalat Zhuhur

Belajar ilmu fiqih itu asyik dan seru, ada sejumlah aturan dan ketentuan yang unik dan perlu kita pelajari secara detail dan sedikit butuh kecerdasan logika.

Kali ini saya ingin ajak anda belajar fiqih shalat Jumat. Semua kita pasti tahu bahwa shalat Jumat itu hukumnya wajib. Dasarnya adalah firman Allah SWT di dalam Al-Quran berikut ini :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum´at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Jumuah : 9)

Namun kewajiban shalat Jumat ini cukup unik, karenaada sejumlah ketentuan dan persyaratan yang harus dipenuhi agar shalat Jumat itu sah dilakukan.

Misalnya ada ketentuan bahwa syarat sah shalat Jumat hanya bila dikerjakan oleh minimal jamaah inti laki-laki sebanyak 40 orang. Tanpa terpenuhinya syarat ini, maka kewajiban shalat Jumat menjadi gugur.

Misalnya saja di suatu masjid yang mengerjakan shalat Jumat itu hanya sekumpulan ibu-ibu tanpa kesertaan laki-laki, meski jumlahnya lebih dari 40 orang, tetap saja tidak sah.

Kenapa tidak sah?

Karena yang terkena kewajiban shalat Jumat itu aslinya hanya laki-laki saja. Perempuan itu posisinya hanya jadi follower saja.

Follower? Maksudnya bagaimana ya?

Sedikit unik nih, perempuan boleh jadi jamaah Jumat sekedar di level sekedar jadi pengikut dalam shalat Jumat. Tapi tidak boleh untuk jadi pemain inti.

Maka bolehnya perempuan ikutan shalat Jumat hanya selama jamaah lak-lakinya sudah mencapai kuota yaitu minimal 40 orang.

Tapi kalau perempuan malah jadi 'pemain inti' dalam shalat Jumat, shalat Jumat itu tidak sah.

Misalnya jumlah jamaah laki-laki tidak sampai 40 orang cuma ada 20 doang, lalu sisanya ibu-ibu semua, jumlahnya mencapai jumlah 200 orang, maka Jumatan itu tidak sah. Karena syarat jumlah minimal laki-laki belum terpenuhi.

* * *

Syarat Berikutnya Selain Jumlah 40 Laki-laki

Lalu apakah kalau sudah ada 40 laki-laki shalat jumat sudah sah dan wajib?

Eit, nanti dulu, sabar om.

Ke-40 laki-laki itu juga ada syarat-syaratnya yang harus dipenuhi, tidak sekedar asal laki-laki doang. Apa beberapa syarat berikutnya lagi, yaitu :

1. Sudah Baligh

Kalau dari 40 orang itu ada yang masih bobonya dikelonin sama emaknya, maksudnya masih anak-anak, maka keberadaannya tidak dihitung.

Bukannya anak-anak tidak masuk hitungan, tapi musti wajib anak yang sudah baligh.

2. Bukan Musafir

Biasanya ditulisnya : muqim. Tapi saya ganti biar lebih nyambung dengan sebutan : bukan musafir. Sebab kalau dibilang muqim, seringkali disalah-artikan menjadi : rumahnya dekat masjid.

Padahal tidak ada syarat bahwa jamaah jumat itu hanya yang rumahnya dekat masjid saja. Biar pun rumahnya jauh selama statusnya bukan musafir, maka sah jadi jamaah inti sebuah shalat Jumat.

3. Sehat

Yang dimaksud sehat disini maksudnya dia memang terkena kewajiban shalat Jumat, karena dia tidak sakit. Sebab orang sakit itu gugur kewajiban shalat Jumatnya.

Maka kalau sakit-sakit memaksakan diri hadir pada shalat jumat, hitungannya tidak bisa dijadikan jamaah inti yang 40 orang itu.

4. Merdeka Bukan Budak

Sebab budak itu pada dasarnya tidak wajib mengerjakan shalat Jumat. Jadi kalau pas jumatan kok lihat laki-laki muslim keluyuran, mungkin dia budak, hehe.

Jadi kalau misalnya jumatan hanya dikerjakan oleh 40 orang laki-laki, dan salah satunya ada yang berstatus budak, maka jumatan itu jadi tidak sah. Semua kembali shalat Zhuhur.

* * *

Kalau kuota untuk peserta inti laki-laki sudah terpenuhi, silahkan nanti kalau ada ibu-ibu yang mau ikutan shalat Jumat. Tapi kalau belum terpenuhi kuota dan sejumlah syaratnya, maka jangankan ibu-ibu, bapak-bapaknya pun terpaksa hanya bisa shalat zhuhur saja.

Tidak sah melaksanakan shalat Jumat karena syarat sahnya tidak terpenuhi. Dan kalau syarat sah tidak terpenuhi, dalam hal ini otomatis kewajiban shalat jumat pun gugur. Semua cukup melaksanakan shalat zhuhur saja.

NOTE

Sengaja saya buang semua dalil hadits disini, karena saya anggap kita semua sudah tahu hadits-hadits yang menjadi dasar semua syarat di atas.

Orang yang belajar fiqih itu sudah selesai belajar hadits, sehingga tidak latah tanya-tanya : dalilnya mana? Kalau masih tanya-tanya kayak gitu, silahkan turun kelas balik lagi ke level sebelum ini.

by. Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Ana 'Abdu Man 'Allamani...Salah satu ajaran kebijaksanaan yang terus menempel dalam diri saya sejak mepelajarinya pertam...
03/07/2022

Ana 'Abdu Man 'Allamani...

Salah satu ajaran kebijaksanaan yang terus menempel dalam diri saya sejak mepelajarinya pertama kali dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim (kitab pedagogik yang populer di pesantren) adalah berikut ini: "ana 'abdu man 'allamani, walaw harfan wahidan."

Kalimat ini, konon, berasal dari Sayyidina Ali, khalifah keempat dalam Islam yang oleh Kanjeng Nabi disebut sebagai "gerbang kota ilmu" itu. Makna kebijaksanaan ini adalah sbb.: "Aku adalah hamba/budak bagi siapapun yang mengajarkan ilmu kepadaku, walau sehuruf saja."

Kalimat ini, bagi saya, mewakili cara pandang yang khas dalam tradisi Islam klasik terhadap ilmu dan orang-orang yang menyebarkannya. Sekurang-kurangnya ada dua pengertian penting di sana. Pertama, kebijaksanaan ini mengajarkan satu hal amat penting: bahwa ilmu amatlah berharga.

Pandangan seperti ini mungkin tampak aneh saat imi. Di tengah-tengah banjir informasi sekarang, pengetahuan seperti mengalami "inflasi". Di dalam era ketika buku-buku yang telah berubah format menjadi buku-digital (baca: ebook) bisa diperoleh secara gratis hanya dengan satu-dua klik saja, pengetahuan tampak kehilangan harga.

Inilah zaman yang ditandai dengan ciri berikut: Siapa saja bisa baca apa saja (asal memiliki koneksi internet, tentunya!). Sesuai dengan hukum besi suplai-dan-permintaan, manakala sesuatu tersedia melimpah, tentu harganya merosot, nilainya "ambyar". Inilah nasib informasi dan pengetahuan sekarang.

Zaman saya kecil dulu, sebuah buku menjadi amat berharga, karena sukar diperoleh. Saya akan membaca buku itu huruf demi huruf, paragraf demi oaragraf, dengan sabar, dengan khusyuk dan takzim, hingga tamat. Karena buku lain belum tersedia, sementara semangat membaca masih menyala-nyala, saya kadang harus membaca buku itu berulang kali, seperti mendaras Qur'an.

Sekarang, di tengah kelimpahan buku dan informasi, pengalaman membaca yang "sakral" itu hilang! Saya kadang kangen pada "firdaus indah" yang pernah saya alami justru pada saat buku sedang langka itu. Apakah ini yang disebut "the curse of abundance," kutukan kelimpahan?

Kebijaksanaan dari Sayyidina Ali tadi, bagi saya, mengingatkan kembali: bahwa apapun yang terjadi pada pengetahuan, ia tetaplah sesuatu yang berharga. Tentu saja nilai pengetahuan yang diperoleh via online, yang kita pelajari secara "langsung" melalui seorang guru, secara "muwajahah", face-to-face, jelas berbeda. Tetapi ilmu tetaplah ilmu: ia adalah barang yang amat berharga.

Karena itu, dan ini adalah pengertian kedua yang terkandung dalam kebijaksanaan Sayyidina Ali di atas, seorang guru yang telah menjadi sarana bagi transmisi atau pemindahan ilmu hingga sampai kepada kita, dengan sendirinya memiliki kedudukan yang juga amat terhormat.

Seseorang yang membawa barang berharga, akan "tertulari" oleh nilai yang terkandung dalam barang ia bawa itu. Jika anda membawa surat yang ditulis oleh, misalnya, Hadratusysyaikh Hasyim Asy'ari (kakek Gus Dur itu), tentu saja anda akan tertulari oleh "barakah" atau nilai di dalam surat tersebut. Anda akan memperoleh "kramat gandul".

Kira-kira demikianlah "logic" atau alasan di balik kalimat bijaksana yang diucapkan oleh Sayyidina Ali itu. Ketika anda mendapatkan pengetahuan atau ilmu dari seserang, persis pada momen itu terjadi hubungan yang "spesial" antara anda dan orang itu: hubungan yang "keramat". Anda telah menjadi "budak" bagi orang itu.

Istilah "budak" di sini janganlah ditafsirkan secara keliru, seolah-olah seorang murid harus "manut tanpa bisa berpendapat lain". Ini jelas pengertian yang salah. Dalam sejarah intelektual Islam, sangat lumrah seorang murid berbeda pendapat dengan guru. Menghormati guru bukan berarti menutup sama sekali pintu untuk berbeda pendapat.

Kata "budak" di sini harus dimaknai dalam konteks kultur bangsa Arab pada abad-abad pertama Islam. Seseorang yang menjadi budak bagi orang lain dan kemudian oleh yang terakhir ini dimerdekakan, ia, dalam budaya masyarakat Arab dahulu, akan memiliki hubungan khusus dengan mantan majikannya itu.

Hubungan itu, dalam tradisi Arab, disebut wala'. Artinya: mantan budak tersebut terikat oleh hubungan khusus yang mirip hubungan kesedarahan atau kesukuan. Bekas budak itu seolah-olah menjadi bagian dari "kabilah" atau "keluarga besar" sang mantan majikan. Ini yang disebut hubungan wala'.

Itulah sebabnya, dalam bahasa Arab klasik, seorang budak/mantan budak disebut juga "maula", artinya, seseorang yang terikat hubungan wala' dengan mantan majikan.

Seorang murid/santri yang telah menerima ilmu dari seorang guru/kiai, ia terikat oleh hubungan khusus semacam ini. Santri itu telah menjadi bagian dari "keluarga besar" sang kiai. Hubungan ini akan terus bertahan hingga kapanpun. Seorang santri yang "sowan" kepada guru atau kiainya, ia seperti sedang mengunjungi keluarganya sendiri.

Inilah, menurut saya, makna kalimat Sayyidina Ali yang masyhur itu.

Tentu saja, makna ini, sekarang, sudah mengalami "desakralisasi", kehilangan kekeramatan, seiring dengan inflasi yang terjadi pada ilmu dan pengetahuan secara umum. Hubungan antara murid dan guru pelan-pelan seperti bergeser menjadi hubungan yang sifatnya agak "kontraktual": seperti penjual dan pembeli.

Keadaan ini tentu amat kurang menyenangkan bagi orang-orang yang tumbuh dalam tradisi Ta'limul Muta'allim seperti saya. Meminjam istilah terkenal dari Karl Marx, keadaan ini telah menimbulkan "entfremdung," keterasingan, dan alienasi pada diri saya. Dan setiap alienasi akan membawa kesedihan dan ketidak-nyamanan.

Saya kira, tradisi menghargai ilmu dan guru seperti digambarkan oleh Sayyidina Ali itu tetap layak dipertahankan dan dihidupkan lagi. Inilah, barangkali, salah satu cara untuk memulihkan kembali "pesona" kepada dunia yang sudah mengalami de-sakralisasi terlalu jauh.

Inilah proses (untuk meminjam dengan sedikit modifikasi istilah dari Max Weber) "re-enchantment of the world".

Sekian.
Ulil Abshar Abdalla

03/07/2022

HBH 2022

Address

Karimunjawa

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Jaspas Official posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Jaspas Official:

Shortcuts

Share