01/08/2022
𝐌𝐄𝐍𝐃𝐔𝐃𝐔𝐊𝐊𝐀𝐍 𝐈𝐋𝐌𝐔 𝐖𝐈𝐅𝐈𝐐 𝐃𝐄𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐁𝐄𝐍𝐀𝐑 (𝐁𝐚𝐠 𝟏)
Sejak pertama flyer pelatihan wifiq naik, saya sadar dan sudah menduga akan muncul banyak komentar. Sebagian mendukung dan ikut senang, tapi tentu lebih banyak yang menentang. Diantara komentar netizen ada yang menulis “𝑊𝑖𝑓𝑖𝑞 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑛𝑢𝑙𝑖𝑠 𝑠𝑎𝑗𝑎 𝑘𝑜𝑘 𝑎𝑑𝑎 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑡𝑖ℎ𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎, 𝑎𝑝𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑙𝑎𝑡𝑖ℎ?”, ada lagi yang berkomentar “𝐾𝑜𝑘 𝑚𝑎ℎ𝑎𝑙 𝑦𝑎, 𝑘𝑜𝑘 𝑔𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑝𝑎𝑟𝑎 𝑢𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑖𝑘ℎ𝑙𝑎𝑠 𝑏𝑒𝑟𝑗𝑢𝑎𝑛𝑔.” Ada yang lebih ekstrim lagi dengan mengatakan bahwa ini adalah ilmu perdukunan, syirik, dan lain-lain. Saya hanya 𝑚𝑏𝑎𝑡𝑖𝑛 dalam hati.
Keputusan untuk meng-handle pelatihan wifiq yang ditawarkan oleh Gus Mukhlas sebagai pendiri 𝐊𝐨𝐦𝐮𝐧𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐏𝐞𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐖𝐢𝐟𝐢𝐪 𝐍𝐮𝐬𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 (𝐊𝐏𝐖-𝐍𝐔) bukan tanpa alasan. Saya sudah membaca buku karangan beliau dan telah lama mengikuti tulisan-tuliannya di wall facebook atau di grup telegram KPW NU yang beliau asuh. Dari cara beliau menyusun buku, mengambil referensi, serta cara beliau menjawab berbagai pertanyaan anggota grup membuat saya berkesimpulan bahwa beliau memang benar-benar pakar wifiq. Beliau mampu menyederhanakan bahasa yang rumit dalam kitab-kitab induk ilmu hikmah sehingga mudah dipahami oleh orang awam seperti saya. Beliau juga selalu menampilkan referensi dari kitab-kitab hikmah yang 𝑚𝑢’𝑡𝑎𝑏𝑎𝑟 juga didukung dari kitab-kitab dalam 𝑓𝑎𝑛𝑛 ilmu lain. Selain itu menimbang manfaat yang besar dari ilmu ini serta keberadaan pakar ilmu wifiq yang langka akhirnya saya pun dengan tangan terbuka menyatakan siap mendampingi Gus Mukhlas menyelenggarakan pelatihan di Malang.
Dalam pembukaan, di hadapan peserta, saya menyampaikan bahwa Ilmu adalah ilmu, ilmu wifiq adalah sebuah ilmu, bebas nilai dan netral. Kita perlu secara objektif mendudukkan ilmu ini sama dengan ilmu-ilmu yang lain. Semua ilmu bagi saya adalah ibarat pisau bermata dua. Bisa bermanfaat bisa juga menimbulkan 𝑚𝑎𝑑ℎ𝑎𝑟𝑎𝑡. Tapi bukan disebabkan oleh ilmu itu sendiri tetapi lebih kepada niat dan pemanfaatan ilmu tersebut. Katakanlah kita belajar ilmu berhitung, maka ilmu berhitung ini adalah netral. Tidak baik juga tidak buruk. Baik dan buruk ditentukan oleh niat dan pemanfaatan oleh kita sendiri. Jika ilmu berhitung kita gunakan untuk kepentingan mengatur keuangan, bertransaksi jual beli dan sejenisnya tentu ini baik. Tapi sebaliknya jika ilmu ini kita gunakan untuk mengatur keuntungan pribadi dibalik dana sosial misalnya, tentu menjadi jelek dan berdosa. Maka saya tekankan lagi, bijaklah dalam mendudukkan sebuah ilmu. Semua ilmu adalah netral, kita sendirilah yang bertangung jawab untuk mebawa kemana ilmu itu.
Ditinjau dari prepektif Islam, ilmu wifiq adalah ilmu yang menjadi bagian dari warisan para ulama-awliya’ terdahulu. Ilmu yang secara khusus mempelajari rahasia dan keserasian huruf dan angka ini sebenarnya telah dikenal dan diketahui oleh para Ulama. Sebagai contoh, dalam kitab 𝐴𝑙 𝑀𝑢𝑛𝑞𝑖𝑑𝑧 𝑀𝑖𝑛𝑎𝑑 𝐷𝑙𝑜𝑙𝑎𝑙, Imam Al Ghazali menampilkan satu bentuk wifiq 𝑚𝑢𝑡𝑠𝑎𝑙𝑙𝑎𝑡𝑠 dengan skema peletakan بَطَدٍ . Yang disitu dikomentari Al Ghazali bahwa wifiq tersebut terbuti mujarrab untuk membantu perempuan yang sulit melahirkan. Syaikh Ibnu Hajar Al Haitami dalam𝐹𝑎𝑡𝑎𝑤𝑎 𝑎𝑙 𝐻𝑎𝑑𝑖𝑡𝑠𝑖𝑦𝑎ℎ bahkan sEcara gamblang menyatakan bahwa Imam Ghazali adalah orang yang banyak menggunakan ilmu wifiq ini. Ibnu Hajar juga menjelaskan bahwa selama wifiq ini digunakan untuk kebaikan maka hukumnya adalah boleh, namun apabila digunakan untuk kejahatan maka hukumnya adalah haram. (Wiqif Al Ghazali dan Fatwa Ibnu Hajar saya tampilkan dalam foto).
Hal tersebut jelas menunjukkan bahWa ilmu ini secara syariat bisa diterima dan bukan suatu hal yang terlarang mempelajarinya. Tinggal bagaimana kita menata niat, mencari guru yang benar, dan memanfaatkan nya dengan baik.
Lalu bagaimana dengan 𝑘ℎ𝑜𝑑𝑎𝑚 wifiq? Bukankah ini sama saja dengan perjanjian terlarang? Bagaimana kalau𝑘ℎ𝑜𝑑𝑎𝑚 wifiq meminta imbalan dan balas jasa? Bagaimana kalau menghambat kita saat kematian?
Kita jawab di tulisan berikutnya.
𝗞𝗵𝗮𝗱𝗶𝗺 𝗝𝗮𝗴𝗮𝗱 𝗦𝗵𝗮𝗹𝗮𝘄𝗮𝘁
Bayu Candra S
𝙏𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙂𝙪𝙨 𝙈𝙪𝙠𝙝𝙡𝙖𝙨, 𝙨𝙚𝙡𝙪𝙧𝙪𝙝 𝙥𝙚𝙨𝙚𝙧𝙩𝙖, 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙣𝙞𝙩𝙞𝙖. 𝘼𝙡𝙝𝙖𝙢𝙙𝙪𝙡𝙞𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙡𝙖𝙣𝙘𝙖𝙧 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙠𝙨𝙚𝙨. 𝘽𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙚𝙣𝙩𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙜𝙧𝙪𝙥 𝙆𝙋𝙒 𝙉𝙐 𝙆𝙤𝙧𝙙𝙖 𝙈𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙍𝙖𝙮𝙖. 𝙎𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙟𝙪𝙢𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙥𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙞𝙠𝙪𝙩𝙣𝙮𝙖.