20/09/2026
Duh… ternyata yang bikin kangen bukan sekadar sosok ulama yang berani bicara di depan penguasa.
Tapi ulama yang nggak merasa harus menyenangkan penguasa.
Di depan Presiden, Kiai Hasan Abdullah Sahal tetap menyampaikan apa yang ingin beliau sampaikan. Bahkan ketika merasa perkataannya “agak tak enak”, beliau tetap mengatakannya.
Karena mungkin begitulah seharusnya ulama berdiri:
bukan di belakang kekuasaan,
bukan p**a sibuk mencari muka,
tapi di samping kebenaran—meskipun harus mengingatkan orang yang sedang berkuasa.
Dan saya rasa, masyarakat memang selalu membutuhkan suara-suara seperti ini.
Bukan suara yang selalu berkata “iya”,
tapi suara yang berani berkata,
“Pak, mohon maaf… kalau boleh saya ingatkan.”
Semoga masih banyak ulama yang menjaga independensinya.
Dan semoga para penguasa juga selalu dikelilingi orang-orang yang berani mengingatkan, bukan hanya pandai memuji. 🤍