Sejarah Indonesia & Dunia

Sejarah Indonesia & Dunia Halaman Sejarah Indonesia & dunia (SID) dibuat dengan tujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai s

"๐Š๐ˆ๐’๐€๐‡ ๐€๐“๐‹๐€๐๐“๐ˆ๐’: ๐’๐ž๐›๐ฎ๐š๐ก ๐ƒ๐จ๐ง๐ ๐ž๐ง๐  ๐’๐ž๐›๐ž๐ฅ๐ฎ๐ฆ ๐Œ๐š๐ฌ๐ž๐ก๐ข?"Oleh: Indra Nanda AwalludinDari masa klasik hingga kontemporer, dialog m...
18/03/2022

"๐Š๐ˆ๐’๐€๐‡ ๐€๐“๐‹๐€๐๐“๐ˆ๐’: ๐’๐ž๐›๐ฎ๐š๐ก ๐ƒ๐จ๐ง๐ ๐ž๐ง๐  ๐’๐ž๐›๐ž๐ฅ๐ฎ๐ฆ ๐Œ๐š๐ฌ๐ž๐ก๐ข?"
Oleh: Indra Nanda Awalludin

Dari masa klasik hingga kontemporer, dialog mengenai sebuah peradaban yang konon โ€œHilangโ€ bernama Atlantis masih terus berlangsung, sebagian orang berpendapat bahwa Atlantis memang pernah ada, sebagian orang lagi berpendapat bahwa Atlantis hanya sebuah dongeng belaka. Plato, salah satu dari ketiga filsuf besar Yunani Kuno, murid dari Socrates dan guru dari Aristoteles, adalah orang yang mencetuskan ide mengenai Atlantis ini dalam karya-nya, Timaeus dan Critias, yang berisi dialog-dialog antara Socrates, Hermocrates, Timaeus dan juga Critias yang juga menyinggung soal peradaban bernama Atlantis. Karya Plato tersebut sepertinya memang merupakan rujukan atau sumber literatur utama dari semua buku-buku mengenai Atlantis lainnya, termasuk buku โ€œAtlantis: the Lost Continent Finally Foundโ€ yang ditulis oleh Arysio Santos yang mengatakan bahwa Atlantis terletak di Indonesia, yang menurut saya terdengar sangat ngawur atau asal-asalan. Sebab, dalam buku โ€œTimaeus dan Critiasโ€ karya Plato sendiri tidak disebutkan secara spesifik di mana sebenarnya peradaban bernama Atlantis ini berada. Plato hanya menuliskan Atlantis yang ia deskripsikan sebagai kota yang makmur, tanahnya subur dan memiliki teknologi canggih pada zamannya.

Agak sulit sebetulnya kalau kita membahas mengenai Atlantis, karena kita pasti akan berhadapan dengan teori-teori dari orang yang memiliki perspektif tersendiri tentang ini yang malah melahirkan sebuah konspirasi, yang malah menyeret kita menjauh dari kebenaran tentang Atlantis. Mungkin ketika kita membicarakan soal Atlantis, kita hanya akan berdiskusi tanpa ujung seperti halnya berdiskusi apakah Alien dan UFO itu ada atau tidak, atau apakah bumi itu bulat atau datar, sampai kapanpun ita tidak akan pernah menemukan titik kebenarannya jika sumbernya saja hanya menginformasikan informasi yang setengah-setengah dan ambigu. Namun, kalau kita telaah lebih dalam lagi, ada atau tidak adanya Atlantis itu tidak begitu penting, dan kalaupun Atlatis memang ditemukan, sepertinya tidak akan memberikan dampak besar bagi kehidupan kita, meskipun mungkin tetap memiliki dampak kecil seperti mengubah persepsi banyak orang mengenai Atlantis.

Dalam buku โ€œTimaeus dan Critiasโ€, diceritakan bahwa terjadi perang besar antara bangsa Atlanta kuno (Atlantis) dengan Athena yang terjadi 9000 tahun sebelum masa Plato menurut cerita dari Pendeta Mesir yang menceritakan kisah ini kepada Solon, yang juga menceritakannya lagi kepada orang lain hingga sampai kepada Critias (Tokoh dalam buku tersebut). Ada salah satu artikel menarik yang saya baca, yang berisi tanggapan terhadap karya Plato ini, yang menyebutkan bahwa ada semacam anakronisme di sana, yaitu mengenai kapan pastinya peradaban Atlantis tersebut tenggelam dan pernyataan Plato yang menuliskan bahwa bangsa Atlantis memiliki hukum-hukum tertulis yang sempurna padahal diketahui bahwa budaya tulis-menulis masih belum ada pada tahun 9000 SM di belahan bumi manapun. Bahkan, murid Plato sendiri, Aristoteles, menyebutkan bahwa Atlantis hanyalah sebuah mitos atau karangan Plato saja yang menurutnya hanyalah peradaban imajiner untuk melukiskan teori politik.

Namun, dalam artikel itu juga dituliskan bahwa Atlantis adalah peradaban yang mungkin saja ada karena menurut penulis artikel tersebut, Plato mendeskripsikannya secara rinci, misalnya deskripsi mengenai keadaan geografi Atlantis yang diceritakan secara gamblang olehnya. Menurut saya, justru sebaliknya, Plato justru membuat cerita mengenai Atlantis ini menjadi ambigu dan penuh kontradiksi dengan fakta sejarah yang ada, sehingga memicu banyak orang untuk memunculkan teori-teori yang saya pikir malah โ€œNgawurโ€. Seandainya memang Plato mendeskripsikan Atlatis secara detail, maka kebenaran Atlantis akan dengan mudah disimpulkan. Terakhir, saya tidak akan menarik kesimp**an apapun mengenai Atlantis, karena tidak ada yang bisa disimpulkan di sini. Namun, yang jelas, saya menikmati cerita Atlantis ini hanya sebagai karya sastra imajinasi Plato, tidak lebih.

Kemarin, seorang teman yang merupakan guru di SMA tempat saya mengenyam pendidikan dulu menghubungi grup angkatan, memin...
22/01/2022

Kemarin, seorang teman yang merupakan guru di SMA tempat saya mengenyam pendidikan dulu menghubungi grup angkatan, meminta agar datang ke acara HUT sekolah. Kebetulan, karena rumah saya dekat dengan sekolah tersebut, saya berangkat mengunjungi teman saya itu. Lama kami berbincang mengenai masa-masa sekolah dulu di meja kerjanya.

Di dekat meja tersebut, terdapat meja seorang guru sejarah yang saya kenal. Di meja tersebut, terdapat tumpukan buku ajar sejarah Indonesia untuk SMA dari berbagai kurikulum. Di sebelah tumpukan buku tersebut, terdapat beberapa kump**an kertas tugas para siswa.

Saya membaca beberapa tulisan dalam kertas tersebut. Saya terkejut ketika menemukan bahwa untuk tugas mengenai sejarah NATO dan SEATO, yang merupakan materi untuk siswa kelas XII, semua tugas memiliki gaya penyusunan jawaban yang sama. Setelah saya bandingkan dengan salah satu buku paket sejarah Indonesia untuk kelas XII sebagai perbandingan, dan menemukan bahwa jawaban siswa dan materi buku ajar memiliki pola penulisan yang serupa.

Apa yang bisa kita maknai dari temuan ini? Sederhana saja, bahwa di tingkat SMA, pemahaman siswa akan sejarah masih bersifat didaktis alias mengikuti buku ajar dan keterangan guru yang mengajar di kelas. Tidak ada upaya lebih jauh dari guru dan buku ajar, untuk mengajak siswa mengembangkan kemampuan heuristik mereka, mencari refrensi yang berbeda atau lebih detil mengenai materi yang sedang mereka pelajari.

Melihat kondisi ini, saya teringat salah satu tulisan yang pernah saya baca ketika kuliah dulu, yang mengatakan bahwa cara siswa belajar sejarah di Indonesia, mulai dari tingkat SD hingga SMA, masih bersifat menekankan pemberdayaan rasa nasionalisme dan kebangsaan siswa. Siswa diajak belajar sejarah tidak untuk memahami bagaimana masa lalu Indonesia dipahami dan direkonstruksikan, tetapi siswa diajak untuk โ€œmenghayati jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur membela Indonesiaโ€.

Jika untuk siswa SD, saya pikir, cara negara memperkenalkan sejarah sebagai sarana seperti ini adalah hal yang masih bisa diterima. Tetapi, ketika siswa sudah memasuki jenjang sekolah menengah, baik SMP maupun SMA, pengenalan sejarah Indonesia dengan perspektif yang lebih kritis sudah seharusnya dilakukan negara. Terlebih, pada jenjang SMA, sejarah yang bersifat spekulatif dan menekankan unsur subjektivitas (ingat, sejarah adalah hasil rekonstruksi masa lalu yang selalu bercampur dengan perspektif penulis dan jiwa zaman ketika ia menulis) diperkenalkan. Dengan ini, diharapkan siswa dapat melihat sejarah sebagai sebuah hal yang memiliki berbagai sudut pandang dan pemahaman, tidak terjebak pada pandangan kaku bahwa sejarah adalah sesuatu yang kaku dan pasti hanya memiliki satu kisah semata.

Sangat disayangkan, setelah lama kita terbebas dari belenggu kolonialisme dan menjadi negara-bangsa yang merdeka, bisa memperkenalkan dan menulis sejarah secara independen dan bebas, cara kita memperkenalkan sejarah untuk generasi penerus kita masih seperti dogma agama.

- Ema

๐— ๐—ผ๐—ป๐—ฎ ๐—Ÿ๐—ถ๐˜€๐—ฎ: ๐—ฆ๐—ผ๐˜€๐—ผ๐—ธ ๐—ก๐˜†๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐—œ๐—บ๐—ฎ๐—ท๐—ถ๐—ป๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐——๐—ฎ ๐—ฉ๐—ถ๐—ป๐—ฐ๐—ถ?๐Ž๐ฅ๐ž๐ก: Indra Nanda AwalludinLeonardo Da Vinci, Pablo Picasso, dan Van Gogh...
17/01/2022

๐— ๐—ผ๐—ป๐—ฎ ๐—Ÿ๐—ถ๐˜€๐—ฎ: ๐—ฆ๐—ผ๐˜€๐—ผ๐—ธ ๐—ก๐˜†๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐—œ๐—บ๐—ฎ๐—ท๐—ถ๐—ป๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐——๐—ฎ ๐—ฉ๐—ถ๐—ป๐—ฐ๐—ถ?
๐Ž๐ฅ๐ž๐ก: Indra Nanda Awalludin

Leonardo Da Vinci, Pablo Picasso, dan Van Gogh merupakan deretan pelukis agung dalam sejarah yang saya kagumi, dan diantara ketiga-nya, saya paling mengagumi Leonardo Da Vinci, sang pelukis yang karya-karya-nya sering dikait-kaitkan dengan konspirasi. Kali ini, saya akan membahas mengenai salah satu karya-nya yang terkenal, yaitu Mona Lisa. Tentunya, sebagian besar orang pasti sudah mengetahui bahwa Mona Lisa adalah sebuah lukisan karya Da Vinci yang kini tersimpan di Museum Louvre, Paris, Perancis. Saya tidak akan membahas teknik melukis apa yang dilakukan Da Vinci untuk melukis Mona Lisa, tetapi saya akan membahas siapa sosok wanita yang dilukis oleh Da Vinci tersebut.

Masih banyak orang yang menganggap bahwa Mona Lisa atau sosok yang dilukis Da Vinci tersebut hanyalah fiktif dan hanya buah imajinasi Da Vinci saja, dengan kata lain, sosok Mona Lisa yang dilukis Da Vinci tidak pernah ada di dunia ini. Terkait hal ini, memang banyak yang berspekulasi mengenai siapa sebenarnya sosok Mona Lisa, bahkan ada juga yang mengatakan bahwa Mona Lisa bukanlah seorang wanita, tetapi seorang laki-laki. Namun, pada tahun 2005, sebuah universitas di Jerman, Universitas Ruprecht Karl Heidelberg, melakukan penelitian dan menyimpulkan bahwa sosok yang berada dalam lukisan Mona Lisa adalah Lisa Del Giocondo. Lalu, siapakah Lisa Del Giocondo? Mengapa Da Vinci melukis seorang wanita yang namanya cukup asing dalam sejarah?

Lisa Del Giocondo adalah seorang wanita yang tinggal di Firenze, Italia, yang berasal dari keluarga bernama Gherardini, yang merupakan keluarga bangsawan yang berpengaruh dan memiliki peranan penting di Toskana, Italia pada abad ke-9 hingga abad ke-14. Suaminya, Fransesco Del Giocondo, adalah orang yang meminta Da Vinci untuk melukis Lisa Del Giocondo. Ia ingin istri-nya terabadikan dalam sebuah lukisan yang diciptakan oleh tangan sang Grand Master. Diketahui, Mona Lisa atau Lisa Del Giocondo lahir pada 15 Juni 1479 di Firenze dan meninggal pada 15 Juli 1542 di tempat yang sama dengan kelahirannya. Tidak banyak catatan sejarah mengenai riwayat hidup Lisa Del Giocondo, tetapi bisa dipastikan ia memang merupakan sosok yang dilukis oleh Da Vinci sekitar tahun 1503.

Lalu, kenapa Mona Lisa atau Lisa Del Giocondo bisa tersimpan di Museum Louvre yang terletak di Perancis sekarang? Sedangkan lukisan tersebut dilukis di Italia oleh orang berkebangsaan Italia. Sejarahnya bermula ketika Raja Francois I dari Perancis meminta Leonardo Da Vinci untuk bekerja untuknya sebagai pelukis pribadi-nya. Maka, sang master Da Vinci menyetujui hal itu dan pergi meninggalkan negerinya, Italia, menuju Clos Lucรฉ, Amboise, Perancis dan tinggal di sana hingga akhir hayatnya. Saat pergi ke Perancis, Da Vinci hanya membawa satu lukisan, yaitu Mona Lisa, dan menjual-nya kepada Raja Perancis tersebut dan hingga kini masih tersimpan aman di Museum Louvre.

Yah, lukisan Mona Lisa memang memiki sejarah yang sangat panjang, yang tidak mungkin bisa saya tuliskan di sini secara mendetail. Namun, kesimp**annya, pernyataan bahwa sosok dalam Mona Lisa adalah tokoh fiktif adalah tidak benar, sebab Mona Lisa adalah sosok wanita cantik berkebangsaan Italia yang memang nyata dan pernah menginjakkan di atas bumi, yang wajahnya terabadikan lewat lukisan yang dilukis oleh tangan ajaib sang Grand Master dan legenda dalam dunia seni, Leonardo Da Vinci.

Referensi:
โ€“ https://www.google.com/amp/s/m.kumparan.com/amp/selidik/misteri-lukisan-monalisa

โ€“ https://artsandculture.google.com/entity/m03bx4wj?hl=id

โ€“ https://www.google.com/amp/s/yoursay.suara.com/amp/kolom/2021/11/16/161629/mengungkap-sosok-di-balik-lukisan-mona-lisa

โ€“ https://written.id/seni/lukisan-mona-lisa-dan-da-vinci/

๐Š๐Ž๐๐†๐‘๐„๐’ ๐๐„๐‘๐„๐Œ๐๐”๐€๐ ๐ˆ๐๐ƒ๐Ž๐๐„๐’๐ˆ๐€:๐‹๐š๐ญ๐š๐ซ ๐๐ž๐ฅ๐š๐ค๐š๐ง๐  ๐๐ž๐ซ๐ข๐ง๐ ๐š๐ญ๐š๐ง ๐‡๐š๐ซ๐ข ๐ˆ๐›๐ฎTepat hari ini, kita memperingati hari wanita-wanita hebat...
22/12/2021

๐Š๐Ž๐๐†๐‘๐„๐’ ๐๐„๐‘๐„๐Œ๐๐”๐€๐ ๐ˆ๐๐ƒ๐Ž๐๐„๐’๐ˆ๐€:
๐‹๐š๐ญ๐š๐ซ ๐๐ž๐ฅ๐š๐ค๐š๐ง๐  ๐๐ž๐ซ๐ข๐ง๐ ๐š๐ญ๐š๐ง ๐‡๐š๐ซ๐ข ๐ˆ๐›๐ฎ

Tepat hari ini, kita memperingati hari wanita-wanita hebat yang mengandung kita selama 9 bulan di dalam rahim-nya, yaitu ibu. Ibu adalah orang yang berjasa besar bagi kehidupan kita, karena itu sudah sepatutnya kita menghayati peringatan ini bukan sebatas pada kata-kata, tetapi aksi nyata kita untuk melakukan bakti yang seharusnya dilakukan seorang anak kepada ibu-nya. Berkaitan dengan peringatan hari ibu, kali ini saya akan membahas mengenai sejarah-nya dan alasan mengapa tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai hari ibu.

Berdasarkan artikel yang saya baca dari Tirto.id, hari ibu sudah diperingati sejak era pemerintahan Presiden Soekarno. Penetapan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu juga tidak terlepas dari pelaksanaan Kngres Perempuan Indonesia I yang diselenggarakam pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta yang kemudian menghasilkan putusan ditetapkannya 22 Desember sebagai hari ibu. Mengutip dari Artikel kompas.com, Kongres Perempuan Indonesia I dihadiri sekitar 30 organisasi wanita yang tersebar di kota Jawa dan Sumatera. Perempuan-perempuan tersebut terinpirasi dari perjuangan wanita era abad ke-19 untuk berjuang melawan penjajah. Hadir p**a wakil-wakil dari Boedi Oetomo, PNI, PSI, Jong Java, Muhammadiyah, dan organisasi pergerakan lainnya.

Kongres Perempuan diselenggarakan hingga 4 kali, adapun hasil dari Kongres Perempuan I adalah untuk mempersatukan cita-cita dan usaha memajukan wanita Indonesia. Selain itu menjadi pertalian antara perkump**an-perkump**an wanita Indonesia. Kongres ini berhasil merumuskan tujuan mempersatukan cita-cita dan usaha memajukan wanita Indonesia.

Kemudian, kongres perempuan II diselenggarakan pada 20-24 Juli 1935 di Jakarta yang mana salah satu hasil dari kongres perempuan kedua ini adalah dibentuknya badan perserikatan Kongres Perempuan Indonesia dan Penetapan Kongres Perempuan yang harus diselenggarakan tiga tahun sekali.

Kongres Perempuan Indonesia III diadakan pada tanggal 23-27 Juli di Bandung yang menghasilkan hak keseteraan gender, para Perempuan menuntut kesamaan derajat antara laki-laki dan Perempuan yang didasarkan pada kodrat dan kewajiban masing-masing.

Kongres Perempuan Indonesia IV atau Kongres Perempuan yang terakhir diselenggarakan pada 25-28 Juli di Semarang yang hasilnya adalah menganjurkan kepada anggota-anggota Dewan Rakyat supaya mengusulkan bahasa Indonesia dimasukkan sebagai mata pelajaran sekolah menengah atas dan Mendesak kepada Fraksi Nasional dalam Dewan Rakyaqt dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda agar hak memilih anggota Dewan Kota dari golongan Indonesia juga diberikan untuk kaum wanita.

Itulah sekelumit sejarah mengenai peringatan hari ibu, dan izinkan saya menutup tulisan ini dengan sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh Harry S. Truman: "Tak ada orang di dunia ini yang bisa menggantikan ibumu. Benar atau salah, dalam pandangannya kau selalu baik. Dia mungkin memarahimu untuk hal kecil, tapi tak pernah untuk hal-hal besar."

SELAMAT HARI IBU.๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป

SELAMAT HARI PAHLAWANBelajar sejarah membuat kita mengenal bagaimana dan seperti apa perjuangan para pahlawan dalam memp...
10/11/2021

SELAMAT HARI PAHLAWAN

Belajar sejarah membuat kita mengenal bagaimana dan seperti apa perjuangan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa kita, dan tugas kita hari ini adalah melanjutkan perjuangan mereka serta tidak sekali-sekali melupakan sejarah.

๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—›๐—ฎ๐—น๐—น๐—ผ๐˜„๐—ฒ๐—ฒ๐—ปTrick or Treat!!๐ŸŽƒ๐ŸŽƒ๐ŸŽƒFiuh...Malam yang dingin dan sunyi disertai hujan rintik-rintik, adakah yan...
31/10/2021

๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—›๐—ฎ๐—น๐—น๐—ผ๐˜„๐—ฒ๐—ฒ๐—ป

Trick or Treat!!๐ŸŽƒ๐ŸŽƒ๐ŸŽƒ

Fiuh...Malam yang dingin dan sunyi disertai hujan rintik-rintik, adakah yang merayakan Halloween disini? Halloween identik dengan festival kostum hantu mulai dari mumi, drakula, vampir, zombie dan hantu-hantu lainnya dan juga identik dengan berkeliling membagikan permen sambil berteriak "Trick or Treat". Namun, apakah kalian juga tahu asal usul perayaan Halloween ini? Jika tidak, mari simak bersama-sama pemaparan tentang perayaan Halloween ini. Perayaan Halloween ini diperkirakan muncul pada tahun 800 SM yang berasal dari tradisi bangsa Kelt (Sebutan bagi sejumlah suku kuno di Eropa Tengah).

Dulunya, perayaan Halloween ini disebut sebagai festival Samhain, yaitu festival musim gugur bangsa Kelt untuk merayakan masa panen sekaligus menyambut musim dingin dan mengingat leluhur yang sudah meninggal. Mereka mempunyai kebiasaan melubangi sebuah labu yang diukir berbentuk mirip seperti wajah hantu untuk membuat lentera yang diletakkan di jendela untuk memperingatkan roh agar tidak mendekat yang dikenal dan disebut dengan "Jack O'Lantern".

Nah, berbicara tentang "Jack O'Lantern", ada fakta menarik tentang labu berwajah hantu tersebut. Menariknya, Jack O'Lantern hadir dari cerita rakyat dengan berbagai versi. Salah satunya adalah kisah Jack yang gemar mengerjai orang-orang, bahkan iblis sekalipun. Oleh karena ulahnya, Jack ditolak di neraka maupun surga hingga akhirnya sang iblis menggoda Jack dengan melemparinya menggunakan bara panas menyala guna menerangi jalannya. Sampai pada akhirnya Jack mengukir umbi-umbian dan meletakan bara tersebut di dalamnya. Awalnya Jack O'Lantern tidak dibuat dengan labu namun umbi-umbian untuk mengusir arwah Jack saat Halloween. Namun, setelah terbawa ke Amerika Serikat mulailah lahir Jack O'Lantern yang terbuat dari Labu.

Begitulah sekelumit asal usul dari perayaan Halloween yang dulunya disebut sebagai festival Samhain, semoga bermanfaat.๐Ÿ˜‰๐Ÿ‘

SC:
โ€“ Sejarah Halloween dalam: "Sejarah Peradaban Dunia Kuno Empat Benua"

โ€“ Festival Samhain dalam: "https://www.google.com/amp/s/bobo.grid.id/amp/081887921/ternyata-awalnya-halloween-tidak-identik-dengan-membagikan-permen"

โ€“ Kisah Jack O'Lantern dalam: "https://www.side.id/dn/fakta-menarik-halloween-festival-samhain-jack-o-lantern"

Segenap pengurus Sejarah Indonesia & Dunia (SID) mengucapkan "SELAMAT MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW 2021 M/1443 ...
19/10/2021

Segenap pengurus Sejarah Indonesia & Dunia (SID) mengucapkan "SELAMAT MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW 2021 M/1443 H". Semoga kita mampu meneledani sifat-sifat dari sang Rasul dan manusia paling mulia tersebut dalam kehidupan sehari-hari.๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป

"Pentingkah Mengetahui Pelaku G30S?"Oleh: Indra Nanda AwalludinTulisan ini masih berkaitan dengan tulisan saya yang sebe...
02/10/2021

"Pentingkah Mengetahui Pelaku G30S?"
Oleh: Indra Nanda Awalludin

Tulisan ini masih berkaitan dengan tulisan saya yang sebelumnya, yaitu masih membahas tentang peristiwa G30S. Namun, kali ini saya akan mengulas tentang seberapa penting mengetahui pelaku sebenarnya dari peristiwa G30S tersebut dan apa yang akan berubah ketika pelaku sebenarnya terungkap. Perdebatan soal siapa pelaku G30S telah menjadi perbincangan kronis yang tidak menemukan ujungnya dan sepertinya diwariskan secara turun temurun. Sejauh ini, ada 5 versi pelaku pembantaian G30S, diantaranya adalah PKI, Soekarno, Soeharto, Konflik Angkatan Darat dan CIA. Namun, dari kelima versi tersebut, PKI adalah pihak utama yang diduga melakukan pembantaian G30S, meskipun ada juga yang tidak setuju jika PKI adalah pelakunya. Dengan demikian, PKI akan tetap dianggap sebagai Perpetrator (Pelaku) sekaligus Victim (Korban) selama kebenarannya belum diketahui secara pasti.

Lalu, jika PKI memang bukan pelakunya, dan pelaku sebenarnya sudah diketahui, apakah itu akan mengubah sejarah? Tidak. Itu tidak akan membuat orang-orang yang menjadi korban pembantaian G30S akan hidup kembali. Namun, itu mungkin akan mengubah stigma masyarakat terhadap PKI yang selama ini dianggap sebagai pelakunya dan membuat diskriminasi terhadap keturunan tokoh PKI akan berhenti. Sementara itu, kebencian masyarakat tetap tidak akan hilang, kebencian masyarakat hanya akan berpindah ke pihak lain yang terbukti sebagai pelakunya. Inilah alasan mengapa saya tidak terlalu ingin mencari tahu siapa pelakunya, karena saya tahu seperti apapun kebenaran peristiwa ini, tidak akan pernah memiliki akhir yang baik.

Oleh karena itu, akan menjadi lebih baik apabila pelaku dari peristiwa ini tidak terungkap untuk selamanya, biarlah menjadi misteri sejarah yang terkubur. Karena kalaupun kebenarannya terungkap, itu malah akan menimbulkan masalah dan konflik baru di kalangan masyarakat yang tidak menerima fakta daripada kebenaran tersebut yang akhirnya mungkin bisa jadi akan ada pertumpahan darah. Jadi, menurut saya, lebih baik masyarakat dibiarkan memilih versi mana yang mereka percayai, apakah masyarakat akan mempercayai bahwa pelakunya adalah PKI, atau Soekarno, atau Soeharto ataupun pelaku-pelaku lainnya itu terserah perspektif mereka sendiri tanpa harus ada paksaan dan memaksa orang lain untuk mempercayai versi yang dipercayainya.

Jadi, mulai detik ini, berhenti untuk terus berdebat dan mempermasalahkan siapa pelaku sebenarnya. Siapapun pelakunya, biarlah Tuhan yang akan menghukum segala perbuatan mereka, tugas kita adalah terus melangkah ke masa depan dan mengantisipasi terulangnya peristiwa tersebut. Satu hal lagi, kalaupun seandainya PKI bukanlah pelakunya, bukan berarti ideologi Komunisme dibenarkan untuk berkembang dan mengakar di Indonesia. Terakhir, marilah kita sama-sama memaafkan dan menerima sejarah, karena dengan memaafkan sejarah, kita bisa berhenti untuk menoleh ke masa lalu, khususnya masa lalu yang kelam. Biarlah sejarah tersebut terpahat dalam ingatan kita. Maafkan, tapi jangan lupakan. Forgive, but don't forget.

๐Ÿ‘๐ŸŽ ๐’๐„๐๐“๐„๐Œ๐๐„๐‘ ๐Ÿ๐Ÿ—๐Ÿ”๐Ÿ“: ๐“๐ซ๐š๐ ๐ž๐๐ข ๐๐ž๐ฆ๐›๐š๐ง๐ญ๐š๐ข๐š๐ง ๐Ÿ” ๐‰๐ž๐ง๐๐ž๐ซ๐š๐ฅ ๐Ÿ ๐๐ž๐ซ๐ฐ๐ข๐ซ๐šJujur saja, saya merasa enggan untuk membahas terkait G30S in...
30/09/2021

๐Ÿ‘๐ŸŽ ๐’๐„๐๐“๐„๐Œ๐๐„๐‘ ๐Ÿ๐Ÿ—๐Ÿ”๐Ÿ“: ๐“๐ซ๐š๐ ๐ž๐๐ข ๐๐ž๐ฆ๐›๐š๐ง๐ญ๐š๐ข๐š๐ง ๐Ÿ” ๐‰๐ž๐ง๐๐ž๐ซ๐š๐ฅ ๐Ÿ ๐๐ž๐ซ๐ฐ๐ข๐ซ๐š

Jujur saja, saya merasa enggan untuk membahas terkait G30S ini. Pertama, karena saya merasa jenuh setiap tahun, setiap tanggal 30 September datang, orang-orang selalu ribut soal G30S, tanpa pernah menemukan kebenaran sejarah dari peristiwa tersebut. Kedua, ini akan membuka luka lama bagi keluarga korban yang sampai saat ini masih menyisakan luka yang sangat pedih dalam hati mereka, teringat kembali ketika orang-orang yang mereka sayangi dibunuh di depan mata mereka sendiri. Kisah pembantaian G30S ini sudah sering sekali diceritakan, seperti bagaimana para korban-korban tersebut dibunuh, jadi saya akan beralih membahas mengenai pihak-pihak yang diduga menjadi dalang di balik peristiwa tersebut.

Berdasarkan artikel yang saya baca dari historia.id pada tahun 2017 lalu, disebutkan bahwa ada 5 versi mengenai pihak yang diduga menjadi pelaku pembantaian ini diantaranya adalah PKI, Soekarno, Soeharto, konflik Angkatan darat, dan CIA. Untuk menentukan siapa pelaku sebenarnya, sangat rumit dan tidak hanya berdasarkan pada asumsi siapa yang memiliki motif yang kuat dan siapa yang paling diuntungkan dari peristiwa tersebut, ini tidak sesederhana itu. Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu bersemangat untuk mencari tahu siapa pelakunya, karena saya pikir tidak terlalu penting juga karena semuanya telah terjadi dan tidak akan merubah apapun meskipun kebenarannya telah terungkap. Namun, mari kita coba bahas mengenai 5 versi yang disebutkan di atas.

Kita mulai dari PKI terlebih dahulu, penyebutan bahwa PKI adalah dalang atau pelaku dari peristiwa ini adalah versi yang ditulis oleh Orde baru dan disusun oleh sejarawan Nugroho Notosusanto. Menurut saya, motif PKI yang dikemukakan oleh Orde baru cukup masuk akal, mengingat bahwa PKI seringkali menginginkan untuk mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi Komunisme, maka mungkin mereka berencana melakukan kudeta dengan cara melakukan pembantaian untuk bisa berkuasa. Namun, hak untuk percaya atau tidak terhadap versi G30S yang ditulis oleh Orde baru, adalah hak Anda.

Kemudian, ada versi kedua dari Antonie C.A Dake, yang mengatakan bahwa Soekarno adalah dalang dari pembantaian G30S. Penulis buku "Sukarno File" ini menjelaskan bahwa pada 4 Agustus 1965 Soekarno pernah memanggil beberapa orang ke Istana, salah satunya adalah kolonel Untung. Untung cs diminta untuk menindak para jenderal yang dianggap tidak loyal karena menolak pembentukan angkatan kelima. Untung, yang merupakan salah satu perwira pengawal Presiden Soekarno, menjawab, "Jika bapak membiarkan kita menindak para jenderal, saya akan melaksanakan perintah apa pun dari pemimpin besar". Memang agak menyeramkan mendengar pernyataannya tersebut, tapi bagaimanapun, kita harus bisa menerima versi apapun dari siapapun.

Kita sampai pada versi ketiga yaitu penyebutan bahwa pelaku G30S adalah Soeharto. Memang jika dilihat secara kasat mata, Soeharto adalah pihak yang diuntungkan dari peristiwa tersebut dengan dirinya menjadi presiden yang menandai berakhirnya rezim Orde lama. Namun, tidak sesederhana itu kita lantas menilai bahwa Soeharto adalah pelakunya karena beliau menjadi presiden setelah itu. Dikutip dari buku John Roosa berjudul "Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto", Kolonel Latief, salah satu pelaku pembantaian G30S, bersaksi bahwa ia memberi tahu Soeharto soal rencana penculikan sejumlah jenderal. Dalam wawancara dengan Der Spiegel pada 19 Juni 1970, Soeharto mengaku ditemui di RSPAD Gatot Subroto oleh Latief pada malam 30 September 1965. Jawabannya adalah bahwa ia tidak menerima informasi apa-apa dari Latief, malahan ia mengatakan bahwa ia akan dibunuh olehnya tetapi tidak jadi karena ia berada di tempat umum. Sampai sini, kalian punya pendapat?

Oke, selanjutnya, saya mengutip dari artikel tempo.co tentang dugaan bahwa peristiwa G30S ini terjadi karena konflik angkatan darat berasal dari Narasi yang cukup berbeda yang dihadirkan oleh dua ilmuwan politik asal Cornell University, Ben Anderson dan Ruth McVey. Dalam buku A Preliminary Analysis of the October 1 1965, Coup in Indonesia atau dikenal sebagai Cornell Paper (1971), Ben dan Ruth mengungkapkan bahwa militer Indonesia pada dasarnya telah terbelah menjadi kubu, yakni kubu yang mendukung kebijakan Sukarno dan kubu yang menentangnya. Peristiwa Gerakan 30 September sebenarnya merupakan upaya untuk menyingkirkan perwira-perwira militer yang mendukung kebijakan B**g Karno supaya kubu yang berseberangan dapat memperoleh kekuasaan.

Versi terakhir, versi yang saya kutip dari sumber yang sama bahwa pelaku pembantaian ini adalah keterlibatan CIA diungkapkan oleh David T. Johnson yang menyebutkan bahwa beberapa hal dapat dipilih untuk mencegah B**g Karno jatuh ke tangan Komunis. Pilihan tersebut adalah membiarkan saja, membujuknya untuk berpihak kepada Blok Barat, menyingkirkan B**g Karno, mendorong Angkatan Darat melakukan kudeta pemerintah an, merusak kekuatan PKI dan merekayasa kehancuran PKI sekaligus menjatuhkan Sukarno. Opsi terakhir merupakan opsi yang dipilih oleh Amerika Serikat.

Kesimp**annya, sejarah memang memiliki kebenaran tunggal, tetapi bisa memiliki versi atau interpretasi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kita diharapkan untuk mengetahui seluruh versi dari sebuah sejarah supaya kemudian kita mampu melihat sejarah tersebut dari berbagai perspektif atau sudut pandang, dan kemudian mempercayai versi yang menurut kita percayai. Begitupun terkait peristiwa G30S ini, entah kita mempercayai PKI, Soekarno, Soeharto, Konflik angkatan darat, atau CIA, mengenai dalangnya, itu adalah hak kita, dan disini saya hanya menyajikan atau menyampaikan, bukan bermaksud melakukan penggiringan opini atau semacamnya. Namun, yang terpenting bukan mengetahui siapa dalangnya atau terbongkar kebenaran yang sebenarnya, terapi bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah tersebut dan kita berharap semoga peristiwa kelam serupa tidak terjadi lagi di negeri tercinta kita ini. Mari berdoa semoga Tuhan memberikan kedamaian dan tempat yang layak di sisi-nya bagi para korban G30S. Gugur satu tumbu seribu.

โ€œTIDAK ADA KATA 'BAIK' UNTUK PENJAJAH"Oleh: Indra Nanda AwalludinPenjajahan atau kolonialisme adalah tindakan suatu nega...
21/09/2021

โ€œTIDAK ADA KATA 'BAIK' UNTUK PENJAJAH"
Oleh: Indra Nanda Awalludin

Penjajahan atau kolonialisme adalah tindakan suatu negara yang mengambil secara paksa, mengeksploitasi sumber daya alam dan menduduki tanah yang menjadi wilayah negara lain dengan tujuan mendapatkan keuntungan untuk negaranya sendiri meskipun hal tersebut merugikan negara yang dijajahnya. Bila kita menengok kembali sejarah, negara seperti Amerika Serikat pun pernah mengalami penjajahan oleh Inggris dan kemudian meraih kemerdekaannya pada 4 Juli 1776. Negara kita, Indonesia, juga pernah mengalami penjajahan oleh bangsa asing yang ingin menguasai sumber daya alam kita, ratusan tahun lamanya bangsa kita menderita akibat penjajahan dan akhirnya merdeka pada 17 Agustus 1945.

Negara yang paling mendominasi dalam sejarah kolonialisme di Indonesia adalah Jepang dan Belanda, meskipun Portugis, Inggris, dan Perancis juga pernah menjajah Indonesia. Berbicara mengenai penjajahan Jepang dan Belanda, Beberapa hari yang lalu, saya melihat sebuah komentar di sebuah halaman sejarah yang mengatakan: โ€œPenjajah Belanda itu baik, yang jahat itu penjajah Jepangโ€. Kemudian saya berpikir keras, sejak kapan penjajah itu ada yang baik? Namun, barangkali ia tidak memahami definisi dari penjajah dan penjajahan juga fakta-fakta tentang penjajahan Belanda di Indonesia, jadi saya akan menjawab argumen tersebut dengan tulisan saya ini.

Awal kedatangan bangsa Eropa (Termasuk Belanda) ke Asia termasuk Indonesia dilatarbelakangi oleh jatuhnya Konstantinopel yang merupakan Ibu kota Romawi Timur ke dalam kekuasaan kekhalifahan Utsmani pada tahun 1453. Bagi Islam, peralihan kekuasaan ini sangat menguntungkan karena bisa menjadi jalan masuk bagi Islam ke Eropa. Sedangkan, bagi Eropa, hal ini jelas merugikan, karena dengan jatuhnya Konstantinopel ke tangan Utsmani, jalan dagang Eropa dan Timur tengah menjadi terputus. Akhirnya, bangsa Eropa pun melakukan ekspedisi penjelajahan samudera untuk mencari jalur dagang alternatif, hingga sampailah mereka di Afrika dan Asia termasuk Nusantara (Indonesia).

Awalnya, mereka memang berniat untuk berdagang, tetapi karena mereka mengetahui bahwa bangsa Afrika dan Asia itu lemah dan gampang dibodohi, maka munculah niat untuk mengkolonialiasi dan mengeksploitasi sumber daya alamnya, inilah awal dari penjajahan bangsa Eropa terhadap bangsa-bangsa Afrika dan Asia. Jika saya membahas tentang kolonialisme bangsa Eropa di Asia, itu terlalu luas, jadi saya akan fokus pada pembahasan kolonialisme Belanda di Indonesia untuk menanggapi komentar yang saya sebutkan di paragraf pertama tentang โ€œApakah benar penjajah Belanda itu baik?โ€.

Bangsa Belanda pertama kali mendarat di Nusantara pada tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis De Houtman di pelabuhan Banten. Setelah itu, mereka juga menduduki Batavia, Jawa, Maluku dan p**au-p**au lainnya di Nusantara. Salah satu kekejaman bangsa Belanda pada rakyat Nusantara adalah pembantaian besar-besaran terhadap rakyat kep**auan Banda pada 8 Mei 1621 yang dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen, 40 tokoh masyarakat Banda dipenggal kepalanya dan tubuhnya dicincang menjadi empat bagian, dan sebanyak 13.000 jiwa menjadi korban dalam pembantaian tersebut. Sejarah juga mencatat kekejaman lainnya yang dilakukan oleh kolonial Belanda yaitu kerja rodi yang dipelopori oleh Gubernur Jenderal Herman Williem Daendels.

Salah satu kekejaman dari kerja rodi atau sistem kerja rodi ini adalah pembangunan jalan Anyer-panarukan, jalan yang dibangun sepanjang 1000 KM ini menelan kurang lebih 24.000 korban jiwa hingga pembangunan jalan ini selesai, meskipun tidak pasti berapa jumlah korban jiwa yang sebenarnya. Namun, ada fakta terbaru terkait pembangunan jalan Anyer-panarukan ini yang disampaikan oleh beberapa sejarawan bahwasanya Daendels memberikan anggaran sebesar 30.000 Ringgit untuk menggaji atau mengupah para pekerja tersebut, tetapi entah kenapa upah tersebut tidak pernah sampai ke tangan para pekerja. Sejarawan Peter Carey juga menyebutkan bahwa upah untuk para pekerja ini banyak diselewengkan sehingga pengaturan proses manajemen proyek ini tidak diatur dengan baik.

2 Tahun pasca kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Belanda masih bernafsu untuk menguasai Indonesia dengan melakukan agresi militer I pada 21 Juli โ€“ 5 Agustus 1947 dan kemudian melakukan agresi militer II pada tahun 1948 dengan diawali penyerangan terhadap ibukota republik Indonesia saat itu, Yogyakarta. Selain agresi militer I dan agresi militer II, banyak sekali peristiwa-peristiwa bersejarah dan kelam yang dilakukan oleh Belanda pasca kemerdekaan Indonesia diantaranya adalah peristiwa Palagan Ambarawa, peristiwa merah putih, hingga serangan umum 1 Maret 1949. Bila kita melihat fakta sejarah ini, maka bisa disimpulkan bahwa Belanda bukan hanya bangsa kolonial melainkan juga bangsa yang serakah dengan masih bernafsu menguasai Indonesia yang sudah menjadi suatu negara yang berdaulat. Bahkan, mereka berdalih bahwa agresi militer I dan II bukanlah suatu kejahatan perang, melainkan sebuah tindakan penegakan hukum dan karena mereka merasa bahwa Indonesia masih tetap dalam kekuasaan mereka.

Pada awalnya, Belanda juga tidak mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, mereka mengakui bahwa Indonesia merdeka pada 27 Agustus 1949. Mengapa begitu? Karena jika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, itu sama saja mengakui bahwa mereka telah menyerang negara yang berdaulat dan telah melakukan kejahatan perang. Namun, Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 tersebut pada tanggal 16 Agustus 2005, sehari sebelum perayaan kemerdekaan Indonesia ke-60 yang dinyatakan oleh menteri luar negeri Belanda saat itu, Bernard Rudolf Bot, melalui pidato resminya di gedung Deplu.

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa bangsa kita telah banyak menderita akibat kolonialisme, baik itu Jepang maupun Belanda. Namun, bila kita bandingkan antara penjajah Jepang dan Belanda, maka bangsa kita lebih menderita di bawah pendudukan Jepang meskipun Belanda jauh lebih lama menjajah negeri kita. Meskipun begitu, penyebutan bahwa penjajah Belanda itu baik juga tidak benar. Sebab menurut saya, penjajahan adalah suatu tindakan yang tidak manusiawi dan merenggut hak asasi dan kebebasan sesama manusia. Penjajahan lahir dari adanya perasaan lebih superior dan menganggap bangsa lainnya inferor, selain daripada ingin menguasai wilayah bangsa lain tersebut. Dalam mempelajari sejarah, kita harus bisa mengambil pelahaeam dari peristiwa masa lalu tersebut, dalam hal ini, kita harus menjadi bangsa yang "Smart" agar tidak gampang dibodohi oleh bangsa lain, agar kita menjadi tuan bukan malah menjadi babu di negeri kita sendiri. MERDEKA..!!!๐Ÿ”ฅโœŠ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ

Address

Kalibata Timur

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sejarah Indonesia & Dunia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category