18/03/2022
"๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐: ๐๐๐๐ฎ๐๐ก ๐๐จ๐ง๐ ๐๐ง๐ ๐๐๐๐๐ฅ๐ฎ๐ฆ ๐๐๐ฌ๐๐ก๐ข?"
Oleh: Indra Nanda Awalludin
Dari masa klasik hingga kontemporer, dialog mengenai sebuah peradaban yang konon โHilangโ bernama Atlantis masih terus berlangsung, sebagian orang berpendapat bahwa Atlantis memang pernah ada, sebagian orang lagi berpendapat bahwa Atlantis hanya sebuah dongeng belaka. Plato, salah satu dari ketiga filsuf besar Yunani Kuno, murid dari Socrates dan guru dari Aristoteles, adalah orang yang mencetuskan ide mengenai Atlantis ini dalam karya-nya, Timaeus dan Critias, yang berisi dialog-dialog antara Socrates, Hermocrates, Timaeus dan juga Critias yang juga menyinggung soal peradaban bernama Atlantis. Karya Plato tersebut sepertinya memang merupakan rujukan atau sumber literatur utama dari semua buku-buku mengenai Atlantis lainnya, termasuk buku โAtlantis: the Lost Continent Finally Foundโ yang ditulis oleh Arysio Santos yang mengatakan bahwa Atlantis terletak di Indonesia, yang menurut saya terdengar sangat ngawur atau asal-asalan. Sebab, dalam buku โTimaeus dan Critiasโ karya Plato sendiri tidak disebutkan secara spesifik di mana sebenarnya peradaban bernama Atlantis ini berada. Plato hanya menuliskan Atlantis yang ia deskripsikan sebagai kota yang makmur, tanahnya subur dan memiliki teknologi canggih pada zamannya.
Agak sulit sebetulnya kalau kita membahas mengenai Atlantis, karena kita pasti akan berhadapan dengan teori-teori dari orang yang memiliki perspektif tersendiri tentang ini yang malah melahirkan sebuah konspirasi, yang malah menyeret kita menjauh dari kebenaran tentang Atlantis. Mungkin ketika kita membicarakan soal Atlantis, kita hanya akan berdiskusi tanpa ujung seperti halnya berdiskusi apakah Alien dan UFO itu ada atau tidak, atau apakah bumi itu bulat atau datar, sampai kapanpun ita tidak akan pernah menemukan titik kebenarannya jika sumbernya saja hanya menginformasikan informasi yang setengah-setengah dan ambigu. Namun, kalau kita telaah lebih dalam lagi, ada atau tidak adanya Atlantis itu tidak begitu penting, dan kalaupun Atlatis memang ditemukan, sepertinya tidak akan memberikan dampak besar bagi kehidupan kita, meskipun mungkin tetap memiliki dampak kecil seperti mengubah persepsi banyak orang mengenai Atlantis.
Dalam buku โTimaeus dan Critiasโ, diceritakan bahwa terjadi perang besar antara bangsa Atlanta kuno (Atlantis) dengan Athena yang terjadi 9000 tahun sebelum masa Plato menurut cerita dari Pendeta Mesir yang menceritakan kisah ini kepada Solon, yang juga menceritakannya lagi kepada orang lain hingga sampai kepada Critias (Tokoh dalam buku tersebut). Ada salah satu artikel menarik yang saya baca, yang berisi tanggapan terhadap karya Plato ini, yang menyebutkan bahwa ada semacam anakronisme di sana, yaitu mengenai kapan pastinya peradaban Atlantis tersebut tenggelam dan pernyataan Plato yang menuliskan bahwa bangsa Atlantis memiliki hukum-hukum tertulis yang sempurna padahal diketahui bahwa budaya tulis-menulis masih belum ada pada tahun 9000 SM di belahan bumi manapun. Bahkan, murid Plato sendiri, Aristoteles, menyebutkan bahwa Atlantis hanyalah sebuah mitos atau karangan Plato saja yang menurutnya hanyalah peradaban imajiner untuk melukiskan teori politik.
Namun, dalam artikel itu juga dituliskan bahwa Atlantis adalah peradaban yang mungkin saja ada karena menurut penulis artikel tersebut, Plato mendeskripsikannya secara rinci, misalnya deskripsi mengenai keadaan geografi Atlantis yang diceritakan secara gamblang olehnya. Menurut saya, justru sebaliknya, Plato justru membuat cerita mengenai Atlantis ini menjadi ambigu dan penuh kontradiksi dengan fakta sejarah yang ada, sehingga memicu banyak orang untuk memunculkan teori-teori yang saya pikir malah โNgawurโ. Seandainya memang Plato mendeskripsikan Atlatis secara detail, maka kebenaran Atlantis akan dengan mudah disimpulkan. Terakhir, saya tidak akan menarik kesimp**an apapun mengenai Atlantis, karena tidak ada yang bisa disimpulkan di sini. Namun, yang jelas, saya menikmati cerita Atlantis ini hanya sebagai karya sastra imajinasi Plato, tidak lebih.