24/12/2025
44 - TAZKIYATUN NAFS, Part 36
Penjelasan mengenai Hakikat Sholawat sangat mendalam dan menyentuh sisi spiritual yang substantif :
https://www.facebook.com/share/p/184LinpkkT/
Sholawat memang bukan sekadar rutinitas lisan, melainkan sebuah "kendaraan" ruhani untuk wushul ma'rifat Billah wa Rosuulihi SAW.
Sholawat kepada Rosulullah SAW tetap bertahan sebagai jembatan wushul ma’rifat kepada Allah sekalipun para Murabbi atau Mursyid kamil sudah tidak ada, karena Syaikh-nya dan sanad-nya (silsilah-nya) Sholawat itu adalah Rosulullah SAW. sendiri .....
Berbeda dengan aurod atau dzikir apabila aurod atau dzikir dipakai sebagai jembatan wushul ma’rifat Billah maka wajib ada Murabbi atau Syaiknya yang Arif Billah yang Kamil.... ( showiy )
وبالجملة فالصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم توصل إلى الله من غير شيخ لأن الشيخ والسند فيها صاحبها لأنها تعرض عليه صلى الله عليه وسلم ويصلى الله على المصلى بخلاف غيرها من الأذكار فلابد فيها من الشيخ العارف وإلا دخلها الشيطان فلاينتفع بها صاحبها (صاوى : 123)
•
Sebagaimana di ketahui pengamal Wahidiyah sebelum sholawat ini lahir beliau Al Mukarrom Al Imam Al Arif Billah Mbah KH. Abdul Madjid Ma'ruf Muallif Sholawat Wahidiyah Qs wa Ra, Ghouts Fii Zamanihi - Mujaddid Hadzaz Zaman sempat di hadiri Beliau Rosululloh SAW sebanyak tiga kali yaqodhotan ( dalam kondisi tidak tidur /melek-2 an ) guna memberi peringatan kepada beliau Muallif untuk segera berjuang memperbaiki ummat masyarakat, hingga yang ke tiga kalinya Rosululloh SAW memberi peringatan keras, bahkan ancaman jika tidak segera bertindak maka seluruh pemberian Alloh Swt kepada Muallif akan di cabut kembali. Dan pada akhirnya lahirlah Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah di Pondok Pesantren Kedunglo Kediri Jawa Timur.
Berikut adalah poin-poin kunci yang mempertegas ulasan kami :
1. Sholawat sebagai Ibadah yang Unik
Sholawat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan Allah SWT, di mana Allah sendiri dan para malaikat-Nya juga melakukannya (QS. Al-Ahzab: 56). Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan Rasulullah SAW di sisi Pencipta.
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Terjemahan (Kemenag):
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuknya dan ucapkanlah salam dengan penghormatan."
Tafsir Singkat :
Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk berselawat dan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW.
Allah dan Malaikat Berselawat:
Sebelum memerintahkan orang beriman, Allah menjelaskan bahwa Dia dan para malaikat-Nya senantiasa berselawat kepada Nabi SAW.
Selawat Allah berarti pujian-Nya di hadapan para malaikat dan curahan karunia serta rahmat-Nya.
Selawat Malaikat berarti mendoakan Rasulullah, memohonkan ampunan, dan agar derajat beliau ditinggikan.
Perintah untuk Orang Beriman:
Perintah kepada orang-orang mukmin untuk berselawat adalah bentuk penghormatan, pengagungan, dan doa agar Rasulullah terus dikaruniai rahmat serta kemuliaan oleh Allah.
Mengucapkan salam juga diperintahkan sebagai bentuk penghormatan yang sempurna.
Keutamaan:
Ayat ini menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad SAW di langit dan di bumi.
Berselawat kepada Nabi merupakan kunci keselamatan dan dapat menambal kekurangan amal.
2. Dimensi Makrifat (Nur Muhammad)
Seperti yang kami sebutkan, memahami sholawat hingga ke level "Nur Muhammad" adalah memahami bahwa beliau adalah wasilah (perantara) terbesar antara Khalik dan makhluk.
Bersholawat berarti menyambungkan frekuensi ruhani kita kepada sumber cahaya hidayah.
3. Manfaat Nyata dalam Kehidupan
Selain pahala 10 kali lipat, sholawat memiliki dampak psikologis dan spiritual:
Pembersih Hati ( Tazkiyatun Nafs ) :
Menghapus karat-karat dosa dan kesombongan.
لِكُلِّ شَيْءٍ طَهَارَةٌ وَغَسْلٌ وَطَهَارَةُ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَغَسْلُهَا مِنَ الصَّدَاءِ الصَّلَاةُ عَلَيَّ (عن محمد بن القاسم "سعادة الدارين 511")
“Segala sesuatu itu ada alat pencuci dan pembersih. Adapun alat pencuci hati seorang mu’min dan pembersihnya dan kotoran yang sudah melekat/sudah berkarat itu dengan membaca shalawat kepadaKu”. (Sa’adatud Daroini hal. 511)
Kunci Terkabulnya Doa:
Doa yang diawali dan diakhiri dengan sholawat memiliki peluang lebih besar untuk menembus langit.
Syafaat:
Menjadi jaminan kedekatan posisi bersama Rasulullah SAW di dunia dan di hari kiamat.
4. Implementasi "Dari Lubuk Hati"
Agar sholawat mencapai hakikatnya, para ulama menyarankan agar saat membaca sholawat, kita menghadirkan perasaan:
ISTIHDLOR :
Merasa berada di hadapan Rosululloh SAW, wa Ghoutsi Hadzaz Zaman RA, dengan ketulusan hati, ta’dhim (memuliakan), mahabbah (mencinta) sedalam-dalamnya dan semurni-murninya.
a. Imam Al-Ghozali berkata:
وَقَبْلَ قَوْلِكَ "السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبـِىُّ" أَحْضِرْ شَخْصَـهُ الْكَرِيْمَ فِي قَلْـبِكَ وَلْيـُصَدِّقْ أَمَلَكَ فِي أَنَّهُ يَبْلُغُهُ وَيَرُدُّ عَلَيْكَ بِمَا هُوَ أَوْفَى (ألإحيآء في باب الصلاة وسعادة الدرين : 223)
“Sebelum kamu mengucapkan
"السـَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبـِىُّ"
(pada saat baca tahiyat ) hadirkan pribadi Beliau Rosululloh SAW yang mulia dalam hatimu dan mantapkan angan-anganmu bahwa salam kamu sampai pada Beliau dan Beliau menjawabnya dengan jawaban yang lebih tepat” (Dalam kitab Ihya’ bab sholat dan Sa’adatut Daroini hal 123 )
b. Dalam Kitab Jami’ul Ushul hal 48 :
قَلْبُ الْعَارِفِ حَضْـرَةُ اللهِ وَحَوَاسُهُ أَبْوَابُهَا , فَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيْهِ بِالْقُرْبِ الْمُلاَئِمِ لَهُ فُتـِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْحَضْرَةِ
Hatinya orang arif Billah itu merupakan hadlrotulloh dan indranya sebagai pintu-pintu hadlroh. Maka barang siapa yang mendekatkan diri kepada Beliau dengan pendekatan yang serasi (sesuai) dengan kedudukan Beliau, akan ter-bukalah baginya pintu-pintu hadlroh (sadar kepada Alloh )
c. Dalam kitab As-Syifa hal. 32 : Syaikh Abu Ibrahim At-Tajibi berkata :
وَاجِبٌ عَلَى مُؤْمِنٍ مَتَى ذَكَرَهُ أَوْ ذُكِرَ عِنْدَهُ أَنْ يَخْضَعَ وَيَتَوَقَّرَ وَيَسْكُنَ مِنْ حَرَكَتـِهِ وَيَأْخـُذَ فِي هَيْبَتِهِ وَإِجْلاَلِـهِ بـِمَا كَانَ يَأْخُـذَ نَفْسَهُ وَيَتَأَدَّبَ بِمَا أَدَّبَنَا اللهُ بِهِ مِنْ تَعْظِيْمِهِ وَتَكْرِيْمِهِ ..... الخ
“Setiap orang yang beriman ketika menyebut Nabi SAW atau nama Beliau SAW disebut, diwajibkan menunduk, memuliakan dan diam (tidak bergerak) serta berusaha mengagungkan dan memuliakan sebagaimana berhadapan langsung serta mem-bayangkan seakan-akan berada di hadapan Beliau SAW, dan beradab dengan adab-adab yang telah diajarkan oleh Alloh SWT yaitu ta’dhim (mengagungkan) dan takrim (memuliakan) Beliau SAW, …..(WA GHOUTSI HADZAZ ZAMAN RA).
TADZALLUL :
Merasa rendah diri dan merasa hina sehina-hinanya akibat perbuatan dosanya.
Dalam kitab “Taqribul Ushul” , hal.156 disebutkan ,
الإِقْبَالُ إِلَى اللهِ )وَرَسُوْلِهِ ( بِشِدَّةِ الذُّلِّ وَالإِنْكِسَارِ مَعَ التَّبَرِّى عَنِ الْحَوْلِ وَالْـقُـوَّةِ أَصْلُ كُلّ ِ خَـيْرٍ دُنْيَوِىٍّ وَأُخْـرَو ِىّ ٍ .
“ Menghadap kepada Alloh wa Rosuulihi dengan sungguh-sungguh merasa hina dan meratapi dosa-dosa serta merasa tidak mempunyai daya dan kekuatan adalah pangkal segala kebaikan dunia dan akhirat”.
TADHOLLUM :
Merasa penuh berlumuran dosa dan banyak berbuat dholim. Dholim dan dosa terhadap Alloh , wa Rosuulihi wa Ghoutsi Hadzaz Zaman. Dosa terhadap kedua orang tua. Anak, keluarga, saudara, tetangga, terhadap bangsa, negara dan sebagainya terhadap semua makhluq yang ada hubungan hak dengan kita.
Ingat dan merasa sedalam-dalamnya bahwa diri kita termasuk dalam Firman Alloh SWT
إِنَّ الإِ نْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ (14- ابرهيم : 34 )
“Sesungguhnya manusia itu selalu berbuat dlolim dan kufur” (QS. 14-Ibrohim : 34).
IFTIQOR :
Merasa butuh sekali, butuh terhadap maghfiroh (ampunan), perlindungan dan taufiq hidayah Alloh , butuh syafa’at tarbiyah Rosululloh , butuh barokah nadhroh dan do’a restu Ghoutsi Hadzaz Zaman Wa A’waanihi wasaa’iri Auiliyaa’i Ahbaabillah Rodliyallohu Anhum.
( Iftiqor ) :
Merasa butuh akan rahmat Allah.
Mahabbah: Merasa rindu dan cinta kepada Rasulullah.
Ta'dzim :
Merasa hormat atas perjuangan beliau dalam membawa Islam.
Tulisan tersebut sangat inspiratif untuk memotivasi umat agar tidak hanya mengejar kuantitas hitungan, tetapi juga kualitas kehadiran hati (hudhurul qalb).
Al Faatihah ...
Hakikat sholawat adalah manifestasi cinta, penghormatan, dan doa tulus kepada Nabi Muhammad SAW, menjadi jembatan spiritual untuk meraih rahmat Allah, penghapusan dosa, peningkatan derajat, ketenangan jiwa, serta jalan menuju makrifatullah melalui pengagungan terhadap beliau sebagai utusan Allah, di mana setiap satu sholawat dibalas sepuluh rahmat dan kebaikan dari Allah.
Makna dan Tujuan
Cinta dan Penghormatan:
Ungkapan kasih sayang mendalam dan pengakuan atas kemuliaan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah.
Doa dan Permohonan:
Memohon rahmat, kasih sayang, dan keselamatan dari Allah SWT untuk Nabi SAW.
Balasan Kebaikan:
Membalas jasa luar biasa Nabi Muhammad SAW yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Pengagungan:
Bentuk perhatian, kepedulian, dan pemeliharaan terhadap sosok Nabi SAW.
Pahala Berlipat:
Setiap satu sholawat dibalas sepuluh rahmat, menghapus keburukan, dan mengangkat derajat.
Dekat dengan Allah:
Menjadi jalan spiritual (makrifat) menuju Allah melalui Nabi Muhammad SAW.
Proses dan Hasil
Dari Hati:
Sholawat yang tulus terpancar dari lubuk hati, bukan sekadar ucapan lisan.
Pintu Makrifat:
Memuji Nabi membuka jalan menuju Hakikat Muhammad, yang merupakan cahaya petunjuk menuju Allah (Haqqullah).
Ketenangan Jiwa:
Memperbanyak sholawat menumbuhkan ketenangan batin dan keimanan yang manis.
Intinya
Bersholawat adalah manifestasi pengakuan kebesaran Nabi, wujud syukur atas risalahnya, dan sarana spiritual untuk meraih rahmat Allah serta kedekatan hakiki dengan-Nya.
Al Faatihah .... Mujahadah ....
02 - KULIAH WAHIDIYAH, bimbingan praktis al Arif Billah Mbah KH. Abdul Madjid Ma'ruf Mu'allif Sholawat Wahidiyah Qs wa Ra.
BAB II - SHOLAWAT WAHIDIYAH
Boleh diamalkan oleh siapa saja laki-laki, perempuan, tua, muda, dari golongan dan bangsa manapun juga. Tidak pandang bulu.
SHOLAWAT WAHIDIYAH BERFAEDAH MENJERNIHKAN HATI DAN MA'RIFAT BILLAH wa ROSUULIHI SAW.
IJAZAH MUTLAK Al-Mukarrom Mbah KH Abdoel Madjid Ma’roef Mualif Sholawat Wahidiyah QS wa RA Al-Ghouts Fii Zamanihi mengenai amalan Sholawat Wahidiyah.
Syukur Alhamdulillah, karena kasih sayang Mbah KH. ABDUL MADJID MA'ROEF MU'ALLIF SHOLAWAT WAHIDIYAH QS wa RA, AL-GHOUTS FII ZAMANIHI kepada para pengamal Wahidiyah, beliau berkenan menyampaikan fatwa amanat terakhir di malam terakhir dalam pelaksanaan Mujahadah Kubro Rojab tahun 1989 meski dari kamar dalem tengah. Pada kesempatan tersebut Beliau MBAH YAHI QS wa RA meng-ijasahkan Sholawat Wahidiyah kepada seluruh hadirin dan siapa saja untuk diamalkan dan disiarkan dengan kalimat :
“Ajaztukum Bihadzihis Sholawatil Wahidiyyati fil 'Amali wan Nasyri”.
Yang artinya “Aku ijazahkan kepadamu Sholawat Wahidiyah ini untuk di amalkan dan disiarkan/diijazahkan kepada yang lain.”
Siapapun yang mendapat Sholawat Wahidiyah dari mana saja dan dengan cara apapun mendapatkannya dan dari siapapun memperoleh Sholawat Wahidiyah, boleh mengamalkan dan menyiarkannya.
Silahkan tuk di amalkan. Tidak pandang bulu, siapapun yang mau, boleh mengamalkan tanpa ada batasan suku, golongan, ras, bangsa, agama, umur dan jenis kelamin. Tanpa ada bai’at dan syarat-syarat apapun. Ijazah mutlak dan bersifat umum, luas, dan dipermudah, dengan dasar “ikhlas tanpa pamrih”.
Setelah di amalkan sendiri sangat dianjurkan agar supaya di siarkan kepada keluarga, teman, dan masyarakat luas tanpa pandang bulu dan golongan, siapapun yang mau pada umumnya dengan IKHLAS, sebaik-baiknya dan sebijaksana mungkin.
Hadist Rosululloh SAW: “Sampaikanlah apa yang datang dariku walaupun hanya satu ayat.” (HR. Bukhori dan Tirmidzi dari Ibnu Umar).
# # # # # # # # # # # # #
CARA PENGAMALAN :
1. Diamalkan selama 40 hari berturut-turut, tiap hari paling sedikit menurut bilangan yang tertulis dibelakangnya dalam sekali duduk. Boleh pagi, siang, sore, atau malam hari. Boleh juga dipersingkat 7 hari, akan tetapi bilangan-bilangan tersebut dilipatkan 10 kali. Boleh mengamalkan sendiri-sendiri, akan tetapi dengan berjama’ah bersama-sama satu keluarga atau satu kampung sangat dianjurkan.
Bagi kaum wanita yang sedang bulanan, cukup dengan membaca Sholawatnya saja, tidak usah membaca Fatihah. Adapun bacaan “FAFIRRUU ILALLOH” dan “WAQUL JAA-AL HAQQUU…....” boleh dibaca, sebab disini tidak dimaksudkan membaca ayat-ayat Al Qur’an, melainkan sebagai do’a.
Sesudah 40 hari atau 7 hari pengamalan diteruskan tiap hari, dan banyaknya bilangan boleh dikurangi, ditetapkan atau ditambah, sebagian atau seluruhnya. Akan tetapi lebih utama jika diperbanyak.
2. Bagi mereka yang belum hafal dengan SHOLAWAT WAHIDIYAH boleh dengan membaca teksnya. Dan bagi yang belum bisa membaca SHOLAWAT WAHIDIYAH seluruhnya, sambil mempelajarinya, boleh dan cukup membaca bagian mana yang sudah ia dapati lebih dahulu.
Yang paling gampang yaitu membaca “YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH” diulang-ulang selama kira-kira sama waktunya dengan mengamalkan seluruhnnya. Yaitu kurang lebih 30 menit. Didahului dengan membaca surat Al-Faatihah 7x, dan diakhiri dengan Al-faatihah 1x.
Jika itupun misalnya terpaksa belum mungkin membaca tsb, boleh berdiam saja selama waktu itu dengan memusatkan segenap perhatian lahir batin, mengkonsentrasikan diri sekuat-kuatnya kepada Alloh SWT dan merasa seperti berada dihadapan Junjungan kita Kanjeng Nabi Besar Muhammad SAW (istihdhor) dengan adab lahir batin, yakni ta’dhim (menghormat), takrim (memulyakan) dan mahabbah (mencintai) setulus hati kepada Alloh wa Rosuulihi SAW !.
YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH !"
3. Mengamalkannya harus dengan niat semata-mata beribadah kepada Alloh SWT dengan ikhlas tanpa suatu apapun. Baik pamrih duniawi maupun pamrih ukhrowi misalnya supaya begini, supaya begitu, ingin pahala, ingin surga dan sebagainya !.
Harus sungguh-sungguh mulus, IKHLAS KARENA DAN UNTUK ALLOH - LILLAH ! Disamping niat beribadah LILLAH, supaya niat mengikuti tuntunan Rosululloh SAW (LIRROSUL) dan niat mengikuti bimbingan Ghouts Hadzaz Zaman Rodhiyalloohu ‘anh (LILGHOUTS) !. Jadi ketiga niat dilaksanakan bersama yaitu LILLAH, LIRROSUL, LILGHOUTS !.
4. Disamping niat LILLAH, LIRROSUL, LILGHOUTS seperti diatas, supaya merasa bahwa kita dapat melakukan ini semua karena pertolongan Alloh SWT, karena digerakkan oleh Alloh SWT. Jadi menerapkan :
لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
“Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan titah Alloh”.
Jangan sekali-kali merasa diri kita mempunyai kemampuan tanpa dititahkan oleh Alloh SWT.
Disamping merasa BILLAH, juga supaya merasa BIRROSUL. Artinya merasa bahwa diri kita ini menerima jasa dari Rosululloh SAW. Jadi menerapkan Firman Alloh SWT :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ (21- ألأنْبِيَاء : 107).
“Dan tiada Aku mengutus Engkau Muhammad melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (21-al-Anbiyaa:107).
Selanjutnya disamping merasa BILLAH dan BIRROSUL, supaya merasa BILGHOUTS !. Artinya merasa bahwa kita memperoleh jasa-jasa baik Ghouts Hadzaz Zaman Rodhiyallohu ‘anh, jasa moril antara lain berupa dukungan moril dan do’a restu daripada Beliau, khususnya di dalam kita berdo’a memohon kepada Alloh SWT ini !.
5. Ketika mengamalkan supaya sunguh-sungguh hudhur, hati kita dihadapan Alloh SWT. Dan “ISTIHDHOR” merasa seolah-olah seperti benar-benar berada dihadapan Rosululloh SAW. Dengan adab lahir batin sebaik-baiknya, ta’dhim (memulyakan) dan mahabbah (mencintai) setulus hati.
Dalam pada itu, supaya merasa dan mengakui dengan jujur bahwa diri kita ini penuh dan berlumuran dosa serta berlarut-larut !. Dosa kepada Alloh SWT, dosa kepada Rosululloh SAW, dosa kepada Ghouts Hadzaz Zaman RA dan kepada para Auliya’ kekasih Alloh, dosa kepada orang tua, kepada ibu bapak, kepada keluarga, kepada guru, kepada murid, kepada pemimpin dan kepada yang dipimpin, dosa terhadap bangsa dan negara, dosa kepada umat dan masyarakat bahkan terhadap sesama makhluq pada umumnya.
Dan merasa diri kita ini sangat dho’if, sangat lemah, butuh sekali maghfiroh ampunan, taufiq dan hidayah Alloh SWT, butuh sekali syafa’at pertolongan dan tarbiyah Rosululloh SAW. Butuh sekali akan bantuan dan dukungan dari Ghouts Hadzaz Zaman RA. berupa barokah, nadhroh dan do’a restunya.
Mari kita praktekkan !.
بِسْمِ اللهِ الرَحْمَنِ الرَحِيْمِ
إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الفاتحة x 7
Membaca surat al-Fatihah (7 kali).
وَإِلَى حَضْرَةِ غَوْثِ هَذَا الزَّمَانِ وَأَعْوَانِهِ وَسَائِرِ أَوْلِيَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمْ الفاتحة x 7
Membaca surat al-Fatihah (7 kali).
Kemudian langsung membaca :
اللهُمَّ يَاوَاحِدُ يَاأَحَدُ يَاوَاجِدُ يَاجَوَادُ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ مَعْلُومَاتِ اللهِ وَفُيُوضَاتِهِ وَأَمْدَادِهِ x 100
“ALLOOHUMMA YAA WAAHIDU YAA AHAD, YAA WAAJIDU YAA JAWAAD, SHOLLI WA SALLIM WA BAARIK ’ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIW WA ’ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD. FII KULLI LAMHATIW WA NAFASIM BI ’ADADI MA’LUUMAATILLAAHI WA FUYUUDHOOTIHI WA AM-DAADIH”. (100 Kali).
Terjemah :
“Yaa Alloh, Yaa Tuhan Maha Esa, Yaa Tuhan Maha Satu, Yaa Tuhan Maha Menemukan, Yaa Tuhan Maha Pelimpah, limpahkanlah sholawat salam barokah atas Junjungan kami Kanjeng Nabi Muhammad dan atas Keluarga Kanjeng Nabi Muhammad pada setiap berkedipnya mata dan naik turunnya nafas sebanyak bilangan segala yang Alloh Maha Mengetahui dan sebanyak kelimpahan pemberian dan kelestarian pemeliharaan Alloh”.
اَللَّهُمَّ كَمَا أَنْتَ أَهْلُهُ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا وَشَفِيْعِنَا وَحَبِيْبِنَا وَقُرَّةِ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا هُوَ أَهْلُهُ. نَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ بِحَقِّهِ أَنْ تُغْرِقَنَا فِي لُجَّةِ بَحْرِ الْوَحْدَةِ حَتَّى لاَ نَرَى وَلاَ نَسْمَعَ وَلاَنَجِدَ وَلاَ نُحِسَّ وَلاَنَتَحَرَّكَ وَلاَنَسْكُنَ إِلاَّ بِهَا. وَتَرْزُقَنَا تَمَامَ مَغْفِرَتِكَ يَاأَللهُ وَتَمَامَ نِعْمَتِكَ يَاأَللهُ وَتَمَامَ مَعْرَفَتِكَ يَاأَللهُ وتَمَامَ مَحَبَّتِكَ يَاأَللهُ وتَمَامَ رَضْوَانِكَ يَاأَللهُ. وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ مَاأَحَاطَ بِهِ عِلْمُكَ وَأَحْصَاهُ كِتَابُكَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ x 7
“ALLOOHUMMA KAMAA ANTA AHLUH. SHOLLI WA SALLIM WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA, WA MAULAANAA, WA SYAFII’-INAA, WA HABIIBINA, WA QURROTI A’YUUNINAA, MUHAMMADIN SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WA SALLAMA KAMAA HUWA AHLUH; NAS- ALUKALLOOHUMMA BIHAQQIHI AN TUGH-RIQONAA FII LUJJATI BAHRIL WAHDAH. HATTA LAA NAROO, WA LAA NASMA’A, WA LAA NAJIDA, WA LAA NUHISSA, WA LAA NATAHARROKA, WA LAA NASKUNNA ILLA BIHAA.
WA TARZUQONAA TAMAAMA MAGHFIROTIKA YAA ALLOH, WATAMAAMA NI’MATIKA YAA ALLOH, WA TAMAAMA MA’RIFATIKA YAA ALLOH, WA TAMAAMA MAHABBATIKA YAA ALLOH, WA TAMAAMA RIDHWAANIKA YAA ALLOH, WA SHOLLI WA SALLIM WA BAARIK ’ALAIHI WA ‘ALAA AALIHII WA SHOHBIH ‘ADADA MAA AHAATHO BIHII ‘ILMUKA WA AHSHOOHU KITAABUK, BIROHMATIKA YAA ARHAMAR ROHIMIN WALHAMDU LILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN”. (7 kali)
Terjemah :
“Yaa Alloh, sebagaimana keahlian ada pada-Mu, limpahkanlah sholawat salam barokah atas Junjungan kami, Pemimpin kami, Pemberi syafa’at kami, Kecintaan kami dan Buah Jantung hati kami Kanjeng Nabi Muhammad Sholalloohu ‘alaihi wasallam yang sepadan dengan keahlian Beliau; kami bermohon kepada-Mu Yaa Alloh, dengan Hak Kemulyaan Beliau, tenggelamkanlah kami di dalam pusar dasar samudra Ke-esaan-Mu sedemikian rupa sehingga tiada kami melihat dan mendengar, tiada kami menemukan dan merasa, dan tiada kami bergerak ataupun berdiam melainkan senantiasa merasa di dalam samudra Tauhid-Mu.
Dan kami bermohon kepada-Mu Yaa Alloh, limpahkanlah kami ampunan-Mu yang sempurna Yaa Alloh, nikmat karunia-Mu yang sempurna Yaa Alloh, sadar ma’rifat kepada-Mu yang sempurna Yaa Alloh, cinta kepada-Mu dan memperoleh kecintaan-Mu yang sempurna Yaa Alloh, ridho kepada-Mu serta memperoleh ridho-Mu yang sempurna p**a Yaa Alloh.
Dan sekali lagi Yaa Alloh, limpahkanlah sholawat salam dan barokah atas Beliau Kanjeng Nabi dan atas Keluarga dan sahabat Beliau sebanyak bilangan segala yang diliputi oleh ilmu-Mu dan termuat di dalam kitab-Mu, dengan rahmat-Mu Yaa Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan segala puji bagi Alloh Tuhan seru sekalian alam”.
يَاشَافِعَ الْخَلْقِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ * عَلَيْكَ نُوْرَ الْخَلْقِ هَادِيَ الأَنَامِ
وَأَصْـلَهُ وَرُوْحَهُ أَدْرِكْنِي * فَقَدْ ظَلَمْتُ أَبَدًا وَرَبِّـنِي 3
وَلَيْسَ لِي يَا سَـيِّدِي سِوَاكَ * فَإِنْ تَرُدَّ كُنْتُ شَخْصًا هَالِكًا
“YAA SYAAFI’AL KHOLQIS SHOLAATU WAS SALAAM, ‘ALAIKA NUUROL KHOLQI HAADIYAL ANAAM. WA ASHLAHUU WA RUUHAHUU ADRIKNII FAQOD DHOLAMTU ABADAW WAROBBINII. WA LAISA LII YAA SAYYIDII SIWAAKA, FA IN TARUDDA KUNTU SYAKH-SHON HAALIKA”. (3 kali)
يَا سَــيِّدِي يَارَسُولَ اللهِ
“YAA SAYYIDII, YAA ROSUULALLOOH !” (7 kali).
Terjemah :
“Duhai Kanjeng Nabi Pemberi syafa’at makhluq, kepangkuan-Mu sholawat dan salam kusanjungkan, Duhai Nur Cahaya makhluq Pembimbing manusia; Duhai Unsur dan Jiwa makhluq, bimbing, bimbing dan didiklah diriku, sungguh aku manusia yang dholim selalu”.
“Tiada arti diriku tanpa Engkau duhai Yaa Sayyidii. Jika Engkau hindari aku, akibat keterlaluan dan berlarut-larutku, pastilah, pasti aku akan hancur binasa !”.
“Duhai Pemimpin kami, duhai Utusan Alloh !”
يَأَيُّهَا الْغَـوْثُ سَـلاَمُ اللهِ * عَلَيْكَ رَبِّـنَي بِإِذْنِ اللهِ
وَانْظُرْ إِلَيَّ سَيِّدِي بِنَظْـرَةٍ * مُوْصِلَةٍ لِلْحَـضْرَةِ الْعَلِيّةِ 3
“YAA AYYUHAL GHOUTSU SALAAMULLOHI, ‘ALAIKA ROBBINII BI IDZNILLAAHI, WANDHUR ILAYYA SAYYIDII BINNADHROH MUUSHILATIL LILHADHROTIL ‘ALIYYAH”. (3 kali).
Terjemah :
“Duhai Ghoutsuz Zaman, kepangkuan-Mu salam Alloh kuhaturkan, bimbing dan didiklah diriku dengan idzin Alloh. Dan arahkan pancaran sinar nadhroh-Mu kepadaku Yaa Sayyidii, radiasi batin yang mewushulkan aku, sadar kehadirat Maha Luhur Tuhanku”.
يَاشَافِعَ الْخَلْقِ حَـبِيْبَ اللهِ * صَلاَتُهُ عَلَيْكَ مَعْ سَلاَمِهِ
ضَلَّتْ وضَلَّتْ حِيْلَتِي فِي بَلْدَتِي* خُذْ بِيَدِي يَاسَيِّدِي وَالأُمَّةِ 3
YAA SYAFI’AL KHOLQI HABIIBALLOOHI, SHOLAATUHU ’ALAIKA MA’ SALAAMIHII DHOLLAT WA DHOLLAT KHIILATII FII BALDATII, KHUD BIYADII YAA SAYYIDII WAL UMMATI”. (3 kali).
يَا سَيِّدِي يَا رَسُولَ اللهِ x 7
“YAA SAYYIDII, YAA ROSUULALLOOH !” (7 kali).
“Duhai Kanjeng Nabi Pemberi Syafa’at makhluq, duhai Kanjeng Nabi Kekasih Alloh, kepangkuan-Mu sholawat dan salam Alloh kusanjungkan, Jalanku buntu, usahaku tak menentu, cepat, raihlah tanganku Yaa Sayyidii, tolonglah diriku dan seluruh umat ini !.
“Duhai Pemimpin kami, duhai utusan Alloh !”
يَارَبَّنَا اللَّهُمَّ صَـلِّ سَـلِّمِ * عَلَى مُحَمَّدٍ ِشَفِيْعِ الأُمَمِ
وَالأَلِ وَاجْعَلِ الأَنَامَ مُسْرِعِيْنَ * بِالْوَاحِدِيَةِ لِرَبِّ العَـالَمِيْنَ 3
يَارَبَّنَا اغْفِرْيَسِّرْ اِفْتَحْ وَاهْدِنَا * قَرِّبْ وَأَلِّفْ بَيْنَنَا يَارَبَّـنَا
“YAA ROBBANALLOOHUMMA SHOLLI SALLIMI, ‘ALAA MUHAMMADIN SYAFII’IL UMAMI, WAL AALI WAJ-ALIL ANAAMA MUSRI’IN BIL WAAHIDIYYATI LIROBBIL ‘AALAMIIN, YAA ROBBANAGH-FIR YASSIR IFTAH WAHDINAA, QORRIB WA ALLIF BAINANAA YAA ROBBANAA”. (3 kali)
Terjemah :
“Yaa Tuhan kami Yaa Alloh, limpahkanlah sholawat dan salam atas Kanjeng Nabi Muhammad pemberi syafa’at umat. Dan atas keluarga Beliau, serta jadikanlah umat manusia cepat-cepat kembali mengabdikan diri dan sadar kepada Tuhan semesta alam. Yaa Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, permudahlah segala urusan kami, bukakanlah hati dan jalan kami, dan tunjukilah kami, pereratlah persaudaraan dan persatuan diantara kami, Yaa Tuhan kami !”.
أللهُمَّ بَارِكْ فِيْمَا خَلَقْتَ وَهَذِهِ البَلْدَة يَا اَللهُ وَفِي هَذِهِ المُجَاهَدَةِ يَااَللهُ. x 7
“ALLOHUMMA BAARIK FII MAA KHOLAQTA WA HAADZIHIL BALDAH YAA ALLOH, WA FI HAADZIHIL MUJAAHADAH YAA ALLOH !” (7 kali).
Terjemah :
“Yaa Alloh, limpahkanlah berkah di dalam segala makhluq yang Engkau ciptakan dan di dalam negeri ini Yaa Alloh, dan di dalam mujahadah ini Yaa Alloh !”
إِسْــــتِغْرَاقْ
“ISTIGHROQ”
Yang dimaksud ialah : diam tidak membaca apa-apa. Segala perhatian tertuju hanya kepada Alloh !. Bukan membayangkan lafal “ALLOH”, tetapi kepada Alloh – Tuhan !. Pendengaran, perasaan, ingatan, fikiran, penglihatan, dan……… pokoknya segala-galanya dikonsentrasikan kepada Alloh ! Lain-lain tidak menjadi acara !. Hanya Alloh ! Titik !.
Lamanya istighroq tidak ada batasan, menurut kemampuan masing-masing. Istighroq diakhiri dengan membaca surat al-Fatihah satu kali.
AL FAATIHAH !
Kemudian membaca do’a seperti di bawah ini :
بِسْمِ اللهِ الرَحْمَنِ الرَحِيمِ.
(اللهُمَّ بِحَقِّ اسْمِكَ الأَعْظَمِ وَبِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِبَرَكَةِ غَوْثِ هَذَا الزَّمَانِ وَأَعْوَانِهِ وَسَائِرِ أَوْلِيَائِكَ يَاأَللهُ يَاأَللهُ يَاأَللهُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمْ x 3),
(بَلِّغْ جَمِيْعَ العَالَمِيْنَ نِدَاءَنَا هَذَا وَاجْعَلْ فِيْهِ تَأْثِيْرًا بَلِيْغًا x 3),
(فَإِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ وَبِالإِجَابَةِ جَدِيْرٌ x 3).
فَفْرُّوا إِلَى اللهِ x7.
وَقَلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا x 3.
الفَاتِحَـة x 1
BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM.
“ALLOHUMMA BI HAQQISMIKAL A‘DHOM WA BIJAAHI SAYYIDINAA MUHAMMADIN SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WA SALLAM, WA BIBAROKATI GHOUTSI HAADZAZ ZAMAAN WA A’WAANIHII WA SAAIRI AULIYAAIKA YAA ALLOOH, YAA ALLOOH, YAA ALLOOH, RODHIYALLOOHU TAA’ALAA’ ANHUM”. (3 kali).
“BALLIGH JAMII’AL ‘AALAMIIN NIDAA ANAA HADZAA WAJ’AL FIIHI TA’-TSIIRON BALIIGHOO”. (3 kali).
“FAINNAKA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR WA BIL-IJAABATI JADIIR”. (3 kali).
“FAFIRRUU – ILALLOOH !” (7 kali).
“WA QUL JAA-AL HAQQU WA ZAHAQOL BAATHIL, INNAL BAATHILA KAANA ZAHUUQO”. (3 kali).
Terjemah :
“Dengan Asma Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yaa Alloh, dengan Hak Kebesaran Asma-Mu, dan dengan kemulyaan serta keagungan Kanjeng Nabi Muhammad sholalloohu ‘alaihi wasallam, dan dengan barokahnya Ghouts Haadza-Zaman wa A’waanihi serta segenap Auliya’ Kekasih-Mu Yaa Alloh, Yaa Alloh, Yaa Alloh Rodhiyalloohu Ta’ala’anhum.
Sampaikanlah seruan kami ini kepada jamii’al ‘alamiin dan letakkanlah kesan yang merangsang di dalamnya. Maka sungguh Engkau Maha Kuasa berbuat segala sesuatu dan Maha Ahli memberi ijabah !”.
“FAFIRRUU–ILALLOOH !” – Larilah kembali kepada Alloh !.--
“WA QUL JAA-AL HAQQU-WA ZAHAQOL BAATHIL, INNAL BAATHILA KAANA ZAHUUQO” = dan katakanlah (wahai Muhammad) perkara yang hak telah datang dan musnahlah perkara yang batal; Sesungguhnya perkara yang batal itu pasti musnah”.
“AL FAATIHAH” !. (Membaca Surat Al Fatihah satu kali).
KETERANGAN :
1. Kalimah “FAFIRRUU ILALLOOH” dan “WA QUL JAA-AL HAQQU....... ” dibaca bersama-sama imam dan makmum. Dirinya sendiri terutama supaya dirasa katut (terbawa) termasuk di dalam ajakan itu, dengan getaran hati yang kuat.
2. “FAFIRRUU ILALLOOH” maksudnya, mengajak secara batiniyah agar supaya kita dan masyarakat kembali mengabdikan diri dan sadar kepada Alloh wa Rosuulihi SAW. Secara umum yaitu dengan menjalankan hal-hal yang diridhoi Alloh wa Rosuulihi SAW. Meninggalkan perbuatan-perbuatan yang merugikan, merugikan diri pribadi dan keluarga masyarakat !.
3. “WA QUL JAA-AL HAQQU....... ” maksudnya, memohon semoga perbuatan dan akhlaq-akhlaq yang jahat, yang merugikan umat dan masyarakat segera diganti oleh Alloh SWT dengan akhlaq yang baik, yang membuahkan manfa’at dan menguntungkan umat dan masyarakat yang diridhoi Alloh wa Rosuulihi SAW. Dan apabila memang sudah menjadi suratan takdir tidak bisa diperbaiki lagi, dari pada makin lama makin berlarut-larut makin hebat menimbulkan kerusakan dan kehancuran, lebih baik semoga lekas dimusnahkan saja !”. Ini adalah soal mental, bukan terhadap fisik !. Dan terutama kita arahkan untuk diri kita sendiri !.
4. Apabila pengamalan Sholawat Wahidiyah dilaksanakan secara berjama’ah bersama-sama beberapa orang, dan apabila situasi mengijinkan, sesudah membaca surat al-Fatihah yang terakhir semua jama’ah diajak sekali lagi mengadakan panggilan “FAFIRRUU ILALLOOH.... ” dengan berdiri menghadap ke arah empat penjuru : arah barat, utara, timur, selatan. Ini antara lain mengikuti apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim (‘ala Nabiyyina wa’alaihis sholatu wassalam) ketika baru selesai membangun Ka’bah yang juga berdiri kearah empat penjuru memanggil umat dan masyarakat.
Sikap badan tegak berdiri, pandangan lurus ke depan, dan kedua tangan lurus ke bawah di samping paha kanan kiri. Pandangan batin dengan getaran hati yang kuat diarahkan kepada jami’il ‘alamin mulai dari pribadi kita masing-masing sampai notog jagad arah yang kita hadapi, mengelilingi jagad di bawah kita, jagad di belakang kita kembali kepada diri kita lagi.
Nida’ panggilan pada tiap arah tersebut ialah :
AL FATIHAH ! (Membaca surat al-Fatihah satu kali).
FAFIRRU ILALLOH (3 kali).
WA QUL JAA-AL HAQQU....... (satu kali).
Sesudah arah selatan, menghadap kembali seperti ketika duduk, tetapi masih tetap berdiri, kemudian membaca :
AL FATIHAH ! (satu kali)
YAA SYAFI’AL KHOLQIS SHOLAATU ....... dilagukan (satu kali).
YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH ! ( tiga kali )
YAA AYYUHAL GHOUTSU .... dilagukan ( satu kali)
AL FAATIHAH ! ( satu kali)
Nida’ panggilan dengan berdiri seperti diatas juga boleh dilakukan sendiri, sekalipun tidak dengan berjama’ah.
Sumber : Kuliah Wahidiyah Kedunglo Kediri