10/03/2026
MI Darul Ulum 02 Bandungharjo
Lembaga pendidikan Islam tingkat dasar
10/03/2026
17/02/2026
Dulu Ijazah Madrasah Dibuang-buang, Sosok Inilah yang Memperjuangkannya Hingga Diakui Negara. Terima Kasih, Prof. Zakiah Daradjat!
Pernahkah terbayang di benak kita, ada masa di mana lulusan Madrasah dianggap "warga kelas dua" di negeri sendiri?
Dulu, ijazah Madrasah sering kali hanya dianggap sebagai pelengkap administrasi agama. Anak-anak Madrasah sulit masuk universitas umum, apalagi bermimpi jadi dokter, insinyur, atau pejabat negara. Pintu masa depan mereka seolah terkunci rapat hanya karena pilihan sekolahnya.
Namun, sejarah berubah berkat keteguhan seorang perempuan hebat asal Minangkabau: Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat.
Diplomasi "SKB Tiga Menteri" yang Bersejarah
Di tahun 1970-an, posisi madrasah sangat terjepit. Kurikulumnya dianggap tidak sebanding dengan sekolah umum (SD/SMP/SMA). Di sinilah Zakiah Daradjat turun tangan. Sebagai seorang akademisi yang juga pejabat di Departemen Agama, ia tidak tinggal diam melihat ketidakadilan ini.
Dengan kecerdasan diplomasinya, ia membidani lahirnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tahun 1975. Inilah "Piagam Perjuangan" bagi santri Indonesia. Berkat kebijakan ini, negara akhirnya mengakui: Ijazah Madrasah setara dengan ijazah sekolah umum.
Tanpa perjuangan beliau, mungkin tidak ada ribuan alumni madrasah yang hari ini bisa menjabat sebagai menteri, rektor, hingga profesional hebat di berbagai bidang.
Dari Surau Minang Hingga Memukau Presiden Mesir
Mental pejuang Zakiah bukan datang tiba-tiba. Sejak usia 7 tahun, ia sudah ditempa disiplin tinggi antara sekolah umum dan sekolah agama. Kegigihannya membawanya terbang ke Mesir pada tahun 1956.
Bayangkan, di era itu ia menjadi satu-satunya mahasiswi perempuan Indonesia di Universitas Ain Shams, Kairo! Prestasinya begitu gemilang di bidang Psikologi Islam hingga Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasir, langsung memberikan "Medali Ilmu Pengetahuan" kepadanya.
Dunia internasional mengakuinya, namun hatinya tetap tertambat untuk memajukan pendidikan di tanah air.
"Hamka Versi Muslimah" yang Tetap Bersahaja
Meski namanya harum di Timur Tengah dan menjadi perempuan pertama yang duduk di kursi pimpinan MUI, Zakiah Daradjat adalah pribadi yang sangat lembut. Generasi 70-an hingga 90-an pasti ingat suara sejuknya saat memberikan ceramah di RRI dan TVRI.
Bahkan di masa pensiunnya, ia tetap membuka pintu rumahnya untuk konsultasi psikologi bagi siapa saja. Hebatnya, beliau seringkali tak mau menerima bayaran, terutama dari mereka yang kurang mampu. Baginya, ilmu adalah pengabdian, bukan sekadar komoditas.
Terima kasih, Prof. Zakiah Daradjat. Setiap langkah sukses anak madrasah hari ini adalah jejak perjuangan yang pernah Anda torehkan. Tanpamu, ijazah kami mungkin masih dianggap sebelah mata.
Mari kita kirimkan doa terbaik (Al-Fatihah) untuk beliau yang telah berpulang di usia 83 tahun, namun warisannya tetap hidup di setiap sudut Madrasah di seluruh penjuru Indonesia.
Sumber: Wikipedia - "Zakiah Daradjat" Sumber: Republika - "Profil Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat"
27/01/2026
Ketika pendidikan tidak membebaskan, impian orang yang tertindas adalah menjadi penindas.
03/01/2026
HAB 80 th Kementerian Agama
"Umat Rukun dan Sinergi Damai dan Maju"
28/12/2025
Mengabaikan guru saat mengajar bukan sekadar soal tidak memperhatikan pelajaran. Lebih dari itu, sikap tersebut dapat menutup pintu ilmu, menghambat perkembangan diri, dan mengurangi keberkahan dalam proses belajar.
Guru hadir bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga membawa pengalaman, nilai, dan arah agar murid tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Ilmu tidak selalu datang dari buku atau gawai, tetapi sering kali hadir melalui lisan seorang guru yang dengan sabar membimbing. Ketika murid memilih acuh, sesungguhnya ia sedang melewatkan kesempatan emas untuk belajar disiplin, menghargai orang lain, dan melatih fokus—tiga hal penting untuk keberhasilan hidup.
Seorang ilmuwan besar, Albert Einstein, pernah berkata:
> “It is the supreme art of the teacher to awaken joy in creative expression and knowledge.”
(Seni tertinggi seorang guru adalah membangkitkan kegembiraan dalam berpikir dan mencari ilmu.)
Artinya, guru berusaha menyalakan cahaya dalam diri murid. Namun, cahaya itu tidak akan menyala jika murid menutup mata dan hatinya.
Senada dengan itu, Ki Hajar Dewantara menasihatkan bahwa pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak. Guru menuntun, bukan memaksa. Tetapi tuntunan hanya bermakna jika murid bersedia mengikuti arah yang benar.
Maka, wahai murid, belajarlah menghargai gurumu. Dengarkan dengan sungguh-sungguh, bukan hanya demi nilai, tetapi demi masa depanmu sendiri.
Bisa jadi satu kalimat dari gurumu hari ini akan menjadi pegangan hidupmu kelak. Ingatlah, orang yang berhasil bukan hanya yang cerdas, tetapi yang mampu menghormati, fokus, dan bersungguh-sungguh dalam belajar.
Gak papa yang peting mau belajar
19/11/2025
BIAS Puskesmas Donorojo di MI Darul Ulum 02 Bandungharjo
05/11/2025
Belakangan ini, banyak guru mulai merasakan tantangan baru di dunia pendidikan. Murid-murid zaman sekarang terasa berbeda — lebih berani, lebih kritis, tapi sayangnya juga lebih sulit diarahkan.
Saat guru menasihati, sebagian murid memilih diam tanpa peduli, ada juga yang malah membantah. Padahal, semua nasihat dan aturan yang diberikan bukan untuk mengekang, melainkan agar mereka belajar bertanggung jawab dan tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Guru sering kali merasa serba salah. Jika bersikap tegas, dianggap galak. Tapi kalau dibiarkan, murid makin tidak terkendali. Situasi ini membuat banyak guru harus berpikir ulang lagi dalam bertindak. 😀
Namun, jika diperhatikan lagi, penyebab dari itu semua, mungkin ada alasannya, dan berikut beberapa alasan mengapa sebagian murid sekarang sulit diarahkan, dan apa yang bisa dilakukan guru maupun orang tua untuk menghadapinya. Mari dicek! ✨
---
✅1. Zaman Sudah Berbeda
Anak-anak sekarang tumbuh di masa yang serba cepat dan serba mudah. Banyak yang lebih sering berhadapan dengan gawai daripada berbicara langsung dengan orang tua. Akibatnya, mereka jadi kurang terbiasa mendengarkan dan menghargai nasihat orang lain.
✅2. Pengaruh Media Sosial
Media sosial sering membuat anak berpikir bahwa semua hal boleh dilakukan sesuka hati. Mereka melihat banyak orang yang berani melawan atau berbicara tanpa sopan, lalu menirunya tanpa tahu batas mana yang baik dan mana yang tidak.
✅3. Kurangnya Teladan di Sekitar
Anak belajar dari contoh. Kalau di rumah atau lingkungan mereka sering melihat orang yang mudah marah, tidak sopan, atau tidak menghormati orang lain, maka di sekolah pun mereka bisa bersikap sama. Karena itu, peran orang tua dan lingkungan sangat besar dalam membentuk sikap anak.
✅4. Sudah Beberapa Kali Ditegur, Tapi Hanya Sebagian yang Mau Mendengar
Inilah kenyataan yang sering dialami guru sekarang. Ketika murid melakukan kesalahan dan sudah beberapa kali diingatkan, tidak semuanya mau berubah. Ada yang masih mengulangi kesalahan yang sama, bahkan seolah tidak peduli.
Namun, di sisi lain, masih ada juga murid yang mau mendengar, merenung, dan berusaha memperbaiki diri. Merekalah bukti bahwa teguran guru tidak sia-sia — hanya saja butuh waktu dan kesabaran lebih untuk menyentuh hati setiap anak.
✅5. Kerja Sama dengan Orang Tua
Kalau di sekolah guru menanamkan disiplin, tapi di rumah orang tua membiarkan anak semaunya, hasilnya tidak akan maksimal. Karena itu, orang tua dan guru harus saling mendukung agar anak belajar menghargai aturan dan nasihat.
✅6. Tetap Ada Harapan
Meski sebagian murid sulit diarahkan, bukan berarti mereka tidak bisa berubah. Dengan kesabaran, perhatian, dan kasih sayang, hati anak bisa luluh. Guru hanya perlu terus berjuang, karena setiap anak punya potensi untuk jadi lebih baik.
---
Jadi, tantangan mendidik memang makin berat, tapi di situlah perjuangan seorang guru diuji. Ketika murid yang awalnya sulit akhirnya mau mendengar, di situlah kebahagiaan seorang guru muncul — sederhana, tapi sangat berarti.
Bagaimana? Semoga bermanfaat ✨
05/11/2025
Seorang kepala sekolah bukan hanya pemimpin administrasi, tetapi juga teladan bagi guru, siswa, dan seluruh warga sekolah.
Wibawa dan pengaruh positif tidak datang begitu saja—keduanya lahir dari sikap, perilaku, dan integritas yang konsisten. Karena itu, ada beberapa perilaku yang sebaiknya dihindari oleh kepala sekolah agar kepemimpinannya tetap dihormati dan berdampak baik bagi lingkungan sekolah.
Berikut ini beberapa perilaku yang perlu dihindari! ✨
---
✅1. Bersikap Otoriter dan Tidak Mau Mendengar
Kepala sekolah yang terlalu memaksakan kehendak tanpa mendengar pendapat guru atau staf akan menciptakan suasana kerja yang kaku. Padahal, kepemimpinan yang baik justru tumbuh dari komunikasi dua arah dan keterbukaan terhadap masukan.
✅2. Tidak Adil dalam Mengambil Keputusan
Ketidakadilan, seperti membeda-bedakan guru atau murid, bisa merusak kepercayaan. Pemimpin yang berwibawa harus bisa bersikap netral dan menilai berdasarkan kinerja serta fakta, bukan kedekatan pribadi.
✅3. Mengabaikan Disiplin dan Tanggung Jawab
Kepala sekolah yang sering datang terlambat, menunda pekerjaan, atau abai terhadap aturan akan kehilangan wibawa di mata guru dan siswa. Teladan yang baik selalu dimulai dari kedisiplinan pemimpinnya.
✅4. Kurang Peduli terhadap Masalah Guru dan Murid
Kepala sekolah sebaiknya tidak menutup mata terhadap kesulitan yang dihadapi warga sekolah. Sikap cuek dan tidak peduli bisa membuat guru kehilangan semangat, sementara murid merasa tidak diperhatikan.
✅5. Terlalu Sibuk dengan Urusan Pribadi atau Luar Sekolah
Ketika kepala sekolah lebih sering meninggalkan sekolah untuk urusan di luar, kualitas manajemen akan menurun. Kehadirannya di sekolah adalah simbol tanggung jawab dan pengawasan yang nyata.
✅6. Berperilaku Kasar dan Tidak Sopan
Sikap temperamental, berbicara dengan nada tinggi, atau mempermalukan guru dan murid di depan umum adalah hal yang sangat merusak wibawa. Pemimpin sejati mampu mengendalikan emosi dan menunjukkan ketenangan dalam menghadapi masalah.
✅7. Tidak Transparan dalam Pengelolaan Sekolah
Kurangnya keterbukaan dalam penggunaan dana, penilaian kinerja, atau kebijakan sekolah bisa memunculkan kecurigaan. Kepercayaan hanya tumbuh bila kepala sekolah bersikap jujur dan transparan.
---
Kepala sekolah yang berwibawa bukan berarti keras dan ditakuti, melainkan dihormati karena keteladanan dan keadilannya. Dengan menghindari perilaku-perilaku di atas, kepala sekolah dapat membangun lingkungan sekolah yang sehat, produktif, dan penuh semangat.
Kepemimpinan yang positif akan menular—mendorong guru untuk bekerja dengan hati, dan murid untuk belajar dengan gembira.
Bagaimana? Semoga bermanfaat ✨
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Contact the school
Telephone
Address
Bandungharjo Donorojo
Jepara
59454