Majelis Jumat Turatea

Majelis Jumat Turatea

Share

Sebuah wadah pertemuan/forum diskusi mengenai wacana klasik sampai modern tentang Jeneponto.

05/03/2026

SARASEHAN RAMADHAN: TOLO’ DALAM LINTASAN SEJARAH

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum kembali menengok akar—asal-usul, jejak perjuangan, dan identitas yang membentuk kita hari ini.

Tolo’, salah satu kecamatan di Kabupaten Jeneponto, bukan sekadar titik geografis. Ia adalah ruang sejarah. Ada cerita tentang masyarakatnya, nilai-nilai yang diwariskan, dinamika sosial, serta perjalanan panjang yang membentuk wajahnya hingga hari ini.

Mari hadir, berdiskusi, dan merawat ingatan kolektif kita.
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk kembali pulang—pada sejarah, pada nilai, pada jati diri.

19/02/2026

Serial Alternatif Edisi Ramadhan

Mari bergabung dalam serial alternatif yang diselenggarakan oleh Majelis Jum'at Turatea! Kita akan membahas tentang peran Muhammadiyah dalam membangun Jeneponto dan bagaimana nilai-nilai Islam dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam diskusi ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana Muhammadiyah telah berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat Jeneponto. Kita juga akan membahas tentang tantangan dan peluang dalam mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam konteks masyarakat modern.

Ikuti diskusi inspiratif ini dan temukan bagaimana kita dapat menjadi bagian dari perubahan positif di masyarakat! Jangan lewatkan kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan para narasumber yang ahli di bidangnya.

13/02/2026

Rekap Agenda Serial Alternatif Vol. 3
Majelis Jumat Turatea.

Jumat, 13 Februari 2026
Rumah Bambu Oase Turatea Kab. Jeneponto

12/02/2026

Butta Kaguruang menggali kearifan lokal.

Sejarah ini mengangkat terkait budaya dan tradisi yg ada di barobobbo bulusibatan kecamatan bonto ramba, kaupaten Jeneponto, Dulu kini dan nanti.

Dinamika kepemimpinan di barobbo adalah dinamika kepemimpinan yg boleh di katakan kepemimpinan dinasti, seba kepala desa yg turung temurun tdk lepas ikatan keluarganya dari kepala desa sebelumnya

Penamaan desa barobbo di ambil dari bahasa bugis yg di katakan Barebbuu ( namun seiring berjalannya waktu karna kabupaten Jeneponto daerah jah dari adat bugis sehinggah penyebutannya berubah menjadi barobbo).

Selanjutnya kenapa dikatakan butta kaguruan berdasarkan informasi dri penulis buku di desa barobbo bayak ilmu kekebalan yg di kembangkan.

Bagaimana desaa bulusibatan atau buttakaguruang yg akan mendatang “Penulis berharap kepemimpinan lebih baik dan ada harapan untuk kemimpiina lebih memajukan desa tersebut adapun tujuan dri buku ini ditulis adalahh selain masyarakat Jeneponto mengetahui seluk beluk sejarah anak cucu dari penulis bisa melanjutkan tulisan tersebut karnaaa bukuu buttakaguruang akan terus berubah seiring bertambahnya informasinya.

Rekap Agenda Diskusi
Majelis Jumat Turatea

12/02/2026

Salam Sejahtera untuk Kita Semua.

Jumat kali ini, kami menghadirkan Serial Alternatif yang mengulik Jeneponto dalam Tinjauan Sosio-Politik Relasi Kuasa! Bagaimana dinamika kuasa mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat Jeneponto? Mari berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam diskusi santai ini!

Pada momentum ini, juga akan dirangkaikan dengan Launching Buku berjudul "Hasrat untuk Kuasa"! Jangan lewatkan kesempatan untuk mendapatkan buku ini dan memperluas wawasan Anda!

07/02/2026

Rekap Agenda Majelis Jumat Turatea 06 Februari 2026.
Supported By: Barakka’ X Oase Turatea

04/02/2026

Butta Kaguruang: Menggali Kearifan Lokal dalam Dinamika Jeneponto

Mari bergabung dalam perjalanan menarik melalui serial alternatif yang mengangkat topik pembahasan tentang Butta Kaguruang Desa Bulusibatang, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, sebuah narasi klasik yang sarat akan makna. Dengan latar belakang sejarah dan budaya yang kaya, serial ini akan membawa kita menjelajahi dinamika masyarakat Jeneponto dalam menghadapi tantangan zaman.

Dengan pendekatan humanis, kita akan mengeksplorasi bagaimana masyarakat Jeneponto mempertahankan identitas dan kearifan lokal mereka di tengah arus modernisasi. Melalui narasi inspiratif ini, kita akan menemukan kekuatan dalam kearifan lokal dan belajar dari pengalaman masyarakat Butta Kaguruang.

Ikuti serial alternatif ini dan temukan bagaimana kearifan lokal dapat menjadi spirit dan kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup. Mari menelisik lebih dalam tentang kekayaan budaya kita dan temukan makna yang lebih dalam tentang kehidupan.

01/02/2026

Mengenal Bontorappo dalam Dinamika Sosio-kultural

Dari hasil tinjauan dan riset serta diskusi yang telah dilakukan, Saat ini Desa Bontorappo merupakan Desa yang diselimuti perkembangan peradaban. Mengapa tidak, terdapat manusia-manusia (SDM) istimewa yang menjadi penggerak kemujuan desa ini, sebut saja pemerintah desanya. Kami juga menemukan digitalisasi pengelolaan website yang menjelaskan Profil Desa Bontorappo dengan sangat detail, sampai membuat sebuah karya dalam bentuk buku. Kami menganggap bahwa ini merupakan bagian kreatifitas dari orang-orang bontorappo saat ini.

Berikut narasi keren mengenai Desa yang bisa kita anggap, Desa Percontohan.

Di lansir dari pemdesbontorappo.com, Desa Bontorappo merupakan pemekaran dari Desa Tarowang, dimekarkan pada tanggal 12 November 1983 sebagai desa persiapan. Desa Bontorappo menjadi desa defenitif pada tahun 1986, di mana Kepala Desa pertama adalah Bapak H. Andi Lardta Pammusu Karaeng Bonto.

Dari segi wilayah desa, Desa Bontorappo merupakan salah satu Desa di Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan, dengan luas wilayah 6.42 Km⊃2, dengan topografi dataran. Desa Bontorappo terletak di wilayah Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan. Jarak antara Desa Bontorappo dengan Kota Kecamatan Tarowang, kurang lebih 5 km dengan jarak tempuh 4 - 6 menit, kemudian jarak tempuh antara Desa Bontorappo dengan ibu Kota Kabupaten Jeneponto, kuarang lebih 15 Km dengan jarak tempuh 15 - 20 km menit, dengan ketinggian 74 Mdpl.
Adapun Batas- batas wilayah administrasi Desa Bontorappo yaitu sebagai berikut:
* Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Allu Tarowang
* Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Pao
* Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Togo-Togo
* Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Bontoraya

Kemudian dalam perpektif sosial, Penduduk Desa Bontorappo didominasi oleh penduduk asli yang bersuku Makassar, sehingga kearifan lokal sudah dilakukan oleh masyarakat sejak adanya Desa Bontorappo. Menurut cerita warga, bahwa penduduk yang berdomisili di Desa Bontorappo adalah satu kekerabatan di mana di antara mereka memiliki pertalian darah antara satu dengan yang lain. Adapun mereka yang tidak memiliki hubungan kekerabatan adalah mereka yang datang dari luar wilayah yang masuk ke Desa Bontorappo lewat jalur perkawinan.
Desa Bontorappo dengan jumlah penduduk 2107 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 1011 jiwa, perempuan 1094 jiwa, dari 641 KK, yang terbagi dalam 4 (empat) wilayah dusun

Adapun dari segi geologis, Desa Bontorappo yang berada pada ketinggian + 74 Mdpl dengan kondisi alam yang berlereng, menjadikan desa ini aman dari bencana banjir. Adapun terjadi luapan air dipinggir jalan itu disebabkan oleh drainase di sepanjang jalan Bontorappo - Tolo terlalu sempit, sehingga ketika mmusim hujan tiba, air kiriman meluap dari drainase. Hal ini juga menyebabkan kerusakan jalan Bontorappo - Tolo.

Desa Bontorappo terletak di daerah daratan yang memanjang memiliki potensi untuk dikembangkan usaha perkebunan rakyat, seperti jagung dan padi. Sebagai upaya alternatif menyeimbangkan sistem usaha perkebunan monoculture yang selama ini dilakukan. Akibatnya, memberikan dampak pada beberapa areal lahan. Sering terjadi erosi dan degradasi tanah, yang selanjutnya lahan mengalami kemerosotan tingkat kesuburan dan terkesan kering, serta tandus pada musim kemarau, karena kurangnya tanaman keras yang berfunsi sebagai tanaman penyangga. Selama ini Desa Bontorappo di kenal sebagai desa yang mengembankan dan menganut pola perkebunan monoculture dengan jenis komuditas jagung.

Desa Bontorappo cukup sejuk dan panas pada saat musim hujan rata- rata antara bulan Nopember sampai April, dengan temperatur suhu antara 5 - 20 derajat celcius.

Berdasarkan hasil pemetaan sosial dan sumber daya Desa Bontorappo, potensi sumber air bersih berupa mata air, yang bersumber dan berada di dalam desa di Dusun Bontorappo. Debit airnya cukup besar, guna pemenuhan akan air bersih yang digunakan untuk kebutuhan konsumsi, mencuci dan kakus bagi masyarakat yang berada di empat dusun. Pemamfaatan sumber air bersih melalui sistem perpipaan yang menggunakan bak penampung.

Dari segi profesi, pada umumnya warga Bontorappo didominasi oleh petani dan pekebun. Sawah untuk musim tanam dan musim panen dua kali setahun. Musim tanam pertama antara bulan Nopember dan Desember. Kemudian musim tanam kedua, antara bulan April dan Mei, biasanya warga desa panen pertama, antara bulan Maret dan bulan April, kemudian panen kedua di Bulan Juli dan Agustus.

Tanaman utama adalah komoditas tanaman jagung dan kacang tanah untuk perkebunan. Di wilayah persawahan, mayoritas petani memaksimalkan padi sebagai tanaman utama, untuk musim tanam pertama, kemudian di musim tanam kedua, petani memanfaatkan sebagian areal persawahan menanam jagung. Sektor perkebunan merupakan sektor yang paling besar menyerap tenaga kerja, yakni sekitar 85%, disusul oleh sektor-sektor usaha dalam jasa dan perdagangan.
Sektor pertanian menyumbang perekonomian sekitar 80% di Desa Bontorappo, dan sisanya terbagi pada beberapa sektor lainnya. Namun demikian, sektor pertanian adalah yang paling lambat pertumbuhan dan perkembangannya khususnya dari segi ekonomi. Berdasarkan diskusi dengan beberapa masyarakat, dapat diketahui penyebab dari masalah tersebut, yakni berkurangnya hasil dan mutu jagung perkebunan, khususnya tanaman sebagai akibat tidak tertatanya pola tanam yang sesuai dengan petunjuk tekhnis perkebunan. Pemasaran hasil produksi pertanian masyarakat, sebagian menjual dan selisih harga antara 10 - 15% .
Selain sektor pertanian masyarakat Desa Bontorappo berada disektor lain seperti ASN, TNI/POLRI, dan sisanya di perdagangan dan jasa.

Bontorappo dikenal dengan desa wisata. Di Desa Bontorappo terdapat saatu destinasi wisata budaya, bernama Bungung Salapang. Destinasi wisata ini berada tepatnya di Dusun Bontorappo, Desa Bontorappo, jaraknya sekitar kurang lebih 500 M dari Kantor Desa Bontorappo. Hampir setiap hari pengunjung datang secara bergatian, sebagian besar yang biasa berkunjung ke Bungung Salapang adalah mereka yang menganggap dirinya memiliki pertalian keluarga dengan orang Bontorappo. Pengungjung biasanya datang di waktu libur seperti hari Minggu. Wisata Bungung Salapang biasanya dipadati pengunjung di momen hari raya, karena biasaya momen ini keluarga yang bekerja di luar kota yang pulang kampung (mudik), menyempatkan waktu untuk berkunjung ke Bontorappo.

Bukan hanya itu, kilasbalik sejarah yang mewarnai masyarakat desa bontorappo, terdapat mitologi yang diyakini oleh masyarakatnya sampai saat ini, “Mitologi Topano”, jauh sebelum masa kerajaan, Kampung Bontorappo diyakini sudah ada. Melalui cerita orang terdahulu, warga meyakini bahwa pada zaman dahulu kala, ada sosok pemimpin yang menjadi panutan orang kampung yang ada di Bontorappo. Keyakinan itu tumbuh dari generasi ke generasi, sampai masa saat ini orang kampung menyebutnya Tupano.

Menurut cerita rakyat, bahwa pada zaman dahulu, ada 7 orang bersaudara, enam saudara laki-laki dan satu saudara perempuan. Ketujuh orang tersebut turun dari langit (kayangan), tepatnya di Gantarangkeke (Tompobulu, Bantaeng). Penduduk Gantarangkeke membangunkan mereka sebuah rumah tempat mereka tinggal selama 28 tahun. Namun, tiba-tiba menghilang secara misterius. Mereka kemudian ditemukan sedang mandi di sungai Calendu di daerah Onto (Bantaeng). Dari sana mereka menghilang secara tiba-tiba, kemudian mereka turun di Allu Tarowang (pada saat itu masih Desa Tarowang).

Saudara tertua bernama Cambang Gallung, memutuskan untuk tinggal di sana. Warga kampung menyebutnya Karaeng Tarowang. Dari lima saudara laki-laki dan saudara perempuannya, Taoelohe, berangkat ke Rappo-Rappo. Sesampai di sana, Taulohe bersama warga kampung menggali sumur. Menurut cerita, mereka menggali sumur dengan jumlah yang banyak (arurung angkeke dalam dialek Turatea), maka wilayah ini disebut Arungkeke (sekarang Kecamatan Arungkeke). Pada saat itu Taulohe, menurut cerita orang kampung adalah karaeng pertama di Arungkeke.
Saudaranya yang lain, Tupano berangkat menuju Bontorappo. Orang Bontorappo pada saat itu mengangkat Tupano sebagai karaeng pertama di Bontorappo. Kemudian Binakkasa menjadi Karaeng Paitana. Selanjutnya, Lagante Karaeng Gantarang dan Lampang Djokko menjadi Karaeng Rumbia, saudara perempuan menjadi karaeng pertama di Binamu yaitu Bantilang Rua.

Diceritakan bahwa pada masa kakaraengan Tupano, wilyah Bontorappo sangat luas meliputi (hari ini wilayah itu disebut Bontoraya, Kelurahan Togo-togo dan Desa Pao). Tidak ada referensi terkait sistem kakaraengan Tupano hingga saat ini. Sampai tulisan ini dimuat, tidak ditemukan informasi tentang keturunan Tupano, termasuk akhir masa kakaraengan Tupano.

Bukan hanya itu, terdapat tumbuhan yang disebut Kayu Lebang yang sampai saat ini diyakini oleh masyarakat memiliki khasiat yang bagus dalam melangsungkan pekerjaannya. Dipercaya dapat menambah stamina.

Kayu Lebang merupakan sejenis rumput liar yang tumbuh di sawah dan kebun, bahkan di pekarangan warga setempat. Warga Bontorappo meyakini bahwa rumput yang mereka sebut Kayu Lebang, memiliki kandungan yang luar biasa. Akar Kayu Lebang bisa dijadikan sebagi obat kuat untuk laki-laki, daya tahan dalam berhubungan suami istri, keyakinanan itu terbentuk turun temurun, dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Kayu Lebang menurut cerita, terdiri dari dua jenis: Kayu Lebang jantan dan betina, keduanya sulit untuk dibedakan, karena secara kasat mata sama saja. Letak perbedaannya pada jenis akarnya, dan yang bisa membedakan itu hanyalah orang-orang tertentu (orang asli Bontorappo).

Penuturan orang Bontorappo menyatakan bahwa khasiat akar Kayu Lebang akan terasa apabila yang mencabut berasal dari keturunan orang Bontorappo, selain keturunan orang Bontorappo, Kayu Lebang tidak akan memberikan khasiat apa-apa. Sehingga biasanya apabila ada orang dari luar kampung yang hendak menggunakan kayu lebang harus minta tolong kepada orang asli Bontorappo untuk mencabut kayu lebang agar khasiatnya maksimal, untuk memaksimalkan khasiat kayu lebang maka orang yang mencabutnya harus menggunakan gigi.

Orang Bontorappo pada masa lalu, menjadikan Kayu Lebang selain untuk obat kuat, juga digunakan untuk menambah kebugaran tubuh. Menurut cerita orang tua terdahulu, manakala orang Bontorappo kelelahan saat bekerja, mereka biasanya menggigit akar Kayu Lebang.

Pada masa lalu Karaeng Bonto Tanru (Karaeng Bontorappo) memiliki seekor kuda jantan yang diberi nama Lebang. Suatu hari kuda Karaeng Bonto Tanru, berada di sebuah ladang milik warga, ditemukan bersama beberapa kuda betina. Kuda jantan ini kawin dengan kuda betina, setiap kali kuda jantan ini mengawini kuda betina, ia terlihat menggigit akar kayu, setelahnya ia akan kembali mengawini kuda betina lain sampai berkali-kali.

Setelah diperhatikan dan diteliti, ternyata akar kayu yang digigit oleh Kuda Lebang, milik Karaeng Bonto Tanru ini, sejenis rumput yang tumbuh liar. Orang yang melihatnya pun menyampaikan kepada warga, karena penasaran akan hal itu. Beberapa orang mencoba menggigit akar rumput tersebut, alhasil menimbulkan reaksi yang luar biasa, gairah seks muncul seketika, dan yang sangat mengagumkan, akar Kayu Lebang memberikan ketahanan saat melakukan hubungan intim.
Cerita ini berkembang, karena penasaran mereka yang mendengarnya pun tertarik mencoba, dan terbukti betul bahwa akar ini memiliki khasiat memicu gairah seksual. Awalnya rumput ini tidak diketahui jenisnya, dan tidak ada yang mengetahui apa nama rumput tersebut, sehingga orang kampung memberi nama Kayu Lebang, karena ditemukan oleh Kuda Lebang (kayun na Lebang), kayu milik Lebang. Hingga kini, Kayu Lebang menjadi identitas Desa Bontorappo.

Hampir setiap saat, banyak orang dari luar Bontorappo, bahkan dari luar Kabupaten Jeneponto berkunjung ke Bontorappo, guna mendapatkan Kayu Lebang, buat dikomsumsi sebagai obat yang bisa menambah stamina, terutama bagi mereka yang punya keturunan di Bontorappo.

Masyarakat desa Bontorappo hingga kini menjunjung tinggi semangat persatuan, semangat gotong royong dan semangat tolong menolong. Kegigihan dan kualitas manusia-manusianya menjadi simbol utama dalam kemajuan desa ini.

Want your school to be the top-listed School/college in Jeneponto?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Rumah Bambu. Oase Turatea
Jeneponto
92813