Keindahan yang Tak Terlihat
جَمَالُ الْعَقْلِ بِالْفِكْرِ، وَجَمَالُ اللِّسَانِ بِالصَّمْتِ، وَجَمَالُ الْكَلَامِ بِالصِّدْقِ، وَجَمَالُ الْوَجْهِ بِالْعِبَادَةِ، وَجَمَالُ الْحَالِ بِالِاسْتِقَامَةِ، وَجَمَالُ الْفُؤَادِ بِتَرْكِ الْحَسَدِ، فَإِنَّمَا الْجَمَالُ جَوْهَرٌ لَا مَنْظَرٌ.
Keindahan akal itu dengan berpikir,
keindahan lisan itu dengan diam,
keindahan ucapan itu dengan kejujuran,
keindahan wajah itu dengan ibadah,
keindahan sikap itu dengan istiqamah,
dan keindahan hati itu dengan meninggalkan dengki.
Sesungguhnya keindahan itu adalah hakikat (inti), bukan tampilan luar.
***********
Ada jenis keindahan yang tidak bisa ditangkap oleh mata, tapi terasa kuat dalam jiwa. Ia tidak lahir dari wajah yang rupawan, melainkan dari akal yang hidup dengan pemikiran, lisan yang terjaga dengan diam, dan ucapan yang terhias oleh kejujuran. Orang yang indah bukan yang paling banyak bicara, tapi yang tahu kapan harus berkata dan kapan cukup dengan hening. Dalam diamnya, ada kebijaksanaan. Dalam katanya, ada kepercayaan. Dan dari situlah lahir wibawa yang tak dibuat-buat.
Keindahan sejati juga tumbuh dari kedekatan dengan ibadah, keteguhan dalam istiqamah, dan kebersihan hati dari penyakit hasad. Wajah yang bercahaya bukan karena riasan, tapi karena sujud yang panjang. Hidup yang tenang bukan karena tanpa ujian, tapi karena lurus dalam langkah. Dan hati yang lapang bukan karena memiliki segalanya, tapi karena mampu melepas iri terhadap sesama. Pada akhirnya, keindahan bukan soal apa yang tampak di luar, melainkan apa yang menetap di dalam: sebuah kualitas jiwa yang jujur, dan teguh.
Achmad Marzouki Hasan
Achmad Marzouki Hasan
Belajar dan mengabdi di Pondok Pesantren Thariqul Mahfudz Sumbersari Melaya Bali
Ilmu itu yang Menundukkan, Bukan Meninggikan
Berilmu sejatinya bukan soal seberapa lantang kita berbicara, tetapi seberapa dalam kita mampu diam dan memahami. Mengaji bukan hanya membaca teks, melainkan membaca diri—mengurai niat, menata hati, dan menundukkan ego yang sering ingin diakui. Ilmu yang benar tidak lahir dari keinginan untuk terlihat tinggi, tapi dari kesadaran bahwa kita selalu kecil di hadapan kebenaran. Di situlah mengaji menjadi jalan p**ang, bukan panggung untuk unjuk diri.
Seringkali, yang ramai bukanlah ilmu, melainkan harga diri yang dibungkus dalil. Kita merasa perlu menjelaskan segalanya, membela diri di setiap sudut, seakan diam adalah kekalahan. Padahal, orang yang benar-benar berilmu tahu kapan harus berbicara dan kapan harus menahan diri. Ia tidak sibuk menjaga citra, karena yang ia jaga adalah kejernihan hati. Sebab hati yang keruh akan membuat ilmu kehilangan cahaya, berubah dari penuntun menjadi sekadar alat pembenaran.
Maka berilmu itu adalah perjalanan merapikan batin. Ia menuntut kesabaran untuk terus belajar dan keberanian untuk terus mengoreksi diri. Bukan tentang siapa yang paling didengar, tapi siapa yang paling jujur pada dirinya sendiri. Di tengah dunia yang gemar mengukur kehormatan dari pengakuan, orang berilmu justru memilih sederhana: tetap mengaji, tetap menjaga hati, dan membiarkan ilmunya bekerja dalam diam, menuntun langkah tanpa harus banyak suara
Achmad Marzouki Hasan
05/04/2026
Kalau Iran Menang, Dunia Islam Siap atau Tidak?
Kadang kita terlalu fokus pada siapa menang dan siapa kalah, tapi lupa bertanya: setelah itu, apa yang akan terjadi? Kalau Iran benar-benar menang melawan Amerika dan Israel, ini bukan sekadar kemenangan militer. Ini bisa jadi titik balik dunia. Kekuatan global yang selama ini terpusat bisa bergeser. Dunia jadi tidak lagi satu arah—tapi penuh tarik-menarik kepentingan.
Di sisi lain, dunia Islam juga tidak sesederhana itu. Memang, ada rasa bangga melihat negara Muslim berani melawan kekuatan besar. Tapi realitanya, perbedaan mazhab dan kepentingan politik tidak hilang begitu saja. Iran tidak otomatis diterima sebagai pemimpin. Bahkan bisa jadi, justru muncul gesekan baru yang lebih halus tapi dalam.
Belum lagi soal ekonomi. Jalur energi, harga minyak, stabilitas global—semuanya bisa ikut berubah. Dunia mungkin akan terlihat “baru”, tapi belum tentu lebih tenang. Dan Iran sendiri pun tidak otomatis langsung stabil hanya karena menang perang. Justru ujian sebenarnya sering datang setelah kemenangan.
Jadi mungkin pertanyaannya bukan lagi “siapa yang menang”, tapi “siapa yang siap menghadapi akibatnya”. Karena dalam sejarah, kemenangan sering kali bukan akhir masalah—tapi awal dari ujian yang lebih besar.
Achmad Marzouki Hasan
21/12/2025
Forum Lirboyo dan Jalan Berjenjang Penyelesaian Konflik Internal PBNU
Musyawarah Kubro Forum Sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, menjadi penanda seriusnya eskalasi konflik di tubuh Pengurus Besar NU (PBNU). Kehadiran unsur PBNU, PWNU, PCNU hingga badan otonom dari seluruh Indonesia menunjukkan bahwa persoalan ini tidak lagi bersifat elit, melainkan telah menyentuh sendi organisasi secara nasional. Tiga opsi yang dihasilkan—islah, pengembalian mandat, dan Muktamar Luar Biasa (MLB)—mencerminkan upaya berjenjang untuk menjaga marwah NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang mengedepankan musyawarah dan etika kolektif.
Opsi islah yang ditempatkan sebagai jalan pertama menegaskan bahwa Forum Lirboyo masih memprioritaskan penyelesaian damai melalui dialog langsung antara Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Rais Aam PBNU KH Miftakhul Akhyar. Batas waktu 3×24 jam bukan sekadar teknis, melainkan sinyal urgensi agar konflik tidak berlarut dan merusak konsolidasi organisasi. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan rekonstruksi etika internal NU, di mana konflik kepemimpinan seharusnya diselesaikan melalui keteladanan, bukan tarik-menarik kekuasaan yang berpotensi menggerus kepercayaan warga nahdliyin.
Namun, penyiapan opsi pengembalian mandat hingga MLB menunjukkan sikap realistis para sesepuh NU. Jika islah gagal, mekanisme organisasi harus berjalan untuk mencegah kevakuman legitimasi kepemimpinan. Pengembalian mandat kepada Mustasyar dan kemungkinan MLB menjadi bentuk koreksi struktural yang sah secara jam’iyah. Batas waktu hingga pemberangkatan kloter pertama jemaah haji juga mengandung pesan politis-organisatoris: NU tidak boleh tersandera konflik internal terlalu lama. Dengan demikian, Musyawarah Kubro Lirboyo bukan hanya forum resolusi konflik, tetapi juga ujian kedewasaan NU dalam menegakkan tata kelola organisasi yang bermartabat dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Salam Hormat
Achmad Marzouki Hasan
27/10/2025
Judi Online: Jerat Digital di Balik Ilusi Keberuntungan
Suatu malam, Fulan (27) terpaku menatap layar ponselnya. Angka-angka berputar cepat—merah, hijau, lalu merah lagi. Sekali klik, ia merasa bisa mengubah nasib. Namun beberapa jam kemudian, yang tersisa hanya saldo kosong dan sesal mendalam. “Awalnya cuma coba-coba, tapi lama-lama ketagihan,” ujarnya lirih. Fenomena seperti Fulan kini menjalar ke berbagai lapisan masyarakat. Judi online—atau yang populer disebut judol—menjadi wajah baru kejahatan digital yang menyaru sebagai hiburan dan harapan.
Di balik tampilan permainan dan bonus besar, tersembunyi sistem ekonomi gelap yang terorganisir. Ribuan situs judol diblokir Kominfo setiap bulan, namun selalu muncul kembali dengan algoritma penyamaran baru. PPATK mencatat miliaran rupiah berpindah tangan lewat rekening dan dompet digital yang sulit dilacak. Para ahli menyebut, perang melawan judol bukan sekadar soal teknologi, tapi juga soal moral, literasi digital, dan mentalitas masyarakat yang kian tergoda jalan instan.
Lebih dari sekadar kehilangan uang, banyak yang kehilangan arah hidup. Ada ayah menjual motor, mahasiswa berhenti kuliah, hingga keluarga retak dalam diam. Judi online bekerja seperti racun yang halus—mengobral ilusi, menipu otak dengan dopamin, dan menghancurkan harapan perlahan. Inilah candu modern yang tampak keren di layar, tapi mematikan di kehidupan nyata. Lawannya bukan hanya hukum, tapi kesadaran: bahwa keberuntungan sejati tidak datang dari klik, melainkan dari kerja keras dan kejujuran.
Achmad Marzouki Hasan
24/10/2025
FILSAFAT BHINNEKA TUNGGAL IKA: KEUTUHAN DALAM KERAGAMAN
Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan di lambang negara, tapi cara pandang yang sangat relevan di tengah dunia yang mudah terpecah oleh perbedaan. Ia mengingatkan kita bahwa keberagaman bukan sumber konflik, melainkan sumber kekuatan. Indonesia dibangun dari ribuan suku, bahasa, dan keyakinan yang berbeda, namun diikat oleh kesadaran yang sama: kita satu bangsa, satu tanah air, dan satu tujuan. Dalam perspektif filsafat, kesatuan sejati lahir bukan dari keseragaman, tetapi dari kemauan untuk memahami dan menghormati perbedaan.
Secara filosofis, Bhinneka Tunggal Ika menegaskan bahwa manusia hanya bisa hidup damai bila mampu menyeimbangkan identitas diri dengan kebersamaan sosial. Setiap kelompok boleh punya keyakinan dan budaya sendiri, tapi tidak ada yang berdiri di atas yang lain. Prinsip ini sejalan dengan ajaran para bijak sejak masa Majapahit hingga kini: bahwa kebenaran sejati tidak pernah bertentangan, hanya cara manusia memahaminya yang berbeda. Dalam konteks modern, nilai ini menjadi dasar bagi toleransi dan dialog lintas keyakinan yang semakin dibutuhkan di era digital yang rawan polarisasi.
Bhinneka Tunggal Ika adalah cermin kematangan berpikir bangsa ini. Ia mengajak kita melihat perbedaan bukan dengan curiga, tapi dengan rasa ingin tahu dan saling menghargai. Bila dijalankan dengan kesadaran, semboyan ini bukan hanya warisan sejarah, tapi visi masa depan Indonesia: bangsa yang berpikir dengan nalar terbuka, berjiwa besar dalam perbedaan, dan tetap utuh dalam semangat persaudaraan. Karena pada akhirnya, Indonesia hanya akan kuat bila perbedaan dijaga, bukan dicurigai.
Achmad Marzouki Hasan
24/10/2025
Kang Sholihin: Penjaga Kesetiaan di Sisi Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari.
Kiai Sholihin bin Kiai Muhammad Amin—atau akrab disapa Kang Sholihin—lahir sekitar tahun 1912 di Babakan Ciwaringin, Cirebon. Ia berasal dari keluarga pesantren yang sederhana namun teguh dalam prinsip agama. Sejak muda, Kang Sholihin dikenal berani, taat, dan berjiwa pengabdian. Ia kemudian menuntut ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, di bawah bimbingan langsung Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Dari sekian banyak santri, hanya Kang Sholihin yang kelak menorehkan kisah paling menggetarkan: menjadi satu-satunya murid yang mendampingi Hadratussyaikh ketika beliau ditawan oleh tentara Jepang.
Kisah keberaniannya dimulai ketika Hadratussyaikh dijemput paksa oleh tentara Jepang dengan truk militer. Para santri hanya bisa menatap dengan getir dari kejauhan. Namun Kang Sholihin tak tinggal diam. Ia menembus barisan penjaga, berlari sekuat tenaga, dan melompat ke truk yang tengah melaju. Tindakannya membuat para tentara Jepang tertegun. Saat mereka hendak mengusirnya, Kang Sholihin berseru lantang, “Saya Sholihin dari Cirebon!” Kalimat itu menggema hingga membuat para serdadu kehilangan wibawa. Akhirnya ia diizinkan untuk masuk satu sel bersama Hadratussyaikh. Selama empat bulan di penjara, Kang Sholihin dengan penuh hormat merawat gurunya: mengelap air hujan yang masuk sel, menyiapkan makanan, bahkan mengusap kaki sang guru agar tetap tenang. Dari pengabdian itu, para ulama kemudian menyebutnya “Hadza Shahibus Sijni Hasyim Asy’ari” — sahabat penjara Hadratussyaikh.
Selepas keluar dari penjara, Hadratussyaikh mempercayainya sebagai Lurah Pesantren Tebuireng. Amanat itu dijalankannya dengan penuh tanggung jawab, meski tekanan dan ancaman dari tentara Jepang terus menghantui. Di masa itu terjadi peristiwa memilukan: seorang santri bernama Mas Dawam ditembak dan jasadnya digantung di alun-alun sebagai ancaman bagi siapa pun yang melawan penjajahan. Ketika tak ada yang berani mendekat, Hadratussyaikh memerintahkan Kang Sholihin untuk mengambil jasad sang syahid. Tanpa gentar, ia menjawab siap. Setelah berwudu, shalat dua rakaat, dan membaca hizib-hizib yang diwarisi dari ayahnya, ia berangkat di bawah hujan lebat. Satu tembakan pistol ke udara membuat tentara Jepang panik dan berlarian, sehingga ia dapat mengambil jasad Mas Dawam dan membawanya p**ang ke pesantren untuk dimakamkan secara terhormat.
Keberanian dan kesetiaan Kang Sholihin membuat Hadratussyaikh kian mempercayainya dalam berbagai urusan, termasuk aktivitas perjuangan. Ia dikenal tidak hanya berani secara fisik, tetapi juga memiliki kekuatan batin dan ilmu kejadukan khas para ulama Cirebon. Banyak kisah tutur menggambarkannya sebagai “tangan kanan” Hadratussyaikh—penjaga, pengawal, sekaligus murid yang tak pernah menolak perintah. Disebutkan p**a bahwa ia terlibat langsung dalam peristiwa tewasnya Jenderal Mallaby di Surabaya, kisah yang meneguhkan citranya sebagai pejuang yang tangguh dan misterius.
Setelah Hadratussyaikh wafat, Kang Sholihin kembali ke kampung halamannya di Babakan Ciwaringin. Hubungan dengan keluarga besar Tebuireng tetap terjalin erat. Gus Kholiq, Gus Ya’kub, dan Gus Yusuf sering datang bersilaturahmi, bahkan meminta doa dan jimat kepada beliau. Kang Sholihin wafat pada 17 Agustus 1968 dan dimakamkan di kompleks pemakaman Kiai Abdul Hannan, Babakan Ciwaringin. Dalam talqin pemakamannya, Kiai Ali—adik Kiai Idris Kamali, menantu Hadratussyaikh—menyebutnya dengan kalimat penuh penghormatan: “Hadza Shahibus Sijni Hasyim Asy’ari.” Kalimat itu menjadi saksi abadi atas kesetiaan seorang santri yang menjaga kehormatan gurunya hingga akhir hayat.
( Diolah dari berbagai SUMBER yang di SARI kan )
Achmad Marzouki Hasan
23/10/2025
Tradisi Amplop Kiai: Antara Adab dan Syukur Ilmu
Dalam tradisi pesantren, memberi amplop kepada kiai bukanlah bentuk suap atau praktik feodalistik, melainkan ekspresi adab dan rasa syukur atas limpahan ilmu serta bimbingan rohani. Bagi santri, amplop bukan simbol materi, tetapi tanda cinta dan penghormatan kepada guru yang menjadi wasilah cahaya ilmu. Kesalahpahaman muncul ketika tradisi ini dinilai dengan kacamata kapitalistik yang serba transaksional. Padahal, dalam pandangan Islam, memberi hadiah kepada guru dan ulama merupakan sunnah yang telah diwariskan sejak masa Rasulullah ﷺ. Beliau menerima hadiah dari para sahabat, bahkan menganjurkan, “Tahaadû tahâbbû” — “Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari).
Para ulama klasik seperti Syaikh Nawawi al-Bantani dan Imam Burhanuddin al-Zarnuji menjelaskan bahwa hadiah kepada guru adalah bentuk penghormatan, kasih sayang, dan usaha memenuhi kebutuhannya. Imam Nawawi bahkan meriwayatkan bahwa para salaf dahulu bersedekah sebelum menemui gurunya seraya berdoa agar Allah menutupi aib sang guru dan menjaga keberkahan ilmunya. Maka, tradisi “amplop kiai” bukanlah transaksi ekonomi, melainkan bagian dari etika spiritual: bagaimana ilmu dijaga dengan adab, dan keberkahan dijaga dengan rasa syukur. Pesantren sejak dahulu memandang bahwa menghormati guru adalah bagian dari menghormati ilmu, dan ilmu yang diberkahi hanya lahir dari hati yang bersih dan penuh ta‘dhim (penghormatan).
Dari sisi hukum dan hikmah, para ulama seperti Syaikh Wahbah az-Zuhaili dan Imam al-Ghazali menegaskan kebolehan menerima pemberian dalam konteks dakwah dan pengajaran, karena jika para guru agama dilarang menerima balasan atau hadiah, niscaya syiar keagamaan akan meredup. Bahkan, kata Imam al-Ghazali, memberi kepada orang bertakwa menjadikan pemberinya ikut memperoleh pahala karena membantu ketaatan. Maka, tradisi memberi amplop kepada kiai sejatinya adalah praktik luhur yang menyatukan cinta, penghormatan, dan keberkahan — sebuah tradisi spiritual yang meneguhkan hubungan antara murid dan guru, antara ilmu dan adab, antara rezeki dan ridha Allah. Wallāhu A‘lam.
Achmad Marzouki Hasan
22/10/2025
النَّاسُ لَا تُصَدِّقُ صَاحِبَ الحَقِّ، بَلْ تُصَدِّقُ مَنْ يُجِيدُ التَّمْثِيلَ وَالنِّفَاقَ أَكْثَرَ.
Manusia tidak mempercayai orang yang membawa kebenaran, tetapi lebih mempercayai orang yang pandai berpura-pura dan bermuka dua.
---
Kalimat ini menggambarkan betapa mirisnya keadaan manusia di zaman ketika kepalsuan justru lebih laku daripada kejujuran. Orang yang tulus dan jujur sering kali dianggap kasar atau terlalu polos, sementara mereka yang lihai menutupi kebohongan dengan senyum dan tutur manis justru disanjung. Dunia seperti ini menegaskan bahwa ukuran kebenaran sering kali bukan lagi pada isi, tetapi pada kemasan yang tampak meyakinkan.
Dalam realitas sosial, kejujuran sering kali kalah oleh kepura-puraan yang rapi. Banyak orang menilai dari tampilan dan gaya bicara, bukan dari ketulusan hati atau isi kebenaran yang disampaikan. Ungkapan ini menjadi cermin agar kita berhati-hati—jangan sampai terpukau oleh kemasan dan melupakan nilai hakiki. Karena di balik kata-kata manis, kadang tersembunyi racun kemunafikan yang lebih berbahaya dari kebohongan itu sendiri.
Achmad Marzouki Hasan
20/10/2025
Khidmah: Jalan Tulus Menuju Keberkahan
ٱلْكَسْبُ يَتَعَلَّقُ بِٱلْأُجْرَةِ، وَٱلْخِدْمَةُ تَتَعَلَّقُ بِٱلْبَرَكَةِ
Kalimat diatas menyimpan pesan mendalam tentang makna bekerja dan berkhidmah. Bekerja semata karena upah hanya menghasilkan imbalan yang bersifat duniawi dan terbatas pada nilai materi. Namun khidmah — pengabdian yang dilakukan dengan hati yang tulus — membawa keberkahan yang tak ternilai. Di pesantren, para santri diajarkan bahwa khidmah kepada kiai bukan sekadar tugas, tetapi bentuk pengabdian yang membuka jalan menuju ilmu, ridha, dan rahmat Allah.
Bekerja untuk mendapatkan upah bisa menghidupi jasmani, tetapi berkhidmah dengan keikhlasan menghidupkan rohani. Hasilnya bukan hanya rezeki yang cukup, tetapi juga ketenangan, kemudahan, dan keberkahan dalam hidup. Karena itulah, khidmah di dunia pesantren bukan sekadar membantu, melainkan bagian dari pendidikan batin yang menumbuhkan adab dan kesadaran spiritual. Dari ketulusan itulah Allah menurunkan ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan kehidupan yang penuh berkah.
Achmad Marzouki Hasan
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Website
Address
Jembrana