24/10/2025
Kang Sholihin: Penjaga Kesetiaan di Sisi Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari.
Kiai Sholihin bin Kiai Muhammad Amin—atau akrab disapa Kang Sholihin—lahir sekitar tahun 1912 di Babakan Ciwaringin, Cirebon. Ia berasal dari keluarga pesantren yang sederhana namun teguh dalam prinsip agama. Sejak muda, Kang Sholihin dikenal berani, taat, dan berjiwa pengabdian. Ia kemudian menuntut ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, di bawah bimbingan langsung Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Dari sekian banyak santri, hanya Kang Sholihin yang kelak menorehkan kisah paling menggetarkan: menjadi satu-satunya murid yang mendampingi Hadratussyaikh ketika beliau ditawan oleh tentara Jepang.
Kisah keberaniannya dimulai ketika Hadratussyaikh dijemput paksa oleh tentara Jepang dengan truk militer. Para santri hanya bisa menatap dengan getir dari kejauhan. Namun Kang Sholihin tak tinggal diam. Ia menembus barisan penjaga, berlari sekuat tenaga, dan melompat ke truk yang tengah melaju. Tindakannya membuat para tentara Jepang tertegun. Saat mereka hendak mengusirnya, Kang Sholihin berseru lantang, “Saya Sholihin dari Cirebon!” Kalimat itu menggema hingga membuat para serdadu kehilangan wibawa. Akhirnya ia diizinkan untuk masuk satu sel bersama Hadratussyaikh. Selama empat bulan di penjara, Kang Sholihin dengan penuh hormat merawat gurunya: mengelap air hujan yang masuk sel, menyiapkan makanan, bahkan mengusap kaki sang guru agar tetap tenang. Dari pengabdian itu, para ulama kemudian menyebutnya “Hadza Shahibus Sijni Hasyim Asy’ari” — sahabat penjara Hadratussyaikh.
Selepas keluar dari penjara, Hadratussyaikh mempercayainya sebagai Lurah Pesantren Tebuireng. Amanat itu dijalankannya dengan penuh tanggung jawab, meski tekanan dan ancaman dari tentara Jepang terus menghantui. Di masa itu terjadi peristiwa memilukan: seorang santri bernama Mas Dawam ditembak dan jasadnya digantung di alun-alun sebagai ancaman bagi siapa pun yang melawan penjajahan. Ketika tak ada yang berani mendekat, Hadratussyaikh memerintahkan Kang Sholihin untuk mengambil jasad sang syahid. Tanpa gentar, ia menjawab siap. Setelah berwudu, shalat dua rakaat, dan membaca hizib-hizib yang diwarisi dari ayahnya, ia berangkat di bawah hujan lebat. Satu tembakan pistol ke udara membuat tentara Jepang panik dan berlarian, sehingga ia dapat mengambil jasad Mas Dawam dan membawanya p**ang ke pesantren untuk dimakamkan secara terhormat.
Keberanian dan kesetiaan Kang Sholihin membuat Hadratussyaikh kian mempercayainya dalam berbagai urusan, termasuk aktivitas perjuangan. Ia dikenal tidak hanya berani secara fisik, tetapi juga memiliki kekuatan batin dan ilmu kejadukan khas para ulama Cirebon. Banyak kisah tutur menggambarkannya sebagai “tangan kanan” Hadratussyaikh—penjaga, pengawal, sekaligus murid yang tak pernah menolak perintah. Disebutkan p**a bahwa ia terlibat langsung dalam peristiwa tewasnya Jenderal Mallaby di Surabaya, kisah yang meneguhkan citranya sebagai pejuang yang tangguh dan misterius.
Setelah Hadratussyaikh wafat, Kang Sholihin kembali ke kampung halamannya di Babakan Ciwaringin. Hubungan dengan keluarga besar Tebuireng tetap terjalin erat. Gus Kholiq, Gus Ya’kub, dan Gus Yusuf sering datang bersilaturahmi, bahkan meminta doa dan jimat kepada beliau. Kang Sholihin wafat pada 17 Agustus 1968 dan dimakamkan di kompleks pemakaman Kiai Abdul Hannan, Babakan Ciwaringin. Dalam talqin pemakamannya, Kiai Ali—adik Kiai Idris Kamali, menantu Hadratussyaikh—menyebutnya dengan kalimat penuh penghormatan: “Hadza Shahibus Sijni Hasyim Asy’ari.” Kalimat itu menjadi saksi abadi atas kesetiaan seorang santri yang menjaga kehormatan gurunya hingga akhir hayat.
( Diolah dari berbagai SUMBER yang di SARI kan )
Achmad Marzouki Hasan