PPAI Syirojut Tauhid

Call Directions Website

PPAI Syirojut Tauhid Sesungguhnya Allah bersama dengan orang orang yg sabar

30/09/2026

Rutinan Dirumah mas Juned, alamat Bonpring lor PPAI Syirojut Tauhid

16/09/2026

Beliau adalah Gus Mamba' Bin alm KH Farid Bin Alm KH Achmad Shiddiq Bin KH Muhammad Shiddiq Jember PPAI Syirojut Tauhid

Terimakasih kepada para penyumbang, dan Selamat Kepada para pemenang lomba dalam rangka memeriahkan Kemerdekaan Indonesi...
09/09/2026

Terimakasih kepada para penyumbang, dan Selamat Kepada para pemenang lomba dalam rangka memeriahkan Kemerdekaan Indonesia & Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW
Semoga bermanfaat, dan jangan berkecil hati bagi yang kalah. Tetap semangat dalam menjalin ukhuwah Islamiyyah
Suatu saat akan menjadi kenangan terindah ketika dipondok,

Berdiri dlm mahallul qiyam, bukan karena Nabi hadir, tetapi. ... Abuya Sayid Muhammad Al Maliki menjelaskan:مسألة القيام...
26/08/2026

Berdiri dlm mahallul qiyam, bukan karena Nabi hadir, tetapi. ...

Abuya Sayid Muhammad Al Maliki menjelaskan:

مسألة القيام في المولد:

وقد جرت العادة بالقيام عند قراءة مولده عليه الصلاة والسلام لدى ذكر الوضع الشريف، وما يتبعه من حسن التوصيف، وهذا القيام لم يفعله السلف، وإنما عُمل به من بعدهم من الخلف، وليس هو في الحقيقة للذات المحمدية كما توهمه قوم من البرية، فاعترضوا وأطنبوا، وإلى إنكار فعله ذهبوا، وإنما هو قيام فرح وسرور، وابتهاج وطيب وحبور، ببرزه ﷺ لهذا الوجود وإشراق نوره فيه على كل موجود، وشكر لله تعالى على ما به أولى من هذه النعمة العظيمة، والمنّة الجسيمة، التي هي منّة الإنعام به على الخليفة، ومن غير استحقاق منهم، ولا سبب ظاهر، ولا عمل طريقة، والقيام فرحًا بالمصطفى ﷺ بما هو منه أو راجع إليه، له أصل أصيل في الشرع الشريف، يعتمد عليه ويعوّل عليه.

فقد لعبت الحبشة بحرابهم المسلم لزمنهم واضطرابهم لما قدم عليه الصلاة والسلام والسلام المدينة فرحًا بقدوم طلعته المباركة. أخرج ذلك أبو داود في سننه من حديث أنس بن مالك. وكذلك لعبوا في المسجد النبوي في يوم عيد من الأعياد بالدُّرَق والحراب لعبهم المعتاد، وجعلوا يزفنون ـ أي يرقصون ـ والنبي ﷺ وعائشة ينظران إليهم...

Terjemahannya

“Masalah berdiri dalam acara Maulid:”

Sudah menjadi kebiasaan untuk berdiri ketika pembacaan Maulid Nabi ﷺ sampai pada penyebutan kelahiran beliau yang mulia, beserta uraian tentang sifat-sifatnya yang baik.

Berdiri ini memang tidak dilakukan oleh generasi Salaf, tetapi diamalkan oleh generasi setelah mereka. Namun, pada hakikatnya berdiri tersebut bukan karena menganggap Dzat Nabi Muhammad ﷺ hadir secara fisik, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang. Karena pemahaman itulah sebagian mereka memprotes dan berpanjang-panjang dalam mengingkarinya.

Sesungguhnya berdiri itu merupakan ungkapan kegembiraan, kebahagiaan, s**a cita dan rasa senang atas lahirnya Rasulullah ﷺ ke alam wujud serta terpancarnya cahaya beliau kepada seluruh makhluk.

Ia juga merupakan bentuk syukur kepada Allah Ta‘ala atas nikmat yang agung dan karunia yang besar ini, yaitu nikmat Allah menganugerahkan Rasulullah ﷺ kepada umat manusia, tanpa mereka memiliki hak untuk menuntutnya, tanpa sebab yang menjadikannya wajib, dan tanpa amal tertentu yang menyebabkan mereka berhak mendapatkannya.

Berdiri sebagai bentuk kegembiraan terhadap al-Musthafa ﷺ, karena sesuatu yang berasal dari beliau atau yang berkaitan dengan beliau, memiliki dasar yang kuat dalam syariat yang mulia dan dapat dijadikan pegangan.

Kemudian penulis memberikan contoh dari praktik para sahabat:

Orang-orang Habasyah pernah bermain dengan tombak-tombak mereka karena kegembiraan dan kegembiraan mereka ketika Nabi ﷺ datang ke Madinah dengan membawa kemuliaan dan keberkahan. Hal tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya dari hadis Anas bin Malik.

Demikian p**a mereka pernah bermain di Masjid Nabawi pada hari raya dengan menggunakan perisai dan tombak sebagaimana kebiasaan mereka. Mereka melakukan gerakan yang disebut yazfinūn—yakni menari—sementara Nabi ﷺ dan Sayyidah ‘Aisyah melihat mereka.

Selamat Memperingati Hari Maulid Nabi Muhammad SAW,Semoga kita diakui ummatnya dan mendapatkan syafaat nya
25/08/2026

Selamat Memperingati Hari Maulid Nabi Muhammad SAW,
Semoga kita diakui ummatnya dan mendapatkan syafaat nya

Liburan Telah Tiba...Hore...🥰🥰🥰Jangan lupa sholat jamaah & ngaji Al-Qur'an nya tetap Istiqomah nggh, kang-kang , mbak-mb...
22/08/2026

Liburan Telah Tiba...
Hore...🥰🥰🥰
Jangan lupa sholat jamaah & ngaji Al-Qur'an nya tetap Istiqomah nggh, kang-kang , mbak-mbak ...

1. HUKUM MERAYAKAN MAULID NABILegalitas perayaan maulid sering menjadi perdebatan, salah satunya karena adanya amrun kha...
22/08/2026

1. HUKUM MERAYAKAN MAULID NABI

Legalitas perayaan maulid sering menjadi perdebatan, salah satunya karena adanya amrun kharij-hal-hal di luar esensi maulid—yang mengandung kemaksiatan, seperti ikhtilath antara lelaki dan perempuan tanpa penghalang atau perbuatan lain yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Padahal jauh-jauh hari, Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari, Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dalam at-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna' al-Maulid bi al-Munkarat menjelaskan:

فَاعْلَمْ أَنَّ عَمَلَ الْمَوْلِدِ إِذَا أَدَى اِلىَ مَعْصِيَةٍ رَاجِحَةٍ مِثْلَ الْمُنْكَرَاتِ وَجَبَ تَزْكُهُ وَحَرُمَ فِعْلُهُ

Artinya, "Ketahuilah! Sungguh setiap perayaan maulid jika menjadi penyebab terjadinya maksiat yang nyata, seperti terjadinya kemungkaran, maka wajib untuk meninggalkannya dan haram mengadakannya."

Adapun jika perayaan maulid tersebut tidak ada unsur kemaksiatan, maka itu boleh-boleh saja.

Syaikh Abu Bakar Syatha menukil pendapatnya Imam as-Suyuthi tatkala beliau ditanya mengenai hukum merayakan maulid, beliau menjawab:
"Menurut saya, bentuk dasar maulid berupa berkumpul, membaca Al-Qur'an, menyampaikan riwayat tentang Nabi saw. dan kelahiran beliau, kemudian makan bersama dan bubar tanpa tambahan lain, termasuk bid'ah hasanah yang pelakunya mendapat pahala. Sebab, di dalamnya terdapat pengagungan terhadap Nabi saw. serta ungkapan kegembiraan atas kelahiran beliau."2

2. PENGGAGAS PERTAMA PERAYAAN MAULID NABI

Para ulama dan ahli sejarah berbeda pendapat mengenai siapa yang pertama kali mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. Sebagian menyebut Dinasti Fathimiyah yang diprakarsai oleh Ubaid al-Mahdi, sebagian lainnya menyebut Sultan Nuruddin, sementara Imam as-Suyuthi berpendapat bahwa tokoh pertama yang mengadakan perayaan Maulid adalah Sultan Muzhaffar, penguasa Irbil, Irak.

Pendapat tersebut disampaikan oleh Imam Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi dalam al-Hawi li al-Fatawi.3

3. ABU LAHAB MENDAPAT KERINGANAN KARENA BAHAGIA ATAS KELAHIRAN NABI

Syaikh Al-Jazari dalam Jami' al-Ushul fi Ahadits ar-Rasul meriwayatkan bahwa Abu Lahab memerdekakan budaknya, Tsuwaibah, setelah mendapat kabar kelahiran Rasulullah saw.

Setelah Abu Lahab meninggal dalam keadaan kafir, Abbas bin Abdul Muthalib bermimpi bertemu dengannya. Abu Lahab mengaku tidak memperoleh kebaikan setelah kematiannya, kecuali diberi minum setiap hari Senin karena memerdekakan Tsuwaibah saat mendengar kelahiran Nabi saw.4

4.MENYIMPAN UANG YANG DIBACAKAN MAULID NABI

Membaca Maulid pada uang, baik koin maupun kertas, kemudian mencampurkannya dengan tabungan lain, dikenal sebagai salah satu bentuk tabarruk yang diyakini dapat mendatangkan keberkahan, menjadi wasilah terhindar dari kemiskinan, serta menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw.

Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Waliyullah Ma'ruf al-Karkhi bahwa:

وَمَنْ قَرَأَ مَوْلِدَ الرّسُولِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عَلَى دَرَاهِمَ مَسْكُوكَةٍ فِضَّةً كَانَتْ أَوْ ذَهَبَّا وَخَلَطَ تِلْكَ الدَّرَاهِمَ مَعَ دَرَاهِمَ أَخَرَ وَقَعَتْ فِيهَا الْبَرَكَةُ، وَلَا يَفْتَقِرُ صَاحِبُهَا, وَلَا تَفْرُغُ يَدُهُ بِبَرَكَةِ مَوْلِدِ الرَّسُولِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Barang siapa membacakan kisah Maulid Rasulullah saw. pada sejumlah dirham yang dicetak, baik dari perak maupun emas, kemudian mencampurkannya dengan dirham-dirham lainnya, niscaya harta tersebut akan memperoleh keberkahan. Pemiliknya tidak akan jatuh miskin dan tangannya tidak akan kosong (dari rezeki), berkat keberkahan Maulid Rasulullah saw."

Terima kasih dan semoga bermanfaat

Referensi:
1. KH Hasyim Asyi'ari, at-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna'ul Maulid bil Munkarat, (Tebuireng, Makta-
bah Turats al-Islami: tt), hal. 19.

2. Abü Bakr bin Muhammad Syattă ad-Dimyāți, l'änat ath-Thalibin, jil.3 (Beirut: Dār al-Fikr, cet. 1, 1418 H/1997 M), hal. 413.

عِنْدِي أنَّ أصْلَ عَمَلِ المَوْلِدِ الذِي هُوَ احْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ القُرْآنِ وَرِوَايَةُ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِي مَبْدَا أَمْرِ النَّبِيّ - صَلّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ - وَمَا وَقَعَ فِي مَوْلِدِهِ مِنَ الْآيَاتِ ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سُمَاطٌ يَأْكَلَونَهُ وَيَنْصَرِفُونَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَلِكَ مِنَ البِدَعِ الحَسَنَةِ التِي عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْظِيمِ قَدْرِ النّبِيّ - صَلى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ - وَإِظْهَارِ الفَرَحِ وَالاِسْتِبْشَارِ بِمَوْلدِهِ الشَّرِيفِ

3. Jaläluddin 'Abdurrahmăn as-Suyüți, al-Hāwi li al-Fatăwi, jil. 7 (Beirut: Dăr al-Fikr, 2004), hal. 182.

وَأَوَّلُ مَنْ أَحْدَتَ فِعْلَ ذَلِكَ صَاحِبُ إِزِيِلَ الْتَلِكُ الْمُطَفَّرُ أَبْو سَعِيدٍ كُوْكْبَرِي نِنُ رَفِنِ الذِّينِ عَلِيِّ انْنِ بَكُتَكِينْ أَحَدُ الْمَلُوْلِ الْأَنْجَادِ وَالْكُبِرَاءِ الْأَجْوَادِ وَكَانَ لَهُ آكَارٌ حَسَنَةٌ وَهُوَ الّذِي عَمَّرَ الجَامِعَ الْمُطَفَّرِيَّ بِسَفْحٍ قَاسِيُوْنَ

4. Al-Mubarak bin Muhammad Ibn al-Atsır al-Jazari, Jami' al-Uşul fi Ahadits ar-Rasul, jil. 11, hlm. 476.

قَالَ عُزوَةُ: وَهُوْيِبَةُ مَوْلَاهُ أَبِي لَهَبٍ وَكَانَ أَعْتَقَهَا حِينَ بَشَّرَفْهُ بِيلَادِ رَسُولِ اللهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَرْصَعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهٍ وَسَلَّمَ. فَلَمَا مَاتَ أَبْو لَهَبِ كَافِرًا رَآءُ الْعَبَّاسُ فِي الْمَنَامِ بَعْدَمَا أَسْلَمَ الْعَبَّاسُ بِعَرِ حِيبَةٍ فَقَالَ لَهُ: مَادَا لَقِيتَ قَالَ: لَمْ أَلْقَ خَيْرًا بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِ سُقِيتُ - أَوْ قَالَ: أَسْقَى فِي هَذِهِ يَعْنِي:
٠ حُقَرَةَ إِنهَا مَيْهِ كُلَّ لَيْلَةِ اقْتَيْنِ بِعَتَائَتِي مُوَيْبَةً

Dirgahayu Republik Indonesia Ke-81🇮🇩_Dulu bersarung angkat senjata bersama para kiai, kini bersarung mengaji dan membang...
17/08/2026

Dirgahayu Republik Indonesia Ke-81🇮🇩

_Dulu bersarung angkat senjata bersama para kiai, kini bersarung mengaji dan membangun negeri. Kemerdekaan bukan akhir perjuangan, melainkan awal dari khidmah tanpa batas untuk tanah air. Dirgahayu Republik Indonesia! Merah Putih di dada, sarung dan peci melekat di jiwa_

===============

Yayasan Pondok Pesantren Syirajut Taukhid. Paleran - Umbulsari - Jember - Jawa Timur

_______________

Address

Desa Paleran , Kec. Umbulsari
Jember
68166

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PPAI Syirojut Tauhid posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share