Departemen Sekolah Minggu PGBWP

Departemen Sekolah Minggu PGBWP Motto : Ajarlah Mereka ( Matius 28 : 20 )

Renungan: Oleh Pdt.Ithomy Kogoya           HIDUP TANPA BERARTI “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka...
11/08/2026

Renungan: Oleh Pdt.Ithomy Kogoya

HIDUP TANPA BERARTI

“Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.”( Pengkhotbah 1:2).

Saudaraku yang dikasihi Tuhan dan saya kasihi di dalam Tuhan Yesus.

Kehidupan manusia pada zaman sekarang sering terlihat seperti hidup tanpa arti. Teknologi semakin maju dan canggih, namun banyak orang kehilangan arah dan tujuan sejati.
Ironisnya, di zaman dahulu, meskipun hidup sederhana bahkan di zaman batu, manusia hidup teratur, berwibawa, dan saling menghormati.
Dulu orang bernyanyi atau berdansa memiliki arti dan makna yang dalam, setiap gerakan dan lagu menyampaikan pesan. Namun sekarang, bernyanyi dan berdansa dengan musik modern sering kali tidak memiliki arti sama sekali, hanya sekadar hiburan tanpa pesan yang membangun..

Alkitab mengingatkan bahwa hidup tanpa Tuhan adalah hidup yang kosong. Tanpa Allah, segala usaha manusia hanya berputar dalam lingkaran yang tidak memberi kepuasan sejati.
Banyak orang mengejar harta, jabatan, dan kesenangan, tetapi tetap merasa hampa. Demikian p**a dalam seni dan budaya, ketika nyanyian dan tarian kehilangan makna, manusia hanya bergerak tanpa tujuan.
Yesus berkata dalam Yohanes 14:6, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Artinya, hidup yang bermakna hanya ditemukan ketika kita berjalan bersama Kristus. Hidup yang berpusat pada Allah membawa damai, kasih, dan tujuan yang jelas. Paulus pun menegaskan dalam Filipi 1:21, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Dengan Kristus, setiap nyanyian menjadi pujian, setiap tarian menjadi ungkapan syukur, dan setiap langkah hidup memiliki arti kekal.

Jadi,hidup tanpa arti adalah hidup yang terlepas dari Tuhan. Teknologi, musik, dan hiburan dunia tidak mampu menggantikan kebutuhan jiwa akan Sang Pencipta. Tanpa Kristus, manusia hanya bergerak tanpa arah, bernyanyi tanpa pesan, dan menari tanpa makna.
Tetapi bersama Kristus, hidup kita dipenuhi arti, tujuan, dan s**acita yang sejati. Marilah kita kembali menaruh hidup kita di dalam Dia, sebab hanya di dalam Kristus kita menemukan arti sejati, tujuan kekal, dan s**acita yang tidak tergoyahkan.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”( Filipi 1:21).

Hubula,11 Agustus 2026
Penulis:
Pdt. Ithomy Kogoya
Ketua Dep.PP & Misi PGBWP

29/07/2026

Renungan: Rabu,29 Juli 2026
Oleh Pdt.Ithomy Kogoya

MENGASIHI TUHAN & MEMBENCI SAUDARA

"Barangsiapa berkata: Aku mengasihi Allah, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta. Karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, ia tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya."( 1 Yohanes 4:20).

Saudaraku yang dikasihi Tuhan dan saya kasihi di dalam Tuhan Yesus.

Sering kali kita mendengar kata shalom diucapkan dengan penuh keyakinan, seolah hati kita benar-benar damai. Namun, apakah mungkin ada damai sejati bila di dalam hati masih tersimpan kebencian terhadap sesama? Bagaimana kita bisa berkata mengasihi Tuhan, sementara kita masih memelihara dendam dan tidak mau mengampuni saudara kita?

Rasul Yohanes menegaskan bahwa orang yang mengaku mengasihi Allah tetapi membenci saudaranya adalah pendusta. Kasih kepada Allah tidak bisa dipisahkan dari kasih kepada sesama. Kebencian terhadap saudara menunjukkan hati yang belum dikuasai kasih Kristus.Yesus memberi teladan kasih yang sempurna: Ia mengasihi bahkan musuh-Nya, berdoa bagi mereka yang menyalibkan-Nya. Mengasihi Tuhan berarti meneladani kasih Kristus, yang rela mengampuni dan merangkul orang berdosa.

Bagaimana kita bisa berkata shalom atau damai di hati, kalau kita masih memelihara kebencian yang tersimpan rapi? Bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan dengan berpuasa dan berdoa, sementara kita masih membenci saudara? Apa gunanya semua itu tanpa kasih kepada sesama yang kelihatan secara fisik, sementara kita mengaku mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan?Kasih kepada sesama adalah bukti nyata bahwa kita hidup dalam terang. Sebaliknya, kebencian menjerumuskan kita dalam kegelapan rohani.

Mengasihi Tuhan bukan hanya tentang doa, ibadah, atau puasa, melainkan tentang bagaimana kita memperlakukan sesama. Mari kita renungkan: adakah kebencian yang masih kita simpan? Jika ada, lepaskanlah dan serahkan kepada Tuhan. Biarkan kasih Kristus memulihkan hati kita, sehingga hidup kita sungguh menjadi kesaksian nyata tentang kasih Allah.

"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian p**a kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."( Yohanes 13:34-35).

" ORANG MENGASIHI TUHAN PASTI MENGASIHI SAUDARANYA,ORANG YANG MEMBENCI SAUDARA TIDAK MUNGKIN MENGASIHI TUHAN"

Selamat pagi,Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.Waa..

Hubula,29 Juli 2026
Penulis:
Ketua Dep.PP & Misi PGBWP

Renungan: Rabu,22 Juli 2026      Oleh Pdt.Ithomy Kogoya        MELAYANI TUHAN"Karena kita adalah buatan Allah, diciptaka...
22/07/2026

Renungan: Rabu,22 Juli 2026
Oleh Pdt.Ithomy Kogoya

MELAYANI TUHAN

"Karena kita adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya."( Efesus 2:10).

Saudaraku yang dikasihi Tuhan dan saya kasihi di dalam Tuhan Yesus.

Melayani Tuhan bukanlah sekadar tugas tambahan dalam kehidupan orang percaya, melainkan inti dari panggilan kita. Sejak awal, Allah menciptakan kita untuk melakukan pekerjaan baik yang memuliakan nama-Nya. Pelayanan adalah wujud nyata dari iman yang hidup, yang menyalurkan kasih Allah kepada sesama. Ketika kita melayani, kita sedang menegaskan identitas kita sebagai anak-anak Allah yang taat dan setia.

Yesus Kristus adalah teladan utama dalam pelayanan. Ia berkata, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Markus 10:45). Pelayanan sejati lahir dari kerendahan hati, kesediaan berkorban, dan kasih yang tulus. Melayani Tuhan tidak terbatas pada mimbar atau gedung gereja, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan: pekerjaan, keluarga, dan relasi sosial.Kolose 3:23 menegaskan, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Artinya, setiap tindakan kecil sekalipun dapat menjadi pelayanan bila dilakukan dengan motivasi untuk memuliakan Allah. Pelayanan bukan soal besar atau kecilnya peran, melainkan kesetiaan hati dalam melakukannya.

Jadi,Melayani Tuhan adalah s**acita, bukan beban. Ketika kita setia melayani, kita sedang menanam benih kekekalan yang akan berbuah pada waktunya. Paulus mengingatkan bahwa jerih payah kita tidak akan sia-sia. Karena itu, mari kita terus melayani dengan semangat, kesetiaan, dan kasih, sebab pelayanan kita adalah bagian dari rencana Allah yang kekal.

"Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa jerih payahmu dalam Tuhan tidak sia-sia."( 1 Korentus 15:58).

Selamat pagi,Tuhan Yesus memberkati kita sekalian Waa...

Yigipalu,22 Juli 2026
Penulis:
Ketua Dep.PP & Misi PGBWP

MATINYA ROH PENDIDIKAN DI KABUPATEN LANNY JAYA "Anak-anak masuk SMP tapi karena tidak tahu membaca dan menulis, anak-ana...
18/06/2026

MATINYA ROH PENDIDIKAN DI KABUPATEN LANNY JAYA

"Anak-anak masuk SMP tapi karena tidak tahu membaca dan menulis, anak-anak malu dan p**ang ke kampung."

Oleh Gembala Dr.A.G. Socratez Yoman

Para pembaca setia artikel saya yang mulia dan terhormat. Artikel ini saya sudah bagi pada 15 Juni 2026 dengan judul: "MENJADI GURU PROFESIONAL DAN BERTANGGUNGJAWAB".

TETAPI, saya mengubah judul tapi isinya tetap sama. Tujuan utama ialah saya mau sampaikan persoalan pendidikan di kabupaten Lanny Jaya. Sebelumnya, saya apresiasi dan menghormati para penyelenggara pendidikan di Lanny Jaya yang sudah, sedang dan akan bekerja untuk kemajuan pendidikan di kabupaten Lanny Jaya.

***
Saya menemukan masalah serius tentang pendidikan di Lanny Jaya.

Saya sampaikan hanya salah satu contoh:

Pada 12-13 Juni 2026, saya berada di Wamena. Pada 13 Juni, salah satu Ketua dan pengurus wilayah Baptis pertemuan dengan saya dan dia sampaikan:

"Di wilayah pelayanan kami gedung sekolah sudah tumbuh rumput dan guru-guru tidak pernah ada di tempat. Anak-anak tidak pernah belajar. Guru-guru datang pada saat ujian. Anak-anak diluluskan semua tanpa pengetahuan membaca dan menulis".

Saya sampaikan kepada guru-guru:

"Kamu datang hanya memberikan ujian saja begini, apa yang anak-anak jawab pertanyaan soal-soal ujian? Saudara-saudara, ini tidak benar. Anda ini sedang hancurkan masa depan anak-anak, gereja dan bangsa."

Ketua wilayah ini melanjutkan:

"Anak-anak masuk SMP tapi karena tidak tahu membaca dan menulis, anak-anak malu dan p**ang ke kampung."

Kisah sedih ini terjadi di wilayah Baptis Yugwa, distrik Danime, Kabupaten Lanny Jaya. Dan saya percaya semua wilayah mengalami masalah yang sama.

***
Para guru dan pejabat yang menyelenggarkan pendidikan di kabupaten Lanny Jaya, tulisan ini menjadi alat koreksi untuk dievaluasi pelaksanaa pendidikan di Lanny Jaya yang lebih baik.

"Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya" ( Amsal 27:17).

"Sebatang lilin tidak kehilangan apa-apa, ketika lilin yang menyala itu menyalakan lilin lain" (Thomas Jefferson).

Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "

"Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu" (Yohanes 13:13-15)

***
Para guru profesional perlu menyadari syarat terpenting dan utama bagi seorang guru ialah kepribadiannya sendiri. Sebuah teladan dan perbuatan seseorang lebih berharga serta berpengaruh daripada nasihat dan perkataan. Kebenaran yang diwujudkan adalah satu-satunya kebenaran yang berpengaruh, dan kehidupan seorang guru menjiwai pengajarannya.

Karakter guru meliputi: guru memberikan teladan, guru yang kreatif, guru pemberi ilham, guru yang mengoreksi, guru meneguhkan, guru berdoa, guru rela berkorban dan guru yang belajar dan mengajar.

Pengertian "Rabi" dan "Didaskalos".

Istilah "rabi" dalam bahasa Ibrani berarti orang yang mulia, yang menduduki jabatan terhormat. Sedangkan istilah "didaskalos" dalam bahasa Yunani artinya orang yang memiliki kuasa mulia sebagai pengajar yang didengarkan oleh orang banyak. Jadi, profesi guru adalah orang-orang yang mulia, terhormat dan terpandang.

***
Tugas seorang guru dilihat dalam dua pespektif, yaitu, pertama, guru sebagai tugas profesi. Tugas profesional guru adalah mengajar, mendidik murid, pelajar, siswa dan mahasiswa dalam mempertanggungjawabkan keilmuannya. Dalam tugas profesionalisme ini guru mendapatkan upah dalam bentuk gaji dan tunjangan lainnya. Artinya, guru melaksanakan kewajiban dan tanggungjawab, maka guru berhak untuk mendapat bayaran atau gajinya.

Kedua, tugas panggilan. Para guru dan dosen jarang menyadari tentang tugas panggilan. Guru dan dosen dipanggil dan diutus Tuhan Yesus untuk menjadi saksi bagi Kristus melalui teladan hidupnya di sekolah dan kampus.

Guru dan dosen menjadi terang dunia dan garam dunia dalam sekolah dan kampus. Guru dan dosen menghadirkan Kerajaan Allah di sekolah dan kampus. "..datanglah Kerajaan-Mu dan jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga" (Matius 6:10).

Guru dan dosen menjadi seperti bintang-bintang di sekolah dan kampus. "Lakukanlah segala sesuatu (mengajarlah) dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia" (Filipi 2:14-15).

***
Akhir kata, saya selalu mengingat nama-nama dan selalu ada di hati saya, yakni bapak-bapak guru yang menyalakan cahaya lilin dalam hidup saya di Sekolah Dasar di SD Negeri Tiom (kini: Lanny Jaya), yakni, Suyanto, Natsun Manowarun, Penias Tawaru, Yan Karel Maniba, Saul Rumsumbre, Enos Sawamenay, Yosias Pakage dan masih banyak lainnya.

Doa dan harapan saya bahwa tulisan kecil ini menjadi berkat dan cahaya lilin kecil. Tuhan Yesus memberkati.

Ita Wakhu Purom, 18 Juni 2026
Kontak: 08124888458

28/05/2026

ISTRI TETAP BERHARGA MESKIPUN TIDAK PERNAH MELAHIRKAN?

Di banyak tempat, nilai seorang istri masih sering diukur dari satu hal: apakah ia sudah memiliki anak atau belum. Seolah-olah rahim menjadi penentu harga diri, dan kemampuan melahirkan menjadi ukuran keberhasilan seorang wanita. Akibatnya, tidak sedikit istri yang harus memikul beban yang berat. Mereka menghadapi pertanyaan yang tidak pernah berhenti, tatapan yang menghakimi, bisikan yang melukai, bahkan tekanan dari keluarga, lingkungan, atau suami sendiri. Seakan-akan kehidupan tanpa anak adalah kehidupan yang kurang berarti.

Namun, benarkah demikian?

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa martabat seorang perempuan atau seorang istri ditentukan oleh kemampuannya melahirkan. Sejak awal, nilai manusia tidak pernah berasal dari apa yang dapat ia hasilkan, melainkan dari fakta bahwa ia diciptakan menurut gambar Allah. Di mata Tuhan, seorang perempuan tidak menjadi lebih berharga karena memiliki anak, dan tidak menjadi kurang berharga karena tidak memilikinya. Dunia sering menilai dari hasil yang terlihat, tetapi Tuhan melihat hati.

Ketika Alkitab mencatat kisah wanita-wanita mandul yang akhirnya melahirkan, fokus utama kisah itu bukanlah keberhasilan memiliki anak. Fokusnya adalah kesetiaan kepada Tuhan di tengah keadaan yang tidak dimengerti. Yang dipuji Alkitab bukan sekadar hasil akhirnya, tetapi iman yang tetap bertahan sebelum mujizat itu datang. Karena itu, seorang istri tidak menjadi mulia karena berhasil melahirkan. Ia menjadi mulia ketika hidupnya berkenan kepada Tuhan.

Amsal 31:30 berkata:
"Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji." Perhatikan bahwa ayat ini tidak berkata bahwa istri yang memiliki anak akan dipuji-puji. Yang dipuji adalah istri yang takut akan Tuhan.

Masyarakat bisa saja memberikan label yang kejam. Ada perempuan yang dianggap tidak lengkap karena belum memiliki anak. Ada yang dijadikan bahan pembicaraan, dipandang rendah, bahkan diperlakukan seolah-olah hidupnya kurang bernilai. Namun Tuhan tidak pernah memakai standar manusia dalam menilai seseorang.

Firman Tuhan berkata dalam 1 Samuel 16:7 bahwa manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.

Ketika Tuhan melihat hati seorang istri yang hidup dalam kekudusan, kesetiaan, kasih, dan takut akan Dia, dan di waktu yang sama Tuhan sedang melihat seorang wanita yang berharga, meskipun dunia tidak menghargainya.

Bahkan sering kali, justru di dalam penderitaan yang panjang kemurnian iman seorang istri terlihat. Ketika doanya belum dijawab, bahkan mungkin tidak dijawab seperti yang diharapkannya, ia tetap percaya kepada Tuhan. Ketika harapannya belum terwujud, ia tetap setia. Ketika banyak orang menghakimi dan merendahkannya, ia tetap mengasihi Tuhan. Di sanalah karakter yang mulia dibentuk, dan di sanalah iman seorang istri dimurnikan seperti emas di dalam api.

Istri yang takut akan Tuhan tidak menggantungkan identitasnya pada penilaian manusia. Ia tidak membutuhkan pengakuan dunia untuk mengetahui nilainya. Ia tidak mencari harga dirinya dari pujian manusia, sebab ia tahu bahwa kemuliaannya ada di dalam Tuhan.

Karena itu, kepada setiap istri yang belum memiliki anak, atau mungkin tidak akan pernah memiliki anak, dengarlah ini dengan jelas: Anda tidak kurang berharga. Anda tidak gagal sebagai wanita. Anda tidak kehilangan martabat Anda.

Nilai Anda tidak ditentukan oleh rahim yang bisa melahirkan, tetapi oleh hati yang takut akan Tuhan.

Sebab kehormatan seorang istri tidak ditentukan oleh kesuburan rahimnya, melainkan oleh kesetiaannya kepada Tuhan. Baik memiliki anak maupun tidak, ia tetap berharga ketika hidupnya berjalan dalam takut akan Allah.

[Pdt. Samuel Pasaribu

Renungan: Senin,18 Mei 2026        Oleh Pdt.Ithomy KogoyaBUKAN TIDAK ADA PENGAJARAN/FIRMAN  "Segala tulisan yang diilham...
18/05/2026

Renungan: Senin,18 Mei 2026
Oleh Pdt.Ithomy Kogoya

BUKAN TIDAK ADA PENGAJARAN/FIRMAN

"Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16).

Saudaraku yang dikasihi Tuhan dan saya kasihi di dalam Tuhan Yesus.

Kehidupan manusia penuh dengan konflik, pembunuhan, penindasan, dan berbagai bentuk kejahatan. Dengan fenomena seperti ini banyak orang bertanya: mengapa semua ini terjadi? mengapa para hamba Tuhan atau pemimpin rohani dari organisasi tertentu tidak mendidik Jemaat dengan baik Apakah Tuhan tidak memberi peringatan? Jawabannya jelas: bukan karena tidak ada Pengajaran firman, nasehat, melainkan karena manusia yang menolak pengajaran atau nasehat firman Tuhan itu. Firman Tuhan terus disampaikan melalui para hamba-Nya, tetapi hati yang keras dan pemberontakan membuat banyak orang menutup telinga terhadap suara kebenaran.

Firman Tuhan adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita. Namun, ketika manusia memilih berjalan dalam kegelapan, akibatnya adalah kehancuran. Alkitab mencatat banyak contoh nyata: pertma,Saul yang menolak perintah Tuhan meski sudah diurapi sebagai raja, akhirnya ditolak oleh Tuhan. Kedua,Yudas Iskariot yang hidup bersama Yesus, mendengar pengajaran langsung, tetapi hatinya memberontak karena cinta uang.Ketiga,Bangsa Israel yang berulang kali menolak suara nabi-nabi, dan akhirnya menuai pembuangan serta penderitaan.

Namun, Alkitab juga menunjukkan sisi lain: orang yang mendengar Firman dan bertobat. Pertama,Daud yang setelah ditegur Nabi Natan, tidak menolak, melainkan bertobat dengan hati hancur (Mazmur 51).Kedua,Penduduk Niniwe yang setelah mendengar pemberitaan Yunus, segera berpuasa dan berdoa, sehingga Tuhan menahan hukuman. Ketiga,Rasul Paulus yang sebelumnya penganiaya jemaat, tetapi setelah bertemu Kristus di jalan ke Damsyik, bertobat dan menjadi rasul besar.

Konteks Zaman Sekarang.Di zaman modern ini, ketika terjadi konflik, peperangan, atau kejahatan, seringkali masyarakat langsung mempersalahkan para pemimpin rohani — gembala, pendeta, atau hamba Tuhan — seolah-olah mereka tidak pernah memberi nasehat tentang Pengajaran Firman Tuhan. Padahal, Firman Tuhan selalu disampaikan di dalam gereja,dimimbar -mimbar pesta rohani, melalui khotbah, pengajaran, dan pelayanan pastoral. Masalahnya bukan kurangnya nasehat, melainkan pada sikap hati jemaat yang menolak atau mengabaikan Firman atau suara Tuhan.

Semua anggota jemaat pasti mendengar Firman karena mereka semua dari gereja, bukan dari luar gereja. Tetapi apakah mereka sungguh melakukannya? Itulah pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur. Firman yang didengar tanpa ketaatan hanya menjadi informasi, bukan transformasi. Maka, tanggung jawab setiap orang percaya adalah membuka hati, menerima Firman, dan menjadikannya pedoman hidup.

Kejahatan bukan karena tidak ada nasehat atau firman melainkan karena hati manusia yang keras menolak kebenaran. Firman Tuhan sudah disampaikan, tetapi apakah kita mau mendengar dan melakukannya? Janganlah kita menjadi orang yang hanya mendengar tetapi tidak taat, sebab itu sama saja dengan menolak Tuhan. Mari kita membuka hati, menerima Firman, dan menjadikannya pedoman hidup. Dengan demikian, kita bukan hanya pendengar, tetapi pelaku Firman yang membawa damai dan terang di tengah dunia yang gelap.

"Hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu." (Ibrani 3:15).

Selamat pagi,Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.Waa..

Penulis:
Ketua Dep.PP & Misi PGBWP

16/05/2026

SETIAP MASALAH PUNYA JALAN KELUAR
BAGAIMANA CARA MENEMUKANNYA

Ada tiga kekuatan penting untuk menemukan jalan keluar dalam hidup.

1. Pandangan yang Luas

Orang yang terjebak di dalam masalah biasanya melihat hidup hanya dari satu titik: penderitaannya sendiri.
Ia merasa semuanya selesai.
Ia merasa tidak ada harapan.
Ia merasa dunia berhenti di masalah itu.

Padahal hidup lebih luas daripada satu kegagalan.
Lebih besar daripada satu pengkhianatan.
Lebih panjang daripada satu masa sulit.

Pandangan yang luas membuat engkau mampu melihat kemungkinan lain.
Mungkin pintu yang tertutup sedang mengarahkanmu ke pintu yang lebih benar.
Mungkin kehilangan sedang memaksamu bertumbuh.
Mungkin Tuhan sedang memindahkanmu dari tempat yang salah menuju tujuan yang lebih baik.

Burung elang tidak bisa melihat luas kalau kepalanya terus menunduk ke tanah.
Begitu juga manusia.
Selama pikiranmu hanya terkunci pada luka, maka engkau tidak akan melihat arah keluar.

Kadang masalah tidak membutuhkan kepanikan.
Masalah membutuhkan cara pandang yang lebih tinggi.

2. Roh Kepekaan

Tidak semua jalan keluar datang dengan suara keras.
Kadang jawabannya hadir lewat hal kecil yang sering diabaikan.
Lewat nasehat sederhana.
Lewat kesempatan kecil.
Lewat pertemuan dengan seseorang.
Lewat dorongan hati untuk berhenti, berubah, meminta maaf, atau memulai lagi.

Tetapi banyak orang kehilangan jalan keluar karena hati mereka terlalu ribut.
Emosi terlalu penuh.
Ego terlalu tinggi.
Amarah terlalu besar.

Roh kepekaan membuat engkau mampu membaca kehidupan dengan hati yang jernih.
Engkau mulai peka melihat mana jalan yang membangun dan mana yang menghancurkan.
Mana suara Tuhan dan mana suara emosi.
Mana langkah yang harus dilanjutkan dan mana yang harus dihentikan.

Kadang jalan keluar bukan tentang berlari lebih cepat, tetapi tentang berhenti sejenak dan mendengar dengan benar.

Karena orang yang peka tidak hanya melihat masalah dengan mata.
Ia melihat dengan hikmat.

3. Fokus pada Tujuan Menemukan Jalan Keluar

Banyak orang gagal keluar dari masalah karena mereka lebih fokus pada rasa sakit daripada tujuan keluar.

Mereka terus mengulang luka.
Mengulang cerita.
Mengulang kemarahan.
Mengulang kekecewaan.

Akhirnya energi habis untuk meratapi masalah, bukan menyelesaikannya.

Kalau engkau ingin keluar dari masalah, maka fokuslah pada tujuan: menemukan jalan keluar.
Bukan membesarkan luka.
Bukan memenangkan ego.
Bukan membalas sakit hati.

Orang yang fokus pada tujuan akan mulai bertanya: “Apa yang harus saya lakukan supaya hidup saya bergerak maju?”

Ia mulai berpikir jernih.
Mulai menyusun langkah.
Mulai memperbaiki diri.
Mulai memilih keputusan yang sehat.

Karena jalan keluar tidak selalu datang secara ajaib.
Kadang Tuhan menunjukkan jalan, tetapi manusia harus berjalan di atasnya.

Hidup ini keras.
Masalah akan tetap datang.
Tetapi jangan biarkan masalah lebih besar daripada cara berpikirmu.

Angkat kepala.
Luaskan pandangan.
Hidupkan roh kepekaan.
Dan fokuslah menemukan jalan keluar.

Sebab badai sebesar apa pun tidak pernah berlangsung selamanya.
Dan sekuat apa pun gelap, selalu ada celah tempat cahaya masuk.

Penulis : Ibu. Pdt. Nelince Wanna ( Konselor)

13/05/2026

Semoga kita semua adalah orang yang mudah mengampuni..
Sebab :

MENGAMPUNI BERPENGARUH BAGI KESEHATAN MENTAL.

Kadang yang paling melelahkan dalam hidup bukanlah pekerjaan, perjalanan, atau banyaknya aktivitas…
tetapi luka yang terus dibiarkan diam-diam di dalam hati. ❤‍🩹

Marah, kecewa, dendam, dan sakit hati yang disimpan terlalu lama tidak hanya melukai pikiran, tetapi juga perlahan memengaruhi tubuh.
Dalam dunia psikologi dan kesehatan, hati yang terus dipenuhi kemarahan membuat tubuh berada dalam keadaan “siaga dan tegang” terus-menerus. Hormon stres meningkat, tidur terganggu, pikiran gelisah, bahkan tubuh ikut merasakan dampaknya.

Jantung bekerja lebih keras karena tekanan emosi yang terus dipendam.
Hati dan ginjal ikut terbebani karena tubuh berada dalam kondisi stres berkepanjangan.
Tubuh mudah lelah, kepala sering berat, emosi mudah meledak, dan jiwa kehilangan damai.❤

Itulah sebabnya mengampuni sangat penting bagi kesehatan mental.
Mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, bukan juga melupakan semua luka.

Mengampuni adalah melepaskan dirimu dari penjara rasa sakit yang terus mengikat batinmu.

Saat seseorang belajar mengampuni, perlahan pikirannya menjadi lebih tenang, tidur lebih baik, tekanan batin berkurang, dan tubuh ikut merasakan pemulihan. Hati terasa lebih ringan, napas lebih lega, dan jiwa mulai menemukan damai yang lama hilang.

Kadang pengampunan tidak langsung menghapus luka, tetapi pengampunan menghentikan luka itu menguasai hidupmu.

Mari belajar mengampuni…
bukan karena mereka pantas menerimanya,
tetapi karena dirimu pantas hidup dengan damai, sehat, dan tenang. 🌿

Penulis : Ibu Pdt. Wanna ( Konselor)

09/05/2026

TANDA & PENGAJARAN ITU SELALU MENYERTAI KITA
# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #

Kalau kita lihat sejarah, hampir semua nabi mengalami penolakan dari semua kalangan orang bahkan sampai orang dekatnya, karena ajarannya.

I. Kenapa nabi sering ditolak?

*1. Mengganggu status quo*
Nabi biasanya datang bawa ajaran yang merombak tatanan/aturan yang sudah ada. Mulai dari soal keadilan sosial, aturan organisasi gereja sampai kritik ke penguasa atau pemuka agama saat itu. Yang diuntungkan dan tergantung sama sistem yang lama jelas bakal menolak ajaran Nabi.

*2. Datang dari kalangan "biasa"*
Banyak nabi bukan dari keluarga raja atau bangsawan. Contohnya; Nabi Musa yang sempat jadi pelarian, atau Yesus yang anak tukang kayu. Masyarakat waktu itu susah menerima kalau "orang biasa" tiba-tiba bawa pewayuhan.

*3. Ajarannya dianggap aneh/baru*
Karena Nabi menyampaikan langsung kehendak Allah, mengadakan mukjizat, bernubuat, memutus kutuk dan pemulihan bangsa.
Ajaran itu dianggap baru dan beda itu menakutkan. Lebih gampang dicap sebagai "gila", "tukang sihir", Nabi palsu, antikris atau "pemecah belah".
sehingga melarang orang untuk ikut-ikutan.

II. BERIKUT INI TENTANG NABI-NABI DIDALAM PERJANJIAN LAMA & PERJANJIAN BARU

_Total ada 17 kitab nabi di Perjanjian Lama: 5 Nabi Besar & 12 Nabi Kecil._

1. Daftar lengkap & tema pengajaran utama

*Nabi Besar*
Yesaya – Nubuat soal kelahiran Mesias: "Seorang anak telah lahir" Yes 9:5. Mengajakan soal kekudusan Allah.

Yeremia – Dijuluki “nabi peratap” karena menangisi Yerusalem. Meajarkan perjanjian baru di hati, bukan di loh batu.

Yehezkiel – Banyak penglihatan simbolik. Mengajarkan tanggung jawab pribadi di hadapan Allah.
Daniel – Di pembuangan Babel. Ngajarin kesetiaan waktu dianiaya + nubuat akhir zaman.

*Nabi Kecil*
Hosea – Disuruh menikahi pelacur buat gambar kasih Allah ke Israel yang s**a selingkuh rohani.

Yoel – Nubuat soal pencurahan Roh Kudus, digenapi di Kisah Para Rasul 2.

Amos – Petani yang galak nyindir korupsi: "Biarlah keadilan bergulung-gulung" Amos 5:24.

Obaja – Kitab 1 pasal saja, isinya nubuat lawan Edom.

Yunus – Kabur dari panggilan, ketelen ikan, akhirnya tobat. mengajarkn Allah sayang semua bangsa, bukan cuma Israel.

Mikha – Nubuat Mesias lahir di Betlehem Mi 5:1. Nyindir penguasa serakah.

Nahum, Habakuk, Zefanya – Fokus ke penghakiman Allah atas bangsa-bangsa.

Hagai, Zakharia, Maleakhi – Nabi pasca-pembuangan. Dorong bangun Bait Allah lagi & siapin jalan buat Mesias.

*Nabi penting lain*
Musa – Bawa 10 Perintah Allah, nabi terbesar PL menurut Ulangan 34:10.

Elia & Elisa – Mukjizatnya banyak: turunin api, bangkitkan orang mati. Lawan penyembahan Baal.

Natan – Berani menegur Raja Daud pas zinah dengan Batsyeba.

Yohanes Pembaptis – Nabi terakhir sebelum Yesus. "Jembatan" PL ke PB. mengajarkan pertobatan.

2. Pola penolakan yang sama "keberadaan nabi selalu ditolak" — di Alkitab juga begitu:

*Yeremia* dimas**an sumur lumpur Yer 38:6

*Yesaya* tradisi bilang digergaji sama Raja Manasye

*Zakharia* dibunuh di Bait Allah Mat 23:35

*Yohanes Pembaptis* dipenggal Herodes

*Yesus* sendiri disebut nabi Ul 18:15, dan ditolak sampai disalib.
Yesus bahkan bilang di Luk 13:34: "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi..."

Jadi polanya konsisten: nabi datang → menyuarakan kebenaran → ganggu kepentingan → ditolak/dianiaya.

III. KESIMPULAN.

Saya mengajak kita semua untuk selalu berdoa.
Apapun yang terjadi didepan mata kita diakhir akhir ini adalah bukan kebetulan, tetapi sudh pernah ada pengajaran dan dan tanda-tanda sebelum terjadi sesuatu. Apa yang dinubuatkan Oleh Nabi *Lezebaoth* sedang terjadi karena itu tetap waspada dan berdoa. Kita juga berdoa untuk BPK Nabi bersama keluarga dan kita semua saling melindungi didalam doa.
Kita juga terus jaga dan pertahankan semua *Wene dan ajaran* yang disampaikan oleh Hamba Tuhan.

_Bagimana cara "menjaga" pengajaran ini?_
1. *Dengar* — Rutin baca kitab para nabi: Yesaya, Yeremia, Amos, Hosea, Maleakhi. Dengar dulu apa kata Tuhan.
2. *Uji* — 1 Yohanes 4:1 bilang "ujilah roh-roh". Tidak semua yang ngaku "dari Tuhan" itu benar. Cocokkan dengan Alkitab.
3. *Lakukan* — Yakobus 1:22 "hendaklah kamu menjadi pelaku firman". Nabi bukan cuma untuk dikagumi, tapi diteladani.
4. *Warisi* — Ulangan 6:7 "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu". Ceritakan ke keluarga dan komunitas.

Kuncinya "dalam Tuhan" — bukan jaga ajaran dengan kekuatan sendiri. Yudas 1:24 bilang "Dialah, yang berkuasa menjaga kamu". Jadi kita minta Roh Kudus mampukan kita setia.

Demikian sedikit penjelasan dan kiranya bermanfaat bagi kita sekalian. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

Ilekma, 09 mei 2026
Saya

Yosekat Kogoya S.KM

KAMI SEGENAP DEPARTEMEN PENGINJILAN,PEMURIDAN & MISI PGBWP             MENGUCAPKAN:Dengan penuh dukacita dan hormat, kam...
01/05/2026

KAMI SEGENAP DEPARTEMEN PENGINJILAN,PEMURIDAN & MISI PGBWP

MENGUCAPKAN:

Dengan penuh dukacita dan hormat, kami menyampaikan yang mendalam atas berp**angnya BPK LILENGGETAMBAN KOGOYA, salah satu penginjil pertama yang diutus ke bagian selatan Papua. Beliau adalah pahlawan iman yang melayani dengan kasih, seorang hamba Tuhan yang setia, yang telah menabur benih Injil dengan keberanian dan ketulusan hati.

Selamat jalan hamba Tuhan yang mulia. Selamat beristirahat dari segala jerih lelah dan perjuangan di ladang pelayanan. Pelayananmu tidak sia-sia, dan mahkota kehidupan telah tersedia bagimu di hadapan Allah.

Kiranya keluarga besar yang ditinggalkan diberi penghiburan dan kekuatan oleh Tuhan Yesus Kristus. Semoga semangat penginjilan yang beliau wariskan tetap menyala di tanah Papua, menjadi api yang membakar hati generasi Baptis West Papua, untuk terus memberitakan Injil.Terima kasih sudah memulai,kami siap melanjutkan warisan iman yang sangat berharga (INJIL KRISTUS).😭😭

Address

Itawakhu Purom No. 001, Kel. Hedam, Distrik Heram
Jayapura
99351

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Departemen Sekolah Minggu PGBWP posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share